Saturday, 8 October 2016



Setiap kali saya membuka kembali 'lembaran' ingatan tentang perjalanan ke sebuah sungai terpanjang di Halmahera Timur ini, sebenarnya yang kami harapkan hanyalah dokumentasi klasik tentang sebuah sungai pedalaman yang jarang diakses manusia dan ikan-ikan besarnya saja. Juga kesan-kesan lain interaksi dengan masyarakat yang menurut saya selalu memberi banyak pencerahan dan pelajaran tentang hidup. Atau mungkin setidaknay saya berhasil merekam kisah klasik tentang sekelompok manusia 'kota' yang menjelajah pedalaman dengan misi tertentu saja dengan segala suka dukanya. Tetapi ketika kemudian kami tiba di Kampung P sebelum esok 'mendaki' ke arah hulu Sungai KW di Halmahera Timur, saya berkata dalam hati perjalanan mengeksplorasi sungai ini bukan lagi semata tentang sebuah petualangan tentang ikan-ikan prestisius semata. Akan tetapi telah membawa kami pada ranah lain yang berbeda, tentang dinamika kehidupan dua kelompok masyarakat yang selama ini bertarung dalam arti sebenarnya, memperebutkan sumber-sumber penghidupan di pegunungan, yang mana beberapa di antaranya dengan mengorbankan air mata dan juga nyawa manusia. Catatan ini sekaligus juga untuk mengenang semua usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh tim JPWF saat itu. Bang Joe Michael, saudara tua saya. Kang BK, produser saya. Dan juga 'Polo" Faishal Umar, pilot drone kami.

Kami tiba di Kampung P setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam dengan perahu kecil bercadik dari Tanjung Sowli di Halmahera Timur. Yang mana di Tanjung Sowli ini kami telah bermalam selama lima malam lamanya. Sebenarnya antara Tanjung Sowli hingga ke Kampung P bisa diakses melalui jalan darat, namun karena masalah menekan anggaran, kami memanfaatkan keempat perahu kecil bercadik yang telah kami sewa sejak dari kota M. Memang waktu perjalanan menjadi membengkak, juga penat selama perjalanan yang luar biasa, belum lagi didera panas dan hujan yang silih berganti di lautan. Jika dengan mobil 4WD kedua titik ini dapat diakses selama satu jam saja tetapi kita setidaknya harus mengeluarkan dana lagi sebanyak 3-4 juta karena faktor jalan yang sangat buruk dan memang ongkos-ongkos di daerah ini yang sangat mahal. Dengan perahu bercadik yang kecepatannya tidak lebih dari 5 knot tersebut kami berjalan dalam formasi tertentu sehingga jika ada perahu yang mengalami kerusakan mesin dapat terpantau. Karena HT yang kami bawa hanya berani kami hidupkan ketika matahari sedang terik saja, ketika di kawasan yang hujan, kami memilih mematikannya saja daripada mengundang tamu yang tidak diundang. Kami berjalan memotong, dengan menyisir garis lurus antar tanjungan yang jumlahnya entah berapa banyak. Sebenarnya cuaca cukup bersahabat dalam artian tidak ada badai, tetapi tetap saja faktor perubahan cuaca karena hujan sesekali membuat terciptanya angin lokal berkecepatan tinggi yang membuat kami semua basah kuyup. Di sebuah teluk dekat kota kecamatan B*****, kami melihat aktifitas loading muatan kapal yang baru pertama kali saya lihat seumur hidup. Sebuah tongkang sedang menaikkan ribuan batang kelapa yang diambil dari kampung terdekat, ramai sekali kegiatan di teluk ini karena melibatkan puluhan manusia. Pohon-pohon kelapa tua yang sudah tidak lagi berbuah, kata motoris saya banyak dijual ke luar daerah terutama ke Surabaya. Semoga demikian adanya, hanya pohon-pohon kelapa yang sudah tidak produktif lagi.

Ketika keempat perahu bercadik kami tiba di muara K*** W***, kami masih begitu basah kuyup baik orang juga sebagian barang. Kedinginan dan juga sebagian dari kami sepertinya kelaparan. Penampakan kami persis seperti anggota bajak laut yang kapal besarnya baru saja tenggelam di laut lepas karena kaptennya melamun melihat kecantikan Siren (hantu laut cantik yang suka membuat kapten kapal hilang kontrol diri). Hahahaha! Tidak banyak warga yang tampak di dermaga kampung, semuanya sepertinya berada di dalam rumah karena hujan lebat yang tadi menerjang wilayah ini masih menyisakan gerimis juga dingin yang sangat. Hari itu masih merupakan bulan Ramadhan, Kampung P mayoritas beragaman Islam. Saya mematikan rokok yang sedari tadi terselip di tangan dan mulai turun ke tepian mencoba mencari warga yang kira-kira bisa diajak bicara. Kami butuh tempat berteduh dalam arti yang sebenarnya untuk setidaknya dua malam kedepan. Dua warga sepertinya melihat kebingungan saya dari teras rumah mereka, saya berinisiatif mendatangi mereka dan mengucapkan salam. Keduanya menyambut dengan keheranan dan menanyakan tujuan dan asal saya. Setelah semuanya saya jelaskan seorang dari mereka menawarkan rumah kebun yang mereka miliki, agak jauh di luar kampung ke arah hulu sungai. Satunya lagi menawarkan rumah saudaranya agak jauh di dalam kampung tetapi menurut mereka lebih terjamin keamanannya. Ada listrik meski hanya malam saja, dan ada ruang cukup luas untuk menampung seluruh rombongan kami yang berjumlah 15 orang. Kami sepakat memilih rumah tersebut, meski sempat terbersit tanya kenapa warga ini mengatakan karena “faktor keamanan” kepada saya.

Proses loading seluruh muatan dan peralatan dari tepi sungai menuju rumah warga yang kami pilih bukanlah proses yang sederhana karena jarak yang lumayan jauh dan juga dasar tepian sungai yang berlumpur. Apalagi hujan yang tadi tinggal tersisa rintik kembali menjadi-jadi. Bulan Juni, dan sepertinya benar kata seorang pujangga kenamaan negeri ini, Sapardi Djoko Damono, memang “tak ada hujan yang lebih tabah dari hujan di bulan Juni”. Entah bagaimana kata-kata persisnya. Kami tiba di Halmahera Timur sengaja pada bulan Juni karena seharusnya ini adalah musim panas, bukannya musim hujan. Semua berubah kata seorang motoris kami, betul saudara, semua telah berubah! Sembari seluruh kru lokal menyelesaikan proses loading barang ke rumah warga, saya bertandang ke rumah Kepala Desa untuk meminta ijin. Proses yang terbalik sebenarnya karena seharusnya meminta ijin dahulu baru loading, tetapi sejauh ini kami tidak pernah mendapatkan penolakan ketika berpetualang dimanapun, jadi hari itupun kami percaya diri saja meskipun ijin juga belum kami kantongi. Pada intinya Kepala Desa menerima kami, tetapi kemudian bertanya dengan serius, benarkah kami ini hanya datang untuk memancing? Dan benarkah bahwa kami ini esok akan pergi ke daerah hulu K*** W***? Betul jawab saya dengan yakin. Benarkah katanya sekali lagi? Betul Pak! Rupanya kepala desa tersebut khawatir dengan keselamatan kami, sebab hulu K*** W*** adalah daerah merah yang sangat berbahaya bukan hanya bagi orang luar, akan tetapi bahkan bagi masyarakat asli Kampung P sendiri. Pasalnya adalah karena di daerah hulu sering terjadi pertemuan yang tidak disengaja antara orang-orang nomaden yang tinggal di pegunungan yang masih menganut prinsip “potong kepala” untuk mendapatkan haknya sebagai orang dewasa. Orang-orang hutan itu berbahaya Mas, dan kejadian terakhir baru saja tahun lalu ketika dua warga kami dicincang habis di dekat air terjun. Kita tidak akan bisa berbicara baik-baik dengan mereka, dan mereka selalu dalam rombongan yang besar. Mereka akan mengintip kita dari tebing-tebing di kiri-kanan sungai dan kemudian memanah dan atau melemparkan tombak kepada kita. Posisi kita tidak menguntungkan karena selama di hulu kita akan berada di bawah di tempat terbuka di sungai. Masihkah saudara ingin naik ke hulu hanya demi memancing ikan bonat (bahasa lokal untuk ikan Black bass), tanyanya sekali lagi. Saya dan tim tetap ingin naik ke hulu Pak, jawab saya. Sejenak kepala desa kemudian mengadakan rapat dadakan dengan dua orang yang mengantar saya melapor, yang intinya berpesan agar esok dan lusa, saya dan tim dikawal oleh orang-orang terkuat dan paling pemberani yang ada di kampung ini. “Bawa juga senjata api, pesan kepala desa”. Rupanya ini yang menjadi jawaban kenapa sejak awal kami merapat di kampung, seluruh warga keheranan karena kami datang dari tempat yang sangat jauh hanya untuk memancing ikan black bass! Lha masyarakat sendiri yang punya kebun pala puluhan hektar di gunung dan tanaman bernilai ekonomi tinggi lainnya, tidak pernah lagi naik ke hulu untuk panen sejak dua tahun terakhir ini karena pertumpahan darah di dekat air terjun!

Kedatangan kami ke Kampung P rupanya menyebar ke seluruh kampung. Menciptakan keheranan dan menjadi pembicaraan yang panas. Mereka sepertinya masih tidak percaya, ada orang yang tiba-tiba datang entah dari mana asalnya, hendak naik ke hulu yang sangat berbahaya hanya untuk memancing ikan?! Tidak masuk akal kata banyak orang kampung yang kemudian bertamu ke basecamp kami. Tetapi setelah melihat seluruh peralatan memancing kami dan juga peralatan lainnya mereka semua kemudian percaya. Kedatangan kami secara tidak disengaja rupanya memunculkan kepercayaan diri dan menjadi penggugah semangat seluruh masyarakat kampung agar keluar dari belenggu ketakutannya akibat insiden di pegunungan. Pagi hari ketika kami telah bersiap naik ke hulu, para pengawal kami berkata, bahwa gara-gara kami, hari ini seluruh pemilik kebun juga berinisiatif naik ke hulu, hanya sekedar untuk melepaskan rindu dengan kebun dan buah-buah pala milik mereka! Mumpung ada temannya, kata pengawal kami. Kenapa saya begitu percaya diri, begitu yakin, begitu tidak takut? Apakah karena saya dan tim begitu buta dengan kenyataan dan resiko yang ada sehingga tetap memaksa naik ke hulu K*** W***? Saya dan semua anggota tim (malam hari kami sebenarnya menggelar rapat khusus lagi untuk membahas masalah keamanan ini), menganggap bahwa pada dasarnya tidak ada manusia yang terlahir jahat dan atau kejam. Pasti ada sesuatu yang membuat kenapa orang-orang nomaden di pegunungan itu menjadi demikian. Beberapa warga yang mendengarkan rapat kami menyela mengatakan bahwa insiden (telah puluhan insiden terjadi dengan korban dari kedua belah pihak) selalu terjadi ketika musim pala hutan di pegunungan. Nah, berarti permasalahannya sebenarnya adalah perebutan sumber-sumber penghidupan. Pala sendiri merupakan hasil alam yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Masak iya kalau kita hanya di sungai memancing ikan, tiba-tiba mereka (andaikan bertemu pun) akan menyerang kita? Saya dan tim berpendapat, tidak akan! Masalah kematian itu rahasia Sang Pencipta, bisa saja kita dipanggil pulang ketika sedang menyeruput kopi di rumah, dan atau sedang mempersiapkan peralatan kerja seperti kami sekarang, kata saya. Jangan takut dan biarlah itu menjadi rahasia-Nya. Yang paling penting dalam hidup itu adalah, niat kita baik. Itu dulu, kalau kematian biarlah itu menjadi misteri Ilahi. Betul juga kata beberapa warga mengamini.

Untuk menuju ke hulu KW, baiknya begini saja sungai ini saya sebut, kenapa saya sering sekali menggunakan kata sandi sekarang ini, karena jalur yang sering saya riset berdarah-darah banyak sekali yang napak tilas tanpa permisi dan kalau ada ‘getah’ dari polah para pengikut tersebut, yang tidak diterima masyarakat, saya juga yang seringkali kena repot. Seperti baru saja terjadi di Kalimantan Utara, warga menghubungi saya berulang kali karena adanya pemancing yang menurut mereka tidak punya sopan santun blusukan di silayah sungai ulayat milik mereka. Jadi kawan-kawan, kalau memang ada yang ingin masuk ke wilayah-wilayah yang saya sebutkan di blog saya, dan misalnya setelah membaca blog saya, tolong ya, yang nice lah jadi pemancing. Ada sopan santunnya, bukan ke saya, saya tidak butuh itu, tetapi setidaknya berikanlah kesantunan kawan-kawan semua ke masyarakat setempat. Menjadi pemancing jangan sampai membuat kawan-kawan menjadi tidak bijaksana, ikan bukan segalanya bung! Sungai KW adalah salah satu sungai terpanjang di Halmahera Timur. Menurut keterangan masyarakat, jika dengan perahu mereka yang dibuat dari kayu-kayu tunggal itu, diperlukan waktu setidaknya seminggu penuh untuk sampai ke bagian hulu. Itupun sembari berjibaku mendorong perahu ketika kita melewati bagian-bagian yang dangkal. Melelahkan tentunya. Itulah kenapa jarang sekali orang yang memiliki minat naik ke hulu, apalagi ditambah dengan resiko yang taruhannya nyawa jika berpapasan dengan “orang-orang hutan”. Tetapi justru disinilah bagi petualang pemancing semuanya menjadi sangat menarik. Sungai KW dikenal sebagai sarang buaya di Halmahera Timur, lalu kemudian akses ke hulu yang berat ditambah dengan bahaya yang besar? Ini yang harus didatangi oleh setiap wild fisher!

Hari itu kami mendaki selama kurang lebih tiga jam saja ke arah hulu. Kalau dihitung jarak tempuh yang kami dapatkan sebenarnya tidak terlalu jauh dengan waktu selama itu, karena separo waktu habis untuk mendorong perahu-perahu kami melewati bagian yang dangkal. Pemandangan yang tersaji selama naik ke hulu ini pada beberapa belokan sungai memang luar biasa. Seperti sungai-sungai di film-film, dimana kanan kiri diapit tebing tinggi dan kita berada jauh di bawah. Pantas banyak orang desa takut naik ke hulu karena di titik-titik seperti inilah mereka bilang sering terjadi penyergapan oleh “orang-orang hutan”. Namun sebagai pemancing, apa yang tersaji di depan mata selama naik ke hulu ini sungguh sebuah ‘surga’. Meski saya lihat warga yang mengawal kami sedari tadi sejak satu jam pertama kami naik ke hulu, sudah menyiapkan senjata api rakitan mereka agar siap ditembakkan jika ada sesuatu yang membahayakan keselamatan tim. Sungai KW memiliki kedalaman yang bervariasi tetapi memang konturnya sangat beragam. Banyak sekali lubuk di bagian hulu tetapi terpisahkan oleh riam-riam kecil. Jadi harapan strike rata-rata di sekitar lubuk-lubuk itu terutama di bagian ‘pintu’ depan dan bagian ‘pintu’ belakang lubuk. Di bagian-bagian yang dangkal keadaannya begitu sunyi dan memang sulit mendapatkan sambaran di badan sungai seperti itu saking terbuka dan dangkalnya sungai. Ikan-ikan predator tentunya akan memilih bagian-bagian yang dalam dan memiliki struktur perlindungan yang kompleks, yang secara kasat mata adalah bagian-bagian yang sebenarnya memiliki tingkat kesulitan lebih.

Kalau dirangkum dalam kalimat singkat tentang kondisi sungai KW, mungkin ini adalah sungai terkeren di Pulau Halmahera yang pernah saya lihat dari segi apapun itu! Sayangnya, lha ini yang nggak enak sebenarnya, waktu itu kami tiba ketika itu tadi, “tidak ada hujan yang lebih tabah daripada hujan di bulan juni”! Wkwkwkwkwk! Bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng ketika dua hari penuh kami naik turun di sungai KW, sementara hujan dan panas datang silih berganti. Tetapi karena ibaratnya sudah terlanjur, kami hanya bisa melakukan usaha terbaik dengan waktu yang ada dengan terus mencari-mencari dan terus mencari sambaran monster yang sejak di kampung sudah kami dengar kisahnya! Jadi ketika berada di basecamp di desa, ketika malam banyak sekali masyarakat bertamu sekedar untuk tukar cerita, setiap kali kami tunjukkan ikan incaran kami, yakni foto-foto black bass yang saya pancing di berbagai daerah lainnya, semua bilang bahwa itu keciiiiil! Di KW, buanyaaaak yang besar-besar sampai babi kalau menyeberang sungai pun dihantamnya! Ikan apa buaya itu pak, tanya saya. Ikaaan, karena kejadiannya di bagian sungai di pegunungan sana, buaya adanya cuma di dekat-dekat muara sini saja. Jawab mereka. Yang betul pak?! Kejar saya lagi. Betuuuul bang, ikan itu disini namanya bonat. Lha memang serius ini orang, batin saya. Tetapi itulah kisah, entah kisah yang berapa puluh tahun lalu dia kisahkan kita tidak pernah tahu pastinya. Yang pasti selama dua hari kami mengobrak-abrik KW, hasilnya hanya ikan-ikan black bass berukuran mini dan beberapa ikan mangrove jack yang juga mini. Sangat disayangkan memang kami tiba ketika musim hujan sedang mendera, jika saat itu musim kemarau dimana air sedang jernih, akhir kisah petualangan kami di sungai KW bisa jadi akan berbeda.

Selama berada di Kampung P***** sebenarnya banyak sekali informasi berharga yang saya dapatkan. Seorang Pak Tua yang nyelonong ke rumah basecamp kami misalnya bercerita banyak hal yang bisa jadi merupakan rangkaian ingatan selama hidupnya. Memang awal-awal dia juga keheranan dengan kami yang tetiba datang entah dari mana asalnya dengan niat yang untuk kondisi saat itu agak kurang bisa dipahami, mengingat bahaya yang mengancam di pegunungan. Tetapi Pak Tua ini mengatakan bahwa memang benar di bagian hulu K*** W**** banyak terdapat sekali semacam lubuk-lubuk besar dimana menurutnya banyak sekali berdiam ikan-ikan berukuran monster. Dirinya menyatakan bahwa pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana babi hutan dan rusa yang berenang menyeberang lubuk-lubuk tersebut, dihantam sesuatu dari bawah air dan kemudian menghilang dibawa menyelam. Mungkin cara dia menyampaikan dan gambaran kejadiannya terlalu dilebih-lebihkan. Karena jika ada makhluk air yang bisa membawa seekor babi hutan menyelam ke dalam air bisa jadi itu adalah buaya, bukanlah ikan predator. Tetapi jika mengingat lokasi kejadiannya, yang sangat jauh berada di pegunungan, sulit juga untuk tidak mengiyakan bahwa bisa jadi itu adalah ikan monster yang memang telah entah sejak kapan terus berdiam di lubuk tersebut. Seorang penyelam pencari ikan handal dari luar daerah pernah sangat penasaran dengan informasi-informasi seputar K*** W**** dan kemudian melakukan perjalanan nekat ke arah hulu, sekitar dua hari perjalanan jauhnya dengan menggunakan perahu kecil. Hasilnya adalah, trauma. Konon penyelam ini mengatakan kepada masyarakat Kampung P***** bahwa di salah satu lubuk di pegunungan berdiam banyak sekali ikan-ikan bertaring dengan ukuran yang tidak masuk akal. Daripada ‘mencari’ mati, maka dirinya mengurungkan niatnya mencari ikan di dalam lubuk tersebut. Meski Pak Tua mengatakan dengan jelas lokasi-lokasi yang dia ketahui terkait ikan-ikan predator di pegunungan, di ujung kisah dia tetap berpesan, jangan gegabah. Dan jika memang perjalanan kami ini tidaklah begitu pentingnya, baiknya urungkan saja. Karena menurutnya resikonya sangat besar, sembari menunjukkan bagian tubuhnya yang menurutnya pernah terkena panah dari “orang-orang hutan” di pegunungan Halmahera Timur. Informasi dari Pak Tua ini bagi saya pribadi bukannya menghasilkan gentar, melainkan penasaran yang teramat sangat. Memang dalam perjalanan kami kali ini, lokasi-lokasi yang disebutkan oleh Pak Tua tersebut belum bisa kami datangi, saking jauhnya, tetapi saya memiliki niatan untuk kembali lagi suatu saat, entah itu untuk kepentingan banyak orang ataupun pribadi! I think I can risk my life for something big!!! Dan memang selama ini bukannya telah begitu sering saya mempertaruhkan banyak hal di pedalaman dan di alam liar?!

Terlepas dari kegagalan kami, ini jika ukuran sebuah fishing trip adalah monster fish, saya tetap menaruh respek pada masyarakat Kampung P***** yang begitu baik menerima dan mengawal kami selama berkegiatan di bagian hulu K*** W****. Tanpa mereka, padahal saat itu sedang bulan puasa Ramadhan (mayoritas warga adalah muslim), padahal saat itu cuaca begitu tidak bersahabat karena hujan dan panas datang silih berganti begitu hebatnya, kami tidak akan mengetahui apa-apa tentang wilayah ini. Kami tidak akan mendapatkan apa-apa jika tanpa bantuan mereka semua. Saya sempat iseng bertanya kepada salah satu pengawal kami selama naik ke hulu, namanya Bang S*****, kenapa mau mengawal kami blusukan ke pegunungan yang berbahaya, disaat orang lain tidak bersedia karena tingkat resiko yang besar. Pria berperawakan kurus ini menjawab masalah hidup dan mati biarlah menjadi misteri Yang Kuasa. Satu hal kita naik ke pegunungan bukan untuk mencari masalah, bukan juga untuk membuat orang lain mengalami  kesusahan ataupun mencelakai mereka, melainkan hanya sekedar ingin menikmati kemegahan alam dan potensinya. Jika karena hal yang begitu manusiawi tersebut kemudian kita mengalami masalah, biarlah Tuhan yang mengaturnya. Yang pasti saya (dia maksudnya) juga akan bersiap-siap jika memang ada yang bermaksud tidak baik kepada kita semua. Sesekali saya masih sering menelpon pengawal kami selama berada di K*** W**** ini sekedar menanyakan kabar. Semoga saya bisa kembali lagi berpetualang dengannya menyelesaikan mimpi yang pernah kami mulai di aliran K**** W****. Semoga!

Tetapi apa mau dikata, meski kami kehujanan setiap hari, memancing dengan dikawal senapan siap ditembakan, dan juga tantangan alam lainnya yang berat, hasilnya jauh dari harapan. Jauh sekali dari kisah-kisah yang dituturkan oleh orang-orang di Kampung P. Mungkin ini adalah tantangan agar kami kembali lagi suatu saat, atau bisa jadi adalah peringatan bahwa semua memang telah berubah jadi baiknya usah kembali. Saya iseng menelpon ke Kampung P ketika membuat catatan ini, jawaban yang saya dengar dari warga disana, pegunungan semakin tidak aman karena “orang-orang hutan” semakin banyak yang turun ke hutan-hutan sekunder yang selama ini dikelola masyarakat. Sempat terbersit dalam hati ini, jika Tuhan memberi jalan, saya akan kembali kesana, bukan sekedar untuk menemui ikan-ikan, bukan sekedar untuk menikmati air terjun super indah yang mana di lokasi itulah insiden berdarah terakhir kali terjadi, tetapi juga untuk membantu terciptanya jalan damai antara masyarakat pesisir dan “orang-orang hutan” itu. Karena saya percaya, manusia pada dasarnya terlahir baik. Hanya keadaan saja yang kemudian membuat orang kemudian menjadi berubah. Tarikan-tarikan material dan nafsu yang terlalu kuat, dan karena hal-hal yang lainnya yang mendorong manusia melakukan sesuatu yang bukan fitrahnya. Waktu yang akan menjawab. Apakah niat baik ini mendapatkan jalan dari-Nya ataukah akan terkubur menjadi harapan semata! Salam wild fishing!






























* Pictures captured at Halmahera, North Mollucas, June 2016. Credits belong to various peoples; Me, Faishal Umar, Budhi Kurniawan, etc. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers