Friday, 8 April 2016


Teriring salam untuk seluruh 'keluarga' Dayak saya di Lung Tuyoq & Liuq Mulang, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Catatan kecil ini dibuat di sela-sela waktu suting, di sebuah desa terpencil di Bungku Utara, Sulawesi Tengah.

Setelah ‘menggeluti’ dunia yang cenderung amis ini (baca: mancing), saya memang bermimpi bahwa setidaknya sekali dalam hidup saya, bisa mendokumentasikan spesies ikan purba yang disebut ikan Bagarius yarelli (Goonch fish). Ikan yang konon tidak pernah ber-evolusi selama ribuan tahun (4000 tahun lebih katanya), dan jika kita amati bagian wajah ikan Bagarius yarelli ini kita seperti melihat seorang renta tetapi kharismatis dan bukan berasal dari dunia yang kita huni sekarang ini. Dia seperti mewakili sebuah dunia lain yang tidak kita kenal, entah dimana. Mimpi itu ternyata terwujud begitu saja, seperti memang telah direncanakan oleh-Nya. Saya pertama kali melihat ikan purba ini di hulu Sungai Kelai, Kalimantan Timur. Di sebuah desa terpencil milik masyarakat Dayak Punan, Long Sului namanya, sekitar 3 hari ‘naik’ sungai jeram dari Tanjung Redeb. Orang Dayak Punan di Long Sului menyebutnya “ikan pesawat” karena memang jika diamati dari atas, ikan ini menyerupai bentuk sebuah pesawat terbang. Mimpi itu ternyata terus berlanjut dan semakin menarik. Pada tahun 2011 waktu itu bisa menjelajah salah satu sungai di wilayah Riau dan kemudian naik ke bagian hulu, sayangnya eksplorasi ini menghadapi tantangan berat dari berubahnya ekosistem sungainya.

Sungai Batang Kuantan saat itu di bagian hulu telah menjelma menjadi semacam arena ‘perang’ antar ‘transformer’, yakni dipenuhi alat-alat penyedot emas yang jumlahnya ratusan dan beroperasi hampir sepanjang hari dengan suara yang sangat bising itu. Hulu sungai berarus deras itu juga menjadi gempita layaknya ada robot monster yang mengerang dengan pita suara yang rusak, juga air sungai berubah menjadi seperti warna kopi susu entah telah berapa tahun lamanya. Sangat disayangkan karena waktu itu kami tiba tanpa informasi yang matang tentang perubahan ekosistem yang ada di Batang Kuantan. Satu-satunya informasi yang kami pegang adalah bahwa di sungai ini masyarakat kabarnya sering mendapatkan ikan purba ini dan bahkan ada yang beratnya lebih dari 30 kilogram (ada bukti fotonya di sebuah ponsel milik seorang kawan di Sumatra Barat), karena ‘racun’ itulah kami kemudian tiba di Batang Kuantan (melalui jalan darat dari Padang) dan kemudian menjelajah ke hulu yang kami duga sepi dari aktifitas sehari-hari manusia. Misi tidak sepenuhnya gagal, tetapi jika diukur berdasarkan skala, mungkin hanya 10 % saja prosentase keberhasilannya. Kami saat itu setelah melakukan berbagai usaha mancing ekstra keras, berhasil mendapatkan ikan Bagarius yarelli seberat 3 kilogram, satu ekor! Hehehehe!

Cukup sudah curcol-nya. Awal tahun 2016 adalah masa-masa yang sangat sibuk, entah kenapa, dan memang sepertinya selalu seperti itu. Tetapi di antara kesibukan ‘mensyukuri’ tahun baru tersebut secara tidak direncanakan saya melihat peta Kalimantan Timur, dan mata saya tertuju pada sebuah alur sungai paling penting di Kalimantan Timur, yakni Sungai Mahakam. Saya ingin ‘naik’ ke hulu sungai ini, batin saya. Kontak pertama saya adalah seorang kawan yang tinggal di Tenggarong, kawan lama yang selama ini hanya saya kenal melalui media sosial. Kawan ini kemudian menghubungkan saya dengan orang-orang yang bisa membuka akses ke daerah-daerah terpencil di hulu Sungai Mahakam. Dari situlah juga saya kemudian tahu bahwa ternyata belum lama ini telah terbentuk kabupaten baru bernama Mahakam Ulu dengan ibukota Ujoh Bilang, kabupaten yang masih sangat belia, baru berusia tiga tahun, pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat. Dan secepat kilat, rejeki anak sholeh sepertinya, tiba-tiba saja saya kemudian memiliki banyak sahabat yang siap untuk menemani dan juga menhubungkan dengan pihak-pihak terkait di Mahakam Ulu (baik itu masyarakat adat, juga pemerintah setempat). Pada suatu hari yang seperti biasa terjadi di Jakarta, yakni macet dan lain sebagainya, datanglah lima orang perwakilan dari masyarakat Mahakam Ulu yang menyatakan niatnya bahwa saya dan tim telah diterima dengan senang hati di Mahakam Ulu. Padahal saya baru dalam tahap perencanaan, tetapi antusiasme masyarakat Mahakam Ulu ternyata sangat luar biasa. Dengan letak geografis jauuuh di pegunungan Kalimantan Timur, mereka bisa tiba-tiba nongol di Jakarta, sekedar untuk menyampaikan bahwa mereka gembira dengan niat saya (juga kami) dan siap membantu semaksimal mungkin. Saya (dan kami sebagai program) tidak minta apa-apa bapak, ibu, juga abang. Cukup bantu kami riset tema-tema petualangan yang menarik, dan temani kami selama berpetualang di Mahakam Ulu, begitu jawaban saya kepada para tamu terhormat dari Mahakam Ulu tersebut. Dan baru pada bulan Maret, petualangan kami ke Mahakam Ulu akhirnya terwujud dengan segudang kisah yang terjadi di dalamnya, juga segudang kesan setelahnya, tetapi baiknya kita kembali lagi ke masalah ikan kuyur dahulu alias the mighty Bagarius yarelli. Kisah-kisah Mahakam Ulu yang lain akan saya tuliskan di catatan berikutnya.

Yang pasti singkat cerita, suatu hari yang sangat panas, dengan diambut kehangatan yang khas masyarakat Dayak pedalaman dengan gelang manik gong dan lain sebagainya, saya dan juga tim Jejak Petualang Wild Fishing yang dikawal dengan satu ‘kompi’ rekan-rekan dari Samarinda, juga Ujoh Bilang, akhirnya merapat di sebuah dermaga kayu yang berada persis di depan ‘gerbang’ Kampung lung Tuyoq, kampungnya orang Dayak Long Glaat, salah satu sub suku Dayak Bahau (ada juga yang bilang salah satu sub suku Dayak Modang). Saya jujur saja bahkan belum melakukan dokumentasi apapun ketika diberi tahu banyak hal oleh masyarakat tentang kaitan ikan Bagarius yarelli dengan masyarakat Lung Tuyoq. Sangat mungkin karena kalau menyangkut dunia ikan, saya selalu sangat antusias dalam ‘mengulik’-nya melalui berbagai cara; ngopi bareng, saat di long boat, dan lain sebagainya. Sehingga apapun yang diketahui oleh orang lain tentang ikan, kemudian dibagi kepada saya begitu saja. Informasi keterkaitan ikan yang dalam bahasa Long Glaat disebut kuyur dengan kepercayaan masyarakat Dayak Long Glaat bahkan sejatinya telah saya terima sedikit dari hasil ngobrol dengan perwakilan masyarakat yang pada awal tahun sempat nongol ke Jakarta. Informasi awal tersebut memang sangat sederhana tetapi sangat ‘matang’. Bahwa di Mahakam Ulu masih banyak terdapat ikan Bagarius yarelli berukuran monster dan oleh masyarakat dijaga secara adat. Ada spesies purba yang dijaga secara adat? Di pedalaman? Ini menarik dan saya harus ke tempat tersebut? Demi apa dijaga secara adat? Dan lain sebagainya. Begitu banyak pertanyaan yang kemudian berkembang.

Berikut ini akan saya sarikan semua hal tersebut. Adalah seorang tokoh pemuda bernama Dalung Lejau, yang merupakan keturunan bangsawan Long Glaat yang pertama kali membagi kisah tentang ikan kuyur dan keterkaitannya dengan masyarakat Lung Tuyoq. Pengetahuannya tentang ikan kuyur tersebut dia dapat secara lisan dari para nenek moyangnya. Alkisah di masa yang entah di wilayah geografis yang juga entah dimana di Kalimantan Timur, (kampung Lung Tuyoq saat ini adalah settlement paling mapan Dayak Long Glaat saat ini usai migrasi besar dari sekitar aliran Sungai Modang entah tahun berapa), hiduplah seorang perempuan Long Gelat yang masih merupakan keturunan keluarga raja ataupun bangsawan ataupun orang penting lainnya dalam masyarakat. Dia hidup dalam kearifan pekerti, berikut juga menjunjung tinggi adat istiadat dan juga hidup dengan membaktikan diri untuk keluarga dan masyarakatnya sebaik mungkin. Nenek moyang ini (disebut boq), hidup sangat lama dan bahkan konon tidak mati-mati. Saking tuanya masa hidup boq ini kedua kaki boq ini kemudian hampir menyatu satu sama lainnya, munculah kemudian semacam keinginan penting (semacam baru mendapatkan wahyu), bahwa dia ingin melanjutkan hidupnya di Sungai Mahakam. Diijinkanlah kemudian boq ini ke dalam Sungai Mahakam, tetapi kemudian terus berenang dan tidak mau lagi naik ke darat. Lokasi tempat turunnya boq ini ke Sungai Mahakam kemudian sering muncul ikan aneh berukuran besar, ikan inilah yang kemudian hari ini oleh orang Long Glaat disebut dengan nama kuyur. Thats why, dalam masyarakat Long Glaat hingga hari ini, terutama di kalangan bangsawan dan ataupun masyarakat lainnya yang memahaminya, tidak ada yang mau memakan daging ikan kuyur ini sebab dianggap sebagai titisan dari nenek moyang mereka pada jaman dahulu. Bahkan ada semacam ‘kelebihan’ yang dimiliki oleh orang Long Glaat, meskipun daging ikan kuyur tersebut disajikan sudah dalam keadaan matang (digoreng misalnya) dan yang disuguh tidak tahu sejak proses awal ikan apa, bisa tahu bahwa ikan tersebut kuyur. Semoga saya tidak salah dalam menuliskan ulang tentang kisah ikan kuyur yang merupakan perwujudan boq orang Long Glaat ini, tetapi kurang lebih begitulah kisahnya, jika ada koreksi saya sangat menghargainya.

Berikutnya adalah penjelasan dari seorang nenek renta yang tetap cantik, bernama Ping. Yang ketika saya main ke rumahnya dia begitu antusias mengomentari semua tattoo saya kekecilan, bikin yang besar! Hahahaha! Nayaq (nenek) Ping mengatakan kepada saya kenapa tattoo yang dia miliki hanya terdapat di tangan dan pergelangan kaki saja, apa makna dibalik tattoo ini? Pertama tattoo dalam masyarakat Long Glaat paling banyak memang dimiliki oleh kaum perempuan saja, kaum lelaki juga memiliki tattoo tetapi tidak sebanyak kaum perempuan dan juga motif yang dimiliki kaum lelaki tidak seperti kaum perempuan. Kaum lelaki bisa membuat tattoo apa saja sesukanya, meskipun kebanyakan tentang motif Long Glaat yang menggambarkan aso (anjing), dan juga nangberang (makhluk mistis yang paling kuat). Tattoo kaum perempuannya cenderung seragam, berupa garis-garis yang hampi rmenghimpit di pergelangan kaki, dan juga motif nge-block di telapak tangan bagian luar. Tujuan tattoo pada kaum perempuan Long Glaat konon untuk mempercantik diri,  itu saja. Nggak cantik kalau nggak punya tattoo. Kata nayaq Ping yang juga bertelinga panjang tersebut. Kenapa motifnya seragam, tanya saya. Karena ini melambangkan boq kami, jawabnya. Yakni boq yang menjelma menjadi ikan kuyur di Sungai Mahakam. Motif kulit ikan Bagarius yarelli memang memiliki dua ‘bagian’ dengan warna yang lebih gelap dari warna bagian tubuh lainnya, yakni di dekat ekor dan di dekat leher. Jadi itulah jawabnya, tattoo kaum perempuan Long Gelat bukan hanya sekedar tentang menjadi keren, tetapi juga demi mengingat leluhur mereka. By the way, yang membuat tattoo pada kaum perempuan Long Glaat juga tukang tattoo yang perempuan. Dibuat tentunya dengan teknik tattoo paling keren itu, hand tapping dengan jarum duri jeruk dan pewarna diambil dari jelaga hitam hasil pembakaran serabut khusus untuk tattoo.

Informasi terakhir tentang ikan Bagarius yarelli di Long Glaat adalah bahwa kepala ikan kuyur adalah salah satu persembahan untuk dewa-dewa mereka pada waktu digelar upacara adat tertentu, salah satunya upacara adat nemlai (inisiasi pendewasaan/akil balik untuk anak-anak lelaki keturunan Long Glaat). Bagaimana cara penghidangannya? Digantungkan di rumah adat ketika upacara nemlai digelar, dan akan terus digantung sepanjang tahun sampai didapatkan ikan Bagarius yarelli dengan ukuran kepala yang lebih besar lagi. Sayangnya waktu itu, titik gantung kepala ikan Bagarius yarelli ini di lamin adat mereka terlalu tinggi di langit-langit, saya tidak dapat memotretnya dengan jelas dengan kamera ponsel yang saya miliki. Yang memberi informasi saya tentang hal ini, termasuk juga menunjukkan tempat menggantungnya di langit-langit lamin adat, adalah salah satu pemimpin religius Long Glaat yang memiliki wewenang memimpin upacara adat penting sekelas nemlai (orang ini juga seorang perempuan dan telah sangat renta). Saya lupa nama beliau, nanti akan saya tambahkan nama beliau di catatan ini. Saya tidak menemukan jawaban kenapa jika memang Bagarius yarelli begitu dihormati karena merupakan penjelmaan boq, tetapi kemudian dikorbankan untuk dewa-dewa ketika upacara adat nemlai? Konsep korban/pengorbanan ini sebenarnya umum dikenal di masyarakat kita yang masih kuat animismenya. Misalnya saja di masyarakat tertentu dengan mengorbankan kepala kerbau, dan lain sebagainya.

Tak mengherankan jika di sungai-sungai sekitar Lung Tuyoq, memiliki populasi ikan Bagarius yarelli yang sangat tinggi. Sebagai gambaran, selama tujuh hari di sana kemarin, saya melihat ikan klasik ini sebanyak tujuh ekor dengan berat yang beragam (paling kecil 3 kilogram dan paling besar 10 kilogram). Segini saja saya sudah senang bukan kepalang, tetapi masyarakat malah mengatakan bahwa kalau mau lihat yang ukurannya sebesar manusia dan bisa lebih besar lagi, saya dipersilahkan datang kembali pada musim kemarau, kami jamin bisa lihat monster Bagarius yarelli, kata mereka. Menarik, hal ihwal keterkaitan ikan kuyur dengan Dayak Long Glaat telah saya singgung semuanya. Saya mencoba melihat efek kearifan lokal dan kepercayaan masyarakat itu dari sisi yang berbeda. Pertama, sangat jelas bahwa populasi ikan purba ini sangat terjaga hingga hari ini. Dari sisi lingkungan ini sangat luar biasa mengingat makin rusaknya habitat ikan unik ini di berbagai perairan tawar lainnya di Indonesia. Ada efek lingkungan dan keterkaitan konservasi yang sangat positif dari kepercayaan orang-orang Long Glaat tersebut. Belum lagi potensi wisata dan akademik dari spesies ikan purba yang bisa digarap di jaman modern ini. Kenapa saya bilang potensi wisata? Ya itu tadi, pertama ikan kuyur adalah spesies purba yang tidak pernah ber-evolusi selama ribuan tahun. Ini menarik untuk menjadai bahan studi peneliti-peneliti dan berbagai pihak lainnya. Yang artinya hanya karena satu spesies unik, Lung Tuyoq bisa menjadi destinasi wisata penting di Kalimantan Timur. Satu kedatangan seorang peneliti, banyak sektor kehidupan di kampung akan bergerak (sewa perahu, homestay, kru lokal, porter, toko sembako, dan lain sebagainya). Jika sepuluh? Jika seratus peneliti? Kedua, dengan sehatnya populasi ikan purba ini, masyarakat bisa menggarap wisata petualangan dan lingkungan yang sangat unik, dengan target peminat adalah pecinta ikan unik, pemancing yang sudah bosan dengan ikan-ikan yang mainstream, dan lain sebagainya. Paket wisatanya semacam menjelajah sungai jeram dengan bonus pengamatan ikan Bagarius yarelli di rumah aslinya di alam liar misalnya. Dan masih banyak hal lagi lainnya yang bisa digerakkan di Lung Tuyoq hanya gara-gara ikan kuyur yang telah mereka jaga selama entah berapa ratus atau ribu tahun tersebut. Yang pasti semua hal yang saya pahami dalam konteks keterkaitan ikan kuyur dengan orang Dayak Long Glaat, menurut saya sangat keren sekali! Demikian dan salam wild fishing!



* Pictures of Bagarius yarelli by Me. Me and Nayaq Ping captured by Manurung Prima Uli. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

1 comments:

Andy Eko Aprianto, S.Pd. said...

Mantab bro . . . . Saya pernah di ujohbilang tahun 2008 , saat itu msh mjd bag dari kutai barat. Memang menarik di sana . . . . Lanjutkan , saya tunggu catatan2 anda yang lain di mahulu . . .

Popular Posts

Google+ Followers