Monday, 25 April 2016


Untuk orang-orang Mahakam Ulu, terutama orang-orang Dayak Long Glaat. Sebagian dari kalian menemani kami setiap hari menantang jeram, sebagian lagi menyalakan api unggun ketika hujan dan dingin memeluk pedalaman. Segala usaha dan doa kita rajut bersama, demi mewujudnya harapan terbaik di masa depan, hingga tanpa terasa ternyata kita berpetualang bersama sebagai sebuah keluarga. TERIMAKASIH!

Kutaaaaang...? Bukan bang jawabnya sambil tergelak, tetapi kutoooong, sahut rekan saya seorang pemuda asli Lung Tuyoq bernama Minggang Lejau. Pemancing paling populer di Mahakam Ulu ini mengucapkan kata kutoong dengan “o” panjang dengan nada sengau mirip orang-orang Perancis berbicara. Kutoooong, kutooong, saya kemudian berusaha mengucapkannya dengan benar. Waktu itu entah kenapa di sebuah kerja dokumentasi perburuan di sungai-sungai yang ada dalam wilayah ulayat orang-orang Long Glaat (salah satu sub Suku Dayak Bahau), kami masih sempat mampir silaturahmi ke sebuah ladang milik masyarakat yang sedang menggelar acara memanen padi. Suasana panennya sangat ramai dan khas sekali pedalaman penuh dengan nuansa gotong-royong. Saya pernah mendokumentasikan acara cocok tanam khas Dayak (menugal), begitu juga dengan proses panen padi khas masyarakat pedalaman meskipun saat itu saya lakukan di pedalaman Sulawesi Tengah, tepatnya di Pegunungan Tokala. Secara suasana kurang lebih sama, sangat ramai orang dan gelak tawa. Makanan dan juga minuman beralkohol yang dibuat secara tradisional melimpah. Tua muda, lelaki perempuan, tumplek blek menjadi satu di ladang yang digarap dan atau yang sedang dipanen. Di momen waktu itu kemudian saya tertarik berkeliling ladang dan memperhatikan apa-apa yang mungkin saja belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya selalu bersemangat untuk mencari tahu apapun itu yang ada ketika berada di pedalaman, tentunya yang baik-baik dan kira-kira bermanfaat untuk diri sendiri dan siapa tahu juga untuk orang banyak. Ladang orang Long Glaat menurut saya sangat ‘sesak’ isinya. Yang utama ditanam adalah padi, tetapi juga banyak terdapat tanaman lain seperti pisang, kakao, singkong, beragam sayuran, cabe rawit, bumbu-bumbu dapur seperti kunyit, dan lain sebagainya. Semuanya ditata sedemikian rupa dalam petak tanah yang terpisah, dan yang pasti semua tumbuh dengan sangat suburnya. Tanah Kalimantan bagi saya memang masih sangat luar biasa, mungkin karena saya teringat tanah orang tua saya di pedesaan Jawa Timur yang letaknya tidak jauh dari Pegunungan “karst” Kendeng yang agak gersang itu, terutama tanah Kalimantan yang berada di pegunungan (highlands). Jauh berbeda dengan tanah yang berada di kawasan lowlands atau wetlands-nya yang berupa rawa gambut dan sepengetahuan saya tidak bersahabat dengan tanaman pangan dan palawija.

Kutoong ini, masih menurut Minggang Lejau, perhatikan foto pertama (paling atas) yang saya pasang di catatan ini kabarnya mudah dijumpai ketika musim penghujan saja. Tumbuh di lahan terbuka sekitar dan atau di dalam areal ladang. Tanaman merambat ini biasanya akan tumbuh di lahan yang relatif terbuka dan terdapat rambatan baik itu kayu roboh ataupun pohon-pohon jenis perdu yang kecil dan pendek. Kutoong merupakan jenis tanaman pare dan sering disebut dengan nama pare hutan, meskipun tumbuhnya bukan di hutan primer yang masih perawan. Tanaman ini, jika saya amati saat itu juga bukan jenis sayuran yang sengaja dibudidayakan secara masif, karena tumbuh sembarang begitu saja. Mungkin ini dikarenakan ketahanan tanaman ini tidak lama, tanaman merambat musiman saja, yang berarti pun jika dibudidayakan secara massal, hasilnya buat apa? Selain buahnya tidak kuat disimpan lama, andaikan hasilnya banyak juga untuk apa, karena hampir semua ladang orang Long Glaat terdapat kutoong-nya. Mau dijual ke daerah lain di Mahakam Ulu, daerah lain juga berlimpah sayuran, jadilah kutoong dibiarkan tumbuh sekedarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi keluarga pemilik lahan. Sayangnya saya tidak berhasil menemukan nama ilmiah untuk sayuran yang unik ini. Rasa kutoong ini menurut saya sangat segar, tidak ada rasa pahit ataupun langu. Apa ya bahasa Indonesianya langu, saya bingung, langu itu istilah Jawa untuk menyatakan sayuran yang agak pahit dengan bau kurang sedap saat masih mentah. Ketika sudah direbus, kutoong bisa dimasak dalam bentuk sayur bening ataupun santan, tekstur daging kutoong ini sangat lembut tetapi memiliki sedikit lendir tawar. Persis seperti rasa sayuran gambas yang masih muda. Hanya saja kutoong ini berukuran super mini, hanya sebesar jempol orang dewasa saja besarnya. Berbeda dengan gambas yang bisa sebesar tangan orang dewasa, karenanya saya menyebut kutoong ini dengan “gambas mini”. Saat berada di Mahakam Ulu awal Maret lalu, kutoong paling menarik perhatian saya dibandingkan semua jenis sayuran lainnya yang ada seperti juhu singkah (umbut rotan), daun singkong, pucuk waluh, dan lain sebagainya. Tetapi sungguh bukan karena namanya yang mengingatkan pada kata “kutang”, tetapi memang sayuran ini menurut saya berbeda dari yang lainnya. Saya tidak tahu apakah kutoong ini juga terdapat di daerah lain di Indonesia, saya sendiri tertarik untuk membudidaykannya di kampung asal saya di Malang Selatan. Siapa tahu bisa berhasil sehingga setiap kali rindu Mahakam Ulu tinggal memetik kutoong di kebun sebelah rumah sendiri.

By the way, pola konsumsi dan sumber asupan nutrisi di masyarakat Long Glaat menurut saya sangat berimbang, atau lebih tepatnya boleh saya katakan sangat sehat dan berkelebihan. Karena asupan karbohidrat, protein dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh manusia tersedia melimpah di tanah dan air yang ada di wilayah mereka. Kenyataan seperti ini memang khas sekali terjadi di masyarakat pedalaman yang kondisi alamnya masih terjaga, baik itu hutannya, sungainya, cara pemanfaatannya yang berkelanjutan dan lain-lain. Apa coba yang tidak ada di Mahakam Ulu? Mau daging binatang seperti babi hutan atau rusa, tinggal berburu sebentar ke hutan sebelah kampung. Mau ikan-ikan segar air tawar paling enak sedunia misalnya saja ikan jenis mahseer (Tor spp), kita tinggal mancing sebentar di sungai-sungai ulayat mereka. Kecuali ikan kuyur yang tidak populer di konsumsi orang Long Glaat karena konon merupakan reinkarnasi salah satu “boq” atau leluhu rmereka di jaman kuno. Ingin sayuran apapun itu namanya, tinggal memetik di ladang dan atau juga bisa mencari sayuran hutan lainnya. Jadi sungguh saya iri dengan semua itu karena kalau di Jakarta, yang namanya sayuran itu ya itu lagi itu lagi. Kalau tidak kol, bayam, daun singkong, dan juga kacang panjang. Sayur-sayuran yang menurut saya sangat mainstream dan terdapat di seluruh penjuru dunia tropis lainnya. Tetapi kutoong, bisa jadi hanya terdapat di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur saja. Untungnya, masyarakat Long Glaat jelas-jelas menjaga potensi sayur-sayuran khas ini terus ada di lahan-lahan mereka, buktinya dibiarkan tumbuh terus dimanapun itu di setiap sudut ladang. Jadi saya tidak perlu khawatir jika suatu hari nanti bisa kembali ke Mahakam Ulu, masih akan bisa merasakan sensasi nikmatnya kutoong ini lagi. Banyak daerah di Indonesia menurut saya tergoda dengan budidaya sayuran yang bukan asli milik mereka demi mengejar volume panen dan juga alasan ekonomis. Ini menurut saya kurang baik karena semestinya justru sayur-sayuran lokal yang dibudidayakan dengan baik dan masif, sebab dari satu pucuk sayuran khas, kita bisa menitipkan sedikit identitas kehidupan kita, selain tentunya mendapatkan asupan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh kita. Hal seperti ini untungnya tidak terjadi di masyarakat Long Glaat, dan oleh sebab itu saya berbangga dengan kearifan lokal sikap agraris yang dianut oleh keluarga saya itu, karena meski baru terhitung puluhan hari, saya baru saja diterima bergabung menjadi anggota keluarga Long Glaat juga. Entahlah apa yang saya tuliskan kali ini. Foto-foto lain yang saya sertakan menyatakan betapa melimpahnya makanan di Long Glaat saat itu, dan juga bagaimana kami dimuliakan selama di Long Glaat bahkan termasuk dalam urusan “perut” ini. Oleh karenanya sekali lagi, meski telah jauh berselang, saya ucapkan terimakasih. Jika ada pembaca catatan iseng ini tidak tahu nama sayuran dan buah yang ada di postingan ini boleh email saya. Yang pasti di foto-foto ini ada buah lempasu/lempesu yang biasa dipakai memasak kuah asam, ada bunga nyaring yang pahit pedas segar itu, dan lain sebagainya. Salam kutoong! Hehehehe!




















 
* Pictures by Me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers