Sunday, 5 June 2016


Masih tentang Morowali Utara. Entahlah kenapa saya begitu memikirkan Kabupaten Morowali Utara, padahal hubungan dan kini keterkaitan saya dengan wilayah ini sejak semula adalah semata dalam rangka perjalanan melakukan pendokumentasian kehidupan masyarakatnya, baik itu yang ada di pegunungan (Pegunungan Tokala) maupun di pesisirnya. Mungkin karena di wilayah ini ada seorang bocah cantik bernama Loli, bocah 4 tahun anak seorang kepala desa yang rumahnya pernah menjadi basecamp kami sepuluh hari lamanya. Atau mungkin karena di wilayah ini ada sebuah keluarga yang sedang menyambut kelahiran seorang buah hati, yang meski saat itu juga sangat sibuk juga nervous dengan persiapan kelahiran, masih menerima saya dan tim berteduh di rumah mereka yang tenang itu, juga sepuluh hari lamanya. Atau mungkin karena di wilayah ini pertama kali dalam hidup saya bisa menjadi orang yang pertama dengan tegas menyatakan bahwa di Sulawesi ada juga ikan Indonesian black bass (Lutjanus goldei)? Yang meski kini ‘emas’ perairan payau ini sudah mulai menghilang diterjang bom ikan (berdasarkan informasi yang saya dapatkan langsung dari pelakunya sendiri ketika saya kembali lagi ke wilayah ini). Atau karena lanskap wilayah ini yang begitu menggetarkan dengan Pegunungan Tokala-nya yang megah juga membius itu? Ataukan mungkin karena saya sudah pernah mandi dan minum air Kuala Salato yang saat itu begitu bening dan dingin itu? Sehingga saya menjadi terikat dengan wilayah dan masyarakat di wilayah ini? Semacam ‘bius’ supranatural yang begitu kuat? Atau saking karena di wilayah ini sebenarnya tidak ada apa-apa sehingga saya kemudian gelisah mencari jawabannya

Saking seringnya menjelajahi wilayah ini, sampai-sampai ada rekan kerja yang bertanya, kecantol siapa kog saya begitu rajin ke Morowali Utara, sedikit banyak saya telah berinteraksi dengan banyak orang beragam latar belakang, profesi, interest, dan tentunya karakter. Baik itu yang ada di Pegunungan Tokala yang masih hijau, di bawah Pegunungan Tokala yang telah banyak berubah menjadi kawasan perkebunan sawit, dan juga di wilayah pesisirnya yang begitu panas dengan masyarakatnya yang heterogen. Masyarakat pesisir di wilayah ini, setidaknya yang berada di Kecamatan Bungku Utara terdiri dari beberapa suku bangsa. Yang cukup signifikan jumlahnya adalah Bajo, Banggai, Jawa dan Bali. Sedikit di belakang kawasan pesisir ini, dekat dengan Pegunungan Tokala, adalah Suku Wana (atau sering juga disebut dengan Orang Ta’), salah satu suku nomaden yang masih ada di Pulau Sulawesi. Ada yang menyebut suku ini salah satu suku pejuang hutan Indonesia, saking kuatnya prinsip mereka dalam menjaga hutan ulayat milik mereka. Ini terlalu ngelantur kemana-mana, kita kembali lagi ke masyarakat pesisir seperti saya niatkan pada judul catatan iseng ini. Sebagaimana lazimnya daerah lain di negeri ini, masyarakat pesisir kehidupannya sangat kental bernuansa perairan, bukan bahari ya. Maksud saya begini, jika hanya kita sebut kental dengan kehidupan bahari, terus mau dikemanakan urusan hidup mereka dengan sungai, rawa, juga danau di wilayah mereka? Dan memang tidak mungkin juga jika mereka setiap waktu urusannya hanya di laut saja bukan? Buktinya ketika laut tidak ada ikan, atau laut sedang diterjang badai, mereka akan masuk ke sungai rawa dan danau untuk mencari penghidupan. Atau jika di laut sedang musim susah ikan, misalnya saat bulan purnama, perairan tawar dan payau menjadi sandaran mereka dalam mencari sumber-sumber pangan baik itu untuk dijual ataupun dikonsumsi sendiri. Jadi masyarakat pesisir di wilayah ini sangat kental budaya perairannya. Apakagi sistem koro (sungai besar) di wilayah ini sangat luas dan kompleks. Ada sekitar delapan sungai besar dengan puluhan anak sungai yang tersebar di segala penjuru wilayah. Pembahsan tentang keterkaitan masyarakat dengan sungai, berikut kondisi terkini sungai-sungai di wilayah ini, telah lebih dahulu saya tuliskan di blog iseng ini.

Jaring ringgih, atau juga disebut juga jaring dampar, adalah salah satu teknik perburuan di kawasan pesisir yang dilakukan oleh masyarakat. Cara tangkap ala nelayan ini sebenarnya dikenal luas oleh seluruh masyarakat nelayan di Indonesia, yang mana kawasan pesisirnya masih cukup sehat. Kebanyakan teknik ringgih banyak diaplikasikan oleh masyarakat di luar Pulau Jawa dan Sumatra, walaupun tidak sepenuhnya begitu, karena di Banyuwangi, Jawa Timur misalnya, saya masih melihat kelompok nelayan menerapkan teknik ini. Untuk konteks Pulau Jawa dan Pulau Sumatra memang teknik ini kurang cocok diterapkan. Pesisir Utara Jawa dan Sumatra misalnya telah sesak oleh pemukiman, pun misalnya masih ada kawasan pantai yang masih alami kebanyakan telah begitu kotor dan atau merupakan tempat wisata. Pesisir Selatan baik di Jawa dan Sumatra sama saja, terlalu terjal dan berbahaya untuk aplikasi teknik yang disebut juga dengan nama jaring tarik ini. Bukankah semua kegiatan menjaring pasti ditarik? Betul, tetapi demikianlah adanya nama dari teknik ini. Yang pasti juga, cara menarik ringgih berbeda dengan teknik jaring yang dilakukan dari atas kapal karena ringgih ditarik dengan berdiri di daratan (baca: pantai). Jadi maksud saya begini, teknik ringgih bukan hanya ada di Morowali Utara saja tetapi juga terdapat di berbagai daerah lainnya di negeri kita. Maksudnya? Sabaar saya lanjutkan dahulu!

Kita kupas satu demi satu tentang proses kegiatan menjaring dengan teknik ringgih ini. Supaya saya juga belajar menuliskan proses, dan Anda semua juga mendapatkan gambaran menyeluruh, juga memiliki pandangan yang lebih luas tentang salah satu cara tangkap ala nelayan Indonesia ini. Saya tidak tahu di masyarakat nelayan di negara lain, mungkin saja juga mengenal teknik ini. Perburuan di kawasan pesisir, juga di perairan payau, kental dengan pasang surut air yang terjadi. Pergerakan air ini menjadi acuan banyak kegiatan masyarakat yang tinggal di wilayah seperti ini. Berangkat melaut ketika air pantai belum terlalu surut, sehingga tidak repot mendorong perahu, pulang dari laut ketika air masih tinggi (sehingga mudah masuk ke areal tambat perahu) hanyalah gambaran kecil saja. Pembangunan dermaga misalnya, mengikuti karakter pasang dan surut serta kondisi dasar wilayah pesisir yang ada di daerah tersebut. Mislanya saja, dermaga selalu dibangun di titik yang meskipun ketika sedang puncak surut sekalipun, masih cukup aman sehingga kapal-kapal bisa keluar masuk dermaga dan juga bersandar. Ini juga terjadi dalam kegiatan masyarakat ketika akan melakukan ringgih. Teknik ini mostly tidak dilakukan ketika air sedang bergerak pasang (atau puncak pasang/konda), tetapi ketika air sedang surut (bisa ketika bergerak turun dan atau ketika sedang puncak surut). Kenapa demikian? Karena lebih mudah saja dalam mencari ikan dan proses penebaran jaring juga tidak terlalu sulit, karena debit air yang menyusut. Di Morowali Utara kondisi puncak surut ini membuat banyak ‘areal’ pesisir yang seperti terisolasi dari perairan utama (laut).

Di lokasi seperti itulah kegiatan ringgih akan dilakukan karena ada ‘teori’ yang menyatakan bahwa banyak ikan yang terjebak di areal yang terisolasi tersebut akibat tidak sempat pindah ke perairan utama (baca: laut lepas) ketika proses surut sedang berlangsung (air sedang bergerak turun). Teori yang sepengetahuan saya memang banyak teruji di berbagai daerah pesisir. Jaring ringgih panjangnya bisa 50-100 meter, bagian jaring ini secara garis besar terdiri dari dua bagian utama. Pertama adalah jaring panjang persegi dengan ‘mata’ besar, bagian ini lebih untuk menghalau ikan saja sebenarnya. Nah di bagian tengah-tengah jaring ini, terdapat semacam kantong besar dengan ‘mata’ yang sangat kecil sehingga ikan-ikan yang masuk ke dalamnya sangat sulit untuk melarikan diri. Jadi ketika jaring ini ditarik prinsip kerjanya seperti ini. Ikan-ikan baik kecil atau besar akan mengira bahwa jaring utama ini yang akan menangkap mereka, kemudian lari ke arah cekungan di bagian tengah jaring, tetapi manusia memang cerdik karena memiliki akal budi, di bagian tengah jarin gitulah kemudian terpasang alat tangkap sesungguhnya! Proses menarik ringgih ini cukup berat dan menyita waktu dan tenaga. Dalam sekali proses tebar dan tarik, setidaknya akan diperlukan waktu 30-40 menit, itupun dengan jaringnya masih tergolong berukuran kecil (panjang 50-an meter). Kalau jaringnya lebih besar tentunya akan lebih lama dan memerlukan banyak orang yang ikut serta. Kegiatan ini memang tidak mungkin dilakukan sendirian. Ada yang bertugas menarik dari tepian, biasanya 4 orang atau lebih, ada satu orang yang turun dan mobile di air menjaga jalannya jaring agar tidak tersangkut kayu ataupun batu karang, dan ada yang tugasnya menebarkan jaring agak ke tengah dengan menggunakan perahu kecil atau bisa juga sampan. Kadang-kadang ada juga yang bertugas diam saja di pantai sambil foto-foto dan cerewet mengarahkan pergerakan kamera dan kegiatan yang dilakukan. Hehehehe!

Kapan sebenarnya kegiatan jaring ringgih akan dilakukan oleh nelayan Morowali Utara. Tidak ada patokan yang pasti, bisa kapan saja dan bisa tidak kapan saja. Suka-suka. Kalau cuaca di laut sedang tidak bersahabat, kalau bbm melaut sedang mahal, kalau banyak ikan bermain di tepian pantai, kalau kapal besar sedang tidak melaut akibat juragannya belum memberi perintah layar, kalau istri para nelayan sedang ngambek karena ditinggal melaut terus, kalau ada yang tiba-tiba meminta untuk disuting, hehehehe dan lain sebagainya. Sekali lagi yang pasti ini adalah perburuan yang hany abisa dilakukan kolektif. Kelancaran dan mungkin juga hasil yang didapatkan tergantung dari kolaborasi apik dari semua yang terlibat. Tetapi masalah hasil ini sebenarnya tidak ada satu setan pun yang tahu, kecuali Tuhan. Mungkin saja jaring ditebar di lokasi yang masih ‘sehat’ dan juga pada waktu yang tepat, tetapi karena yang melakukannya banyak dosa atau mungkin sedang apes, dan atau kerjasamanya kurang apik, hasilnya menjadi tidak memuaskan. Tetapi di lain waktu, jaring ditebar di waktu yang salah dan juga di lokasi yang kurang bagus, kerjasama pun asal-asalan, tetapi karena alam dan Tuhan sedang bermurah hati, hasilnya bisa jadi sangat bagus. Kita tidak bisa merumuskan hasil perburuan di alam liar sebenarnya, kecuali mungkin jika kita bisa mewawancari ikan-ikan yang terkena jaring tersebut. Kita bisa mendapatkan informasi yang lebih valid kenapa sebuah kelompok ringgih bisa berhasil dan atau tidak. Hehehehe!

Puji Tuhan saat itu ketika kami mendokumentasikan kegiatan ringgih ini, hasilnya cukup memuaskan. Tak kurang dari 10-an kilogram ikan berbagai jenis dan ukuran kami dapatkan. Ini jujur saja paradoks dengan hasil kami berkeliling selama delapan hari menyusuri setiap sungai di wilayah ini ketika mencari ikan-ikan Indonesia black bass. Memang cara, kondisi dan konteksnya berbeda. Black bass sendiri memang ikan yang mulai langka. Tetapi apakah hasil ringgih ini menjadi indikasi bahwa ekosistem kawasan pesisir di Morowali Utara (maksud saya pantainya) masih cukup sehat? Seorang nelayan menjawabnya dengan lugas. Ya kalau ngebom di pantai atau di karang dekat wilayah ini memang tidak mau orang-orang itu bang, karena bagaimanapun lokasi-lokasi tersebut menjadi sandaran hampir 70 % dari masyarakat disini. Apa mereka siap dihakimi oleh begitu banyak orang yang bisa jadi itu adalah saudara atau keluarga mereka sendiri juga? Lha terus kog saya dan tim tidak mendapatkan ikan naing (Indonesian black bass) di delapan sungai yang kami datangi, padahal Oktober tahun lalu masih mudah sekali mendapatkannya? Jawabnya, kalau itu karena ikan-ikan itu bersarang di sungai dan titiknya mudah dideteksi kalau air sedang bening dan tenang, lagian kalau di sungai khan sedikit saja orang yang ibaratnya mencari penghidupan di sungai, berbeda dengan di pesisir pantai di sekitar daerah ini. Berarti kalau sedikit yang mencari penghidupan di kawasan tersebut, boleh dirusak begitu? Abang ini kenapa marah-marah ke saya lah, yang ngebom sungai-sungai itu bukan saya bang, tetapi si ****** dan teman-temannya (dia menyebut nama seorang warga Baturube yang saya juga tahu orangnya). Pada waktu yang lain, saya mendatangi orang-orang yang disebutkan ini dan bertanya, kenapa abang dan bapak semuanya ’melempar’ sarang-sarang ikan naing itu? ‘Melempar’ adalah istilah di Baturube untuk menyebut ngebom ikan. Jawabnya membuat saya ingin menangis, karena tali pancing kami putus terus kalau mancing ikan-ikan itu! Padahal ikan naing juga tidak laku di pasaran karena sangat asin akibat sifat predatory-nya yang keterlaluan (ikan lain apa saja asal lebih kecil akan disambarnya).

Begitulah. Kita kembali lagi ke masalah jaring ringgih. Apa korelasi antara ringgih dan kegiatan ‘melempar’ di sungai yang dilakukan beberapa oknum di wilayah ini? Terlalu kompleks kalau dituliskan semuanya. Terkait jaring ringgih, tidak adil rasanya jika saya juga tidak membuat penilaian. Saya begitu lantang jika berkaitan dengan apapun yang berhubungan dengan sportfishing, tetapi ke hal lainnya diam? Tidak kawan, saya akan melihat semuanya sebaik mungkin. Alat tangkap apapun yang memiliki kemampuan massal, tentunya akan mampu menekan lingkungan ataupun habitat yang ada. Dari alat tangkap massal ini ada yang kategorinya keterlaluan (misalnya pukat harimau yang mampu menangkap banyak sekali jenis dan ukuran ikan) dan ada juga yang masih make sense. Jaring ringgih ini menurut saya masih cukup make sense. Memang hasilnya cukup banyak dalam sekali tebar, tetapi kalau dilihat berapa orang yang terlibat (yakni saat itu enam orang), hasil yang didapatkan sebenarnya masih seimbang. Hitung atas saja misalnya, saat itu yang didapatkan kira-kira ternyata 15 kilogram, berarti per orang membawa pulang 2 kilograman ikan. Kenapa bisa kemana yang 3 kilogram? Kami bakar di pantai untuk makan sekitar 15 an orang pendukung kegiatan. Saya mencoba menggoda kelompok ringgih ini untuk menebarkan jaring lagi, tetapi jawabnya cukup menyejukkan. Sudah cukup lah ya bang, toh hasilnya juga sudah banyak ini, lagian ini juga cuma untuk makan saja kog di rumah. Khan bisa dijual? Goda saya lagi? Ikan ini memang bisa dijual bang, tetapi kurang bagus harganya dan susah mendapatkan pembeli. Ini yang kami bawa hanya untuk makan di rumah saja. Dan saya juga melihatnya sendiri, ikan-ikan non konsumsi yang terkena jaring ringgih dilepaskan kembali ke lautan. Ini menurut saya menarik. Ketika orang-orang lain berpikiran sempit ‘melempar’ sarang-sarang ikan naing, yang artinya menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya, mereka melakukannya karena ego manusia dan kebodohan manusia padahal ikan itu juga tidak enak dan tidak bisa dijual dengan harga yang bagus. Di kelompok jaring ringgih, saya masih melihat kepedulian dan niat untuk mendudukan semuanya dalam keseimbangan dan keberlanjutan tertentu, meski sebenarnya tidak ada yang pasti sangat sempurna di dunia ini. Salam!



















* Pictures mostly by Eko Hamzah & Faisal Umar. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers