Thursday, 16 June 2016


Meski sebenarnya saya juga belum pernah melihat satu pemancing membawa satu lemari umpan ketika pergi memancing, ini sebenarnya istilah asal njeplak saja untuk memberi gambaran situasi yang terkadang terjadi di sekitar kita dalam sebuah trip memancing bersama para pemancing lainnya. Tetapi kalau hampir seribu buah umpan (lure) saya pernah melihatnya sendiri, padahal yang dipakai saat itu juga tidak sampai lima pieces saja. Hak setiap orang sebenarnya mau membawa satu toko pancing dan isinya juga tidak apa-apa, hehehe! Ijinkan saya untuk menulis sesuatu yang jarang saya lakukan di blog iseng ini, karena sungguh sebenarnya saya merasa bahwa ilmu memancing saya masih biasa saja dalam arti sebenarnya. Saya hanya orang yang kebetulan saja percaya diri dengan apa yang saya miliki dan lakukan dalam dunia mancing yang sekarang begitu ‘gempita’ (dan terkadang juga semakin aneh) ini. Sebelum terlalu jauh saya akan menyinggung sedikit tentang beberapa istilah yang mungkin juga sudah sering saudara-saudara baca atau dengarkan. Hal ini lebih dalam rangka untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa memancing sport itu terkait dengan banyak hal yang sangat teknis, bukan sekedar uncal doang! Karena kalau sekedar uncal saja, anak-anak TK dan SD juga bisa melakukannya.

Drifting, adalah strategi memancing dari atas perahu/kapal/sampan/kano/rakit dan boleh juga dari atas tikar sekalipun kalau bisa hehehe, dengan cara berhanyut mengikuti arus yang ada baik itu di sungai ataupun juga di laut. Di sungai arus deras (upper river) praktis harus kita lakukan dari hulu menuju ke hilir. Di sungai payau (estuary) bisa dilakukan mengikuti pergerakan air pasang dan surut. Di perairan terbuka (baca: laut) bisa kita lakukan dengan mengikuti pergerakan arus di spot tertentu seperti di areal reef dan atau tanjungan. Kedua adalah balanced tackle. Istilah ini agak kurang familiar dan juga jarang disebutkan dalam obrolan-obrolan pemancing, apalagi kini diskusi mancing sekarang ini banyak didominasi oleh haha hihi semata, yang penting ramai, yang penting seru-seruan, apapun itu yang ramai meskipun isinya nothing, dan lain sebagainya. Balanced tackle sendiri mengandung pengertian “kesesuaian dalam pemakaian peralatan mancing kita baik itu rod, reel, line dan juga lure”. Tujuannya agar didapatkan satu kombinasi yang seimbang dan semestinya, juga agar didapatkan pemakaian yang tidak mengakibatkan sesuatu ketidaksesuaiaan dari peralatan tersebut karena satu kombinasi peralatan yang kita pakai memiliki range line class yang seimbang. Saya yakin para pemancing memahami secara mendasar tentang balanced tackle ini.

Ketiga adalah apa yang disebut dengan istilah casting point. Saya tidak tahu pasti apakah ada istilah ini sebenarnya di dunia mancing, karena ini sebenarnya saya asal njeplak saja. Jadi begini, yang disebut point adalah titik yang ingin kita tuju sebagai tempat jatuhnya lure kita. Ini terkait erat dengan kemampuan akurasi lemparan. Point  kalau di sungai arus deras dan sungai payau bisa berupa rebahan pohon di air, batang mati yang terendam air, akar-akar di tepian sungai, depan dan atau belakang batu, belokan sungai, pertemuan arus antara anak sungai dan sungai utama, ceruk kecil di tepian sungai, dan lain sebagainya. Kemampuan kita sedekat mungkin dengan point sangat menentukan sambaran yang akan kita dapatkan. Strike zone, say ajuga tidak yakin ada istilah ini di jagat sportfishing, tetapi sepertinya ada, yaitu istilah untuk menyebut areal potensial yang berada di sekitar point. Misalnya point-nya adalah tonggak kayu mati tunggal yang terendam air, berarti strike zone-nya adalah di sekitar point ini. Luasan zona sambaran sebenarnya tidak pasti, tetapi kalau saya menganggapnya adalah pada kisaran satu hingga dua meter saja dari point. Meski kadang-kadang sambaran yang kita dapatkan agak jauh dari sebuah point, rasio kejadiannya tidak sebanyak seperti di areal strike zone. Jadi kalau saya, ketika lure kita berada di strike zone ini saya akan full konsentrasi karena jika memang ada ‘penunggu’-nya, sambaran yang terjadi bisa dalam hitungan satu dua detik saja. Inilah kenapa banyak orang juga berpesan agar kita selalu fokus dan bersiap sesaat setelah lure jatuh di dekat point. Karena akibatnya bisa tidak menyenangkan jika kita kurang konsentrasi dan tidak pada posisi siap, ikan yang menyambar bisa lepas karena tali kita masih slack line. Alat pancing jatuh ke air karena kita ngelamun dan tangan reflek melepaskan pegangan pada butt joran. Dan lain sebagainya.

Berikutnya adalah apa yang disebut dengan lure. Artinya adalah umpan tiruan. Yakni beragam jenis umpan tiruan yang dibuat dari material benda mati (kayu, plastik ataupun logam) yang dibentuk dan dimainkan sedemikian rupa agar menyerupai ikan-ikan kecil yang menjadi mangsa dari ikan-ikan predator. Terakhir, dan ini yang akan menjadi ‘jembatan’ untuk pembahasan di paragraf berikutnya adalah tentang match the hatch. Istilah kuno ini dahulu kala hanya berkembang di kalangan orang-orang fly fishing di Amerika dan Eropa saja, meski saya yakin 200 % mereka juga mengadopsinya dari teknik tradisional lainnya di masa itu. Artinya adalah menyesuaikan flies (umpan fly fishing) kita dengan kondisi lokasi yang ada (habitat dan ikannya). Tetapi kemudian istilah match the hatch  menyebar dan diterima di segala teknik mancing lainnya karena istilah tersebut sebenarnya sangat mendasar dan penjabarannya bisa sangat luas dan terkait dengan teknik mancing apapun. Tentunya di teknik mancing yang lain penyesuaiannya adalah menjadi “menyesuaikan lure kita dengan kondisi lokasi yang ada”.

Selanjutnya mari kita lebih dalam lagi menyoroti tentang karakter sebuah sungai arus deras di pegunungan (upper river), untuk hal ini yang paling saya pahami adalah sungai-sungai pegunungan di Pulau Kalimantan, oleh karenanya ‘TKP’ yang akan saya kemukakan di paragraf ini adalah tentang karakter sungai di pulau ini. Sungai pegunungan selalu ditandai dengan adanya aliran yang deras dan konstan, hanya debit airnya saja yang berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Rata-rata sungai arus deras ini memiliki banyak sekali jeram-jeram baik kecil dan besar dan beragam wajah lainnya yang sangat khas. Misalnya saja struktur bebatuan di tepian dan juga di tengah sungai yang bermacam-macam, belokan-belokan yang juga berbeda-beda karakternya, rebahan pohon di tepian dan kadang di tengah sungai, pusaran arus, dan lain sebagainya. Artinya dengan ekosistem seperti ini spesies yang hidup di sungai tersebut pun tentunya spesifik. Yang banyak dikenal oleh kita para pemancing adalah ikan-ikan dari keluarga Tor seperti ikan sapan/pelian/semah/nyaran/mahseer. Kedua adalah ikan-ikan dari family Cyprinidae yang mana paling bergengsi diwakili oleh ikan Hampala macrolepidota. Lalu ada lagi jenis ikan berkumis lainnya yang mana paling bergengsi diwakili oleh ikan Bagarius yarelli. Dan masih banyak lagi ikan-ikan lainnya, akan tetapi setahu saya yang populasinya paling banyak adalah ikan dari family Barb fish. Dari kelompok family Cyprinidae ini tersebutlah salah satunya yang disebut dengan ikan seluang (Rasbora agyrotaenia), ikan mungil yang suka menghuni perairan tenang dan dangkal di sungai arus deras (juga terdapat di sungai-sungai air tawar lainnya yang lebih tenang di dataran rendah). Ikan mungil dan cantik ini sepertinya ditakdirkan untuk menjadi mangsa dalam sistem rantai makanan yang ada di sungai upper river pun populasinya juga sangat berlimpah, berbanding terbalik dengan populasi ikan pemangsa yang lebih besar, Tuhan telah mengaturnya demikian sepertinya. Baik ikan Tor, Hampala, bahkan ikan-ikan lainnya termasuk Bagarous yarelli menjadikan ikan seluang sebagai target utama perburuan mereka mencari makanan. Termasuk juga kita manusia yang suka sekali mengkonsumsi ikan ini saking renyah dan gurihnya kalau digoreng kering. Penampakan ikan seluang yang suka hidup bergerombol ini adalah bulat lonjong, berwarna putih keperakan dengan sedikit aksen hijau. Panjangnya antara 7 hingga 13-an sentimeter, konon ada yang lebih besar dari ukuran ini tetapi saya belum pernah melihatnya. Keberadaan ikan-ikan kecil seperti seluang yang masuk dalam kelompok bait fish (ikan umpan atau ikan yang menjadi sumber makanan bagi ikan predator) dalam sebuah ekosistem perairan tawar, menjadi indikasi sehat atau tidaknya rantai makanan di lokasi tersebut.

Kita kembali lagi ke prinsip match the hatch, dengan setting lokasi sebuah upper river di wilayah ulayat Dayak Laman Peruya di Kalimantan Barat. Sengaja saya mengambil setting lokasi di tempat ini karena ingatan saya tentang lokasi ini masih cukup segar, sebenarnya banyak lokasi lainnya yang lebih hebat lagi seperti contohnya upper river di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, tetapi sepertinya saya sudah terlalu banyak menuliskan tentang Mahakam Ulu ini. Dengan pemahaman saya terhadap ekosistem upper river di atas, pilihan umpan tiruan yang kemudian saya pakai jatuh ke sebuah minnow ‘baru’ di ranah sportfishing di Indonesia, tetapi cukup nge-hits, merknya Sparrow, nama modelnya Widow maker, dengan tipe Minnow jerkbait. Yang saya pilih dari beberapa Sparrow yang ada saat itu adalah yang memiliki warna putih transparan keperakan dengan aksen warna gelap kebiruan di bagian punggungnya juga aksen titik gelap lainnya yang terdapat pada body umpan. Kenapa saya memilih lure ini bukan lure lainnya yang juga banyak berdesakan di tackle box saya, karena memang saat itu lure inilah yang paling cocok dengan karakter lokasi. Maksud saya begini, agar tidak ada salah pemahaman, sangat banyak sekali lure dari pabrikan lainnya juga yang cocok diterapkan di upper river, banyak juga merk dan seri lah yang ada di pasaran dengan warna bentuk dan juga harga yang menggiurkan dan bisa diaplikasikan di upper river. Kelemahannya dari semua lure lainnya saat saya berada di sungai upper river milik Dayak Laman Peruya pada hari itu hanya satu, semuanya ada di toko pancing dan bukannya di tackle box saya. Hehehehe! Saya yakin kawan-kawan paham maksudnya, bukan saya mengatakan bahwa lure yang kemudian saya pilih untuk dijadikan ‘peluru’ ini adalah satu-satunya lure untuk kasting di upper river, dan apalagi yang paling terbaik dan bla bla bla lainnya. Ini hanyalah salah satu dari seratus atau bahkan seribu jenis lure lainnya yang ada di dunia ini dan bisa diaplikasikan untuk teknik kasting di upper river!

Karakter lure, kualitas, dan efektifitas Widow maker ini seperti apa? Justru inilah yang ingin saya sampaikan semampu saya sesuai dengan pengalaman yang terjadi saat itu. Siapa tahu ini bisa menambah pemahaman kita bersama tentang sebuah lure dan juga how to use-nya di lokasi mancing yang sesuai. Dengan menuliskannya saya sebenarnya juga sembari kembali belajar, mengarsipkan pengalaman, juga ingatan dan telaah terhadap sesuatu yang menurut saya terlalu sayang jika dibiarkan menguap begitu saja seiring waktu. Saya mulai dari kemasan Widow maker yang menurut saya terlalu ramai. Banyak bahasa yang tidak saya pahami disana, dan sepertinya memang di negara tersebutlah (Korea atau Taiwan?) lure ini lebih difokuskan penjualannya. Dari kotak kemasan saya intinya mendapatkan beberapa pandangan bahwa lure yang Designed in Japan ini dibuat oleh Bear King, dan termasuk dalam keluarga A+ Lures, yang mana menurut mereka ini adalah bagian dari seri Premier Pro Series. Masih ada lagi yang menyita mata saya yakni The Viking, mungkin ini adalah rekanan dari Bear King. Keterangan kecil tentang weight moving cukup membantu saya memahami tentang rekayasa massa dari lure ini yang artinya telah didesain sedemikian rupa agar seimbang menyesuaikan dengan pergerakan umpan ketika berada di dalam air. Tetapi yang paling menyita perhatian adalah teks besar Series SPARROW. Sayangnya dari kemasan saya malah tidak menemukan spesifikasi mendasar dari lure ini misalnya berat, panjang, daya selam, dan keterangan tipe dari lure ini. Bagi saya yang bisa langsung mengakses internet mungkin ini bukan persoalan karena data tentang lure ini banyak berserakan, bagi pemancing di daerah yang tidak bisa begitu saja mengakses jaringan internet, akan kesulitan memahami spesifikasi tentang lure ini. Bayangkan kejadiannya adalah di sebuah toko pancing di daerah kecil, seorang pemancing ingin berangkat mancing karena weekend, sementara wajar jika seseorang juga ingin tahu tentang spesifikasi lure ini sebelum meminangnya. Bisa jadi akan cenderung beralih ke lure merk lain yang lebih jelas dan dia pahami spesifikasinya saat itu.

Data spesifikasi tentang Widow maker ini praktis juga saya dapatkan dari internet, dari laman Facebook yang menjadi pusat publikasi sekaligus pemegang hak penjualan lure ini di Indonesia, Dharma Bhakti Samudera. Meski terkesan kaku baiknya saya cantumkan saja sehingga kita bisa sama-sama memahaminya tanpa bias. KODE PRODUKSI: Sparrow. MODEL PRODUKSI: Widow maker
TIPE: Minnow jerkbait. PANJANG: 10 cm. MASSA: 14,5 gram. KARAKTERISTIK: Slow floating. DAYA SELAM: 1 m - 1,5 meter. FITUR: - Premium Sharp/ Durable VMC hook. - ABS Material (Material kuat, tahan benturan). - Tungsten Weight. - 3D Eyes. - Aerodynamics and balance weight distribution.
Harganya menurut saya sangat rasional, karena tidak sampai IDR 70K (keterangan harga ini baiknya tengok sendiri di laman Facebook tersebut karena ini bukan ranah saya untuk menyebutkannya). Dari data-data inilah saya mencoba mengaitkannya dengan pengalaman saya di lapangan, membuktikannya sendiri, di sebuah sungai upper river dimana saya menggunakan lure ini.

Kita mulai dari kesan awal saya ketika mulai melakukan kasting, kebetulan sungai saat itu juga tidak terlalu lebar hanya sekitar 20-30an meter saja kisaran lebarnya. Dalam kondisi balanced tackle yang pasti Widow maker sangat enak dilemparkan, dan apalagi bentuknya yang ‘langsing’ juga sangat efektif membelah angin. Panjang dan beratnya yang 10 cm dan 14,5 gram juga cocok dengan hampir semua tackle class kasting freshwater yang ada di pasaran saat ini. Jika kita berhasil melakukan kasting dengan sempurna, bunyi jatuhnya lure juga sangat smooth tidak mengganggu ketenangan point dan strike zone yang menjadi incaran kita. Ini penting karena kegaduhan awal umpan ketika jatuh ke air bisa berakibat banyak hal. Jika di sungai-sungai payau yang lebar dan sangat dalam, kegaduhan sangat penting untuk menggoda ikan pada awal-awal lure menimpa air. Tetapi di upper river yang suasananya begitu khas, lure yang jatuhnya smooth lebih baik dari pada yang berisik ketika jatuh. Nah selain karena kemampuan kita dalam melakukan kasting, ini juga terkait dengan masalah design umpan bersangkutan. Kira-kira bayangkan akan seperti apa ketika serangga dan atau buah-buahan hutan kecil dekat sungai jatuh ke air, begitulah kira-kira setidaknya bunyi lure kita ketika menghantam permukaan air. Gerakan umpan yang tiba-tiba sesaat setelah kita menggulung reel akan memaksimalkan kemungkinan sambaran yang kita dapatkan. Di sinilah kombinasi banyak hal dari data yang dimiliki oleh lure bersangkutan akan memiliki peran penting mengundang sambaran predator. Bukan hanya karena jatuhnya yang smooth, gerakannya yang cantik, tetapi juga warna dan kesesuainnya dengan ikan-ikan baitfish, tetapi juga banyak hal lainnya seperti bunyi yang ditimbulkan ketika lure bergoyang di dalam air.

Karakteristik slow floating Widow maker juga sangat ideal dengan sungai-sungai arus deras yang mana titik-titik point berikut strike zone nya biasanya tidak terlalu dalam dan banyak struktur perlindungan/sarang ikan di sekitarnya. Ini memberi kita keleluasaan ketika saat melempar ada kondisi tertentu sehingga kita tidak bisa segera menggulung tali. Jadi lure tetap aman dan tidak meluncur cepat ke dasar sungai yang kemungkinan besar akan berakibat pada sangkut. Meski terlambat sekalipun dalam menggulung tali, kita masih bisa memaksimalkan waktu yang ada tanpa repot mengatur perahu dan lain sebagainya akibat efek sangkut. Tipe Minnow jerkbait yang dimiliki oleh Widow maker saya pahami dengan bahwa lure ini selain ideal untuk teknik memainkan umpan secara mendasar (yakni gulung pelan dan atau cepat), juga cocok untuk teknik memainkan umpan yang lebih agresif lainnya. Misalnya saja kombinasi retrieve dan sentakan, fast retrieve dan sesekali sentakan dan sebagainya. Dan memang demikian adanya. Ketika saya memakainya ditambah dengan derasnya arus sungai yang ada, kombinasi memainkan lure yang kita kuasai seperti selalu bisa dikonversi oleh lure menjadi gerakan-gerakan yang lincah tetapi tetap balanced. Ini sangat menarik dan penting karena kita menjadi bisa memperluas chance strike yang kita harapkan. Karena bagaimanapun kita sebagai manusia berada pada posisi menebak-nebak saja, tidak tahu dengan pasti pada gerakan seperti apa ikan predator akan menyambar. Bisa jadi kalau ikannya memang sedang lapar-laparnya, gerakan umpan yang woles pun sudah dihajarnya. Tetapi pada waktu yang berbeda ketika ikan sudah kenyang, ataupun air sungai sedang dingin, juga bukan pada timing mereka berburu mangsa, bisa jadi gerakan umpan yang agresif yang akan disambar. Karena mungkin saja bagi predator lure kita dianggap pecicilan (banyak tingkah), tidak tahu sopan santun di wilayah ‘preman’. Siapa elo heee bisa seenaknya di sekitar rumah gw? Hajaaar! Mungkin begitu kira-kira. Hehehe! Saat itu Widow maker memuaskan saya karena mampu menampung segala teknik memainkan umpan yang saya kuasai dengan hasil sambaran yang setimpal jumlahnya. Tidak semua lure bisa kita perlakukan seperti ini, itulah kenapa sebabnya dari setiap pabrikan lure apapaun, selalu saja ada yang kemudian kita anggap lure kategori “killer” dan lure biasa saja.

Berikutnya adalah tentang daya selam yang dimiliki yakni 1-1,5 meter. Range kedalaman seperti ini memang sangat aman jika kita memancing di upper river. Lure kita menjadi tidak mudah tersangkut di dasar sungai yang kedalamannya berubah setiap saat sepanjang kita drifting tersebut, kita dan kru juga tidak perlu sering-sering repot mengurus masalah ini (yang akibatnya bisa mengacaukan suasana sekitarnya, yang repot kalau kejadiannya di dekat hot spot, titik potensial menjadi rusak suasananya dan ikan menjadi spooky). Kelemahan range depth ini hanya satu, tidak bisa memperluas chance sambaran kita dengan mengharapkan ikan-ikan yang waktu itu posisinya jauh di dekat dasar sungai yang dalam. Misalnya saja ketika kedalaman lokasi tiba-tiba berubah menjadi lebih dari 3 meter, kalau di sungai upper river adanya di lubuk-lubuk besar yang justru disitulah konsentrasi ikan-ikan berukuran lebih besar. Mau tidak mau kita harus mengganti lure kita dengan kedalaman yang sesuai karena secara refleks kita tentu juga ingin mencoba menggaet ikan-ikan yang ada di kedalaman lubuk tersebut. Dari semua kata-kata berbusa saya di atas, misalkan saya memberi angka atas nilai dari Widow maker, meski saya sadar tidak pantas melakukannya karena masih juga belajar mancing, menurut saya Widow maker setidaknya mendapatkan nilai 8,1. Jika misalnya suatu hari nanti lure ini kemudian mengalami keterbaruan seri misalnya, yang paling saya harapkan adalah tentang kemampuannya mengeluarkan bunyi yang lebih keras ketika bergoyang di dalam air, dan juga keberaniannya agar coating warna yang dimiliki lebih tegas, tebal dan lebih banyak lagi warna baru. Karena bagaimanapun, meski Widow maker putih keperakan transparan ini telah terbukti efektif, tentunya kita memerlukan banyak sekali warna lainnya untuk solusi terhadap beragam karakter lokasi dan kondisi yang ada di spot-spot mancing yang ada di negeri kita. Satu lagi imaginasi saya adalah, Widow maker memiliki varian baru dengan berdasarkan Widow maker yang ada saat ini tetapi mampu menyelam lebih dalam lagi, hingga 3,5 meter misalnya. Ini bisa membantu para pemancing seperti saya yang gila ikan-ikan besar bergengsi dari perairan upper river seperti ikan mahseer. Dengan kemampuan selam yang dimiliki sekarang, range depth yang dimiliki masih cukup terbatas dan tidak bisa menjadi solusi ketika kedalaman sungai tiba-tiba drop menjadi 3 meter atau lebih. Padahal di kedalaman yang lain tersebut justru disanalah banyak berdiam trophy fish yang banyak menjadi incaran para pemancing, contoh ikan mahseer. Memang 1-1,5 meter juga telah efektif, tetapi ini menurut saya hanya mampu menggaet ikan-ikan predator yang memang sedang pada hunting mode dengan berburu lebih dekat dengan permukaan air. Itulah kenapa ketika saya menggunakan lure ini, dari 18 ekor landed (ini rekor tertinggi saya di upper river dari jumlah landed dalam sehari), semuanya adalah jenis hampala, yang memang saat berburu mangsa suka berada di dekat permukaan air ataupun di perairan yang dangkal. Jika ikan-ikan predator tersebut sedang pada posisi stand by di dasar-dasar sungai misalnya, konon sih di situlah yang sizenya besar-besar,  jika lure kita hanya menyelam 1-1,5 meter maka kita tidak akan digubris. Well demikianlah bro, untuk seorang yang masih belajar memancing, sepertinya saya terlalu banyak bicara. Salam wild fishing! Dan jangan lupa bantu saya menyebarkan pesan STOP SETRUM, RACUN DAN BOM IKAN yaaaa?! Hehehehe!







* Pictures mostly by Patricia Ranieta, Me & Wijayadi. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

1 comments:

Hendra Styawan said...

Nice artikel...
Ini baru kereeennn...

Lain lubuk, lain ikan, lain juga kesukaan orang.
Saya sangat terkesan akan gambaran artikel ini. Yg notabene saya sendiri entah kapan atau barangkali blm mampu menyambangi wilayah perairan diluar jawa. Bakal jadi "bekal" may be... (blm tentu bisa kesana)
Tapi bisa jadi saya "curi" hehehe... buat di aplikasi kan praktek di Sungai Progo Magelang, dengan target Hampala Macrolepidota pada umumnya maupun kita coba berburu Green Mahseer bahkan Red Mahseer spot tertentu Sungai Progo.

Sementara ini, saya lebih cenderung menggunakan lure jenis "Top Water", dengan pertimbangan lure nyangkut, atau dibawa masuk dasar / batuan, lebih kecil.
Ada sensasi "kejutan" yg dahsyat pada saat lure disambar di permukaan air... "Bluaaarrrr..!!!" yg spontan mengagetkan dan cukup kuat membuat spot jantung... bahkan sampai dengkul gemeteran...
"Wow... Sensasi yg Ruaaar Biasa..."

Thanks and Tight Line Bro Mike...
Good experience and Good Job.

Popular Posts

Google+ Followers