Friday, 28 October 2016


Teriring salam untuk kru lokal kami di Teluk Saleh yang begitu luar biasa membantu menyelesaikan tugas-tugas kami. Bang FY atas informasi-informasi dan pengaturan perjalanannya yang selalu keren. Bapak G yang begitu semangat dan juga selalu membuat kami nyaman dengan mengatur strategi perjalanan perahu, pengaturan bbm, pengaturan basecamp, dan lain sebagainya. Bapak A yang menjadi pengawal kami selama di Pulau Sapuddu sehingga kami bisa tidur nyenyak di pulau kosong ini, meskipun beberapa malam anda terpaksa tidak tidur karena banyaknya tamu tak diundang yang ‘mengintip’ apa yang kami lakukan dan bawa. Saya berharap bisa membalas budi baik bapak suatu hari nanti. Mas A, yang selalu standby 24 jam mengurus transportasi darat kami selama 12 hari! Warga Desa Aipaya yang selalu ramah dan membuat kami betah, dan pastinya selalu tidak pernah menolak membantu kami agar tugas selesai, meski terkadang kompensasi dari kami tidak seperti harapan saudara-saudara sekalian. Tim JPWF Trans|7 yang tetap semangat meski kondisi alam seringkali jauh dari perkiraan kita; Bang Joe Michael, saudara tua saya. Dan Kang BK, produser saya. Kalian berdua sudah tidak menemani saya lagi di program ini, tetap mohon doa restunya agar semua masih bisa dijalankan dengan baik keren dan membanggakan seperti dahulu lagi.

Saya terlalu mencintai Teluk Saleh. Dalam konteks seperti itulah catatan ini kemudian kembali saya buat. Entah berapa kali sudah saya berkeliling, berlayar, dan lain sebagainya di teluk terluas di Kepulauan Nusa Tenggara ini (luas 1495 km persegi dengan panjang garis pesisirnya 282 kilometer). Banyak catatan juga telah saya buat di blog iseng ini tentangnya. Tetapi saya merasa selalu ada yang harus saya tuliskan lagi, bukan untuk siapa-siapa, lebih untuk diri saya sendiri agar ingatan yang semakin mudah lupa ini memiliki tempat untuk kembali 'berziarah' di masa berikutnya. Tetapi jika kemudian ada cucu, ataupun cicit, dan siapapun itu yang merupakan keturunan langsung dari Eyang Saleh juga ikut membaca catatan ini juga nantinya, semoga catatan dari 'orang luar' yang hanya numpang lewat saja di Teluk Saleh ini bisa sedikit membuka 'pintu' untuk kemudian kita bersama-sama memikirkan masa depan sebuah ceruk geografis bernama Teluk Saleh ini. Bagi yang belum mengerti, nama Saleh yang disematkan terhadap teluk ini menurut berbagai sumber 'diambil' dari nama seorang ulama besar di Sumbawa yang hidup sebelum 1815, yang karena menentang perintah Raja Tambora untuk makan daging anjing pada saat itu kemudian dibunuh dibakar dan abunya kemudian dibuang ke laut (Teluk Saleh saat ini). Mungkin bukan untuk kita sendiri, tetapi lebih untuk generasi berikutnya yang saya yakin meski mereka belum hadir dan atau sekarang mungkin masih kecil-kecil, menitipkan harapannya kepada kita. Sehingga kemudian ketika harapan itu kita wariskan, karena kita semua yang telah dewasa saat ini memang harus undur diri dari kefanaan ini, para ahli waris teluk terluas di seluruh Kepulauan Nusa Tenggara ini menerimanya dengan senyum atau tangis kebahagiaan. Bukan histeris dan tangis kedukaan!

Saya tiba kembali di Teluk Saleh, Sumbawa entah untuk yang keberapa kalinya pada pertengahan bulan Juli 2016, saya tidak ingat lagi tanggal pastinya tetapi jika tidak salah adalah tanggal 13. Hari yang menurut para nelayan bagan di Teluk Saleh saat kami sebenarnya telah terlambat beberapa hari jika ingin menyaksikan dan mendokumentasikan musim ikan tenggiri di kawasan ini. Beberapa hari sebelumnya mereka mengatakan bahwa ikan tenggiri seperti menyerbu seluruh kawasan di Teluk Saleh, karena hampir seluruh bagan apung yang ada di kawasna ini, ada 80-100an bagan apung yang dimiliki nelayan di seluruh kawasan ini, berhasil mendapatkan ikan-ikan tenggiri dengan jumlah yang bervariasi. Sekali tarik jaring mereka mengatakan ‘tidak mati’ 60-100an ekor dengan nilai beberapa puluh juta rupiah. Itu belum termasuk bonus lainnya seperti ikan-ikan kecil dan jenis ikan pancingan lainnya. Ingat sekali tarik jaring lho ya? Dalam semalam ketik abulan gelap mereka setidaknya bisa menarik dua hingga tiga kali. Hasilnya tidak usah dihitung, rejeki orang. Pastinya karena kenyataan inilah pada musim-musim tertentu, Teluk Saleh berubah menjadi ‘pasar malam’ saking banyaknya bagan apung yang adu terang cahaya lampu. Kami terlambat bukan karena mengingkari jadwal atau janji jumpa dengan kawanan ikan tenggiri, hehehe, tetapi begini. Karakter ikan-ikan di laut  terutama pelagis hidupnya terkait dengan pergerakan arus yang ada. Saat kami datang bulan di langit sudah mulai membesar dan telah ‘terlepas’ dari saat-saat bulan sabit (yang mana pada bulan sabit ini arus sedang bagus-bagusnya), sehingga ketika malam lautan otomatis menjadi lebih benderang. Teori kuno perburuan di laut mengatakan bahwa jika bulan sudah benderang, baiknya simpan semua peralatan mancing dan juga peralatan tangkap ikan lainnya karena ikan-ikan sudah menyebar tak tentu arah. Dalam konteks bagan apung di Teluk Saleh, seterang apapun cahaya lampu dipancarkan dari bagan, tidak akan terlalu berpengaruh lagi untuk mengundang ikan-ikan pelagis datang mendekat. Pasalnya adalah karena ikan-ikan kecil dan cumi-cumi yang tergoda oleh lampu, tidak lagi menganggap cahaya lampu pada malam hari menjadi penting, karena kalah oleh terangnya cahaya bulan di langit. Saya mengetahui teori ini tetapi kenapa tetap terlambat? Masalahnya adalah sistem dan juga orang-orang di sebuah kantor di sudut Jakarta Selatan yang tidak mengerti dan tidak peduli dengan apa yang disebut dengan fenomena alam! Mereka hanya tahunya adalah sistem, sistem dan sistem yang harus berjalan dan dijalankan sempurna! Sistem yang diciptakan manusia yang semestinya bisa fleksibel dibuat menjadi sesuatu yang sakral dan tidak boleh fleksibel! Itulah kenapa kemudian kami terlambat melaut di Teluk Saleh karena perbekalan yang juga tidak kunjung kami dapatkan saat itu!

Selain karena sistem, perjalanan kami ke Sumbawa pada saat itu juga terhambat oleh karena permasalahan cuaca yang buruk di langit NTB sehingga pesawat yang tinggal mendarat di Bandara Sumbawa batal. Pesawat kemudian kembali ke Lombok dan kami terpaksa menempuh perjalanan darat dan laut selama 10an jam dari kota Praya menuju ke kota kecil bernama Empang di Pulau Sumbawa. Jiwa raga yang ‘terlipat’ oleh lamanya perjalanan darat dan laut sejatinya juga belum sepenuhnya membaik ketika kami sudah dihadapkan kembali pada perjalanan laut beberapa jam ke tengah Teluk Saleh untuk menyelesaikan tugas mendokumentasikan musim tenggiri di kawasan ini. Inilah dinamika kehidupan kuli SxS (SxS dibaca S by S, adalah media penyimpanan data audio visual terbaru keluaran perusahaan kamera HDTV merk Sony) seperti kami. Kenapa musim tenggiri di Teluk Saleh menjadi sebegitu pentingnya untuk didokumentasikan? Bukankah di daerah lain di negeri ini, misalnya saja di Pulau Seribu di Teluk Jakarta juga memiliki musim ikan jenis yang sama, meskipun secara waktu atau bulannya berbeda? Ngapain harus jauh-jauh dan mengeluarkan biaya mahal ke Teluk Saleh di Pulau Sumbawa? Kurang lebih demikian yang pernah saya dengar ketika masih berada di Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mengagungkan sistem.

Saya akan mengulang apa yang saya kemukakan pada hari itu. Musim tenggiri di Teluk Saleh tidak bisa disamakan dengan musim tenggiri di tempat lain, news value-nya berbeda. Kenapa demikian, bulan November hingga Januari, Teluk Saleh membara oleh karena serbuan ribuan batalyon pasukan ubur-ubur yang jumlahnya milyaran dan memenuhi seluruh penjuru kawasan. Fenomena alam yang oleh beribu masyarakat sekitar Teluk Saleh kemudian dikonversi menjadi rupiah tak terhitung banyaknya berbulan-bulan lamanya, karena ubur-ubur ini rupanya laku di pasar luar negeri. Banyak sekali pengusaha dari luar negeri sekalipun akan membuka ‘pabrik’-nya di seluruh pesisir Teluk Saleh untuk menampung hasil para nelayan. Saya ikut hadir dalam momen ini pada awal tahun 2016 dan terhenyak dengan ‘kegilaan’ musim ubur-ubur yang ada. Saya tidak akan membahas permasalahan ekonomi yang menjadi begitu melonjak karena ubur-ubur. Tidak banyak yang memahami, bahwa serbuan ubur-ubur di sebuah kawasan maritim menurut para ahli merupakan pertanda perubahan ekologi kawasan tersebut. Salah satunya kenapa ubur-ubur bisa begitu mendominasi sebuah kawasan maritim, adalah karena di kawasan tersebut sudah tidak lagi memiliki ikan-ikan predator dalam jumlah yang sesuai sehingga kemudian kawasan tersebut diambil alih kekuasaannya oleh ubur-ubur. Satu lagi adalah karena ubur-ubur juga merupakan hasil dari perubahan iklim yang mendera kawasan tersebut misalnya saja karena naiknya temperatur laut. Ada juga yang menyatakan ubur-ubur mampu berkembang secara masif di suatu kawasan maritim karena tingginya polutan di kawasan tersebut. Lalu apa hubungannya dengan musim tenggiri pada bulan Juli yang terlambat kami datangi? Ini adalah anomali! Kenyataan ini mematahkan teori banyak ahli yang menyatakan bahwa “jika suatu kawasan pernah dikuasai oleh ubur-ubur, itu karena populasi ikan predatornya telah berkurang secara drastis”. Di Teluk Saleh tampaknya tidak demikian karena sepertinya ada semacam rotasi dominasi spesies di kawasan ini yang telah diatur sedemikian rupa oleh alam dan Sang Maha Memiliki! Jika kemudian program ini mampu hadir dalam musim tenggiri tersebut, bayangkan news value dari keterbaruan informasi yang bisa dihadirkan oleh program ke masyarakat luas? Tetapi riset dan rencana tinggalah rencana. Ketika tengah malam saya duduk-duduk di bagan apung di tengah Teluk saleh yang berombak sedang dan tukar cerita dengan para nelayan, dengan bulan yang telah tersenyum sinis di langit sedari petang, yang saya rasakan adalah pedih karena terlambat tiba di teluk terluas di Kepulauan Nusa Tenggara ini. Saya rindu masa lalu ketika banyak orang di perusahaan media ini memiliki pemahaman dan kebijaksanaan menempatkan sebuah tayangan petualangan pada tempat dan waktu terbaiknya. Malam itu, meski telah menebar jaring sebanyak dua kali, proses menebar dan mengangkat yang sangat melelahkan saking besarnya bagan apung, yang kami dapatkan hanyalah seratusan ekor ikan-ikan kecil saja. Tidak ada tenggiri yang beberapa hari lalu meledak dan mengobrak-abrik jaring para nelayan. Tidak ada lagi teriakan-teriakan kegembiraan itu. Tidak ada lagi keringat bercucuran karena kelelahan mengangkat hasil itu. Yang ada hanya bulan yang terus tersenyum sinis di langit, menertawakan para manusia yang tidak mau bijaksana menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam. Andai saya bisa berbicara kepada bulan malam itu, yang ingin saya katakan adalah, saya tahu seharusnya tidak begini, tetapi apa mau dikata bung?! Saya mah apa atuh?!

Cukup sudah kisah memburu ikan-ikan pelagis yang terlambat ini. Kita lanjutkan ke cerita selanjutnya. Dua hari setelah kami melaut bersama para nelayan bagan apung, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau kosong bernama Nisa Pudu (atau juga disebut Sapuddu). Pulau kosong ini akan kami jadikan sebagai basecamp operasi setidaknya selama empat malam kedepan. Di peta laut yang saya bawa, pulau ini terlihat berada di depan Teluk Kempo, yang merupakan wilayahnya orang-orang Soro. Seharusnya pulau kosong ini begitu sunyi dan bersih. Ketika menjelang pukul 15.00 sore hari kami merapat agar dapat membangun tenda dan lain sebagainya, rupanya pulau kosong ini masih penuh dengan abg yang sedang berwisata. Jumlahnya ratusan. Pulau kosong ini rupanya terkena serbuan para ‘petualang’ yang jumlahnya saat ini sepertinya meledak karena banyaknya tayangan petualangan di negeri ini. Yang menarik adalah, semuanya berfoto dan berlagak seperti petualang semuanya, sebagian lagi dandanannya seperti petualang yang nyasar, karena saking anehnya kostum yang dipakai. Sampah bertebaran di seluruh penjuru Pulau Sapuddu, sebagian adalah sampah yang hanyut di laut dan kemudian nyangkut di pulau ini. Sebagian lainnya adalah sampah-sampah baru yang sepertinya dibawa oleh para pengunjung pulau ini di waktu-waktu sebelumnya. Saya dan produser saya dan juga kru lokal kemudian berinisiatif memunguti sampah-sampah plastik dan kain tersebut dan kemudian membakarnya, jumlahnya seperti sampah satu kelurahan yang ditumpahkan di satu tempat, hanya saja tersebar di seluruh penjuru pulau. Sayangnya dari ratusan ‘petualang’ yang berwisata ke Pulau Sapuddu hari itu, yang juga melihat apa yang kami lakukan, tidak ada satupun yang kemudian tergerak membantu kami membersihkan pulau ini. Luar biasa memang. Entah siapa yang mendidik para ‘petualang’ tersebut! Saya ingat ada sekelompok pemuda kemudian tiba-tiba menghampiri saya dan bertanya apa yang saya lakukan dan darimana saya berasal. Membersihkan sampah bang dan saya berasal dari Jakarta, jawab saya. “Saya pemuda kampung di teluk sana (Soro maksudnya) yang memiliki wilayah ini termasuk Pulau Sapuddu, saya disini untuk menjaga pulau ini ketika banyak pengunjung seperti sekarang ini,” katanya ketus. Jawab saya juga dengan nada ketus sambil melepas kacamata,”Lalu kalau abang memang merupakan pemilik pulau ini bang, kenapa abang dan kawan-kawan pemuda sebanyak ini semuanya membiarkan pulau ini kotor seperti ini?!!” Dia kemudian berkelit memang program bersih-bersih sampah di Pulau Sapuddu baru akan digelar esok lusa dan memang sudah direncanakan oleh aparat desa. “Bagussss itu. Saya tunggu disini bang...!”, kata saya. Sampai hari kami meninggalkan Sapuddu lima hari kemudian, tidak ada satu orang pun yang datang kembali ke Sapuddu untuk membuat pulau kosong yang sebenarnya ‘cantik’ ini kembali tersenyum. Well... Setidaknya kami telah menyumbang kebersihan seluas 50% lebih dari total luas pulau kosong ini. Nisa Nisaaaaa... Nasibmu nona ditelantarkan oleh pemilikmu sendiri! Tetapi begitulah manusia, karena merasa memiliki malahan membuat orang atau kelompok orang itu lupa!


Seperti saya sebutkan sebelumnya, catatan ini didasari oleh perasaan bahwa “saya terlalu mencintai Teluk Saleh”. Dan menurut saya memiliki perasaan tertentu pada sesuatu, dan mungkin juga pada seseorang misalnya, dapat diwujudkan salah satunya dalam bentuk sebuah kejujuran. Termasuk juga dengan catatan ini. Catatan seseorang yang kebetulan saja pernah bolak-balik ke Teluk Saleh karena kemudian merasa memiliki ikatan dengan masyarakatnya juga dengan geografisnya. Saya hanya ingin jujur dengan apa yang pernah saya lihat di teluk terluas di Kepulauan Nusa Tenggara ini. Jadi ketika mungkin ada sesuatu yang menurut banyak pengunjung blog ini mungkin kurang sepaham, saya terbuka dengan diskusi yang dewasa dan berwawasan. Malam-malam di Pulau Sapuddu adalah malam yang ‘aneh’. Angin darat dari pegunungan begitu kencang berhembus dan membuat tenda-tenda kami bergoyang tidak karuan, begitu juga dengan terpal yang kami bentangkan di bawah sebatang pohon menjadi berisik tidak pernah berhenti. Di sanalah tenda dapur dan juga makan kami dan seluruh kru pendukung kegiatan ini (orang-orang perahu dan lain sebagainya). Sebenarnya ada tanah yang cukup lapang di pulau ini tetali dipenuhi rumput ilalang yang super tajam karena baru saja dibakar, juga banyak sampah berserakan di segala penjuru. Meski kami pernah menghabiskan setengah hari penuh untuk membersihkan pulau ini sebelumnya, sebenarnya masih banyak sekali tumpukan sampah dimana-mana. Hawa dingin begitu kuat menusuk tulang, bulan Juli yang aneh. Hujan juga datang tidak menentu dari berbagai penjuru membuat suasana berkemah di pulau kosong menjadi kurang hangat. Yang sangat menghibur kami adalah bahwa kru lokal kami adalah orang-orang yang berdedikasi dan berkomitmen tinggi dengan tugas masing-masing. Ada ketenangan karenanya sehingga pikiran kami tidak terlalu melayang-layang diterpa terjangan angin yang terus berubah di Teluk Saleh. Yang menurut saya sangat aneh ketika berkamh di Pulau Sapuddu selama lima hari adalah datangnya tamu tidak diundang hampir setiap malam. Entah dari mana datangnya selalua da perahu dan juga kapal nelayan yang merapat. Keperluannya terkadang sangat sepele. Mulai dari meminjam korek api, bertanya arah, dan kadang hanya sekedar ikut ngopi. Ketika berpetualang, saya sangat menyukai bertemu orang-orang biasa. Dari merekalah saya bisa menggali banyak sekali informasi tentang apapun. Tetapi ketika di sebuah pulau kosong di tengah lautan, kemudian ada beberapa nelayan entah darimana merapat hanya untuk meminjam korek api, alarm tanda bahaya saya berbunyi. Dalam temaram Teluk Saleh karena cahaya bulan yang malu-malu, saya menyampaikan kegelisahan saya ini kepada ‘pengawal’ kami, Bapak A**** Bajo (nelayan keturunan suku Bajo yang kami bawa dari sebuah kampung keturunan Suku Bajo di kawasan ini). Dia menjawab tenang saja bang, selama masih ada saya menjaga abang dan rombongan, tidak akan terjadi apa-apa. Meski saya ini bertubuh kecil bang, seluruh Teluk K**** bisa saya bikin bersujud jika mereka berani macam-macam. Ini bukan tentang gagah-gagahan, tetapi begitulah, meski tidak banyak yang memahami, ada semacam hirarki dominasi dalam tanda kutip dalam kehidupan kelompok masyarakat. Ada memang orang-orang yang begitu terbuka menerima dan menjaga kuli keliling seperti kami dengan segala daya upaya. Tetapi ada juga yang melihat kehadiran kami sebagai sebuah ‘kesempatan’. Tidak banyak yang memahami hal-hal seperti ini, apalagi orang-orang yang hidupnya begitu pragmatis dan terlena dengan kenyamanan ruang ber-AC misalnya.

Misi kami bermalam di Pulau Sapuddu sebenarnya sangat sederhana. Yakni mendapatkan beberapa ekor ikan predator dari atas kayak (kayak fishing). Misi yang kemudian menghasilkan senyum pahit meski kami telah berusaha sepanjang pagi siang dan menjelang petang setiap hari. Entah apa yang terjadi dengan reef-reef (karang dangkal) sekitar Pulau Sapuddu. Jika kita lihat dari ketinggian puncak Sapuddu misalnya, reef-reef di sekitar pulau ini begitu mengundang hasrat memancing. Air yang begitu biru dengan aksen biru muda, garis-garis drop off (tubir) begitu jelas terlihat memanjang di segala penjuru. Begitu juga tanjungan-tanjungan reef tampak begitu jelas pertanda visibility air begitu tinggi. Konon kunci mencari ikan di lautan salah satunya adalah tentang arus. Dimana arus bergerak dinamis, praktis perburuan ikan-ikan predator akan relatif sangat mudah karena di momen seperti itulah mereka akan aktif berburu mangsa. Terkait arus ini sekitar Sapuddu sangat ideal karena baik pagi dan sore hari arusnya sangat kondusif dan bahkan di beberapa reef menurut saya sangat ‘mempesona’. Pertemuan arus yang tercipta sampai menciptakan kala-kala yang menurut saya sangat indah. Kepala-kepala arus juga terlihat jelas dan saya melihat banyak sekali kumpulan ikan-ikan kecil (baitfish) yang ‘mendidih’ di permukaan kepala-kepala arus tersebut. Yang mengherankan hanya satu, selama lima hari memboombardir reef-reef sekitar Sapuddu dengan berbagai jenis umpan, yang kami dapatkan adalah umpan-umpan itu lagi, alias no strike (tidak ada sambaran dari ikan-ikan pemangsa yang menjadi target kami). Jangankan ikan GT, barakuda, tenggiri, bluefin trevally dan atau lainnya. Ikan cendro/todak (garfish) pun tidak ada yang landed! Ini menggelisahkan jika kita melihat sekilas tampilan ‘wajah’ reef-reef sekitar Sapuddu ini yang begitu mempesona. Pada suatu senja saya mencoba mencari jawaban atas anomali ini. Saya bilang ini anomali karena seharusnya tidak seperti ini hasilnya. Saya tidak begitu yakin apa penyebab semua kegagalan ini. Bisa jadi karena bulan terlalu terang yang membuat ikan-ikan pemangsa terlalu menyebar ke seluruh penjuru lautan, bisa jadi karena memang kami sedang apes (sial), bisa jadi ikan-ikan sedang diet, dan lain sebagainya.

Bisa jadi jawabannya adalah apa yang kami lihat pada terumbu karang yang mengelilingi Sapuddu. Semuanya hancur! Menurut pengamatan saya kehancuran terumbu karang sekitar Sapuddu adalah karena penangkapan ikan tidak ramah lingkungan di masa lalu. Siapa yang melakukannya? Tanya saya pada Bapak A**** Bajo. Apakah kamu dan juga masyarakatmu? Ataukah orang dari masyarakat lain? Telunjuk tangan Bapak A**** Bajo mengarah pada sebuah teluk dimana berdiam orang-orang S***, salah satu kelompok masyarakat paling kepala batu di Teluk Saleh. Saya tidak yakin 100 % jawabannya valid, karena bisa jadi mereka yang pernah menghancurkan Sapuddu dan sekitarnya juga berasal dari kelompok masyarakat lainnya. Apa yang saya katakan ini mungkin terlambat Pak, kata saya. Tetapi siapapun itu yang melakukan hal-hal seperti ini di daerah ini, tolonglah untuk berusaha mengingatkan mereka. Jangan wariskan kehancuran seperti yang saya lihat di Sapuddu dan sekitarnya ini kepada anak cucu kalian. Ketika pada hari kelima kami berpamitan meninggalkan Nisa Pudu (nama lain Sapuddu), pengawal kami ini berkaca-kaca dan gemetaran. Bukan karena bersedih karena akan kami tinggalkan, bukan juga meratapi kondisi Sapuddu yang ternyata telah seperti ini kenyataannya, tetapi karena kami secara tidak dia sangka memberi kompensasi pada jerih payahnya menjaga kami siang malam. Dalam hati saya berkata, andaikan ekosistem sekitar Sapuddu ini masih sehat, dirimu tidak perlu lagi mempertaruhkan hidupmu demi menjaga para kuli keliling seperti kami dengan imbalan yang tidak seberapa ini Pak. Tetapi apa mau dikata, parasit ada dimana-mana, semoga kita masih diberi waktu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi berikutnya semampu kita.

Apa yang kami lakukan selama lima hari empat malam di sekitar Nisa Puddu kami ulangi lagi di reef-reef sekitar Pulau Rakit. Ada beberapa reef yang kami datangi dalam tiga hari berikutnya. Basecamp kami adalah desa kecil bernama Aipaya, tempat bermukimnya para nelayan keturunan Bugis yang berdiam di Teluk Saleh. Masyarakat Aipaya selalu menjadi ‘langganan’ saya ketika berkegiatan di Teluk Saleh. Mereka adalah kelompok masyarakat pekerja keras dengan komitmen yang tinggi. Apa yang terucap dari mulut mereka dapat kita pegang sehingga kita dapat mengerjakan sesuatu dengan mudah dan efektif. Memancing ikn-ikan predator di laut tidak pernah sesulit ini, kami telah menyisir berbagai reef di seluruh penjuru Teluk Saleh tetapi semuanya hanya menyisakan gundah saja. Reef sekitar Pulau Rakit menjadi harapan terakhir kami. Pulau yang menjadi kawasan laar (pulau kawasan penggembalaan ternak) adalah pulau kosong, hanya berisi hewan ternak dan babi hutan saja. Lokasinya cukup strategis meskipun secara jarak tidak terlalu jauh dengan pusat-pusat pemukiman penduduk di seberangnya (Pulau Sumbawa). Saya teringat kata-kata seorang tokoh mancing di negeri ini, jika spot yang jauh sekali (yang awalnya kita anggap potensial) tidak memberikan hasil cobalah berpikir out of the box. Dalam konteks Teluk Saleh saat itu berarti kita harus mencoba spot yang dekat dengan pemukiman, yang tidak diperhitungkan sama sekali oleh siapapun. Saya sendiri bertahun-tahun lalu pernah mendapatkan hasil yang mengejutkan di spot yang ibaratnya hanya di belakang rumah warga Aipaya saja. Seekor ikan pelagis berukuran lumayan padahal spot saat itu jauh dari kondisi ideal sebuah spot ikan pelagis. Karena dekat sekali dengan pemukiman warga, struktur dasar juga tidak terlalu bagus, baru juga banyak sekali sampah hanyut di sekitar Pulau Rakit, dan lain sebagainya. Pada bulan Juli tersebut akhirnya kami berhasil mendatangi lima reef yang ada di sekeliling Pulau Rakit, saya lupa nama-namanya tetapi yang paling ‘keren’ jika kita lihat dari atas kapal adalah yang disebut dengan nama Tanjung Padang. Lokasinya sangat strategis dan merupakan tempat pertemuan arus besar di kawasan ini. Setiap hari dari sunrise belum terbit kami telah melaju menuju reef-reef tersebut dan kembali ke daratan menjelang petang, dan hasilnya tetap mengecewakan. Hanya dua ekor ikan pemangsa yang kami dapatkan dalam waktu tiga hari tersebut. Satu ekor spotted trevally selebar dua tangan orang dewasa, dan satu ekor giant trevally seberat 4 kiloan. Hasil yang menghibur tetapi tetap jauh dari harapan. Bukan semata pada hasil yang sedikit yang membuat kami kecewa, tetapi setiap kali tiba di reef-reef tersebut, kondisi terumbu karang yang masih ada begitu memprihatinkan. Sebagian besar mati, dan sisanya telah lebih dahulu luluh lantak diterjang keserakahan manusia di masa sebelumnya. Kawan-kawan yang penasaran dengan informasi saya ini silahkan memeriksa sendiri di lapangan. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan kondisi ekosistem terumbu karang di Teluk Saleh, seperti saya nyatakan sebelumnya, saya terlalu mencintai kawasan ini, tetapi dengan kejujuran.

Ketika berpamitan ke warga Desa Aipaya pada hari kedelapan perjalanan kami di kawasan ini, saya masih tidak percaya dengan hasil yang kami dapatkan di teluk ini. Mungkin memang benar kami datang terlambat karena bulan sudah mulai membesar di langit, hal yang menurut para nelayan membuat ikan-ikan pemangsa menyebar tak tentu arah dan menjadi sulit untuk dipancing. Untuk hal ini saya dalam hati seperti ingin berteriak ke orang-orang yang mendewakan sistem yang membuat kami terlambat tiba di Teluk Saleh. Meski semangat dan kehangatan warga Desa Aipaya membuat saya selalu betah berkegiatan di wilayah ini, saya masih belum memikirkan kapan akan kembali lagi ke Teluk Saleh. Kecuali, bahwa kehadiran di masa berikutnya adalah untuk berbuat sesuatu yang positif untuk ekosistem di kawasan ini bersama pihak-pihak yang konsern dengan lingkungan, saya pastikan saya akan kembali! Demikian!

































 







 

















* Pictures captured at Saleh Bay (Teluk Saleh), Sumbawa, West Nusa Tenggara, July 2016. Credits belong to various peoples; Me, Budhi Kurniawan, etc. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!

3 comments:

wijayadi said...

Cerita yang keren sekali....

Michael Risdianto said...

Mancing yuk bang.... Sakauuuuuu

All said...

Pesisir bagian dalam sepanjang pulau sumbawa kondisi yg sama sepertidi teluk saleh bang. Saya juga baru turun mancing bersama bang FY yg dimaksud...

Popular Posts

Google+ Followers