Friday, 10 June 2016


Kehadiran saya dan tim Jejak Petualang Trans|7 di sebuah desa pedalaman Kalimantan Barat beberapa waktu lalu sebenarnya adalah untuk ‘melihat’ dengan lebih dalam tentang bagaimana sebuah unit sosial yang berada jauh di pedalaman menjalani kehidupannya, berikut dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada saat ini. Masyarakat Dayak Beginci, ada juga yang menyebutnya Dayak Laman Peruya, adalah sebuah sub suku yang konon merupakan anak suku Ot-Danum di Kalimantan Tengah. Perjalanan sejarah juga politik pada masa lampau (pada jaman kerajaan-kerajaan) kemudian membuat sub suku ini terpaksa masuk dalam wilayah Kalimantan Barat. Baiknya saya tidak perlu membahas migrasi sekaligus ‘perpindahan’ unit sosial ini pada masa lampau karena kisahnya terlalu panjang dan juga pada beberapa bagian cukup sensitif. Kini (setelah migrasi panjang dan terus berpindah selama beberapa generasi) masyarakat ini mendiami sebuah noktah kecil di daerah aliran Sungai B***** K***, sekitar 10 jam dari kota Pontianak, Kalimantan Barat. Desa kecil mereka berada di ‘tengah’ hutan dan satu-satunya akses yang make sense ke wilayah mereka saat ini adalah melalui jalan logging milik sebuah perusahaan HPH dengan menggunakan kendaraan gardan ganda. Ada satu akses lagi sebenarnya melalui sungai, tetapi bisa jadi kita akan stuck di kedalaman hutan karena sungai di wilayah ini banyak 'wall' jeram monster! Jika dilihat di peta, desa mereka berada tidak jauh dari garis imajiner yang merupakan batas antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, yang awalnya memang dari sanalah mereka berasal.

Tentang patroli hutan yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Beginci dan Dayak Kayong, dan pihak-pihak lain yang concern dengan keberlanjutan kawasan hutan tropis (hutan primer) di daerah Nanga Tayap, Ketapang ini saya tidak akan menulis banyak. Sedikit, saya ingin memberi gambaran saja tentang kondisi hutan tropis di negeri kita. Kawasan hutan di Indonesia pernah menempati urutan ketiga terluas di dunia (pertama Brasil, kedua Kongo) dengan luas 162 juta hektar. Kita bisa bayangkan manfaat dari “paru-paru dunia” ini dari keberagaman flora faunanya, fungsi tata air, untuk ilmu pengetahuan, farmasi, dan lain sebagainya. Sayangnya paru-paru dunia ini telah lama dan terus terkoyak oleh pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan (tahun 2007 Indonesia mendapat juara sebagai negara dengan deforestasi tertinggi dari Guiness World Records dengan tingkat kerusakan 300 kali lapangan bola setiap jamnya). Dari kebakaran hutan dan lahan pada kurun waktu 1997-1998 saja, terjadi deforestasi sekitar 9,75 juta hektare (ADB), namun menurut luasnya mencapai Walhi 13 juta hektare. Deforestasi lain yang menggerus hutan-hutan Sumatera, Kalimantan hingga Papua, hingga tahun 1997 diyakini tidak kurang telah merobek paru-paru dunia ini seluas 10 juta ha. Pertumbuhan ekonomi  Indonesia tahun 1980-1990-an juga terjadi dengan mulai merosotnya kualitas lingkungan dan pelanggaran hak dan tradisi masyarakat setempat yang hidupnya terkait dengan hutan tropis.

Apa yang saya tuliskan sekilas di atas merupakan rangkuman tentang “kesedihan” kondisi hutan tropis kita yang banyak tersebar di internet. Apakah data-data ini valid? Terlalu polos hidup kita selama ini menurut saya jika kita masih meragukan semua data ini, silahkan ‘berselancar’ di internet mencari informasi tentang hutan tropis Indonesia, dan selamat menikmati suguhan pahit yang akan tersaji. Jadi saya begitu bersyukur bahwa masih ada masyarakat adat yang teguh memegang komitmen menjaga hutan ulayat milik mereka, bersama pihak-pihak lainnya, demi keberlangsungan potensi yang ada sehingga dapat diwariskan kepada anak cucu. Dengan potensi alam yang telah diberikan kepada manusia, memang kita memiliki hak untuk memanfaatkannya, cara pemanfaatan ini yang patut diperhatikan, seperti apa? Apakah caranya membabi buta tanpa peduli bahwa sejatinya semua sumber daya alam seharusnya juga dapat dinikmati oleh generasi berikutnya? Ataukah cara-cara pemanfaatannya penuh kearifan lokal dan tidak rakus, sehingga alam megah yang dititipkan kepada kita juga tetap megah hingga nanti. Banyak pihak, baik individu, masyarakat, perusahaan besar, pemerintah daerah, dan lain sebagainya yang tergoda dengan menghabiskan semua hutan tropis yang ada di wilayahnya demi tumpukan lembaran nominal yang akan habis sesaat. Banyak juga yang penuh tanggung jawab memanfaatkannya tetapi dengan prinsip sustainable yang ketat. Apa yang saya lihat di wilayah adat orang-orang Daya Beginci dan Dayak Kayoung cukup menghibur hati saya di tengah laju deforestasi hutan tropis Indonesia. Hasil patroli hari itu adalah berhasil ‘menangkap’ satu kelompok pemburu burung yang disinyalir melakukan perburuan burung yang mulai langka, dan satu kelompok pembalak liar yang menebang pohon-pohon yang dilindungi.

Betul, bahwa masyarakat, begitu juga pihak-pihak lainnya di wilayah ini tetap memanfaatkan hutan tropis yang ada baik dalam skala kecil ataupun besar, tetapi yang tidak dilupakan, prinsip berkelanjutan tetap dipegang teguh. Sebagai gambaran tentang hal ini adalah, di wilayah nanga Tayap ini ada sebuah perusahaan HPH besar yang telah beroperasi sejak tahun 1975 (mungkin eksploitasi hutannya, produksinya, sudah dilakukan sejak 1978-an), tetapi jika kita lihat kondisi hutannya di tahun 2016 ini, karena mereka memegang teguh prinsip sustainable tersebut, masih begitu megah. Saya tidak ada kepentingan apapun dengan menulis seperti ini, selain mengabarkan kepada publik dengan dengan benar, menyatakan apa adanya seperti yang saya lihat saat itu ketika berada di wilayah ini. Bukan karena saya dibantu melintasi ratusan kilometer jalur logging di dalam kawasan ini, dengan support armada yang memadai dan sangat membantu kegiatan yang saya lakukan bersama masyarakat, kemudian saya menulis seperti ini. Begini gambarannya saudara-saudara, saya pernah melihat hutan-hutan yang telah hancur di wilayah lain di negeri ini, padahal belum lama (kurang dari 20 tahun) dieksploitasi baik itu untuk diambil kayunya oleh perusahaan HPH ataupun mulai dibuka untuk dijadikan lahan oleh masyarakat. Kehancuran yang sebenarnya bisa dihindari andaikan masyarakat di sekitarnya, pengelola HPH-nya, tidak tamak. Di Nanga Tayap, Ketapang  keadaannya sungguh di luar dugaan saya, padahal eksploitasi yang dilakukan (dari sisi perusahaan HPH saja sudah sejak sekitar 1978-an). Hutannya masih benar-benar hutan tropis yang megah! Belum lama ini saya mendapat informasi di Jakarta, bahwa di Indonesia hanya ada 7 perusahaan HPH yang memenuhi standar sertifikasi pemanfaatan hutan yang sustainable (entah apa nama sertifikasi tersebut), dan yang beroperasi di Nanga Tayap ini salah satunya. Semoga mereka semua yang telah begitu bersemangat memanfaatkan sekaligus menjaga keberlanjutan hutan tropis di wilayah Nanga Tayap dan juga wilayah lain di Indonesia, tidak pernah kenal lelah untuk melanjutkan niat mulia tersebut. Juga tidak pernah kenal lelah mewariskan semangat sustainable yang telah dijalani ini kepada generasi penerusnya.

Catatan pendek ini saya buat sekaligus sebagai ucapan terimakasih dan salam kepada semua pihak yang terlibat dalam patroli hutan hari itu. Yang bersama-sama dalam satu semangat yang sama menyusuri ratusan kilometer jalur logging yang ‘aduhai’ itu, menjelajahi puluhan kilometer trekking di dalam kelebatan hutan, bermandi peluh selama kegiatan, dan lain sebagainya. Teruskan! Salam!















* Pictures mostly by Budhi K. Some shots by Me, & Wijayadi. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers