Wednesday, 6 July 2016


Salah satu, yang artinya saya mendapatkan nilai sembilan, pelajaran penting yang saya dapatkan dari hobi memancing (khususnya sportfishing) yaitu tentang keteguhan dalam menjalani pilihan dan mengisinya dengan usaha keras agar apa yang diniatkan dapat terwujud (baca: berhasil).

Dalam catatan sebelumnya tentang perjalanan ke pesisir Timur Pulau Halmahera saya telah menyebutkan bahwa kedatangan saya dan tim JPWF rupanya disambut dengan ‘meriah’ oleh semua sungai yang ada di wilayah ini, saking meriahnya sambutan yang ada, airnya menjadi keruh. Hehehe! Perubahan musim, pergeseran iklim dan apapun itu namanya memang semakian tidak menentu,dan kita semua terkena pengaruh dari semua ini sadar ataupun tidak. Padahal dari hasil koordinasi sebelumnya dengan kontak saya di Halmahera Timur, seharusnya musim telah ‘menginjak’ ke musim kemarau yang artinya seluruh tingkat kejernihan air sungai cukup baik! Tetapi seperti telah saya utarakan juga dalam catatan tersebut, kami tidak takut, tidak mundur. Karena memang pekerja media seperti kami ini, sekali turun ‘berperang’, pantang pulang sebelum materi tayangan didapatkan.

Now let me talk as an angler, as sportfisher. Dalam kondisi fishing ground yang tidak ideal, dalam kasus yang saya hadapi saat itu adalah keruhnya air sungai, pemancing menurut saya akan terbagi dalam dua kelompok besar berdasarkan sikap yang akan diambil selanjutnya. Kelompok pertama adalah yang mayoritas atau umum terjadi dimana-mana, yakni go home. Alias tidak jadi turun mancing di lokasi tersebut, atau pindah lokasi ke yang kondisinya lebih kondusif, dan langkah-langkah lainnya yang intinya adalah tidak jadi melakukan kegiatan di spot tersebut. Ini wajar dan saya sendiri juga sering melakukannya, dengan catatan, bahwa opsi mundur memang bisa diambil, dan atau ada lokasi cadangan berikutnya yang mungkin diakses saat itu sesuai dengan waktu dan berbagai hal lainnya yang ada pada kita saat itu. Kelompok kedua adalah kelompok kecil yang dapat dikategorikan kelompok yang ngeyel. Ngeyelnya kelompok kedua ini bisa terjadi pertama karena memang opsi mundur tidak bisa diambil, jadi mau tidak mau memang harus go ahead! Contohnya ya misalnya orang-orang seperti saya dan tim JPWF yang memang sudah kadung jauh-jauh datang dari Jakarta dan apalagi sungai-sungai lain di seluruh daerah ini juga dalam kondisi yang sama. Atau bisa juga kelompok ngeyel ini memang tidak memiliki pilihan lain, seperti misalnya pindah lokasi yang memerlukan cost baru dan lain sebagainya yang tidak mungkin mereka lakukan karena berbagai keterbatasan yang ada. Mereka ini adalah kelompok, pokoke mancing, dan saya juga dapat memakluminya, terkadang juga sering mengalaminya. Pernah misalnya saya tiba di sebuah desa di Propinsi Kalimantan Utara, hari pertama, warna air sungai sebening air mineral kemasan yang sering kita minum, besok pagi banjir bandang telah menerjang dan kita mau tidak mau harus ‘nangis darah’ di sungai keruh mengais sambaran ikan beberapa hari berikutnya. Karena pindah daerah tidak mungkin dilakukan, biaya yang sangat mahal, dan lain sebagainya. Akan tetapi semua selalu ada hikmahnya, jadi selama kita bisa membuka hati lebar-lebar, percayalah apapun yang terjadi memiliki pesannya sendiri-sendiri yang dapat kita simpan di sudut sanubari sebagai tambahan bekal kehidupan kita selanjutnya mencari ikan. Hahahaha!

Memancing di air sungai, atau apapun bentuk fishing ground kita saat itu (selokan, parit, danau, rawa, laut) bukan perkara mudah. Diperlukan kesiapan mental yang  tidak biasa, diperlukan kerja lebih keras lagi dalam melakukan semua aktifitas memancing yang kita lakukan, dan lain sebagainya lagi. Kita tidak bisa lagi memancing sambil leha-leha, pasang aksi sana sini sembari terus berusaha memenuhi isi memori kamera, tidak bisa sembarangan lagi mengatur strategi mancingnya, dan lain-lain. Karena jika mode kita tetap seperti biasanya saja, dapat dipastikan hasilnya adalah membuang waktu energi dan biaya dalam kebodohan semata. Tetapi jika kita bisa pada mode yang adaptif, pada mode legawa tetapi tidak mundur dengan situasi yang ada, kita mungkin malah bisa belajar banyak hal dan kemudian mencapai next level yag tidak kita duga dan belum tentu semua pemancing berani melakukannya. Pertama karena resiko kegagalannya terlalu tinggi dan cenderung tidak enak, dan kedua tidak banyak yang siap mental menanggung kenyataan tersebut. Jadi lebih baik tidak usah ambil resiko sama sekali. Bukan suatu kesalahan juga, hak masing-masing orang untuk mengambil sikap apapun. Jadi, maksud saya adalah, apa yang akan saya sampaikan berikutnya ini adalah untuk kita, orang-orang yang berani mengambil semua resiko yang ada, yang berani belajar dari alam apapun kondisinya, dan berani mencapai next level yang tidak semua pemancing mau menempuhnya melalui kondisi yang tidak ideal. Usai menulis catatan ini sepertinya saya akan pindah hobi sebagai motivator semangat untuk para pencari ikan. Hhhhhhh!

Hari pertama di sebuah sungai di Halmahera Timur, saya menyebutnya dengan nama Sungai S, memberi banyak pemahaman tentang bagaimana seharusnya kita bertindak menyikapi kondisi yang ada. Pemahaman pertama dan terasa dalam rasa nyeri di hati adalah, bahwa ketika air sedang pada puncak surut, kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan sambaran-sambaran besar dari ikan-ikan pemangsa. Pemahaman kedua adalah bahwa kita masih memiliki kesempatan bergembira di anak-anak sungai yang dangkal dengan lebar sungai yang tidak seberapa, dengan target ikan-ikan kecil yang oleh masyarakat dikategorikan sebagai “ikan goreng”. Ketiga adalah hasil perenungan. Sebuah sungai peralihan (sungai payau) selalu mengalami saat-saat pergantian air dan konda (posisi air diam, tetapi kalau konda-nya surut biasanya disebut meti). Dua pergantian air tersebut yakni saat air pasang ketika bulan terbit, yang mana air laut masuk ke seluruh penjuru sungai dan rawa-rawa di sekitarnya. Ini artinya air sungai akan menjadi lebih jernih, tetapi tentunya debit air akan naik secara drastis, yang akan membuat seluruh penghuni sungai kemudian menyebar kemana-mana. Kondisi ini relatif sulit untuk para pemancing karena titik-titik konsentrasi ikan menjadi sangat sulit diprediksi keberadaannya. Berikutnya adalah saat air surut, yakni air laut kembali ke lautan akibat terbenamnya bulan. Debit air akan menyusut secara drastis, dan seluruh penghuni ekosistem akan terkonsentrasi di aliran utama saja. Kondisi meti di Sungai S seperti telah saya tuliskan di catatan sebelumnya memungkinkan kita mendapatkan sambaran. Ini dapat menjadi pegangan strategi nantinya. Saya kemudian menganggap bahwa ada kesempatan terbaik lainnya yang mungkin diambil yakni saat air laut mulai pasang (artinya arus di sungai cukup kondusif dan memicu hunting mode ikan-ikan predator), dan pastinya kondisi air juga akan cenderung bening karena air sungai yang keruh akan terdesak dan atau ‘dinetralkan’ dengan dominasi air laut yang ada. Kesempatan lainnya adalah saat air sungai sedang mulai bergerak surut, ini juga dapat dipastikan air Sungai S masih akan cukup bening.

Tetapi pilihan yang dapat kami ambil rupanya harus kembali berkurang karena saat pasang terjadi malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari, oleh karenanya kemudian kami memilih saat-saat awal air sungai akan bergerak turun (surut) yang terjadi pada pukul 05.30 WIT. Jika ini juga gagal mendapatkan sambaran, rencananya kami akan bergerak ke sebuah rumah kebun milik masyarakat, kembali merajut mimpi yang kami hentikan pukul 04.00 WIT tadi (saat kami berangkat menuju hulu sungai), sembari menunggu puncak surut. Saya adalah orang yang mungkin terlalu serius, tetapi berada di alam liar, menurut saya kita harus selalu bisa menyesuaikan diri dan menjadi bagian yang baik dari alam liar yang ada. Sebagai contoh, saat memancing saya tidak suka berisik tidak jelas, tidak suka dengan orang-orang yang suka berbicara kotor di alam liar, kurang respek dengan bunyi-bunyi gedubrakan yang tidak perlu, dan lebih lagi adalah tidak bisa mentolelir orang-orang yang menyalahkan alam atas apa yang terjadi terhadap kita. Kata-kata yang sering saya dengar di berbagai trip memancing selama ini adalah, ikannya tidak ada, padahal orang tersebut belum berusaha dengan maksimal. Padahal orang tersebut juga baru sekali itu turun mancing ke sungai tersebut, lalu bagaimana bisa dia searogan itu?! Mentang-mentang dia seorang “manusia” kah?! Pagi itu, seperti sebuah regu penyusup, kami mendayung perahu-perahu kami secara perlahan ‘naik’ ke hulu Sungai S yang sempit dan berliku yang dikepung hutan bakau, untuk menuju salah satu titik yang banyak rebahan pohon. Perahu saya paling depan, dan saya juga sudah menyiapkan tackle paling heavy duty yang ada. Sekitar 15 meter dari titik rebahan pohon saya perintahkan kru lokal berhenti dan mengangkat dayungnya. Satu-satu-satu, atau tidak sama sekali untuk pagi yang indah ini. Ini adalah istilah sportfishing yang artinya one cast, one strike/bite, one hooked up/landed. Umpan telah saya lemparkan, jatuh persis di dekat rebahan pohon, satu retrieve pertama, dan strike!!! Sekilas saya sempat melihat beberapa bayangan di bawah air, beberapa ikan sepertinya rebutan menyambar umpan saya sebelum sebuah sebuah tarikan kuat memaksa saya menikamkan joran ke dalam air agar tali tidak frontal menggesek batang-batang bakau, ikan lebih perkasa, sangkut terjadi lagi!

Kali ini tiada lagi debat kusir mencari siapa yang berani turun ke sungai membambil ikan yang bersembunyi di balik akar-akar bakau. Tidak sampai lima detik motoris saya sudah terjun duluan, disusul satu rekannya yang berniat membantunya dengan membawa serokan ikan. Memang hanya dengan cara seperti demikian ikan-ikan pemangsa perairan payau yang berlindung di balik akar-akar dan atau batang-batang kayu di dalam sungai dapat dinaikkan, ketika para penyelam pemberani ini memudian memberi isyarat bahwa ikan sudah masuk ke dalam serokan, saya longgarkan tali sehingga mereka dapat mengangkatnya naik ke permukaan. Mungkin momen saat itu adalah pagi terbaik selama di Halmahera Timur, bukan karena kemudian berhasil mendapatkan seekor ikan Indonesian black bass (Lutjanus goldiei) yang memang kami cari-cari, tetapi karena kemudian saya bisa mengucapkan selamat pagi ke rekan-rekan tim JPWF, terutama kepada Patricia Ranieta yang belum pernah sama sekali melihat ‘kegagahan’ Lutjanus goldiei, dengan sedikit tambahan senyum. Hehehe! Lutjanus goldiei memang bukan ikan sembarangan, saya tidak mencoba melebih-lebihkan keistimewaan ikan ini di ranah sportfishing. Memiliki tenaga luar biasa tangguh juga kecepatan manuver luar biasa, ikan raja di perairan payau. Pemancing yang tidak siap menghadapi perlawanan ini seringkali dibuat menganga dengan efek-efek yang ditimbulkan ketika bertarung dengan ikan ini. Rod yang patah berantakan, tali putus seketika, kita yang jatuh bangun terjerembab, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya spesies yang di Indonesia sering disebut dengan berbagai nama ini (tembaring, naing, somasi hitam) menduduki peringkat pertama ikan bergengsi dari perairan payau di kalangan sportfisher dunia. Habitatnya di dunia hanya ada di Indonesia dan di PNG, sayangnya banyak “fishy pedia” dan fish base dunia menyebut sebaran ikan ini hanya terdapat di PNG saja, padahal di Indonesia penyebarannya merata terdapat di seluruh pulau-pulau utama dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kenapa bisa begitu bias? Itulah sebabnya tiga tahun terakhir ini saya tidak sudi lagi menyebut ikan ini dengan nama Papuan black bass, seperti bule-bule itu, yang sialnya juga diikuti oleh sebagian pemancing Indonesia, karena nyatanya itu memang kurang tepat!

Mendokumentasikan ulang spesies bergengsi tentunya harus digarap dengan tenang dan sebaik mungkin, sehingga didapatkan hasil yang terbaik. Karena Lutjanus goldiei bukanlah ikan yang jumlahnya sebanyak ikan teri yang berjuta-juta banyaknya di setiap kawasan. Dan melakukan kerja dokumentasi di sungai payau yang sekitarnya adalah rawa bakau purba bukan perkara mudah, menyita banyak sekali waktu dan usaha yang lebih keras sekaligus kehati-hatian. Praktis saat kami kembali berhanyut menuju ke arah muara, kondisi aliran utama sungai sudah rusak parah. Warna air yang keruh masih ditambah dengan arus bawah yang mengaduk membuat air sungai lebih ‘jelek’ dari warna kopi susu yang selalu saya minum setiap hari! Saya kemudian berpikir mungkin ini saatnya untuk mencoba beberapa ‘peluru’ baru yang ada di lure box saya, pemberian seseorang kawan di Medan, di anak-anak sungai kecil yang seharusnya masih ada kesempatan yang lebih baik dibandingkan kita memaksakan diri di aliran utama yang tingkat kejernihan airnya mungkin telah berada pada skala hampir mendekati nol!

Dharma Bhakti Samudera (DBS) adalah sebuah perusahaan importir piranti mancing (termasuk lure) yang berbasis di Medan, Sumatra Utara. Ada beberapa lure yang dipercayakan kepada saya untuk diuji coba, hal yang tidak sering saya lakukan, mengingat saya merasa masih belum mengerti banyak hal tentang urusan memancing ini. Memang saya sering memancing, juga sering menulis catatan perjalanan, tetapi mencoba dan kemudian menuliskan review tentang sebuah lure adalah sesuatu yang baru bagi saya. Karena menurut saya membahas sebuah umpan tidak cukup hanya dengan sekedar “Ini keren lho, cobalah”. Atau “Ini ampuh lho, kalian wajib memakainya”. Atau “Warna umpan ini persis banget dengan ikan bait fish, keren nih!” Membahas sebuah lure tidak bisa dilakukan sesederhana itu karena akan selalu terkait dengan konteks dan empiris yang berbeda. Jika lure A saya pakai dan kemudian berhasil, belum tentu ketika si B memakainya juga akan mendapatkan hasil yang sama. Karena bisa jadi lokasinya memiliki karakter dan populasi ikan yang berbeda, perlakuan orang tersebut terhadap umpan yang sama itu bisa jadi juga berbeda, dan masih banyak hal lainnya lagi. Jadi apapun yang akan saya tuliskan, pada intinya jangan pernah menjadikannya sebagai patokan mutlak penilaian atas lure tertentu. Tetapi jadikan sebagai tambahan pengetahuan saja dari seseorang yang kebetulan pernah mencobanya sehingga bisa memperkaya pemahaman dan cara kita dalam memperlakukan lure tersebut ketika memancing.

Ada beberapa lure model baru dari DBS saat itu tetapi saya hanya sempat mencoba dua di antaranya. Yang akan saya bahas disini adalah tentang Sparrow Echo Mark II, saya jadi ingat merk sebuah kamera impian yang juga memakai kata Mark II ini, tipe lure ini crank bait dengan panjang 6,5 cm, berat 14 gram, dengan karakter floating dan daya selam 2 meter. Penampakan crank bait ini memang terlihat meyakinkan, meski jujur saja saya jarang sekali menggunakan lure jenis crank bait. Karena menurut saya lure jenis crank bait itu kurang sexy karena bentuknya yang tidak skinny, namanya juga crank bait. Hehehehe. Tetapi bukankah kita harus selalu memperluas pemahaman kita tentang apapun, apalagi ini tentang hobi yang kita cintai? Spesifikasi Echo Mark II menurut saya sangat cocok untuk penerapan mancing kasting air tawar dan juga perairan payau. Beratnya ideal sekali dan bisa cocok dengan bermacam-macam rod kasting kelas ringan, panjangnya juga cukup masuk akal sesuai dengan bentuknya. Paling menyita perhatian saya adalah coatingnya yang cukup tegas tetapi simpel. Kebetulan saat itu yang ada hanya satu warna yaitu warna kuning transparan dengan aksen keperakkan di kedua sisinya. Jika ada yang sangat saya suka dari lure ini adalah coating dan juga bahan lure yang sepertinya sangat kuat. Karena beberapa kali lemparan yang sempat terkena akar-akar bakau dan berpuluh sambaran yang kemudian saya dapatkan, memang semuanya rata-rata dari ikan table size saja (ikan-ikan ukuran 1-2 kilogram saja) tidak membuat lure ini mengalami bekas gigitan yang berarti. Coatingnya tetap mulus sehingga warna lure tetap prima sepanjang hari. Percobaan di sungai-sungai lebar dan dalam terhadap lure ini tidak membuahkan hasil apa-apa, dan sejatinya lure-lure lain pun juga perlu waktu yang tidak menentu juga jika fishing groundnya terlalu luas dan apalagi keruh. Karenanya kemudian saya fokus menggunakan lure ini di sungai kecil dengan kedalaman sungai 1-3 meter saja, tepat ketika air sungai berada pada puncak surutnya.

Warna air sungai masih sama dengan hari sebelumnya, cenderung kecoklatan seperti warna kopi susu tetapi agak bening sedikit karena arus yang mengaduk dasar sungai telah hilang. Cahaya matahari yang menyengat membuat visibility lumayan bertambah sekitar 50-an sentimeter ke bawah permukaan. Entah kenapa, setiap kali memakai lure Sparrow saya sepertinya selalu mendapatkan hasil yang maksimal. Mungkin chemistry-nya dapat atau memang saya yang kemudian super ngeyel agar mendapatkan sebanyak mungkin sambaran. Yang pasti, tanda tanya atas keefekifan lure ini telah terjawab pada beberapa lemparan awal di sungai kecil, ikan kerapu dan mangrove jack mendarat di perahu dengan mudah. Mungkin karena kebetulan debit air yang menyusut drastis sehingga umpan apapun akan disambar oleh ikan pemangsa, dugaan saya. Tetapi frekuensi strike yang terjadi pada saat itu memang sangat tinggi, jika saya total, selama tiga jam menggunakan Echo Mark II saya sudah mendapatkan sambaran dari lebih dari 15 “ikan goreng” (kebanyakan kerapu hitam, mangrove jack, dan baru kemudian kerapu bintik). Di sisi lain dua orang kawan saya yang menggunakan lure lain hanya mendapatkan tiga sambaran saja, meski keduanya adalah newbie. Mungkin karena saya yang paling tinggi jam terbang mancingnya sehingga tahu bagaimana memaksimalkan kondisi lokasi, point-point yang ada dan lain sebagainya. Apapun itu intinya lure Echo Mark II menurut saya bisa menjadi solusi menyenangkan ketika ikan-ikan besar yang menjadi target kita sulit didapatkan akibat kondisi lokasi yang tidak kondusif. Dari hasil penggunaan Echo Mark II, secara jumlah sambaran saya lebih dari terpuaskan. Banyak sekali sampai-sampai-sampai saya menjadi khawatir sendiri karena prinsip “bag limit” yang saya anut, yang artinya membatasi jumlah tangkapan sesuai dengan tingkat konsumsi yang wajar. Tetapi saya menerapkan prinsip keadilan, ada empat warga lokal yang menjadi kru selama berkegiatan di sungai tersebut, semuanya telah berkeluarga dan juga memiliki anak. Kalau saya mau egois dengan prinsip bag limit, saya mungkin akan berhenti pada 3 atau empat sambaran saja. Tetapi karena masalahnya semua kru lokal menginginkan hal yang sama, praktis saya mem-push jumlah yang saya dapatkan pada volume yang dapat dibagi oleh mereka berempat. Beberapa sambaran yang terjadi setelah kuota “bag limit” untuk seluruh kru lokal terpenuhi kemudian saya lepaskan kembali ke sungai.

Umpan jenis crank bait sepengetahuan saya banyak diminati oleh para pemancing yang sering bermain di danau dan sungai-sungai yang berair tenang. Ini sepertinya karena karakter aksi dari lure ini yang jika kita mainkan akan bergoyang mantap tetapi karena bentuk bodi lure yang unik, seperti terasa kurang gesit. Bagi kita yang masuk dalam kategori pemancing ‘agresif’ dalam memainkan lure maka seringnya akan memilih lure-lure yang cenderung skinny dan mampu dimainkan dengan kecepatan tinggi dengan beragam model tarikan reel dan juga sentakan. Tetapi seperti hasil yang saya dapatkan di Halmahera Timur ini, kita kemudian memahami bahwa jika ingin memperluas kemungkinan kita mendapatkan sambaran, dalam kondisi perairan yang tidak ada dalam kontrol kita, lure-lure baru yang tidak sering kita gunakan sangat penting dijadikan ‘peluru’ kita melakukan rencana cadangan. Di waktu yang bersamaan saya pastikan tingkat pemahaman kita terhadap sebuah lure, sebuah ekosistem, terhadap diri kita sendiri akan bertambah. Banyak sekali pertanyaan setiap kali kita pergi memancing, tentang sebenarnya bagaimana karakter dan minat ikan target kita pada lure yang kita miliki. Lure crank bait yang ada saat itu berwarna dominan kekuningan, sementara warna air juga keruh kuning kecoklatan dengan visibility yang sangat rendah. Tetapi rate strike-nya sangat tinggi? Bukankah dengan dominannya warna umpan yang serupa dengan warna airnya seharusnya ikan-ikan semakin sulit mendeteksi dan mengejar lure kita? Tetapi jika ikan-ikan itu bisa saya wawancara, tentu semuanya menjadi tidak menarik lagi.

Yang harus kita pastikan, jangan lelah untuk mencoba dan mempelajari hal-hal baru, bukan hanya pada hal-hal teknis memancing tetapi perluaslah dengan menjadi lebih ‘awas’ dalam melihat dan memahami sebuah fishing ground. Semua orang bisa jika hanya melempar umpan, menggulung reel dan kemudian berfoto dengan ikan. Tetapi tidak semua bisa beradaptasi, bersahabat dengan alam, yang justru disitulah tantangan terbesar dari setiap petualangan di alam liar. Salam wild fishing!















* Pictures mostly by Patricia Ranieta, Budhi Kurniawan, Hermanto and Me. Drone by Faishal Umar. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!

1 comments:

lilik gus ananta ananta said...

Tanya sedikit ya om Mike,, sebenarnya ikan Lutjanus goldiei ini asli mana? Apakah hanya di kawasan asia atau mungkin malah asli Indonesia, yang lalu penyebarannya samapai PNG misalnya...
Jangan dijawab "belum saya wawancarai bro". Hahahhaa...

Suwunnn...

Popular Posts

Google+ Followers