Wednesday, 27 April 2016


Untuk orang-orang Mahakam Ulu, terutama orang-orang Dayak Long Glaat. Sebagian dari kalian menemani kami setiap hari menantang jeram, sebagian lagi menyalakan api unggun ketika hujan dan dingin memeluk pedalaman. Segala usaha dan doa kita rajut bersama, demi mewujudnya harapan terbaik di masa depan, hingga tanpa terasa ternyata kita berpetualang bersama sebagai sebuah keluarga. TERIMAKASIH!

Masih tentang ‘kehebatan’ masyarakat Dayak Long Glaat dalam memanfaatkan perairan tawar di sekitar rumah mereka dengan cara-cara yang ramah lingkungan dan secara otomatis sustainable (berkelanjutan). Dalam catatan sebelumnya saya banyak menyinggung tentang konsep tata kelola perairan yang dinamakan tanaaq peraaq, yaitu semacam konsep konservasi tradisional  yang menekankan zonasi dan rotasi zona tangkap. Pembahasannya ada di sini: Masik Nyaran dan Konsep Konservasi. Konsep tanaaq peraaq ini banyak diterapkan di sungai-sungai yang termasuk dalam wilayah ulayat mereka misalnya saja Sungai T, Sungai D U, dan Sungai Ny. Sengaja nama-nama sungainya saya samarkan semuanya karena sungai-sungai ini memiliki potensi ikan air tawar prestisius yang luar biasa hebat. Bukan, saya tidak bermaksud menikmatinya sendiri (sebagai pemancing) tetapi lebih ingin menguji keteguhan rekan-rekan pengunjung blog ini berikut komitmennya kepada sustainable fishing method. Jika Anda adalah seorang yang peduli dengan bag limit, catch and release, dan juga attitude ramah lingkungan lainnya, silahkan email saya, dengan senang hati akan saya bagi jaringan yang saya miliki agar Anda semua dapat mengakses lokasi-lokasi tersebut

Kita kembali lagi ke pupat batoqBatoq adalah bahasa Long Glaat yang artinya “batu” sedangkan pupat artinya jika di-Indonesiakan kurang lebih semacam tumpukan/perlindungan/tumpukan batu. Secara kasat mata “pupat batoq” memang berbentuk tumpukan batu yang disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan struktur perlindungan di dalam air sungai berarus deras. Kenapa digunakan batu dalam pembuatan semacam “rumpon” ini? Ya karena itu tadi, teknik ini muncul karena kondisi geografis perairan tawar yang spesifik. Dalam konteks ini adalah bahwa sungai-sungai yang ada di Mahakam Ulu semuanya adalah sungai arus deras (upper river), jadi memang yang hanya bida dipakai untuk teknik ini adalah batu-batu berat supaya tidak hanyut dan tentunya tahan lama. Sekali membuat “pupat batoq” bisa digunakan selamanya. Ini berbeda dengan karakter rumpon ikan di lokasi yang lainnya. Masyarakat di pesisir Pantai Utara Pulau Jawa juga banyak menanam rumpon ini untuk ‘mengamankan’ hasil melaut mereka sehari-hari. Dan rasa-rasanya seluruh masyarakat nelayan di Indonesia mengenal teknik ini. Jika di laut kita kenal adanya rumpun dasaran yang dibuat dari ban bekas yang ditenggelamkan dengan pemberat, dengan barang rongsokan yang berat dan lain sebagainya. Di Kepulauan Seribu di utara Jakarta malah di era Suharto pernah dibuat banyak rumpon ‘hasil’ menenggelamkan seluruh becak-becak yang ada di Jakarta, setelah becak dilarang beroperasi di jalanan Jakarta. Dan masih banyak lagi rumpon lainnya. Ada juga rumpon pertengahan air yang dibuat dengan pelepah kelapa dan lain sebagainya. Ini belum termasuk model rumpon ikan tuna di laut lepas yang pastinya akan berbeda lagi bentuk dan bahannya. Maksud dari tujuan rumpon sama, yaitu menciptakan struktur perlindungan dan menciptakan rantai makanan di areal tersebut, sehingga ikan-ikan diharapkan akan singgah untuk makan atau berburu mangsa. Semakin lama rumpon ditanam akan semakin baik dan padat atau banyak populasi dan ragam jenis ikannya.

Sedikit berbeda dengan rumpon-rumpon yang ditanam di laut dan juga di muara-muara dan atau di pintu muara sungai, pada teknik “pupat batoq” agar lebih cepat mendatangkan ikan, maka akan ditaruh makanan yang mungkin disukai ikan-ikan kecil dan secara otomatis akan diikuti oleh ikan besar yang suka memangsa ikan-ikan kecil (ingat konsep rantai makanan). Masyarakat Liuq Mulang dan Lung Tuyoq di Mahakam Ulu seringnya menggunakan tumbukkan daun singkong dan juga ubinya. Hasil tumbukan kedua bahan ini menciptakan aroma agak tajam yang sangat khas dan sedikit berminyak (atau bergetah). Hasil tumbukan kedua bahan ini kemudian akan di masukkan ke dalam ‘rumah’ rumponnya atau di dalam rongga “benteng” rumpon. Arus yang ada di sungai akan membawa sedikit demi sedikit hasil tumbukan ini ke luar “benteng” mengikuti aliran arus bawah di sungai dan mengundang datangnya ikan-ikan kecil di sekitar areal untuk makan. Saat itu karena alasana teknis suting agar lebih mudah dan jelas, kami membuat pupatnya di sungai yang agak dangkal sehingga mudah dalam mendokumentasikan bentuk rumpon dan hal-hal lainnya. Kalau saja waktu itu ‘dibuatnya’ di lokasi yang dalam (up satu meter) hasil ikannya bisa jadi akan berukuran besar-besar, tetapi faktor kejernihan air membuat kami urung mengerjakannya. Pertama visibility air yang rendah tidak mungkin ‘ditembus’ oleh kamera underwater yang kami bawa. Membuatnya pun juga relatif susah dan memakan banyak tenaga karena harus dilakukan sambil menyelam.

Singkat cerita, meskipun dibuat hanya di badan sungai yang dangkal saja, hasilnya sangat menjanjikan dan yang pasti teknik ini memang terbukti sangat efektif diterapkan di sungai upper river. Usai pupat dibuat dan kemudian diberi umpan berupa tumbukan daun dan ubi singkong, tidak sampai satu jam hasilnya sudah lumayan cukup untuk lauk seluruh rombongan. Cara menangkap ikannya dengan cara dilemparkan jaring (jala) dari tepian sungai. Bayangkan jika rumpon ini dibiarkan selama satu malam atau lebih? Ikan-ikan yang kami dapatkan saat itu semuanya jenis ikan barb, spesies utama yang memang mendominasi perairan tawar di pegunungan. Ikan jenis mahseer (Tor spp) tidak kami dapatkan karena ikan jenis ini suka bermain di arus-arus utama yang sangat deras, yang artinya tidak mungkin kami saat itu membuatnya disana karena faktor keamanan dan kemungkinan pendokumentasiannya juga akan sangat berat. Namun sebenarnya masyarakat sering membuat “pupat batoq” ini di lokasi-lokasi ikan monster yang berarus sangat deras itu, tetapi akan sangat melelahkan pembuatannya kata mereka karena sambil melawan arus deras yang ada. Yang menarik dari orang-orang Long Glaat, meski teknik ini memiliki chance untuk mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah, mereka tidak melakukan perburuan dengan teknik ini dengan orientasi volume tangkap yang banyak/besar. Jadi secukupnya saja untuk sekedar lauk pauk di rumah. Konsep bag limit ala orang Long Glaat ini bagi saya sangat menarik, karena meski mereka tidak mampu memverbalkannya, menurut saya ini sebenarnya cara mereka menjaga populasi ikan-ikan kecil yang merupakan faktor penting dalam kesehatan sistem rantai makanan yang ada di dalam sungai. Jadi populasi ikan-ikan kecil tetap sehat dan cukup untuk menyediakan sumber makanan bagi ikan-ikan predator yang lebih besar lainnya seperti ikan hampala/adungan dan ikan nyaran (pelian/sapan/mahseer). Demikian dan salam wild fishing!










































*  Pictures by Me. Another shot by Eko Hamzah. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers