Monday, 6 June 2016


Nuansa keberagaman begitu kental mewarnai perjalanan saya dan tim Jejak Petualang Trans|7 ke daerah Nanga Tayap, Kalimantan Barat awal Mei lalu. Host kami Patricia Ranieta, adalah dara jelita kelahiran Jakarta keturunan Tionghoa. Dia dalah 'darah segar', semangat baru, yang belum lama ini merapat ke Jejak Petualang dan akan menambah kekuatan barisan para petualang perempuan di program ini. Produser kami yang kebetulan juga ikut ‘turun gunung’, adalah keturunan Sunda. Saya sendiri keturunan Jawa, meski banyak yang salah sangka dengan mengira saya asli Batak, Ambon dan atau Flores. Pemandu kami, seorang kawan dekat yang telah saya kenal sepuluhan tahun terakhir ini, adalah seorang pemuda penuh semangat keturunan Tionghoa asal Singkawang tetapi telah memeluk Islam. Narasumber kami, kru lokal, dan talent ada yang transmigran dari Jawa, Sunda, dan yang paling banyak tentunya masyarakat asli di wilayah yang kami datangi yakni masyarakat Dayak Beginci/Laman Peruya dan Dayak Kayong/Kayaong/Kayaung. Berbeda-beda tetapi satu juga, karena semuanya disatukan dalam semangat dan misi yang sama. Yakni mendokumentasikan semangat kehidupan sebuah unit sosial, sebuah masyarakat terkait dengan kondisi alamnya dalam menghadapi tantangan arus besar perubahan. Saya menyukai keberagaman yang harmonis dan penuh semangat untuk sesuatu yang positif, untuk sesuatu yang lebih baik. Sehingga meskipun saat itu kami dihadapkan pada tantangan cuaca juga medan yang cukup berat, yang menguras banyak tenaga serta pikiran, kami mampu melewatinya dengan lancar, fokus, sekaligus dalam suasana kebersamaan dan syukur yang kuat. 

Ketika mobil 4WD kami tiba di Kampung Riam Batu pagi itu, suasana kampung cukup lengang, padahal kami sudah memberitahukan kedatangan kami sekitar seminggu sebelumnya (dan kami update lagi tiga hari sebelum kedatangan), usut punya usut rupanya banyak warga yang terkonsentrasi di sekitar Rumah Adat karena ada renovasi. Ada banyak pemukiman orang-orang Dayak Kayong yang tersebar di seluruh Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Jika kita dari arah Pontianak, sejak daerah Sandai dan Aur Kuning sudah merupakan wilayah hidupnya orang-orang Kayong. Jika kita telusuri semakin ke Timur mereka paling banyak terdapat di sekitar Nanga Tayap hingga Tumbang Titi. Nama “kayong” diambil dari nama sungai yang melewati wilayah mereka bernama Muara Kayong di Nanga Tayap. Sangat mungkin di sekitar sungai inilah pemukiman paling awal mereka pada jaman dahulu sebelum banyak yang pindah ke berbagai tempat seperti sekarang ini. Setelah menunggu sekitar seperempat jam, munculah kemudian Pak Kadaruso (Kepala Desa) dengan tergesa, meminta maaf untuk kesibukan yang mendadak, dan kemudian membawa kami berjalan kaki menjumpai ibu-ibu para pengrajin anyaman bambu kinyil khas Riam Batu. Suasana yang awalnya sunyi tiba-tiba seperti pecah, sangat khas suasana masyarakat Dayak kalau sudah berkumpul, dan Puji Tuhan saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tetapi entah kenapa saya sering ikut tertawa ketika mereka semua tertawa, mungkin karena mereka begitu gembira bertemu dengan kami. Semoga! Bahasa Kayong sendiri konon merupakan satu dari 50 bahasa yang ada di Kabupaten Ketapang, bayangkan betapa ‘kaya’-nya Indonesia itu?!

Saya kesulitan mencari pencerahan tentang sal-usul Dayak Kayong ini. Dari mana mereka berasal sebelum kemudian menetap di sekitar Nanga Tayap ini misalnya, tidak saya temukan. Yang jelas, ketika bersama mereka terasa kuat sekali keramahan yang apa adanya. Inilah salah satu alasan kenapa saya selalu ingin kembali ke Kalimantan mendatangi semua orang Dayak dari berbagai suku berbeda sebanyak mungkin mumpung masih diberi nafas oleh Tuhan. Kehidupan orang Dayak setahu saya memang sangat kental dengan alam (komunitas ekologis), meski corak kehidupan seperti ini di berbagai daerah mulai banyak berubah akibat arus jaman yang menggerus semuanya dengan kuat. Banyak hutan yang ditebang, hutan berubah menjadi kebun sawit, sungai banyak yang disedot emasnya dengan alat berat sehingga ekosistem sungainya menjadi rusak/berubah, dan lain sebagainya. Ini menjadi tantangan semua orang Dayak di jaman ini, degradasi alam yang berlangsung cepat. Di Kampung Riam Batu sendiri saya melihat perkebunan sawit telah ‘mengepung’ kampung ini dari berbagai penjuru, hanya tersisa sedikit hutan di sekitar kampung mereka. Saya tidak tahu kapan hutan primer yang tinggal tidak seberapa luas tersebut akan mampu bertahan. Saya percaya bahwa orang-orang Kayong sebenarnya memiliki pola hidup tradisional yang bersahabat dengan alam. Tetapi permasalahannya, banyak kekuatan besar yang kemudian mengijinkan masuknya perusahaan-perusahaan perkebunan besar, yang praktis kemudian mengubah ‘wajah’ geografis hutan secara signifikan. Di dekat wilayah ini juga terdapat perusahaan HPH dengan wilayah konsesi yang sangat luas, tetapi tentang hal ini akan saya bahas nanti, yang menarik dari perusahaan yang telah beroperasi sejak 1975 ini, memiliki prinsip sustainable yang sangat kuat, dan ini sangat menarik dalam menjaga hutan yang ada, tetapi wilayah operasi mereka lebih dekat dengan wilayah orang Dayak Beginci, dan bukannya orang Kayong.

Padahal hutan atau secara lebih lebih luas, alam sekitar, memiliki peran penting dalam membentuk kepercayaan asli suku Dayak Kayong. Kepercayaan dinamisme yang dahulu mereka anut (Preanimisme) mengajarkan bahwa roh nenek moyang, benda atau mahluk hidup, mempunyai kekuatan yang diyakini mampu memberikan manfaat sekaligus marabahaya. Kesemuanya itu diyakini ‘memperhatikan’ mereka, akan melindungi jika kita menjalani kehidupan sesuai dengan aturan, tetapi akan menghukum jika kita melakukan pelanggaran. Dalam Preanimisme, orang juga menganggap bahwa semua benda yang terdapat di alam semesta mempunyai ‘kekuatan’. Jadi hutan, tanah, air, sungai, danau, gunung, bukit, batu, kayu, dan benda-benda buatan manusia lainnya diyakini mempunyai kekuatan gaib termasuk juga ponti’ (patung) dan jimat. Akan tetapi tradisi dinamisme ini telah banyak ditinggalkan oleh orang-orang Kayong, kini sebagian besar mereka memeluk agama Kristen Katolik. Namun untuk urusan adat, hirarki adat yang mereka miliki masih tetap seperti dahulu, yang mana kekuasaan tertinggi tetap dipegang oleh Domong Adat atau Pateh. Kepala adat inilah yang mengatur dan menyelesaikan berbagai perkara adat termasuk juga mengatur upacara-upacara adat.

Dari awal saya terus bertanya-tanya kenapa kerajinan yang sering mereka buat saat ini, setidaknya oleh ibu-ibu kelompok pengrajin ini, bukan dibuat dari rotan dan malahan bambu? Bukankah Kalimantan terkenal sekali dengan potensi rotannya yang luar biasa? Ada banyak jawaban terhadap pertanyaan ini. Aparat kampung menjawab secara umum karena bahannya mudah didapatkan, maksudnya terdapat di sekitar kampung saja dan juga mudah untuk ‘diolah’. Ibu-ibu pengrajin yang begitu ramai dan penuh semangat itu lain lagi, memang masih ada banyak rotan saat ini, tetapi kerja rotan dewasa ini tidak ada untungnya karena harga yang tidak masuk akal, sementara kerja rotan itu tidak mudah. Kita harus blusukan ke hutan, belum lagi proses membawa ke kampungnya yang juga berat, dan lain sebagainya. Saya teringat bahwa katanya anjloknya harga rotan ini akibat banyaknya pabrik rotan sintetis di luar negeri, sehingga mereka tidak lagi membeli produk-produk berbahan asli rotan dari Indonesia. Jadilah hari itu puluhan batang bambu kinyil ditebang dengan cepat untuk kemudian dibawa pulang disulap menjadi anyaman (populasi bambu kinyil di Riam Batu ini luar biasa banyak). Bambu kinyil, saya baru pertama kali mendengar nama ini, sekilas mirip bambu tali biasa tetapi batangnya lebih kecil dan lunak (kalau dibiarkan tumbuh terus seringnya kemudian roboh karena tidak mampu menahan beban daun yang lebat). Tetapi bambu kinyil ini memiliki penampang batang yang sangat halus dan kuat, jika kita bisa memprosesnya dengan benar. Pertama harus kita asap dahulu sampai kadar air dalam batang bambu berkurang secara maksimal, kemudian dijemur beberapa hari, barulah kemudian diraut dan dianyam. Untunglah hari itu sudah banyak bahan yang siap anyam, jadi kami tidak perlu menunggu lama.

Membuat anyaman di kalangan perempuan Kayong Riam Batu masih merupakan bentuk kegiatan dalam mengkonversi waktu luang usai musim bercocok tanam atau musim panen. Belum menjadi kegiatan utama dengan proyeksi ekonomis. Hal ini sepertinya memang cukup mainstream di berbagai daerah di negeri ini, akibat kecilnya pasar kerajinan anyaman saat ini. Daripada diam saja, lebih baik membuat sesuatu yang bermanfaat. Pun kalau misalnya tidak bisa dijual, bisa dipakai sendiri untuk berkebun dan kegiatan masuk hutan lainnya. Kebanyakan yang dibuat adalah anyaman yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, semisal wadah-wadah ataupun serupa tas-tas peralatan dan lain sebagainya. Tetapi apapun itu, inisiatif mikro ekonomi seperti ditunjukkan kaum perempuan Kayong ini bagi saya tetap menarik. Ada semangat yang kuat menjawab perubahan dari kegiatan sambil duduk berjam-jam ini. Entah kapan produk-produk anyaman Kayong itu bisa terjual, atau mungkin malah tidak akan terjual, tetapi saya tidak percaya hal seperti itu akan terjadi. Setiap usaha baik pasti akan menemukan jalannya sendiri, pasti akan ada pihak-pihak lain yang membantu inisiatif mikro ekonomi ini menjadi lebih bermanfaat untuk kehidupan orang Riam Batu. Saya dan tim Jejak Petualang Trans|7, meski hanya sehari saja bersama mereka, setidaknya telah berusaha ‘menggandeng’ jari-jemari cekatan yang terus membuat anyaman tersebut. Ada satu gambar motif yang saya lihat di antara hasil anyaman saat itu, lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Memang bukan sebuah motif yang sangat halus, tetapi rupanya semangat keberagaman itu memang benar begitu kuat dipegang orang Dayak Kayong, dan hal tersebut tanpa banyak bicara keberagaman seperti orang-orang yang banyak nongol di media tetapi mengingkari keberagaman itu sendiri. Tak heran hingga hari ini beragam suku bangsa bisa hidup begitu 'hangat' bersama orang-orang Kayong, baik itu Tionghoa, Melayu, Jawa, dan lain sebagainya.

Oh ya, ada yang hampir lupa. Jika saudara-saudara perhatikan di postingan ini ada beberapa foto host kami Patricia bersama satu orang ibu-ibu sedang membuat jamu tradisional, itu bahannya adalah daun babara. Sebenarnya ini tidak lagi didokumentasikan di wilayahnya orang Dayak Kayong, melainkan di wilayahnya Dayak Beginci di Lubuk Kakap, sekitar 5 jam dari kampungnya orang Kayong. Tetapi karena masih satu benang merah dengan urusan bambu kinyil-nya orang-orang Kayong, baiknya saya lampirkan sekalian di postingan ini. Jadi daun babara ini adalah sejenis tanaman perdu yang banyak terdapat di hutan sekitar kampung. Masyarakat Beginci memanfaatkannya sebagai obat yang bisa memperlancar kaum perempuan pasca persalinan. Kebetulan sekali saat itu ada warga Beginci yang baru melahirkan dan memang masih mengkonsumsi jamu tradisional ini secara teratur. Proses pembuatannya sederhana sekali. Daun babara (bisa kering atau basah) diremas-remas dahulu sebentar, rendam di air beberapa saat, terus masukkan ke dalam bambu yang agak muda, baru kemudian dibakar sampai airnya mendidih. Jamu untuk ibu-ibu yang melahirkan jadi lah sudah.  Menurut host kami, bau rebusan jamu tradisional ini baunya cukup menyengat tetapi segar. Menurut masyarakat rasa jamu ini agak pahit tetapi ‘nagih’, entahlah seperti apa itu pastinya. Hehehe! Tetapi maksud saya begini, betapa hebatnya alam mampu menopang kehidupan manusia. Tentunya jika alamnya masih terjaga dengan baik. Terimakasih telah berkunjung ke blog iseng ini. Salam!




















 









* Pictures mostly by Me. Some shots by Budhi K. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

1 comments:

wijayadi said...

Mantabz sudah...bisa jadi bahan cerita juga keren bang....

Popular Posts

Google+ Followers