Monday, 4 April 2016


Sebelum menuliskan tentang proses perburuan perairan tawar khas Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah ini, ada baiknya saya tuliskan sedikit beberapa istilah yang bisa jadi terkit erat dengan proses perburuan ini. Pertama adalah petua. Petua adalah istilah untuk menyebut petuah, nasehat, pantangan, ataupun laku khas lainnya dan semacamnya yang mana dalam masyarakat Dayak Ngaju bisa berarti semacam ‘rambu-rambu’ agar sebelum kita melakukan sesuatu kita menempuh ‘persyaratan’ yang diperlukan sehingga tujuan yang dimaksud dapat tercapai tanpa halangan berarti. Contoh misalnya kita hendak berangkat pergi ke suatu tempat, tiba-tiba ada kawan yang tidak jadi, setidaknya bawalah pakaian yang tidak jadi berangkat bareng kita tersebut agar kita tidak ketiban sial (kepohonan/kepuhunan). Bentuk-bentuk kepohonan/kepuhunan ini bisa bermacam-macam dan tidak terduga. Mulai dari perahu/sampan terbalik di perjalanan, serangan binatang buas (buaya atau ular), dan lain sebagainya. Kedua adalah hajak. Hajak adalah alat bantu perburuan yang terbuat dari anyaman bambu ataupun bilah rotan yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk semacam tirai dengan panjang dan ketinggian tertentu. Alat ini biasanya akan dipasang menghadang ataupun menutup sungai ataupun sudut danau kecil yang dangkal dengan melawan arus atau menghadap ke arah daratan jika di danau tenang.

Istilah lainnya adalah tukung. Tukung adalah istilah untuk menyebut kegiatan yang dilakukan kaum pria Ngaju dalam berburu ikan-ikan air tawar tetapi proses perburuan dilakukan dengan tangan kosong (handfishing) tetapi juga didukung dengan alat bantu yang disebut hajak untuk menutup ‘pintu’ keluar pergerakan ikan yang menjadi target. Kenapa saya sebut ini kegiatan kaum pria, karena kalau kaum perempuan Ngaju, proses handfishing yang dilakukan dinamakan dengan ngeruhi ataupun dinun. Berikutnya, adalah istilah kata kabam, adalah perangkap yang terbuat semacam sangkar burung berukuran kecil, dari rautan bambu yang disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga mudah diikatkan pada tonggak, dan juga memiliki semacam ‘moncong’ yang dipasangi bambu yang telah diisi dengan dedak, sisa gilingan gabah padi. Konstruksi kabam ini telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga ikan seluang secara tidak sadar bisa tiba-tiba berada di dalam kabam ini. Karena saking asyiknya menyantap dedak yang dihidangkan’ oleh nelayan, ikan-ikan seluang mini akan berenang tanpa memperhitungkan kemungkinan terjebak di dalam kabam tersebut. Memburu, adalah istilah untuk menyebtu perburuan di perairan tawar yang dilakukan khusus oleh para perempuan Dayak Ngaju. Bedanya dengan ngeruhi dan dinun, dalam memburu ini dipakai alat bantu yakni jaring berukuran kecil untuk ikan-ikan konsumsi ukuran kecil.

Saya pernah melihat proses yang disebut ngeruhi dan juga dinun, keduanya saya lihat juga di Kalimantan tengah tepatnya di sekitar Petuk Barunai. Proses perburuan yang juga dilakukan oleh kaum perempuan ini hampir tidak memerlukan alat bantu sama sekali. Jadi begini, rombongan ibu-ibu biasanya akan memilih lokasi yang cukup dangkal dan terisolasi (bisa sungai yang hampir kering, ataupun sudut danau yang mulai terisolasi). Aktifitas ini seringnya dilakukan selepas kaum ibu-ibu bekerja di ladang, dalam perjalanan pulang menuju ke rumah. Di Dayak Ngaju, kegiatan ini identik dengan kaum perempuan karena hampir semua pelakunya adalah kaum hawa. Kaum pria biasanya akan melakukan perburuan lainnya yang secara teknik dan fisik lebih berat, misalnya saja berburu babi, rusa, memancing malam hari, menjaring di sungai besar, dan lain sebagainya. Atau yang sama-sama dilakukan di perairan tawar mereka bisa melakukan kegiatan tukung/hajak, dan lain sebagainya.
Kegiatan memburu kurang lebih sama dengan apa yang dinamakan dengan dinun dan juga ngeruhi. Kelompok akan terjun ke perairan dangkal yang dikira cukup terisolasi dan kemudian mengacaunya dengan tangan, kaki, ataupun tongkat kayu. Ikan-ikan yang bersembunyi di dalam lubang, di batang kayu, dan lain sebagainya diharapkan akan keluar, panik, melarikan diri, dan sebagian terjebak di jaring yang telah dibentangkan sebelumnya. Kegiatan ini jika saya lihat sangat menguras tenaga, apalagi misalnya yang dipilih adalah rawa-rawa atau danau yang airnya dingin. Seperti hari itu kami lakukan di rawa-rawa Desa Panjehang yang meskipun cukup teduh, tetapi kawasan rawa ini memiliki banyak sekali ‘jebakan batman’ dan airnya juga sangat-sangat dingin! Tetapi yang saya lihat di rombongan ibu-ibu dari Desa Panjehang waktu itu, mereka melakukannya dengan semangat yang luar biasa mencengangkan jauh dari perkiraan saya yang sempat khawatir bahwa dokumentasi akan juga ikut ‘dingin’. Ibu-ibu Dayak Ngaju tersebut terus bergerak kesana kemari meski medan rawa saat itu sangat berat menjebak kaki, berteriak, dan tertawa, bahkan beryanyi. Suasana rawa-rawa yang biasanya sunyi menjadi seperti ada keriuhan yang luar biasa. Saya tidak melihat ibu-ibu yang rewel, manja dan banyak maunya (seperti sering saya temui di perkotaan), tetapi saya seperti melihat sekumpulan bocah yang sangat sangat gembira bermain air! Alam liar Kalimantan memang akan membentuk siapapun menjadi tangguh dan penuh semangat. Hasil kegiatan memburu waktu itu adalah beberapa puluh ikan kapar dan ikan belida. Tetapi saya menjadi tidak lagi memperhatikan hasil yang didapatkan saat itu, padahal ikan-ikan yang kami dapatkan cukup menarik, yang begitu membekas di sanubari saya dan menurut saya paling ‘mahal’ kemudian adalah inspirasi semangat hidup dan kegembiraan yang begitu apa adanya, begitu penuh syukur dalam menjalani kehidupan, seberat apapun itu yang harus kita lewati. Salam wild fishing!

















* Pictures mostly by Me at Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers