Sunday, 5 June 2016


Pada suatu malam yang biasa ketika saya ‘tenggelam’ dalam rutinitas di salah satu sudut Jakarta, seorang kawan, benar-benar kawan masa kuliah yang telah bermukim jauh di Benua Biru sana menelpon saya untuk sekedar meminta maaf, jika selama saya mengenalnya mungkin saja dia memiliki kesalahan dan apapun itu yang menggangu selama berkawan. Saya kaget karena terlepas apapun itu yang terjadi selama bersahabat dengan dia berpuluh tahun terakhir ini, saya merasa tidak perlu seseorang itu sampai harus segitu seriusnya meminta maaf. Karena masalah persahabatan (apalagi persahabatan yang baik), karakter, pembawaan, prinsip, dan lain sebagainya itu setiap orang pasti berbeda. Riak pasti ada dalam hubungan antar manusia, laut yang indah bukan laut yang tenang tidak berombak dan tanpa arus berbahaya, karena malah tidak ada ikannya. Jadi saya cukup dewasa untuk memahami apapun itu jati diri seseorang dalam bersahabat dengan saya. Kecuali bahwa ada hal-hal yang sangat prinsip dan sudah menjurus ke sesuatu yang tidak baik (fitnah, menipu, dan lain sebagaainya), maka seseorang itu memang sudah sepantasnya harus minta maaf, dan mungkin saja saya tidak mau lagi untuk berkawan. Pertanyaan saya berikutnya kemudian adalah, kenapa harus segitunya dia meminta maaf kepada saya, apalah saya ini toh kami berkawan baik-baik saja selama ini, tanya saya. Mumpung ada waktu katanya, kita tidak tahu umur manusia. Dia rupanya sedang sangat sedih karena tidak sempat memenuhi permintaan seorang sahabat yang ingin bertemu, dan ternyata kemudian sahabatnya tersebut meninggal belum lama ini. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan saya, juga dengan dirinya. Jadi baiknya mumpung masih ada waktu dia ingin melegakan diri dengan menghubungi semua sahabat baik yang telah ikut mewarnai hidupnya selama ini

Dan tiba-tiba juga saya kemudian teringat dengan orang-orang baik di sekitar kehidupan saya, keseharian saya, pekerjaan saya, apa yang saya lakukan di perjalanan di pedalaman, di sekitar kontrakan saya di Jakarta, di kampung halaman saya, dan lain sebagainya. Begitu banyak orang baik yang membantu saya, di berbagai daerah, di berbagai kesempatan dimanapun, dengan berbagai caranya. Saya terkadang tidak sempat untuk dengan begitu jelas dan tegas mengucapkan terimakasih dan atau menjabat tangan beberapa orang dari mereka dengan hangat, atau berbicara dengan ramah dan atau sering tersenyum kepada mereka. Ketika sedang dalam perjalanan tugas terutama, hal-hal seperti itu kadang terjadi saking konsentrasi saya kepada pekerjaan, tugas, dan banyak lagi hal “profesionalisme” lainnya. Oleh karena itu melalui postingan ini saya ingin melakukannya, terutama untuk masyarakat dan ataupun rekan-rekan di berbagai daerah yang telah begitu baik menerima saya juga tim dan membantu dengan segala cara demi terlaksananya tugas-tugas yang saya dan atau kami emban dengan baik, saya ingin mengucapkan sekali lagi, terimakasih banyak!!!

Kali ini terkait dengan perjalanan saya dan tim Jejak Petualang Wild Fishing Trans|7 ke Morowali Utara, Sulawesi Tengah, April lalu. Merupakan kali ketiga saya menjelajahi wilayah yang berada di sekitar ‘ketek’-nya Pulau Sulawesi ini. Perjalanan sebelumnya terjadi pada tahun 2015. Yang pertama terjadi pada bulan April 2015, ketika kami mencoba menguak dan mendokumentasikan tentang kehidupan salah satu suku nomaden di Sulawesi, Suku Wana. Saat itu saya ditemanai oleh host Vika Fitriyana dan kameraman Eko Priambodo. Trip ini berlangsung sukses! Kami berhasil menampilkan beragam warna kehidupan Suku Wana ke pentas media nasional. Kedatangan yang kedua adalah ketika saya, lady angler Chintya Tengens dan kameraman Mohammad Iqbal mengeksplorasi keberadaan spesies ikan prestisius Lutjanus goldei di perairan payau di wilayah ini. Trip ini juga sangat sukses karena kami berhasil mendapatkan ikan target dalam jumlah dan ukuran yang sangat menarik. Ini menjadi salah satu referensi ataupun pemahaman baru bagi banyak orang tentang ‘peta’ penyebaran spesies unik tersebut di perairan payau di negeri kita. Kedua perjalanan tersebut telah banyak saya tuliskan disini, Anda dapat melacaknya dengan beberapa kata kunci; indonesian black bass, Morowali Utara, dan Suku Wana. Sayangnya kedatangan ketiga saya dan tim ke wilayah ini, yakni pada bulan April 2016 berujung pada kekecewaan. Banyak sekali faktor yang menyebabkannya, juga telah saya tuliskan di blog iseng ini.

Saya paham mungkin 99 % pembaca catatan iseng di blog saya tidak mengenal orang-orang di foto-foto berikut ini. Orang-orang yang ada di foto-foto ini, beberapa adalah kru kami dari masyarakat Morowali Utara, juga masyarakat yang menjadi bagian kisah dalam perjalanan ini dan sebagian lagi adalah rekan-rekan lainnya dari Luwuk, Sulawesi Tengah, sekitar 7-8 jam jauhnya dari Morowali Utara, saya yakin juga belum tentu akan membaca catatan iseng ini. Meskipun demikian, saya tetap ingin mengucapkan terimakasih untuk semua kebersamaan ketika kita semua bekerja di Morowali Utara pada Maret lalu. Saya juga ingin mengucapkan terimakasih dan respek saya kepada tim (kameraman Eko Hamzah dan host Joe Michael) yang bagaimanapun kondisi lokasi saat itu, dengan penuh dedikasi terus 'berjuang' demi hasil terbaik. Meski jujur saya akui, ada rasa kecewa mendalam hingga hari ini, akibat ‘runtuh’-nya salah satu ‘benteng’ ikan-ikan Lutjanus goldei di wilayah ini akibat serangan bom ikan yang dilemparkan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab, dan alpha-nya upaya penegakan hukum atas apa yang mereka lakukan terhadap ekosistem perairan payau yang ada di wilayah ini. Saya tidak begitu yakin, tetapi semoga populasi ikan-ikan unik Lutjanus goldei yang di Indonesia mulai langka ini suatu saat bisa kembali seperti semula, seperti ketika saya pertama kali membasuh wajah saya dengan air sungai di Morowali Utara. Semoga dan salam wild fishing!
























* Pictures mostly by Me. Some shots by Eko Hamzah & Faisal Umar. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers