Friday, 22 April 2016


Untuk orang-orang Mahakam Ulu, terutama orang-orang Dayak Long Gelat. Sebagian dari kalian menemani kami setiap hari menantang jeram, sebagian lagi menyalakan api unggun ketika hujan dan dingin memeluk pedalaman. Segala usaha dan doa kita rajut bersama, demi mewujudnya harapan terbaik di masa depan, hingga tanpa terasa ternyata kita berpetualang bersama sebagai sebuah keluarga. TERIMAKASIH!

Suatu malam tiba-tiba saja seorang kawan, yang benar-benar seorang kawan pada masa kuliah, yang telah bermukim jauh di Benua Biru menelpon untuk sekedar meminta maaf, jika selama ini mungkin saja dia memiliki kesalahan dan apapun itu yang mengganggu saya selama berkawan. Saya kaget karena terlepas apapun itu yang terjadi selama bersahabat dengan dia berpuluh tahun terakhir ini, saya merasa tidak perlu seseorang itu sampai harus segitu seriusnya meminta maaf. Karena masalah persahabatan (apalagi persahabatan yang baik), karakter, pembawaan, prinsip, dan lain sebagainya itu setiap orang pasti berbeda. Riak pasti ada dalam hubungan antar manusia, laut yang indah bukan laut yang tenang tidak berombak dan tanpa arus berbahaya, karena malah tidak ada ikannya. Jadi saya cukup dewasa untuk memahami apapun itu jati diri seseorang dalam bersahabat dengan saya. Kecuali bahwa ada hal-hal yang sangat prinsip dan sudah menjurus ke sesuatu yang tidak baik (fitnah, menipu, dan lain sebagaainya), maka seseorang itu memang sudah sepantasnya harus minta maaf, dan mungkin saja saya tidak mau lagi untuk berkawan. Pertanyaan saya berikutnya kemudian adalah, kenapa harus segitunya dia meminta maaf kepada saya, apalah saya ini toh kami berkawan baik-baik saja selama ini, tanya saya. Mumpung ada waktu katanya, kita tidak tahu umur manusia. Dia rupanya sedang sangat sedih karena tidak sempat memenuhi permintaan seorang sahabat yang ingin bertemu, dan ternyata kemudian sahabatnya tersebut meninggal belum lama ini. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan saya, juga dengan dirinya. Jadi baiknya mumpung masih ada waktu dia ingin melegakan diri dengan menghubungi semua sahabat baik yang telah ikut mewarnai hidupnya selama ini.

Dan tiba-tiba juga saya kemudian teringat dengan orang-orang baik di sekitar kehidupan saya, keseharian saya, pekerjaan saya, apa yang saya lakukan di perjalanan di pedalaman dan lain sebagainya. Begitu banyak orang baik yang membantu saya, di berbagai daerah, di berbagai kesempatan dimanapun, dan lain sebagainya. Saya terkadang tidak sempat untuk dengan begitu jelas dan tegas mengucapkan terimakasih dan atau menjabat tangan beberapa orang dari mereka dengan hangat, atau berbicara dengan ramah kepada mereka. Hal-hal seperti itu kadang terjadi saking konsentrasi saya kepada pekerjaan, tugas, dan banyak lagi hal “profesionalisme” lainnya yang harus dipikirkan. Oleh karena itu melalui postingan ini saya ingin memulainya sekarang, terutama untuk masyarakat dan ataupun rekan-rekan di berbagai daerah yang telah begitu baik menerima saya juga tim dan membantu dengan segala cara demi terlaksananya tugas-tugas yang saya dan atau kami emban dengan baik. TERIMAKASIH BANYAK! Foto-foto yang saya sertakan dalam catatan ini adalah hasil perjalanan kami, tim Jejak Petualang Wild Fishing Trans7, ke Mahakam Ulu, kalimantan Timur awal Maret lalu. Dua catatan awal tentang perjalanan ini sudah saya muat di blog ini: Ikan Purba dan Kepercayaan Orang Long Gelat & Kenangan Pengangkatan Keluarga Baru Long Gelat. Wilayah ini relatif jarang didatangi oleh media nasional saking lokasinya yang sangat jauh, high cost dan juga sekaligus memiliki medan yang sulit dan sebagian berbahaya. Tetapi berkat bantuan banyak pihak kami kemudian berhasil mengaksesnya dengan gembira juga ramai. Ada rekan-rekan dari PKPEML FEB Universitas Mulawarman, rekan-rekan dari Borneo Nature Photography, pihak dari Pemkab Mahakam Ulu, dan tentunya semua bisa berhasil karena masyarakat yang menerima dan membantu kami. Yakni orang-orang Dayak Long Gelat yang tinggal di Lung Tuyoq dan Liuq Mulang. Dua kampung inilah yang menjadi pusat kegiatan dan pusat segalanya ketika kami berada di Mahakam Ulu selama sembilan hari. Suka dan duka kami rajut bersama demi menampilkan karya terbaik yang memuat harapan, semangat juga doa. Sangat mungkin 99,9 % orang-orang Lung Tuyoq dan Liuq Mulang tidak akan pernah bisa membaca postingan ini, cara saya mengenang mereka ini, karena jangankan akses internet, sinyal gsm saja tidak ada disana. Tetapi cukuplah seluruh ‘dunia’ yang terkait dengan saya memahami bahwa ada orang-orang Long Gelat yang telah begitu penuh semangat juga ramah dalam membantu kerja dokumentasi yang kami lakukan, dan bahkan kemudian menerima saya dan tim sebagai bagian dari keluarga besar mereka, keluarga besar Dayak Long Gelat. Salam wild fishing!












































* Pictures mostly by Me. Me and Nayaq Ping captured by Manurung Prima Uli. Another shot by Minggang Lejau, Dalung Lejau, Innal Rahman, Ichfan Maulana, Ervanlelo, Arbiansyah Jueng & Eko Hamzah. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers