Thursday, 9 June 2016


Kehadiran saya dan tim Jejak Petualang Trans|7 di sebuah desa pedalaman Kalimantan Barat beberapa waktu lalu sebenarnya adalah untuk ‘melihat’ dengan lebih dalam tentang bagaimana sebuah unit sosial yang berada jauh di pedalaman menjalani kehidupannya, berikut dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada saat ini. Masyarakat Dayak Beginci, ada juga yang menyebutnya Dayak Laman Peruya, adalah sebuah sub suku yang konon merupakan anak suku Ot-Danum di Kalimantan Tengah. Perjalanan sejarah juga politik pada masa lampau (pada jaman kerajaan-kerajaan) kemudian membuat sub suku ini terpaksa masuk dalam wilayah Kalimantan Barat. Baiknya saya tidak perlu membahas migrasi sekaligus ‘perpindahan’ unit sosial ini pada masa lampau karena kisahnya terlalu panjang dan juga pada beberapa bagian cukup sensitif. Kini (setelah migrasi panjang dan terus berpindah selama beberapa generasi) masyarakat ini mendiami sebuah noktah kecil di daerah aliran Sungai B***** K***, sekitar 10 jam dari kota Pontianak, Kalimantan Barat. Desa kecil mereka berada di ‘tengah’ hutan dan satu-satunya akses yang make sense ke wilayah mereka saat ini adalah melalui jalan logging milik sebuah perusahaan HPH dengan menggunakan kendaraan gardan ganda. Ada satu akses lagi sebenarnya melalui sungai, tetapi bisa jadi kita akan stuck di kedalaman hutan karena sungai di wilayah ini banyak 'wall' jeram monster! Jika dilihat di peta, desa mereka berada tidak jauh dari garis imajiner yang merupakan batas antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, yang awalnya memang dari sanalah mereka berasal.

Tentang perburuan di perairan tawar, pernah saya singgung di blog iseng ini berulang kali, masyarakat Indonesia memiliki keberagaman cara, kadang berbeda sama sekali, kadang ada yang serupa. Teknik perburuan di perairan tawar dan dimanapun itu, biasanya dibentuk oleh kondisi alam (geografis), karakter masyarakat yang berbeda, dan lain sebagainya. Memang terkadang ada beberapa hal yang mirip dalam cara perburuan tersebut, misalnya bentuk alat bantunya, strategi perburuannya, dan lain sebagainya. Sehingga kalau kita tidak memperhatikan dengan detil kesannya seperti sama saja, tetapi padahal tidak demikian sebenarnya jika kita melihatnya lebih tenang dan lebih teliti lagi. Yang pasti, meski terkadang ada detil yang serupa, setiap masyarakat selalu memiliki keunikannya sendiri-sendiri dalam cara berburu di perairan tawar ini. Contoh kesamaan alat misalnya saya beri gambaran seperti berikut ini. Tombak mata tiga (serapang/serampang) di Indonesia  pemakaiannya sangat luas. Yang pernah saya lihat sendiri, di Danau Ayamaru (Papua Barat) masyarakat sekitar danau menggnakan alat ini untuk berburu ikan-ikan air tawar di perairan karst sekitar mereka di Danau Ayamaru. Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar juga akrab dengan tombak serampang ini dengan menggunakannya untuk berburu di sungai maupun di rawa-rawa, salah satu teknik perburuan yang sangat unik terkait tombak ini di Kalimantan Selatan disebut “bumbun”. Yaitu dengan membuat struktur perlindungan dan persembunyian di atas sungai, dan kemudian pemburu menunggu ikan yang melintas atau berteduh di sekitar struktur tersebut. Ikan yang melintas di bawah “bumbun” kemudian akan ditombak. Tombak serapang/serampang juga digunakan masyarakat Banggai dan Bajo di Sulawesi Tengah untuk tenik perburuan di pesisir pantai yang disebut dengan “nyinke”.

Teknik perburuan di perairan tawar yang dilakukan oleh Suku Dayak Beginci (Dayak Laman Peruya) yang akan saya bahas kali ini kebetulan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tombak mata tiga. Apa yang oleh masyarakat Dayak Beginci dengan nangguk/nanggu, adalah teknik mencari ikan di sungai-sungai kecil yang dangkal (di wilayah ini hampir tidak ada rawa dan juga danau karena berada di pegunungan) dengan alat bantu yang disebut tangguk. Tangguk ini sebenarnya adalah sejenis wadah dari anyaman bambu atau rotan, bisa dipakai untuk membawa barang-barang dari kebun dan lain sebagainya, dengan bagian atas tangguk ini terbuka (tidak ada penutup). Alat rumah tangga sebenarnya dengan beragam kegunaan yang sangat praktis. Karena anyaman bambu/rotan memang selalu memiliki rongga yang banyak, masyarakat Beginci terkadang menggunakannya sebagai alat bantu untuk menyerok ikan. Akan tetapi kegiatan ini biasanya hanya dilakukan oleh kaum perempuan saja, sangat jarang ada kaum lelaki melakukan perburuan teknik ini karena terkesan “unyu-unyu”. Kalau kaum lelaki biasanya akan memilih berburu babi di hutan dan atau memancing di sekitar jeram yang berarus deras. Bebicara kaum perempuan dan perburuan di perairan tawar, saya teringat beberapa masyarakat suku lain di negeri ini yang kaum perempuannya juga pandai dan tangguh dalam berburu. Di Pulau Makian, Maluku Utara misalnya, ada yang disebut teknik bagapo (berburu ikan dengan alat bantu sapu lidi!). Di masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, kaum perempuan di pedalaman sering berburu ikan dengan teknik yang disebut ngeruhi (tangan kosong di danau yang mengering) dan memburu (tangan kosong dengan kombinasi jaring di perairan dangkal). Dan masih banyak kaum perempuan dari daerah lain yang juga tangguh berburu di perairan tawar. Oh ya mama-mama Papua di sekitar Danau Ayamaru di Papua Barat misalnya, juga mengenal teknik handfishing yang disebut dengan nama raba-raba!

Sore itu jarum jam menunjukkan pukul 15.00 Wib, matahari sepertinya masih terus marah-marah sejak pagi, panas sekali, dan kami mulai melangkahkan kaki ke sungai kecil di belakang Kampung Lubuk Kakap (kampung utama orang-orang Dayak Beginci). Enam orang perempuan Beginci, ada yang tua juga muda, telah mendahului langkah kami menuju ke sungai, biar cepat adem katanya. Memang benar sungai kecil yang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari kampung ini sangat teduh, bening, dan tentunya airnya juga sangat segar dan dingin! Saya buktikan langsung dengan merendam kaki, membasuh muka yang mulai lusuh karena telah suting dari pagi (suting kegiatan lain). Jika di masyarakat lain perburuan di perairan tawar lebih banyak didominasi kaum perempuan berumur setengah baya ke atas, kelompok nangguk orang Beginci ini malah didominasi anak-anak muda. Ini menarik karena biasanya justru para perempuan muda-lah yang enggan bermain kotor-kotoran dan atau basah-basahan di sungai/danau/rawa yang ada. Mereka lebih senang duduk-duduk di beranda rumah sambil melihat orang-orang yang melintas. Hehehehe! Dari komposisi umur yang terdapat dalam kelompok nangguk ini, beberapa say alihat malah masih remaja, saya tidak perlu khawatir regenerasi kearifan lokal yang ramah lingkungan ini akan terputus, setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Tongkrongan remaja perempuan Beginci ini pun juga sangat serius, dan seperti menyatakan kami siap berpetualang, sebab selain tangguk, di pinggang diikatkan sebilah parang. Suasana di titik ‘start’ saat itu juga sangat hangat, sepertinya semua gembira bisa ngadem di sungai kecil belakang kampung tersebut. Jika bagi orang-orang asli kampung saja begitu menyenangkan bisa ngadem di sungai, apalagi bagi saya? Gemericik air, suara burung, desau angin, dan juga segarnya udara yang memenuhi paru-paru kita. Hmmmmmm.... Terkadang apa yang kita sebut dengan “berharga” itu adalah sesuatu yang tidak harus kita beli dengan setumpuk uang!

Kegiatan nangguk akan dilakukan dari arah hilir menuju ke hulu, berarti sambil berjalan menentang arus air. Kelompok nangguk akan bergerak beriringan tetapi tidak dalam barisan yang teratur, kemudian menyasar struktur tepian yang terlindung, lubang-lubang di tepian sungai, di bawah kayu atau dedaunan, dan lain sebagainya. Pergerakan dan gerakan menyerokkan tangguk akan di arahkan ke tempat-tempat seperti saya sebutkan tadi. Dengan berjalan menentang arus, praktis kelompok akan meninggalkan aliran keruh di arah belakang mereka, arah depan atau areal baru akan selalu bening. Pergerakan ini tentunya untuk memudahkan pengamatan lokasi atau sarang ikan di sungai dan sebenarnya juga karena mengikuti karakter ikan yang berenang menghadap arus, jadi kita bermaksud menangkapnya dari arah belakang. Pun kalau ikan-ikan ataupun udang lari menjauh, pasti akan bergerak ke arah hulu lagi bukannya ke arah hilir, jadi masih ada kemungkinan untuk diamati kembali keberadaannya dan di-tangguk lagi. Tidak mudah sebenarnya perburuan ini, karena bagaimanapun ikan dan udang memiliki ekor dan bisa berenang, berenang sesukanya dan tentunya ketika habitat tiba-tiba ramai oleh orang, pasti akan cepat-cepat berlindung dan atau berenang menjauh. Yang menarik kelompok ini tetap bergerak penuh semangat sembari terus basah-basahan, ada maupun tidak di areal yang mereka lewati. Rupanya memang ada kegembiraan tertentu di kalangan orang Beginci dengan air sungai, mungkin karena kalau kita berdiam di kampung, panasnya terasa luar biasa membakar kulit kita! Pada beberapa kesempatan saya melihat, bahwa dokumentasi nangguk ini kemudian menjadi bias antara apakah ini kegiatan mencari ikan dan udang, ataukah kegiatan bermain air dengan gembira. Tetapi tidak mengapa sebenarnya, karena malah bisa memperkuat kesan kearifan lokal yang penuh keceriaan. Bagi saya hidup dengan gembira adalah salah satu kunci kebahagiaan dalam menjalani hidup yang juga kadang hitam, putih, dan abu-abu ini. Cara bergerak dari arah hilir ke hulu ini juga terdapat dalam kegiatan perburuan perairan tawar raba-raba di Danau Ayamaru, ngeruhi dan memburu di Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah. Singkat cerita, Puji Tuhan hasil kami semua nangguk selama empat jam, adalah dua genggam ikan, kepiting dan udang berukuran mini! Hahahaha! Ekosistem sungai yang berubah, ataukah karena kesulitan akibat beningnya air sehingga ikan dan udang lebih waspada dengan kegaduhan pergerakan kelompok ini? Apapun itu, berbahagialah mereka yang selalu bisa bersyukur. Saya tidak melihat raut sedih ataupun gundah sedikitpun dari orang-orang Beginci ini dengan hasil yang didapatkan, selalu senang, dan kalaupun wajahnya paling ‘asem’ menurut saya adalah, ekspresi datar saja. Tidak ada yang wajahnya ‘buram’ seperti saya. Hahaha!

Terakhir saya akan singgung sedikit tentang teknik ngancar. Ngancar ini pada dasarnya adalah teknik mancing tradisional saja. Joran/stik bisa menggunakan bambu kecil, batang rotan, ataupun pelepah palem kecil. Apapun yang bisa dijadikan stik/joran pancing. Talinya tali monofilament biasa (kalau dahulu sih konon memakai tali dari rautan rotan dan atau akar-akaran yang kuat). Pancingnya kini juga sudah pancing single hook biasa yang kita lihat di toko-toko pancing. Umpannya seringnya menggunakan cacing tanah biasa yang berukuran besar. Teknik mancing seperti kebanyakan dilakukan orang. Yang pasti dalam ngancar kita tidak menggunakan pelampung, jadi umpan memang diproyeksikan turun ke dasar sungai (pemberat menggunakan kerikil kecil). Targetnya segala jenis ikan, sedapatnya. Tetapi karena masyarakat memilih menggunakan umpan cacing, waktu itu yang banyak menyambar adalah jenis ikan berkumis (baung, dan lain sebagainya). Kalau lagi beruntung bisa mendapatkan jenis ikan yang lebih keren khas upper river seperti hampala (adungan) dan kalau kita hokinya memang luar biasa, bisa juga mendapatkan ikan semah (mahseer). Tetapi itu tadi, teknik ngancar bukan diproyeksikan untuk mencari ikan size monster dan prestisius, tetapi ikan-ikan kecil yang relatif mudah didapatkan, dan juga nikmat dikonsumsi. Karena kegiatan ini dilakukan dalam konteks pencarian sumber lauk pauk dan bukannya dalam rangka menekuni hobi yang menginginkan ikan besar dan bergengsi untuk kemudian difoto dan dipamerkan di media sosial. Ngancar adalah demi memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari masyarakat. Yang menarik menarik saat itu menurut saya dalah lokasi ngancar ini dilakukan. Persis di tengah-tengah salah satu jeram paling ‘klasik’ di B***** K**** yang bernama Kerango. Melihat warga Dayak Beginci dan host kami begitu bergembira dengan ikan-ikan kecil di jeram Kerango ini, saya seperti diingatkan kembali, menjadi belajar kembali tentang nilai-nilai kehidupan di seputar memancing. Bahwa kebahagiaan dalam memancing (kalau kita mau jujur lho ya ini...), adalah bukan pada banyaknya dan ukuran yang harus selalu besar, dan selalu terkait dengan ikan-ikan prestisius, melainkan pada cara kita bersyukur terhadap apapun yang diberikan oleh Tuhan dan alam. Demikian! Salam!

 




















 * Pictures mostly by Budhi K. Some shots by Me, & Wijayadi. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers