Thursday, 7 July 2016


Tak terhitung sudah berapa kali saya bermain dan bekerja di sebuah kawasan geografis yang mana tidak banyak orang menyukainya, kawasan hutan mangrove. Ada yang karena tidak tahan dengan serbuan kawanan agasnya, karena takut dengan banyaknya kisah tentang predator purba bernama buaya. Ada juga yang karena ‘termakan’ kngeriannya sendiri karena pernah menonton film Swamp Thing. Tahukah saudara-saudara, hutan mangrove adalah harapan kita berikutnya ketika hutan tropis kita hampir hancur seluruhnya ini?

Hutan mangrove di Kabupaten Halmahera Timur, setidaknya yang letaknya berada di antara dua wilayah pemukiman penduduk, antara Desa T dan juga Desa G, menurut saya adalah kawasan hutan bakau purba. Kawasan hutan bakau kuno yang mungkin sejak jaman antah barantah tidak banyak berubah kondisinya. Pohon-pohon mangrove besar berjejal begitu gagah tersebar di seluruh penjuru, membentuk sebuah benteng ekosistem pesisir super solid, menjaga kawasan pesisir Halmahera Timur dari ‘serangan’ gempuran ombak dari arah lautan sekaligus menjadi rumah berpuluh atau bahkan beratus spesies mangrove baik itu yang di air, lumpur, pohon, dan lain sebagainya. Pada musim tertentu, menurut cerita masyarakat akan terjadi nanti mulai September musim angin akan ‘mengamuk’ di Laut Halmahera, memaksa sebagian besar masyarakat berdiam diri di rumah karena melaut berarti petaka, tetapi dengan keberadaan hutan mangrove yang perkasa ini, secara geografis hampir seluruh garis pantai Halmahera Timur seperti memiliki benteng abadi yang sangat kecil kemungkinannya dapat ditembus oleh keganasan ombak pada musim angin yang buruk. Saya tidak tahu pasti panjang pesisir kawasan hutan mangrove yang terletak di antara dua desa ini, tetapi jika kita berlayar dengan perahu nelayan bermesi 15 PK dari ujung ke ujung (antara T ke G), setidaknya kita akan memerlukan waktu dua jam. Anggap kecepatan perahu kita adalah konstan 8 knot, berarti panjang garis pantai yang memiliki benteng abadi hutan mangrove di kawasan ini setidaknya 1,852 km x 16 berarti setidaknya 29,632 kilometer. Tentunya panjang pesisir hutan mangrove ini tidak persis demikian karena perahu biasanya akan melaju mengikuti garis imaginer yang cenderung lurus, berbelok sesekali, jadi setidaknya panjang kawasan pesisir hutan mangrove ini masih mungkin untuk kita tambah setidaknya 50 % lagi dari hitungan di atas.

Kenapa saya begitu bersemangat membahas kawasan hutan mangrove di wilayah ini. Pendorong utama sebenarnya sederhana, ketika kita berada di dalamnya, kita merasakan betapa ‘perawannya’ kawasan hutan yang ada tersebut. Pohon-pohon besar mangrove yang ada seperti telah ada disana sejak pertama kali bumi tercipta. Campur tangan manusia saya amati juga masih sangat kecil, meski saya lihat ada beberapa titik yang dibuka sekedar untuk membangun pondok memancing tetapi itu seperti dilakukan sangat sporadis dan lebih dalam rangka mencari solusi pangan sesaat saja. Hampir tidak ada eksploitasi berarti yang berlangsung sangat masif di kawasan ini. Dari enam aliran sungai besar yang mengiris kawasan ini, paling sering hanya dijadikan masyarakat sebagai jalur tradisional masyarakat berangkat ke kebun mereka yang letaknya berada dataran tinggi bagian hulu sungai. Terkadang sembari pulang dari kebun, beberap apetani akan memancing dengan cara batonda, trolling tradisional dengan umpan buatan sendiri seadanya. Interest kuat saya pada hutan mangrove di kawasan ini tentunya juga dipengaruhi oleh minat saya pada spesies ikan tertentu yang habitatnya terdapat di kawasan ekosistem perairan payau seperti ini. Satu yang paling keren dari semua spesies ikan lain di perairan payau adalah spesies Lutjanus goldiei, atau ikan kakap hitam, kakap raja, somasi hitam, ikan tembaring, atau ikan na’in. Indonesian black bass, ikan paling bergengsi dari perairan payau yang di dunia hanya hidup di dua negara; Indonesia dan PNG!

Tetapi bukan tentang ikan yang ingin saya sampaikan di catatan ini, tetapi sesuatu yang lain, yang semoga bisa membuka pemahaman kita terhadap sebuah ekosistem perairan payau khususnya hutan mangrove. Banyak pihak akhir-akhir ini semakin getol menyuarakan pentingnya keberadaan sebuah hutan mangrove. Ada yang membentuk kelompok cinta mangrove, melakukan berbagai gerakan penanaman mangrove, dan lain sebagainya. Beberapa pemerintahan daerah, bahkan di DKI Jakarta sendiri misalnya, juga terlihat jelas ingin memberi pemahaman yang jelas sekaligus melakukan aksi nyata menjaga keberadaan hutan mangrove ini terus ada di sekitar ibukota. Kenapa demikian? Untuk sebuah kawasan pesisir, baik itu yang masih perawan, ataupun kawasan pesisir yang telah berubah menjadi lahan dan bahkan perkotaan misalnya, seperti DKI Jakarta, keberadaan hutan mangrove memang tidak bisa disepelekan, karena melalui kawasan vegetasi yang unik inilah, sebuah kawasan pesisir memiliki harapan bahwa ‘kemapanan’ sebuah kawasan geografis pesisir dapat terus bertahan tanpa gangguan berarti dari gerusan lautan yang terus merangsek memakan ‘daratan’ tersebut. Dalam konteks hutan Indonesia, hutan mangrove adalah harapan terkuat saat ini, menurut saya lho ya, ini jika kita membaca luasan deforestasi hutan hujan tropis yang kita miliki dan luas hutan primer yang masih tersisa. Saya tidak akan menyebut data luasan deforestasi hutan tropis yang ada saat ini, buka saja Google dan silahkan terpana sendiri membaca data-data dari berbagai lembaga yang namanya telah mendunia tersebut. Satu kata saja untuk menggambarkan kondisi hutan tropis kita saat ini: MENGERIKAN! Itulah sebab, kenapa saya katakan bahwa hutan mangrove Indonesia adalah harapan kita. Kawasan mangrove ini memang tidak bisa seratus persen menggantikan fungsi ekologis dari mulai hilangnya hutan tropis kita, karena ya memang beda fungsi ekologinya. Keduanya, hutan-hutan tersebut maksud saya, memang sama-sama memiliki fungsi ekologis. Tetapi oleh Sang Pencipta keduanya telah ditugaskan untuk menjaga wilayah geografis yang berbeda.

Baiklah saya ulas sedikit tentang hutan tropis kita. Kawasan hutan tropis di Indonesia pernah menempati urutan ketiga terluas di dunia (pertama Brasil, kedua Kongo) dengan luas 162 juta hektar. Kita bisa bayangkan manfaat dari “paru-paru dunia” ini dari keberagaman flora faunanya, fungsi tata air, untuk ilmu pengetahuan, farmasi, dan fungsi ekologi lainnya. Sayangnya paru-paru dunia ini telah lama dan terus terkoyak oleh pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan (tahun 2007 Indonesia mendapat juara sebagai negara dengan deforestasi tertinggi dari Guiness World Records dengan tingkat kerusakan 300 kali lapangan bola setiap jamnya). Dari kebakaran hutan dan lahan pada kurun waktu 1997-1998 saja, terjadi deforestasi sekitar 9,75 juta hektare (Asian Development Bank), namun menurut luasnya mencapai Walhi 13 juta hektare. Deforestasi lain yang menggerus hutan-hutan Sumatera, Kalimantan hingga Papua, hingga tahun 1997 diyakini tidak kurang telah merobek paru-paru dunia ini seluas 10 juta ha. Pertumbuhan ekonomi  Indonesia tahun 1980-1990an juga terjadi dengan mulai merosotnya kualitas lingkungan dan pelanggaran hak dan tradisi masyarakat setempat. Jadi tidak berlebihan bukan jika saya mengatakan bahwa kita masih memiliki harapan dari hutan mangrove ini? Kita boleh berbangga sekaligus jangan lupakan amanat menjaganya karena kita saat ini menempati urutan pertama di dunia dengan 19% dari luas negara atau sekitar 3,062 ribu ha, lebih luas dari Australia (10%) dan Brasil (7%). Beragam manfaat kawasan juga fungsi ekologis hutan mangrove Indonesia (pangan, perikanan, ekosistem, sebagai benteng daratan, kemampuan menyimpan karbon, dan lain-lain) belum digarap dan diperhatikan secara maksimal oleh banyak orang. Padahal dengan panjang total hampir 95,000 km di seluruh pesisir Indonesia, kita menyumbang 23 % ekosistem mangrove dunia. Tidak usah pikirkan fungsi-fungsi ekologis yang rumit yang saya sendiri sebenarnya juga tidak berkompeten menyebutkannya, sebagai ‘benteng’ daratan pesisir saja misalnya, bayangkan jika sampai hutan mangrove Indonesia ini juga rusak semuanya? Apa kita tidak akan tenggelam perlahan-lahan?! Betul, mungkin kita memang tidak akan, tetapi anak cucu cicit kita?!

Kita kembali ke kemegahan hutan mangrove Halmahera Timur, di antara sebuah desa bernama T dan G, hutan mangrove yang entah kenapa memikat saya begitu kuat, mungkin karena terlihat begitu ‘polos’ dan ‘perawan’.  Belum banyak tangan yang menjamahnya! Hebatnya, di jaman yang banyak orang gila mengejar volume yang artinya dapat dikonversi dalam lembaran rupiah yang ‘tebal’, masyarakat Halmahera Timur masih ‘memetik’ berkah alam kawasan mangrove ini dengan cara-cara yang sangat tradisional. Means, bersahabat , ramah lingkungan, suntainable! Saya ambil contoh misalnya tukang perahu utama saya, sehari-hari bekerja sebagai pencari kepiting. Cara yang dia tempuh adalah dengan memasang beberapa perangkap ketik air sedang surut, di dalamnya diberi umpan potongan daging ikan, usai sekali atau dua kali air mengalami pasang, perangkap akan diambil lagi juga ketika air sedang surut. Itupun dia masih akan memperhatikan waktu-waktu tertentu yang baik, tidak setiap hari dia melakukannya. Tukang perahu saya ini menyandarkan kehidupan keluarganya dari mencari kepiting bakau, tetapi kesadaran tinggi akan pentingnya keberlanjutan sebuah spesies dalam ekosistem, meng-guide pencarian hidupnya dalam taraf yang wajar.  Saya tanya memiliki berapa perangkap kepiting kah dia? Sepuluh kah? Dua puluh kah? Tiga puluh kah? Dia menjawab, hanya ada lima saja?! Kenapa tidak bikin banyak-banyak biar hasilnya melimpah, pancing saya, ah itu sudah cukup kog tidak harus banyak-banyak. Penting hasilnya terus ada berapapun itu. Jadi dia lebih memilih dapat terus mencari kepiting, dengan hasil secukupnya saja, daripada mencari sekali dapat satu truk, tetapi tidak bisa lagi mencari selama setahun karena reproduksi kepiting di kawasan tersebut menjadi terganggu! Ini keren! Oh ya kalau ukuran kepiting yang ada di kawasan ini rata-rata juga menakjubkan, satu ekor ada yang beratnya 1-1.5 kilogram! Tak heran kemudian jika pecinta kepiting seperti host Patricia Ranieta dan juga rekan-rekan JPWF lainnya menjerit histeris saking girangnya! Saya kebetulan kurang menyukainya dan juga saat itu satu gigitan pun tidak ikut merasakannya. Entah kenapa saya malas makan sesuatu yang merepotkan, sudah merepotkan eh menyimpan potensi penyakit pula di masa mendatang. Tetapi saya paham kata nikmat yang melekat pada kepiting bakau ini, apalagi yang ukurannya sudah monster! Hehehe!

Pilihan menjalani hidup sebuah keluarga lain yang tinggal di muara sebuah sistem sungai payau paling kompleks di wilayah ini malah lebih membuat saya ternganga lagi. Di muara Sungai G, ada satu keluarga besar yang tinggal di rumah panggung. Mereka hidup ‘primitif’ karena ya memang sangat mendasar sekali keberadaannya. Rumah panggung, beratap rumbia, hidup terisolasi dari masyarakat lain, kampung terdekat sekitar 30 kilometer, di dalam rumah panggung tersebut hanya ada alat-alat masak, alat mencari ikan, dan juga peralatan berkebun. Jika malam penerangannya hanya dengan lampu minyak saja. Mereka hidup sangat-sangat sederhana sampai-sampai saya bingung menjelaskannya, pokoknya seperti di film-film jaman kerajaan itulah! Satu-satunya penanda peradaban modern di rumah ini adalah sampan kecil dengan mesin tempel China yang sepertinya ukurannya 5 PK, itupun bentuk mesin perahu ini juga sudah berkarat sana-sini. Mesin ini akan digunakan untuk mendorong perahu ke kebun, atau mencari ikan, dan seringnya untuk pergi ke desa terdekat menjual hasil hutan, kebun, atau hasil ikan, untuk kemudian ditukar dengan beras garam gula kopi dan rokok. Kenapa tinggal disini? Tanya saya. Mereka tidak fasih berbahasa Indonesia tetapi jika saya rangkum keterangannya kurang lebih sebagai berikut. Mereka tinggal terisolasi di sini karena memang kehidupan mereka terikat dengan sungai dan kebun dan hutan di sekitarnya, dari hasil-hasil alam mereka menyandarkan kehidupannya. Mereka disini juga sekaligus dalam rangka menjaga sungai ulayat warisan nenek moyang, karena mereka khawatir banyak “orang luar” yang tidak bertanggung jawab akan merusak sandaran hidup mereka ini dengan cara-cara yang tidak baik. Saya terharu! Dalam kesederhanaan dan keterbatasan hidupnya, mereka juga memiliki kehangatan manusia yang murni. Ketika naik ke rumah panggung mereka, mereka menawari makanan berupa kolak singkong dengan lauk ikan asam pedas. Mungkin itu adalah kombinasi antara asupan karbohidrat dan protein teraneh sekaligus ternikmat yang pernah saya makan seumur hidup saya! Kelompok ibu-ibu pencari bia wei (kerang darah) juga menunjukkan kepada kami betapa sehatnya ekosistem payau di wilayah ini dalam bentuk pencarian asupan nutrisi. Di sebuah muara Sungai W yang sangat dangkal ketika puncak surut terjadi, tetapi lumpurnya luar biasa dalam menghisap kita, dengan cepat kita bisa mendapatkan beratus kerang darah. Memang sangat berat berjibaku dengan lumpur, melelahkan, tetapi tidak sampai tiga jam, kami sudah mendapatkan lebih dari cukup kerang darah untuk dimakan dua puluh orang! Ini luar biasa!

Dominasi kesadaran kolektif masyarakat pada keberlanjutan potensi sebuah ekosistem di wilayah ini bukan berarti tidak memiliki tantangan. Ibarat sebuah rantai, akan selalu ada bagian yang mudah aus dan kemudian membuat rantai kurang berfungsi dengan baik. Ibarat sebuah sistem mekanis, selalu ada yang mudah rusak dan menjadi penghambat. Ibarat sebuah sistem sel tubuh manusia juga hewan, selalu ada sel yang lemah dan membuat keseluruhan sistem bisa diserang penyakit. Begitu juga dengan kehidupan sebuah masyarakat. Saya akan coba ‘memotret’-nya dari fenomena musim cacing laor (bau nyale-nya masyarakat Halmahera) yang terjadi setahun sekali. Hal yang sama juga terjadi di wilayah pesisir lainnya di Indonesia dari NTT dan Maluku serta Maluku Utara. Kebetulan sekali saat kami berada disana secara kalender bulan semestinya berlangsung panen laor/cacing laut. Terjadi setahun sekali pada bulan kelima, satu hingga dua malam setelah purnama penuh. Begitulah yang diyakini oleh seluruh masyarakat Halmahera Timur mulai dari Tanjung Sosolat hingga Tanjung Patani. Dan memang momen itu kemudian terjadi, tetapi dengan keterbaruan yang menyertainya. Yang saya dengar bahwa di Tanjung Sosolat di ujung utara dan Patani yang letaknya jauh di selatan K-nya Halmahera Timur, panen laor masih terjadi seperti sebelum-sebelumnya, jumlahnya masih menggembirakan meskipun secara volume berkurang dair tahun ke tahun. Cacing laor ini adalah spesies unik yang oleh masyarakat banyak dijadikan sebagai asupan nutrisi tingkat tinggi setahun sekali. Sehingga setiap tiba waktunya, masyarakat selalu berduyun-duyun turun ke laut pada pagi buta demi mendapatkan binatang licin ini. Di Lombok dan Sumbawa momen ini malah sudah dijadikan sebagai daya tarik wisata. Di pesisir sekitar Desa T hingga Desa G hari itu hasilnya kurang maksimal, menurun drastis dibandingkan musim-musim sebelumnya. Saya sendiri sejak pukul 03.00 WIT sudah berbasah-basah di salah satu sudut pantai, demi ikut memeriahkan pesta tahunan tersebut, tetapi momen besar yang saya harapkan urung terwujud. 99 % orang yang hari itu turun ke laut pagi buta, harus ikhlas bahwa cacing laor tidak jadi muncul. Sebenarnya kata yang tepat adalah sebenarnya muncul, tetapi jumlahnya tidak banyak lagi. Apa pasal? Salah perhitungan hari kah? Tidak mungkin. Tidak ada yang menyatakannya secara eksplisit, tetapi menurut saya ini adalah pertanda mulai berubahnya ekosistem pantai di wilayah ini. Yang notabene berdekatan dengan ekosistem payau di sebelahnya. Konon sekarang ini mulai ada satu dua orang yang tergoda mencari ikan di karang-karang dangkal sekitar desa dengan cara yang tidak ramah lingkungan, memang masih skala kecil, tetapi hal ini tetap saja memiliki efek ke terumbu karang yang ada. Cacing laor selama setahun konon hidup di dalam karang ini, dan setahun sekali kemunculannya adalah untuk melakukan kawin massal. Lha kalau ‘rumah’-nya bertapa saja sudah mulai rusak? Mana sempat muncul untuk “kawin”?

Suatu hari saat memancing di sebuah sungai di kawasan ini saya juga mendengar raungan mesin chainsaw dari arah pegunungan. Kata tukang perahu kami itu suara chainsaw dari para penebang pohon membuka lahan di gunung dan atau sedang membuat papan untuk rumah. Tidak masalah sebenarnya karena memanfaatkan belum tentu merusak. Tetapi kekhawatiran bagaimanapun selalu ada bahwa raungan chainsaw itu suatu hari nanti akan terjadi di dalam hutan mangrove ini.  Dan jawabannya saya dapatkan hari berikutnya di Sungai G. Tiga orang masuk ke dalam hutan bakau membawa chainsaw menebang beberapa pohon bakau berukuran besar. Kenapa dilakukan? Untuk keperluan membuat cadangan kayu bakar setahun katanya. Bukankah banyak kayu-kayu roboh alami yang bisa dimanfaatkan kalau untuk sekedar kayu bakar saja. Sulit katanya kalau kayu yang sudah roboh, karena mostly posisi batangnya pasti terendam air dan menyulitkan proses memotongnya kecil-kecil (rantai chainsaw akan putus kalau saat dioperasikan sambil terendam air). Jadi mereka kemudian menebang pohon di hutan ketika air sedang surut. Alam yang terjaga memang menyediakan semua yang diperlukan manusia, tetapi terkadang ada yang tidak peduli dengan cara pemanfaatannya. Suka-suka gw lah cara memanfaatkannya, khan gw manusia, jadi terserah gw??? Ingatlah kita ini hanya singgah minum di dunia ini, masih akan banyak lagi generasi berikutnya yang juga akan singgah minum, jangan egois! Salam wild water Indonesia!!!


























 *  Pictures mostly by Budhi Kurniawan, Hermanto, Patricia Ranieta and Me. Drone by Faishal Umar. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers