Sunday, 3 April 2016


Sebelum menuliskan tentang proses perburuan perairan tawar khas Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah ini, ada baiknya saya tuliskan sedikit beberapa istilah yang bisa jadi terkit erat dengan proses perburuan ini. Pertama adalah petua. Petua adalah istilah untuk menyebut petuah, nasehat, pantangan, ataupun laku khas lainnya dan semacamnya yang mana dalam masyarakat Dayak Ngaju bisa berarti semacam ‘rambu-rambu’ agar sebelum kita melakukan sesuatu kita menempuh ‘persyaratan’ yang diperlukan sehingga tujuan yang dimaksud dapat tercapai tanpa halangan berarti. Contoh misalnya kita hendak berangkat pergi ke suatu tempat, tiba-tiba ada kawan yang tidak jadi, setidaknya bawalah pakaian yang tidak jadi berangkat bareng kita tersebut agar kita tidak ketiban sial (kepohonan/kepuhunan). Kedua adalah hajak. Hajak adalah alat bantu perburuan yang terbuat dari anyaman bambu ataupun bilah rotan yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk semacam tirai dengan panjang dan ketinggian tertentu. Alat ini biasanya akan dipasang menghadang ataupun menutup sungai ataupun sudut danau kecil yang dangkal dengan melawan arus atau menghadap ke arah daratan jika di danau tenang. Terakhir adalah tukung. Tukung adalah istilah untuk menyebut kegiatan yang dilakukan kaum pria Ngaju dalam berburu ikan-ikan air tawar tetapi proses perburuan dilakukan dengan tangan kosong (handfishing) tetapi juga didukung dengan alat bantu yang disebut hajak untuk menutup ‘pintu’ keluar pergerakan ikan yang menjadi target. Kenapa saya sebut ini kegiatan kaum pria, karena kalau kaum perempuan Ngaju, proses handfishing yang dilakukan dinamakan dengan ngeruhi ataupun dinun.

Pertama kali melihat proses perburuan jenis ini adalah ketika pada akhir tahun lalu saya berkeliling sebuah desa kecil di ‘tepian’ Taman Nasional Sebangau, namanya Desa Paduran, sekitar 7-8 jam jauhnya dari kota Palangkaraya dengan menggunakan kendaraan roda empat standar. Namun yang saya lihat di Desa Paduran, proses ini dilakukan di kawasan rawa sekitar Sungai Sebangau yang mulai mengering ketika kemarau. Jadi hajak akan dihadangkan pada arah surutnya air, dan di bagian tengah bentangan hajak ini akan ditaruh semacam perangkap sehingga ikan-ikan yang berniat keluar supaya tidak terjebak surutnya air, kemudian akan bergerak mengikuti ‘benteng’ hajak dan secara tidak sadar kemudian akan masuk perangkap (bubu). Panjang hajak di Paduran ini bisa puluhan meter karena memang rawa-rawa di daerah Sebangau sangatlah luas. Tetapi biasanya masyarakat akan memasang hajak di susut-sudut rawa yang tidak terlalu luas sehingga hajak cukup dibentangkan sepanjang 50-an meter saja. Pada awalnya sebenarnya saya ingin kembali ke Desa Paduran untuk mendokumentasikan proses perburuan unik ini, tetapi mengingat ‘keluarga’ lain juga mengatakan rindunya, akhirnya kaki saya melangkah menuju ke tepian Sungai Rungan, sekitar 3-4 jam dari Palangkaraya dengan menggunakan mobil kemudian dilanjutkan dengan kelotok, perahu kayu berukuran besar.

Kontur wilayah di Sungai Rungan jauh berbeda dengan daerah Sebangau utamanya di Desa Paduran (masuk dalam Kecamatan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau). Daerah sekitar aliran Sungai Rungan tidak seperti daerah sekitar Sungai Sebangau yang memiliki rawa gambut maha luas tersebut. Sekitar Sungai Rungan adalah hutan tropis dataran rendah seperti biasanya dengan batas sungai yang cukup jelas, yang banyak adalah danau dan juga anak-anak sungai baik kecil ataupun besar. Di dalam anak-anak sungai masih terdapat banyak lagi sungai-sungai kecil lainnya dan terkadang hanya selebar 5-10 meter saja. Melenceng sedikit tentang Sungai Rungan, sepanjang aliran sungai ini banyak terdapat penambangan emas dengan cara disedot sehingga aliran Sungai Rungan relatif keruh sepanjang tahun! Hanya di anak-anak sungai saja kita memiliki harapan menemukan air yang masih berwarna hitam (baca: jernih). Di salah satu anak sungai inilah kemudian kami memutuskan untuk melakukan proses tukung dengan pertimbangan populasi ikan yang menurut warga konon masih cukup baik juga cukup aman untuk pergerakan seluruh rombongan karena dasar sungai berupa pasir putih (white sand). Sebenarnya bisa saja proses tukung ini kami lakukan di sungai yang agak besar dengan kedalaman yang lebih baik tetai pertimbangan keamanan dan sulitnya pergerakan (terutama pergerakan kru kamera), akhirnya kami putuskan dilakukan di sungai kecil yang dangkal dan cukup tenang.

Sebelum proses tukung dilakukan ketua rombongan ataupun orang yang dituakan memimpin akan melakukan proses menjalankan petua. Anggota rombongan biasanya akan berkumpul bersama dalam satu kerumunan dan kemudian pemimpin kelompok tukung ini akan berkeliling membacakan doa sambil memercikkan air dari sungai yang menjadi lokasi tukung ke seluruh anggota rombongan. Proses petua ini menurut saya sangat sangat lokal, kita seperti terlempar ke masa lalu, proses seperti ini sepertinya hanya dapat kita temukan di gambar-gambar kuno, melihat proses sederhana tetapi ‘sunyi’ dan bertabur kata harapan ini (petua dalam proses tukung ini biasanya berisi doa-doa agar hasil tangkapannya bagus, bukan banyak dan berlimpah ya). Saya tidak mengerti bahasa Dayak Ngaju, tetapi ada dua kata yang sangat saya ingat dari proses petua ini adalah “are tapah” “are tomman” dan nama ikan-ikan lainnya. Memang arti kata “are” adalah “banyak”, tetapi dalam proses perburuan penuh kearifan lokal seperti ini, hal tersebut sebenarnya adalah harapan. Bukan ‘nafsu’ untuk mengeruk hasil sebanyak-banyaknya (hari itu kami hanya mendapatkan tiga ekor ikan tapah dan semuanya tetap bergembira dan penuh syukur). Setelah proses petua ini hajak kemudian ditancapkan di ‘mulut’ sungai yang menjadi pintu keluarnya/mengalirnya sungai. Barulah kemudian seluruh kelompok akan bergeser ke arah hulu, sekitar 100-an meter, dan kemudian membuat kekacauan dengan segala cara antara lain membuat keruh air, memukul air dengan tongkat, berteriak, membongkar tepian yang kira-kira menjadi sarang ikan, dan lain sebagainya. Harapannya semua ikan akan lari keluar ke arah hajak dalam kondisi lemas karena tipisnya oksigen dalam air karena keruhnya air dalam keadaan panik. Memang kalau saya lihat di Dayak Ngaju kemarin proses tukung ini targetnya adalah ikan-ikan besar saja karena kerapatan hajak nya cukup renggang/lebar yang praktis ikan-ikan kecil akan lolos dari perangkap hajak. 

Di sinilah justru saya melihat kuatnya kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat, yaitu mengambil potensi perairan tetapi sambil tetap menjaga populasi ikan-ikan kecil yang berada di daftar teratas rantai makanan perairan tawar. Ini penting, sehatnya rantai makanan yang ada di habitat tersebut otomatis akan tetap menjaga populasi pemangsanya tetap ‘sehat’. Singkat cerita perburuan yang kami lakukan hari itu cukup berhasil dan mereka juga membuktikan bahwa proses tukung ini efektif diterapkan sekaligus ramah lingkungan. Demikian dan salam wild fishing!



























* Pictures mostly by Me at Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers