Thursday, 14 April 2016


Untuk memahami kegundahan ini baiknya baca dahulu catatan kecil tahun lalu yang menjadi alasan kedatangan ketiga saya ke Morowali Utara ini yaitu Demi Indonesian Black Bass dan Catatan Tentang Tujuh Sungai.  Niatnya sebenarnya sangat sederhana, selain tentunya melakukan liputan keterkaitan perairan tawar dan payau dengan masyarakat sekitarnya, adalah menampilkan destinasi sportfishing baru yang layak untuk diperhitungkan di ranah wisata mancing nasional dan syukur-syukur internasional. Tetapi niatan sederhana ini sepertinya harus saya kubur dalam-dalam dan bahkan masuk dalam red list destinasi yang jangan pernah didatangi lagi karena beberapa pertimbangan. Banyak hal positif terkait potensi perairan yang pernah kami ‘bangun’ dan lakukan di berbagai daerah di Indonesia, banyak hal pernah kami lihat di berbagai penjuru negeri ini. Tentang bagaimana masyarakat menjaga perairan sekitar mereka, dan bagaimana memikirkan agar perairan dan segala potensinya dapat sustainable dan diwariskan kepada generasi penerus, dan malahan bagaimana memanfaatkan potensi perairan yang ada bukan semata demi konsumsi saja tetapi juga agar mendatangkan penghasilan untuk seluruh masyarakat dari sisi wisata mancing dan lain sebagainya. Hari ini, hari kedelapan saya di Morowali Utara, yang kemudian saya pahami sungguh membuat gundah dan kekecewaan yang teramat dalam. I know, saya tidak memiliki hak apapun dengan tanah air dan apapun di wilayah ini, saya hanya pejalan dan pekerja media, dan mungkin akan ada orang yang berkata buat apa saya bicara banyak, apa urusannya saya bicara banyak. Pertanyaan saya, buat apa menjadi pemilik tanah air jika hanya bisa merusak dan menghancurkannya? Hanya bisa mengurasnya dengan segala kerakusan yang bahkan terkadang caranya diluar nalar dan bukannya malah menjaganya demi anak cucu?!

Sungai Tirongan adalah harapan kami terakhir dalam perjalanan wild fishing ini. Kami pikir dengan banyaknya informasi tentang aktifitas penangkapan ikan di laut dan sungai dengan bom ikan di wilayah ini, sungai yang lokasinya dekat dengan pemukiman ini bisa jadi agak terhindar dari perbuatan keji tersebut. Karena ada efek takut bagi siapapun yang hendak melakukan cara tangkap ikan yang merusak sebab bisa dilihat oleh penduduk yang rumahnya tidak jauh dari sungai. Dan apalagi sungai ini juga menjadi jalur sehari-hari ke kebun masyarakat Baturube juga Tirongan, pasti para pengebom ikan tidak berani melakukan niat kejinya disini. Yang artinya, populasi ikan di sungai yang terhubung langsung dengan laut ini bisa jadi cukup menjanjikan. So, tadi pagi dengan semangat yang kami perbarui, kami masuk ke Tirongan sehari penuh. Naik hulu, lalu drifting ke muara, begitu bolak-balik sepanjang hari. Sepuluh ribu lemparan umpan sudah kami lakukan ke segala penjuru yang kami anggap potensial, tonggak kayu di tepian, pohon roboh, lubuk dalam dan lain sebagainya. Hasilnya? Luar biasa! Luar biasa mengecewakan! Ikan target yang menjadi incaran kami tidak kami dapatkan, dan juga ikan-ikan lain apapun itu jenisnya. Padahal kedalaman dan lubuk-lubuk yang ada di sungai ini lumayan menjanjikan. Mengingatkan saya pada spot ikan black bass paling klasik di Indonesia, yakni di Pulau Halmahera. Di Halmahera, sebuah sungai yang pernah saya sambangi dengan tim Mancing Mania Trans7 panjangnya tidak sampai 3 kilometer. Tetapi setiap air pasang masuk dan juga setiap air keluar surut dari sungai, aktifitas ikan black bass (Lutjanus goldei) yang ada sungguh membuat merinding, membuat peralatan pancing banyak patah, dan puluhan umpan putus! Sungai di Halmahera tersebut menjelma menjadi medan perburuan mangsa dari ikan-ikan black bass berukuran monster! Padahal lokasi ini juga dekat dengan pemukiman warga, bahkan dilintasi jalan raya antara Bandara Kao – Tobelo.

Di seluruh sungai di Morowali Utara yang kami datangi hingga hari ini, jangankan jalan raya, jalan kampung yang ada saja hanya melewati tiga sungai yang ada (Tirongan, Salato, dan Tokala). Itupun benar-benar jalan kampung berbatu yang belum tentu setengah jam sekali melintas motor/mobil, yang artinya wilayah ini sangat terpencil dan cukup sulit diakses oleh masyarakat dari luar. Kenapa saya sebut masyarakat dari luar daerah memiliki kecenderungan merusak potensi perairan yang ada, karena mereka tidak ada rasa memiliki yang kuat terhadap sungai dan segala isinya. Berbeda dengan pemilik tanah airnya, yang artinya masyarakat sekitar sini, yang karena memiliki biasanya akan mencintai dengan sebaik-baiknya. Yang terjadi ternyata di luar dugaan, pemilik tanah air itu sendiri yang malah merusaknya dengan ketamakan yang memuakkan. Kenapa saya berani menulis demikian? Apa dasar pijakan saya? Apa seluruh masyarakat sekitar delapan sungai yang kami datangi dalam perjalanan ini semuanya suka merusak alam di sekitarnya, jawabannya tidak. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang melakukannya, tetapi efeknya jelas terasa untuk seluruh masyarakat juga alam yang ada di wilayah ini. Seminggu lalu, awalnya saya masih tidak percaya bahwa aktifitas pengeboman ikan di wilayah ini bisa masuk hingga ke sungai-sungai. Ternyata kabar yang awalnya saya anggap sebagai khabar burung ini benar adanya. Kenapa benar? Ya karena pelakunya sendiri yang berbicara kepada saya! Saya tidak akan menyebut nama, tetapi selama delapan hari berada di wilayah ini, setidaknya saya telah berhadapan muka dengan lima pengebom ikan. Berarti kalau saja bisa lebih lama berada di wilayah ini, jumlahnya sepertinya hampir pasti akan bertambah? Ratusan orang? Lha berarti hampir 50 % lebih orang yang tinggal di wilayah ini melakukan kegiatan tangkap ikan yang dilarang undang-undang tersebut?! Kog sepertinya tidak ada upaya pencegahan dan ataupun penegakan hukum yang berarti terkait kegiatan yang dilarang undang-undang ini?!

Semua ‘pengakuan’ dari para pelaku penangkapan ikan dengan cara yang merusak tersebut kami dapatkan begitu saja tadi, sepanjang hari kami bolak-balik menyusuri Sungai Tirongan. Oh ya sebelum lupa, kemarin malam ketika kami nongkrong di teras basecamp di Baturube, seorang warga yang entah datang darimana ikutan nimbrung, sepertinya dia cukup dekat dengan pemilik rumah tempat kami menginap. Basa-basi sejenak, dia kemudian bertanya, apakah sudah mendapatkan ikan yang kami cari-cari? Belum Om jawab saya, sambil hhhhhhhh saking capeknya 7 hari berkeliling mencari sang black bass yang berukuran monster. Di Sungai Tirongan banyak kog katanya, sungai di belakang kampung ini. Masak sih Om dekat kampung begini ada ikan black bass-nya, wong 7 sungai yang jauh saja hasilnya nihil, jawab saya lagi. Banyaaak, saya pernah ‘lempar’ di muara Tirongan dapat 50 kg kog totalnya. Melempar? Maksudnya? Seorang warga lainnya menerjemahkan arti ‘lempar’ tersebut yang rupanya adalah sama dengan nge-bom ikan! Saya kaget, itu khan dilarang undang-undang Om, lagian kalau dibom setelah itu semua akan musnah, belum tentu puluhan tahun ke depan ekosistem di sekitar lokasi nge-bom itu akan pulih. Dia tidak peduli, habisnya susah sekali saya pancing ikan-ikan ini, padahal di bawah di dalam air kelihatan sekali sangat banyak. Katanya lagi. Sebagai bagian dari masyarakat Suku B*** yang sebagian besar hidupnya memang di laut, sulitnya mendapatkan ikan nain harusnya disiasati dengan memancing dengan cerdas dan juga semangat tinggi. Eh ini dengan ‘melempar’?! Belum selesai terkejut saya, seorang warga lainnya menyahut. Kalau saya juga pernah ‘lempar’ di muara Sungai Tokala, timpalnya. Gustiiii! Jadi selama ini saya memancing di sisa-sisa lokasi orang biasa nge-bom?! Hasil dari nge-bom di Sungai Tokala ini seingat dia jumlahnya 200 kilogram (ikan campur: kerapu & black bass). Sudah membuat terkejut, yang sangat menyedihkan, mereka semua menceritakannya tanpa ekspresi bersalah sama sekali dan malah sambil tersenyum puas. Gila?! Cerita-cerita tentang kegiatan nge-bom ikan yang sepertinya tidak ditindak oleh aparat yang berwenang ini kurang lebih juga saya dengar sepanjang waktu, ketika hari ini kami berkeliling bolak-balik hulu dan muara Sungai Tirongan. Clear! Jadi memang ekosistem perairan payau di wilayah ini memang sedang menuju kehancurannya karena keserakahan manusianya?! Bukan hanya berubah kalau kenyataannya seperti ini mah, tetapi sedang menuju kehancuran! Entah kenapa saya tiba-tiba kepikiran untuk membentuk satgas nasional pemberantasan bom ikan?! Pak Presiden?!!!

* Photo by Me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers