Skip to main content

Tantangan Laman Peruya Part 4: Manusia, Anjing, Binatang dan Kebersamaan Dayak Laman Peruya Menyapa Hulu Kerango


Kehadiran saya dan tim Jejak Petualang Trans|7 (kameraman/produser Budhi K. dan host Patricia Ranieta) di sebuah desa pedalaman Kalimantan Barat beberapa waktu lalu sebenarnya adalah untuk ‘melihat’ dengan lebih dalam tentang bagaimana sebuah unit sosial yang berada jauh di pedalaman menjalani kehidupannya, berikut dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada saat ini. Masyarakat Dayak Beginci, ada juga yang menyebutnya Dayak Laman Peruya, adalah sebuah sub suku yang konon merupakan anak suku Ot-Danum di Kalimantan Tengah. Perjalanan sejarah juga politik pada masa lampau (pada jaman kerajaan-kerajaan) kemudian membuat sub suku ini terpaksa masuk dalam wilayah Kalimantan Barat. Baiknya saya tidak perlu membahas migrasi sekaligus ‘perpindahan’ unit sosial ini pada masa lampau karena kisahnya terlalu panjang dan juga pada beberapa bagian cukup sensitif. Kini (setelah migrasi panjang dan terus berpindah selama beberapa generasi) masyarakat ini mendiami sebuah noktah kecil di daerah aliran Sungai B***** K***, sekitar 10 jam dari kota Pontianak, Kalimantan Barat. Desa kecil mereka berada di ‘tengah’ hutan dan satu-satunya akses yang make sense ke wilayah mereka saat ini adalah melalui jalan logging milik sebuah perusahaan HPH dengan menggunakan kendaraan gardan ganda. Ada satu akses lagi sebenarnya melalui sungai, tetapi bisa jadi kita akan stuck di kedalaman hutan karena sungai di wilayah ini banyak 'wall' jeram monster! Jika dilihat di peta, desa mereka berada tidak jauh dari garis imajiner yang merupakan batas antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, yang awalnya memang dari sanalah mereka berasal.

Sebagian besar masyarakat Dayak terutama yang tinggal di pedalaman Kalimantan, dalam kesehariannya memiliki hubungan erat dengan binatang. Kehidupan masyarakat yang begitu dekat dengan alam liar yang membuat hal ini terjadi. Binatang-binatang ini terbagi dalam beberapa kelompok. Pertama adalah binatang yang sehari-hari tinggal, hidup, makan dan lain sebagainya bersama mereka. Binatang paling dominan yang masuk dalam kategori ini adalah anjing. Anjing bagi masyarakat Dayak pedalaman memiliki status khusus karena binatang ini begitu banyak terkait dengan kehidupan masyarakat. Paling utama adalah karena anjing merupakan partner paling cocok untuk melakukan perburuan di hutan-hutan ulayat mereka. Targetnya adalah binatang buruan sumber nutrisi hewani seperti babi, rusa juga kancil (pelanduk). Selain itu anjing juga penting untuk berada di sekitar pemukiman dan juga di sekitar ladang/kebun, yakni sebagai penjaga. Anjing juga bisa menjadi sekedar teman setia sang empunya ketika berkegiatan di alam (sungai, hutan dan lain sebagainya). Binatang kelompok kedua adalah binatang yang masuk dalam daftar buruan sebagai sumber nutrisi, seperti telah saya singgung di atas, yakni babi rusa dan atau kancil. Dapat juga dimasukkan dalam kelompok ini adalah ikan-ikan jenis tertentu yang dapat dikonsumsi, juga lebah yang merupakan penghasil madu. Kelompok berikutnya adalah binatang yang cenderung tidak terlalu dianggap penting terkait dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam kelompok ini bisa beragam binatang lainnya seperti ular, dan lain-lain. Terakhir adalah binatang yang mendapatkan respek khusus di hati seluruh masyarakat Dayak dan seringkali menjadi bagian dari kepercayaan dan juga identitas kolektif. Burung enggang misalnya, adalah jenis binatang yang bisa dimasukkan dalam kelompok ini. Sedangkan buaya atau “gigi jarang” masuk dalam kelompok binatang yang mendapatkan respek tertentu karena seringkali terkait dengan kepercayaan ataupun mitos-mitos masyarakat. Binatang yang terkait mitos, kepercayaan, legenda, dan lain sebagainya ini bisa berbeda-beda. Misalnya di Long Glaat (Mahakam Ulu), binatang yang terkait dengan hal ini adalah ikan kuyur (Bagarius yarelli) yang diyakini sebagai jelmaan nenek moyang mereka. Di Masyarakat Pulang Pisau di Kalimantan Tengah misalnya, binatang yang mendominasi ‘ranah’ kepercayaan ini adalah buaya dan “raja tapah”, hal yang sama juga terdapat di masyarakat Dayak di sekitar Sungai Paduran dan sekitar aliran Sungai Rungan (juga di Kalimantan Tengah).

Ijinkan saya melalui catatan iseng ini untuk membahas tentang binatang anjing, sesuai dengan keterbatasan pemahaman saya tentang keterkaitannya dengan masyarakat Dayak di pedalaman. Apa yang saya gambarkan di paragraf pertama sebenarnya lebih untuk memberi gambaran tentang sebuah konteks keterkaitan yang terjadi. Saya tidak ingin ada yang salah memahami konteks ini,  kemudian ‘mengukur’ hubungan manusia dan anjing dalam masyarakat Dayak pedalaman ini dengan ukurannya sendiri yang sudah dapat dipastikan akan berbeda. Maksud saya begini, untuk memahami ini kita tidak bisa mengukurnya dengan ukuran-ukuran personal kita sendiri, apalagi kita sendiri bukan bagian dari masyarakat Dayak pedalaman tersebut. Apalagi kehidupan kita tidak perlu ada sangkut pautnya dengan binatang yang saya maksudkan dalam catatan ini. Contohnya seperti ini, saya pernah mengatakan di media sosial, tentang apa yang terjadi di masyarakat Dayak Long Glaat (Mahakam Ulu). Bahwa aso (anjing) dalam kehidupan masyarakat Long Glaat bisa menjadi SALAH SATU tolok ukur karakter dan hati pemiliknya. SALAH SATU ya. Jadi kalau sang empunya anjing begitu peduli, merawat, memperlakukan anjing mereka dengan baik, kita setidaknya bisa berkeyakinan bahwa orang tersebut memiliki sifat-sifat baik yang berguna dalam hubungan antar manusia. Begitu juga sebaliknya. Dahulu di masyarakat Long Glaat bahkan jika sang empunya anjing tidak menyayangi anjing-anjing mereka (misalnya saja suka menyakiti dan lain-lain, maka orang tersebut dan kena denda adat). Pada kasus-kasus yang berat yang berujung pada kematian anjing, terutama jika disengaja, orang tersebut bahkan bisa terkena sangsi yang lebih berat lagi hingga ke pemgusiran agar keluar dari kehidupan masyarakat Long Glaat. Tetapi ini kemudian mendapatkan semacam komentas yang tidak sesuai konteksnya dari seorang rekan yang tinggal di sebuah kota besar di Pulau Jawa. Apalagi kemudian argumen yang dimunculkan olehnya adalah “PASTI” bisa menjadi tolok ukur karakter dan hati seseorang? Komentarnya yang cukup sinis ini entah disengaja atau tidak, selain tidak sesuai dengan konteksnya juga malah menjadi manipulatif karena dibelokkan dengan kata “PASTI”. Maksud saya begini mari coba kita pahami baik-baik dahulu seperti keadaan sebenarnya yang terjadi di masyarakat Dayak pedalaman tersebut, jangan memakai ukuran kita sendiri karena akan menjadi berbeda.

Banyak daerah di Pulau Kalimantan, dimana saya pernah melihat dengan begitu dekat hubungan antara manusia dan anjing ini. Mulai dari hulu Sungai Kelai di Kalimantan Timur, yang jaraknya dua hari dari kota Tanjungredeb. Hulu Magong di Kalimantan Utara yang juga dua hari perjalanan dari jalur trans Kalimantan Utara. Beberapa daerah di Kalimantan Tengah ketika berpetualang bersama keluarga kesekian saya masyarakat Dayak Ngaju. Beberapa daerah di kampung halaman saya di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Dan terakhir adalah ketika bulan lalu saya silaturahmi dengan masyarakat Dayak Beginci (Dayak Laman Peruya) di Kalimantan Barat. Dari semua penglihatan yang saya dapatkan tersebut, kegunaan anjing sebagai kawan berburu mencari sumber nutrisi hewani merupakan pertimbangan utama, kenapa binatang ini begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Dayak. Saya akan coba buka kembali ingatan saya tentang perburuan yang dilakukan oleh masyarakat Dayak dengan menggunakan anjing in, berdasarkan pengalaman paling baru saya dengan suku Dayak Beginci (yang mana sebenarnya cara perburuannya ini juga kurang lebih sama seperti dilakukan masyarakat Dayak lainnya).

Sesuai dengan kontur wilayah geografis di pedalaman, berikut kondisi jalur transportasinya yang sangat terbatas, seringkali perjalanan menuju ke tempat perburuan selalu dilakukan melalui sungai. Anjing-anjing akan diberi makan secukupnya, sambil sang empunya dalam hati memanjatkan harapan-harapan kepada Yang Esa. Isi doa sebelum berburu ini saya tidak tahu tetapi saya yakin isinya kurang lebih sama, demi hasil yang terbaik. Anjing-anjing akan disayang-sayang sebisa mungkin oleh sang empunya, semacam pengkondisian suasana bahwa setelah ini kita akan berburu bersama. Barulah kemudian anjing dan sang empunya akan naik ke perahu dan kemudian melaju ke lokasi-lokasi perburuan yang biasanya terdapat di daerah di bagian hulu sungai, yakni daerah-daerah yang diyakini banyak populasi binatang target dan juga suasananya cukup sepi dari aktifitas masyarakat. Jadi memang ada semacam kawasan-kawasan tertentu di hutan-hutan mereka, ada hutan yang untuk mencari sumber pangan berupa sayuran dan lain-lain, ada hutan yang menjadi lokasi pencarian rotan dan juga obat-obatan, dan ada memang kawasan berburu. Semua telah dipelajari dan diwariskan turun temurun tentang ini sehingga setiap masyarakat mengenal isi hutan mereka. Ketika perahu kecil melaju mendaki ke hulu, anjing-anjing pemburu yang selalu mengambil tempat di bagian depan perahu akan melakukan pendeteksian keberadaan binatang-binatang target. Sang pemimpin anjing pemburu biasanya ada satu saja, yaitu anjing dengan indra penciuman paling tajam, selama mendaki ke arah hulu ini dialah yang akan selalu siaga dengan berkonsentrasi mencium bebauan yang bersliweran di udara hutan. Sementara sang pemimpin ini bersiaga, biasanya anjing-anjing lainnya akan woles, bersantai dahulu (ada yang tiduran, dan lain sebagainya). Tetapi seuasana santai ini bisa berubah total ketika sang pemimpin tiba-tiba terjun ke dalam air dan kemudian berenang menuju tepi. Perahu akan langsung dihentikan, dan anjing-anjing lainnya yang tadinya woles-pun akan langsung ikut terjun ke air mengikuti pemimpinnya. Kenapa bisa demikian, karena sang pemimpin telah ditentukan bahwa ada bau binatang target di sekitar lokasi tersebut. Pemburu (pemilik anjing) akan mengikuti kawanan anjing pemburu ini masuk ke dalam hutan sembari membawa tombak dan alat berburu lainnya (misalnya golok/mandau/dll).

Terkadang sekali keputusan dari sang pemimpin anjing ini menghasilkan binatang target, tetapi terkadang juga tidak menghasilkan apa-apa. Penyebab gagal dan atau berhasilnya perburuan bisa bermacam-macam. Bisa jadi binatang target setelah dikejar lama memang kemudian terpojok di sudut hutan dikepung oleh kawanan anjing, tetapi karena kesalahan kecil binatang tersebut kemudian meloloskan diri ke arah pegunungan. Bisa jadi karena memang keputusan pemimpin yang terlalu terburu-buru, sehingga ketika disisir di kawasan hutan, ternyata sudah tidak ada lagi binatang targetnya. Atau bisa jadi juga gagal karena banyak faktor x lainnya. Dalam konteks manusia yang ikut berburu, bisa jadi karena ada yang membawa sial karena niatnya kurang ‘bulat’, dan lain-lain. Jika gagal maka perburuan akan dilanjutkan kembali dengan proses yang sama sembari kembali ‘mendaki’ ke arah hulu. Tetapi jika berhasil biasanya perburuan akan dihentikan karena bagi masyarakat Dayak pedalaman, satu binatang buruan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan daging seluruh keluarga untuk beberapa hari lamanya. Sebagian terkadang juga dijual ke tetangga terdekat. Tetapi jika perburuan lagi-lagi gagal dan hari sudah beranjak siang maka perburuan akan dihentikan, sebab masyarakat menganggap binatang-binatang yang menjadi target, posisinya sudah terlalu jauh di dalam hutan dan bahkan sebagian bisa jadi telah bersembunyi di sarah-sarang yang jauh sekali dari hutan sekitar sungai. Ini akan sangat melelahkan jika kita memaksakan mencari ke lokasi sarang-sarang mereka di dalam hutan. Belum lagi anjing juga akan terkuras tenaganya karena perjalanan yang tidak bisa ditebak berapa jauhnya. Perburuan bisa dilanjutkan kembali sore hari ketika dianggap banyak binatang target yang turun ke sekitar aliran sungai untuk mencari minum lagi dan atau kelompok pemburu bisa balik kanan kembali ke kampung.

Jadi begitulah gambaran perburuan yang dilakukan oleh masyarakat Dayak bersama dengan anjing-anjing peliharaannya, yang saya lihat belum lama ini di masyarakat Dayak Beginci, Kalimantan Barat. Semua dilakukan semata demi memenuhi kebutuhan nutrisi hewani untuk keluarga mereka dan hanya sebagian kecil saja yang dijual, itupun ke tetangga sekitar rumah saja. Sangat jarang perburuan dilakukan semata untuk kepentingan ekonomi dengan mencari hasil sebanyak-banyaknya untuk dijual. Dan gambaran perburuan di Dayak Beginci ini kurang lebih sama dengan yang terjadi di masyarakat Dayak pedalaman lainnya. Jadi menurut saya tidak salah kiranya jika saya pernah menuliskan bahwa “bagaimana seorang Dayak memperlakukan anjing-anjingnya, bisa menjadi SALAH SATU tolok ukur karakter dan hati orang tersebut” menurut saya tidak mengada-ada. Karena apa yang terjadi adalah tentang bagaimana mencari ataupun mempertahankan sebuah kehidupan di pedalaman. Lalu apakah ini bisa dibuktikan? Foto-foto tentang bagaimana masyarakat mengatasi tantangan pencarian hidup, yang berupa bagaimana mengatasi kondisi geografis yang ekstrim (mengangkat perahu menaiki ‘dinding’ jeram dan melewati kayu-kayu yang tumbang selama perjalanan), mungkin bisa menjadi SALAH SATU contoh karakter dan hati masyarakat Dayak di pedalaman. Contoh lainnya? Saudara-saudara bisa mencarinya sendiri dengan datang, tinggal, dan hidup bersama mereka di pedalaman. Meski itu hanya bisa beberapa saat saja, saya jamin Anda semua akan menemukan lebih banyak lagi ‘pencerahan’ menakjubkan tentang karakter dan hati sebuah masyarakat yang kehidupannya terus ditempa oleh alam. Entah kenapa saya tiba-tiba dengan kehidupan di dunia ramai yang konon lebih beradab, dimana manusianya banyak yang membaca buku agama dan buku kehidupan lainnya. Keadaan yang terjadi dengan mereka seringkali sebaliknya. Salam petualang!



















* Pictures mostly by Budhi K. Some shots by Me, & Wijayadi. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

Comments