Thursday, 24 November 2016


Akibat jalur transportasi darat yang ektsrim (baca: buruk), para tukang ojek, patteke (kuda beban), dan orang-orang nekat yang berani membawa mobil 4wd (meski terkadang harus terjebak di perjalanan selama 1 bulan), memiliki peranan sangat besar pada arus keluar komoditas seperti kakao, kopi dan beras tarone dari dataran tinggi Seko (1200-1800 mdpl). Mereka juga yang mampu secara kontinyu membawa masuk barang-barang kebutuhan sehari-hari dari kota Masamba (ibukota Kab. Luwu Utara) ke Seko. Dikepung oleh Pegunungan Quarles dan Verbeek, Seko yang berada di atap Pegunungan “Tokalekaju” memang hanya untuk orang-orang bernyali. Segitiga ‘Emas’ Jantung Sulawesi ini memerlukan perhatian lebih dan juga  goodwill dari berbagai pihak, agar kemegahan, keindahan, kesuburan dan juga ribuan jiwa yang hidup di atasnya tidak terlalu lama ‘kesepian’ dan merasa ditinggalkan. Akses darat yang bersahabat untuk berbagai moda transportasi menurut saya adalah prioritas utama yang harus segera dibenahi. Baru kemudian kecukupan listriknya. Pertama kali dalam hidup saya, usai 10 hari terus berada di atas motor ojek dengan medan yang begitu berat, saya mengkhawatirkan kesehatan pantat dan pinggang saya. Untukmu Seko, catatan ini dibuat!

Teriring salam kepada seluruh tukang ojek dan semua pihak yang membantu saya dan tim Jejak Petualang Trans|7 menjalani petualangan musim hujan tergila seumur hidup saya. Hari ini setelah mengantarkan kami turun ke kota Masamba pada tanggal 17-18 November lalu, mereka semua telah kembali ‘naik’ menuju ke Seko, ke rumah mereka masing-masing di pegunungan. Mereka akan kembali merangkak di jalur darat paling ekstrim yang pernah saya lalui di negeri ini selama dua hari. Tinggal tersisa satu tukang ojek saja dari enam yang setia menemani kami saat itu, yang hari ini masih berada di Masamba. Om Yos, seseorang yang kepadanya saya bisa berbicara dan membahas banyak hal. Seorang manusia biasa yang menurut saya memiliki kepedulian lebih dan visi bagi ‘rumah’-nya saat ini. Ingatan saya kembali ‘terlempar’ kepada apa yang telah saya lihat, rasakan dan alami di daerah ini. Suatu malam hari saya termangu di teras rumah seorang warga bernama Bapak Darwin Beddu, perbukitan savana di sekitar Seko Padang di kejauhan terlihat samar, hanya lengkung-lengkung hitam memanjang tidak beraturan. Teras rumah telah lama sunyi dari riuh rendah cerita dan canda yang selalu mengisi hari-hari usai kami bekerja berkeliling sepanjang hari ke segala penjuru Seko Padang. Tidak ada cahaya bintang sama sekali mengingat musim penghujan sudah mulai dan awan selalu mendominasi langit baik siang ataupun malam, sesekali kabut juga ikut menyerbu ‘memeluk’ dataran tinggi ini meski ketebalannya tidak seberapa dibandingkan dengan saat musim kemarau. Angin pegunungan terkadang bertiup dari balik perbukitan menghasilkan hawa dingin yang memaksa siapapun untuk masuk ke dalam rumah memeluk kehangatan yang ada. Tuan rumah tentunya masuk ke dalam rumah bersama keluarga, kami para tamu tak diundang tetapi diterima dengan sangat baik ini biasanya akan ‘bersembunyi’ di dalam sleeping bag masing-masing di ruang tengah depan televisi yang sangat jarang sekali menyala. Listrik di daerah ini memang tidak terlalu bisa diharapkan kestabilan dayanya, terkadang menyala, terkadang mati. Dalam sehari akibat daya yang naik turun, jumlah jari yang ada di tubuh kita bisa habis untuk menghitung nyala dan padamnya aliran listrik di Seko Padang. Bapak Darwin Beddu mengatakan kapasitas listrik yang dihasilkan oleh turbin yang ada adalah 21.000 watt, sementara kebutuhan yang ada saat ini sekitar 40.000 watt. Sudah diusulkan ke pihak-pihak terkait masalah ini tetapi belum ada jawaban seperti diharapkan oleh masyarakat, ucapnya tadi sembari membetulkan kain sarung yang melindungi tubuhnya dari terpaan hawa dingin pegunungan savana. Malam itu adalah malam keenam saya berada di Kampung Eno, Seko Padang. Pemukiman dengan infrastruktur paling maju di seluruh dataran tinggi Seko yang konon menurut berbagai sumber berada di Pegunungan ‘Tokalekaju’. Persis di segitiga imajiner yang berbatasan langsung dengan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Kecamatan Seko sendiri merupakan bagian dari Sulawesi Selatan. Kondisi geografis Seko menurut saya terbagi dalam dua ‘wajah’. Di dataran rendahnya (cerukan dengan luas entah berapa puluh ribu hektar) adalah padang savana yang saat ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menggembalakan ternak seperti sapi, kuda, dan kerbau. Di sekelilingnya adalah pegunungan sambung menyambung membentuk ‘benteng’ alami dan sebagian masih merupakan hutan primer. Sebagian telah dimanfaatkan masyarakat untuk berladang. Dari atas pegunungan ini kita bisa melihat keindahan sekaligus kemegahan padang savana Seko yang memiliki beberapa ‘urat nadi’ super besar seperti Sungai Betue dan lain sebagainya. Saat ini Kecamatan seko kabarnya dihuni lebih dari 14,000 jiwa dan tersebar dalam tiga bagian kelompok masyakarat; Seko Padang, Seko Lemo dan Seko Tengah. Asal usul masyarakat Seko konon berasal dari pecahan masyarakat Toraja yang melakukan migrasi entah kapan di masa lampau, mereka awalnya hanya mendiami daerah pegunungan yang kini disebut Seko Lemo. Berasal dari kata lemo (jeruk lemon), karena konon di tempat itu dahulunya terdapat tanaman jeruk lemon. Kini di Seko Lemo yang ada adalah kopi dan kakao, komoditas perkebunan dataran tinggi yang menjadi sandaran hidup sebagian besar masyarakat Seko. Tetapi yang menjadi komoditas primadona masyarakat Seko adalah padi tarone. Tarone konon hanya tumbuh di Seko, dibudidayakan tanpa menggunakan pestisida, bulir padinya lebih kecil memanjang dengan rasa yang sangat khas. Padi gunung yang secara de facto memang menghidupi seluruh masyarakat saat ini, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai identitas agraris dan kebanggaan seluruh masyarakat Seko.

Saya kira telah banyak orang menulis tentang Seko sesuai interest-nya masing-masing. Saya melihat di internet banyak sekali petualang, kru media, anggota LSM, putra-putri daerah, aparat pemerintahan dan lain sebagainya yang menuliskan dan memposting foto-foto tentang Seko. Ada yang menyoroti keindahan savana-nya saja, atau kehidupan agrarisnya yang dekat sekali dengan kehidupan padang, ada yang terlihat dengan kuat ingin mengangkat potensi-potensi yang dimiliki oleh Seko, ada juga yang fokus pada tantangan-tantangan yang dihadapi Seko saat ini. Paling sering dibahas adalah pada rumitnya akses ke dataran tinggi ini. Saat ini ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh siapapun yang hendak menuju ke Seko. Susi Air telah membuka penerbangan perintis ke dataran tinggi ini, tak banyak kecamatan yang memiliki bandar udara, tetapi Seko memilikinya. Meskipun banyak sekali kekurangannya terutama terkait jadwal dan kepastian terbang. Terkadang alasannya adalah cuaca, terkadang tidak jelas apa alasannya. Pokoknya nggak jadi terbang saja. Seperti yang tadi pagi saya dengar di radio amatir sang empunya rumah tempat kami menginap, pagi-pagi ada pemberitahuan dair pihak bandara bahwa pesawat tidak jadi terbang dari Masamba ke Seko dan sebaliknya. Jalur darat adalah jalur utama yang telah lebih dahulu ada dan memegang peranan penting menghubungkan Seko dengan dunia luar. Dari kota Masamba, ibukota Luwu Utara, Seko HANYA berjarak 136-an kilometer saja jauhnya. Kita harus melewati jalanan yang mengular mengiris Pegunungan Tokalekajo. Pada musim kemarau jarak ini bisa ditempuh dengan motor ojek dan kendaraan roda empat gardan ganda dalam waktu maksimal 12 jam perjalanan. Saat musim penghujan seperti ini, jarak ini hanya bisa ditembus dengan ojek motor dari Masamba selama dua hari saja!!! Pada musim penghujan jangan coba-coba menggunakan mobil jenis apapun untuk menuju Seko, meskipun itu mobil gardan ganda paling keren sekalipun iklannya, karena hasilnya sudah hampir dapat dipastikan akan trapped  di tengah jalan di salah satu kubangan lumbur yang jumlahnya tak terhitung di sepanjang jalur perjalanan. Saat ini jalur darat yang ada sebenarnya telah cukup lumayan bersahabat, dahulu satu-satunya cara menuju ke Seko adalah berjalan kaki dan atau menggunakan patteke (kuda beban) yang mana akan menghabiskan waktu satu minggu lamanya!!! Kini patteke masih ada tetapi hanya difokuskan untuk mengangkut keluar Seko beberapa komoditas seperti kopi, kakao, dan beras tarone pada musim panen raya, dan atau untuk dipakai membawa masuk produk-produk dari luar yang akan dikirimkan ke desa-desa yang terisolasi di wilayah ini. Meski tak dapat disangkal kini jumlah kelompok patteke tidak lagi sebanyak dahulu. Terkikis oleh  keberadaan ojek motor yang memang relatif lebih cepat dengan kemampuan membawa beban yang lebih besar.

Ojek motor di Seko adalah ojek motor dengan ‘trayek’ paling jauh, paling mahal, dan paling ekstrim di dunia! Bayangkan untuk menyelesaikan jarak sejauh 136-an kilometer saja di musim penghujan seperti ini kita menghabiskan waktu selama dua hari! Kita harus stop pada malam hari di pos-pos ojek yang banyak tersebar di jalur perjalanan di dalam hutan sana. Tarifnya per hari di musim penghujan seperti ini lebih dari 1 juta rupiah. Saya tidak mau menyebut angka pastinya karena ini bisa jadi tidak fixed, mengingat yang disebut Seko adalah dataran tinggi dengan luas ribuan hektar. Jadi tarif tidak bisa disamakan sebenarnya tergantung tujuan kita ke Seko yang mana? Memang semua titik start ojek kita ada di kota Masamba, di tepi Sungai Sabang. Tetapi tarif finalnya kemudian akan menyesuaikan pada finish perjalanan kita di Seko yang mana. Semuanya tidak bisa dirumuskan dalam satu tarif yang fixed mengingat medan ke masing-masing tujuan akan berbeda. Kenapa saya sebut paling ekstrim? Sebenarnya saya sulit untuk menuliskannya kembali meski kemarin lalu sudah pernah dua hari penuh disiksa keganasan jalur ojek menuju Seko ini. Lebih tepatnya hati saya sedikit menolak untuk sekedar menuliskan kembali betapa beratnya medan ojek yang pernah saya lalui di musim penghujan seperti ini. Saya pernah melakukan perjalanan panjang di medan yang berat berbahaya lainnya meski karakter geografisnya berbeda. Perjalanan ke Mahakam Ulu di Kalimantan Timur misalnya, adalah pendakian jeram-jeram terganas di Kalimantan yang taruhannya adalah nyawa kita. Saat dimana nyawa kita bergantung pada mesin long boat yang kita naiki, dan ketajaman mata motoris dalam menilai riak dan pusaran-pusaran air selama satu hari penuh mendaki jeram ke arah pegunungan. Perjalanan ke hulu Sungai Kelai di Kabupaten Berau juga termasuk kategori paling berbahaya yang pernah saya tempuh. Usai satu hari menembus jalur logging, kita masih harus mendaki sungai dengan jeram-jeram monster selama satu hari penuh menuju titik terakhir dimana berdiam orang-orang Dayak Punan di Kampung Long Sului. Saat itu tahun 2009, satu dari empat long boat kami terbalik ‘ditelan’ keganasan jeram Sungai Kelai. Memang semua nyawa terselamatkan tetapi semua perbekalan dan peralatan musnah! Jalur ojek menuju Seko memang tidak seseram itu, jika ukurannya adalah nyawa. Tetapi sebenarnya resikonya sangat tidak sederhana. Duduk selama dua hari di atas motor, dimana 95 % jalur adalah jalanan licin berlumpur dengan kubangan di hampir setiap seratus meter, adalah perjuangan dan pertaruhan kesehatan yang tidak sederhana. Saya menyebutnya sebagai momen dimana pantat dan pinggang menjadi begitu penting dibandingkan isi kepala! Beruntunglah jika selama perjalanan tukang ojek kita tidak sampai terjatuh karena licinnya jalan. Karena satu atau dua kali motor melintir dan atau terpeleset, kaki kita bisa menjadi taruhannya. Tidak terhitung juga adalah lubang-lubang licin yang dalamnya bahkan bisa menenggelamkan separo badan motor. Dimana kaki kita bisa tiba-tiba terjepit di dalamnya, dan atau karena kontrol yang kurang tepat membuat kita tertindih motor yang bergerak liar tidak terduga karena jebakan lumpur. Dalam dua hari, yang maksudnya adalah motor terus berjalan ketika matahari menyinari bumi, dengan dikurangi waktu makan siang saja, berarti 20 jam lebih kita akan terus duduk di atas saddle motor!!! Mungkin memang apapun insiden yang terjadi, masih jauh dari nyawa, tetapi sungguh akan sangat dekat sekali dengan cidera dan atau cacat yang bisa jadi tidak akan pernah hilang dari tubuh kita. Saya tidak ingin mengatakan jangan ke Seko melalui jalur darat ketika musim hujan. Tetapi jika memang kawan-kawan berada dalam situasi yang urgent (atau terpaksa) harus ke Seko melalui jalur darat ketika musim penghujan, pesan persiapkanlah segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Atau jika memungkinkan, dan atau pihak-pihak yang mengirim saudara memiliki kebijaksanaan, carilah tiket Susi Air, yang meski cukup susah mendapatkannya dan juga tidak pasti juga jadwal terbangnya, dapat mengantarkan kawan-kawan ke Seko hanya dalam waktu 20 menit saja!

Perjalanan kami ke dataran tinggi Seko secara resmi dimulai ketika suatu pagi di pasar tradisional tepi Sungai Sabang di kota Masamba, saya mencoba sepatu boot entah merk apa untuk menggantikan running & trekking shoes yang selalu saya kenakan ketika berkeliling. Para tukang ojek sedari kemarin telah berpesan jangan menggunakan sepatu kets dan ataupun trekking shoes jenis apapaun kecuali sepatu boot. Abang akan tahu sendiri apa maksudnya nanti tetapi pokoknya abang harus memakai sepatu boot. Saya menuruti nasehat mereka dengan memborong empat pasang sepatu untuk saya dan juga tim, meski dalam hati hal-hal seperti ini terkadang dipertanyakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Sudah begitu masih ada PR harus membawa kembali ke Jakarta barang-barang tidak habis pakai yang saya dan tim gunakan dalam perjalanan, padahal sudah jelas akan berimbas pada semakin membengkaknya over bagasi penerbangan nantinya. Satu jam pertama adalah perjalanan berliku melalui jalanan beraspal tetapi sempit. Sebelah kiri jalan adalah perbukitan terjal dan di sebelah kanan adalan sungai besar tipe upper river berjeram. Sepanjang jalan mata saya melihat ke arah sungai mengamati jeram-jeram yang ada, kelokan-kelokan sungai, dan juga arus-arus yang tercipta yang memang jelas terlihat dari atas motor. Hari itu air sungai sangat jernih padahal sedang musim penghujan. Ikannya hanya ada ikan mas, lele, ikan kamboja, udang kecil dan belut moa bang, kata tukang ojek saya. Masak sih, sergah saya? Ini adalah sungai upper river yang seharusnya banyak spesies ikan arus deras seperti di Kalimantan misalnya. Tidak ada bang ikan-ikan seperti abang tunjukkan di hp kemarin malam itu, jawabnya lagi. Pasti tukang ojek ini tidak mengerti dunia perikanan makanya menjawab seperti itu, tetapi kemudian sembari terus mengamati kegagahan sungai, saya tiba-tiba teringat dengan Garis Wallacea, garis imaginer yang memisahkan Indonesia menjadi dua bagian, yang mana jenis satwa baik di darat dan perairan (terutama air tawarnya) adalah berbeda antara pulau-pulau di sebelah barat Laut Sulawesi dengan yang bagian timurnya. Dalam hati saya berucap bahwa teori yang dikeluarkan oleh Alfred Wallace beratus tahun silam itu memang benar seperti apa adanya di lapangan. Saya kurang memahami mengenai Garis Wallacea ini sebenarnya, tetapi jika memang ikan-ikan upper river di Luwu Utara ini tidak memiliki spesies ikan jenis barb seperti di Kalimantan, maka bisa jadi ini sebenarnya ini telah tertuang dalam teori yang dikeluarkan oleh ‘Mbah’ Alfred Wallace beratus tahun silam. Keenam motor yang kami gunakan kemudian berhenti di ujung jalan aspal di sebuah warung kecil, para tukang ojek rupanya belum sarapan pagi, karena sedari subuh terlalu sibuk mem-packing barang-barang kami ke atas motor di hotel tempat kami menginap. Pos pertama ini disebut dengan nama xxxx (saya lupa), ibarat pintu ‘gerbang’ sebelum seluruh tukang ojek dan penumpangnya yang akan menuju Seko menguatkan hati dan juga menguatkan isi perut karena akan meninggalkan semua kenyamanan yang ada di belakang!

Target kami hari itu adalah sebuah pemukiman kecil di pegunungan bernama Palandoang, sekitar 90-an kilometer jauhnya dari Masamba. Kampung ini sering dijadikan tempat bermalam para tukang ojek yang naik atau turun dari Seko ketika musim penghujan, yang mana jarak 136-an kilometer tidak bisa ditempuh dalam satu hari. Kampung ini menurut tukang ojek juga menjadi semacam batas antara jalur ekstrim pada 80 kilometer pertama, dan jalur super ekstrim pada 66-an kilometer berikutnya (jika kita naik ke Seko). Dan artinya tentu menjadi sebaliknya bagi mereka yang sedang turun dari Seko menuju ke Masamba. Akan tetapi, meski para tukang ojek kami terus menginjak gas melahap semua jalur yang ada baik jalur ringan, berat dan super berat pada hari itu tanpa kendala berarti selain cuaca yang berubah drastis, pinggang dan pantat-pantat kami tidak memiliki ketangguhan seperti motor-motor yang terus mampu meraung itu. Beberapa kali kami terpaksa berhenti untuk mengendorkan semua tegangan dan juga nyeri yang menyerang tubuh, dan di beberapa titik kami terpaksa menunggu kemacetan terurai akibat menumpuknya para tukang ojek yang terjerembab di kubangan-kubangan monster. Jalanan tanah itu meski kondisinya rusak parah sebenarnya sangat lebar, bahkan bisa menampung dua mobil dalam dua jalur berbeda, tetapi masalahnya di banyak sekali titik, bentuknya bukan lagi jalan, melainkan kubangan berukuran monster, jadi jalur motor yang tersisa hanya sebaris saja. Dan itu yang harus dilalui semua motor ojek yang melintas baik itu naik ataupun turun. Jadilah jika ada yang terjerembab, semuanya harus menunggu. Saya tidak menyangka bahwa jalur ini rupanya sangat ramai, sejak kami meninggalkan Masamba, telah berpuluh motor ojek dengan muatan luar biasa sarat berpapasan dengan kami menuju arah Masamba. Beberapa motor ojek lainnya dari arah bawah juga sudah ada yang menyalip kami. Motor-motor dari arah Seko rata-rata sarat muatan komoditas lokal seperti kopi, kakao dan membawa juga beras tarone yang termahsyur itu. Selisih harga yang cukup tinggi yang membuat orang-orang membawa turun hasil bumi untuk dijual ke Masamba. Hari itu, kami harus legawa karena hanya mampu menyelesaikan perjalanan di Mabusa, sekitar 80-an kilometer jauhnya dari Masamba pada pukul 17.00 waktu setempat. Hujan angin menyerbu kami, tepat ketika kami turun dari motor di depan sebuah warung yang biasa menjadi tempat menginap para tukang ojek yang kemalaman di Mabusa. Saya sempat melihat beberapa ekor kuda ditambat tidak jauh dari warung, itu kuda patteke yang esok hari akan naik ke arah Seko Lemo melalui jalur patteke (jalan pintas yang tidak bisa dilalui motor). Tuhan Maha Baik, kami memang berniat mendokumentasikan patteke yang naik ke arah Seko juga. Jadi pencapaian kami yang hanya mampu sampai Mabusa pada hari ini sebenarnya ada hikmahnya. Ketika seluruh tukang ojek dan tim masuk warung untuk menikmati kehangatan perapian dan menyeruput kopi, saya ditemani satu tukang ojek mencari para pemilik patteke ini untuk membuat janji pendokumentasian esok hari.

Pos-pos ojek (bentuknya sebenarnya warung tetapi karena kayu cukup mudah didapatkan dari hutan sekitar bentuknya besar-besar) yang ada di jalur antara Masamba dan Seko relatif cukup banyak. Tetapi yang cukup settle dan selalu ada orangnya (maksudnya warung itu selalu buka) konon kebanyakan hanya da di Mabusa dan di Palandoang. Lainnya agak sulit dipastikan buka atau tidaknya karena memang orang-orang pemilik warung tersebut tidak bermukim di warung tersebut. Mereka kebanyakan adalah orang-orang dari Masamba yang mengadu nasib dengan membangun warung dan berharap rejeki dari para tukang ojek yang kemalaman, yang tentunya selain menginap juga memerlukan perut yang kosong untuk diisi. Mereka berjualan ala kadarnya mulai dari makanan ringan kemasan, part motor entah KW berapa, rokok, obat-obatan standar dan beberapa barang lainnya. Warung yang menjadi ‘hotel’ kami selama di Mabusa malam itu adalah milik orang masamba, mereka terdiri dari tiga orang; seorang bapak paruh baya dan dua orang anak muda laki-laki dan perempuan. Usai makan malam saya sempat berbicara dengan salah satu dari anak muda tersebut dan rupanya (ini membuat saya kaget) mereka adalah dua orang anak kuliahan yang katanya sedang liburan, jadi menemani menjalankan Warung Sumber Rejeki milik ayahnya di Mabusa. Saya mengetahui nama warung ini dari tulisan menggunakan arang di papan kayu depan warung yang karena terhalang palang kayu lainnya saya ketahui pagi harinya. Itupun karena heboh akibat saya tidak menemukan kacamata hitam merk R*** P****** milik saya yang meski saya yakin saya bawa masuk ke dalam warung malam itu dari motor, tidak lagi saya temukan pada pagi harinya. Mungkin saya yang lupa dimana menaruh kacamata itu, tetapi saya ingat sekali malam hari menjelang makan malam, saya menaruhnya di atas tas backpack saya di dekat saya tidur dekat perapian. Saya tidak ingin berprasangka, mungkin kacamata itu gentar menemani saya untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Seko sehingga kemudian memilih berpaling!

Pagi harinya, pendokumentasian patteke yang akan menuju ke Seko Lemo melalui jalur kuda (jalan setapak terjal) berjalan lancar meski seperti diburu-buru waktu, takut kemalaman lagi di jalan karena tidak mampu lagi mengakses Seko Padang pada sore hari. Kami kemudian kembali lagi ke jalur motor yang menghubungkan Mabusa dengan dataran tinggi Seko. Matahari bersinar cukup cerah, memunculkan harapan setidaknya jalur yang tersisa tidak terlalu basah, begitu pemikiran saya, yang rupanya salah sama sekali. Meski matahari bersinar cukup terik, jarak 66-an kilometer yang tersisa hari itu level kesulitannya rupanya jauuuuuh lebih parah lagi dibandingkan jalur antara Masamba – Mabusa. Sekitar sembilan kilometer setelah Mabusa sempat terjadi ‘macet’ akibat sebuah motor dari arah Seko mati mesin dan terjerembab di tengah kubangan lumpur. Setelah para tukang ojek bahu membahu mengangkat motor ini barulah jalur menjadi lancar kembali. Persis di kubangan yang sama juga (titik yang saya sebut kubangan ini panjangnya sekitar 50 meter dengan lebar sekitar 5 meter) saya melihat sebuah kendaraan 4WD nyangkut. Sudah satu bulan mobil ini nyangkut di sini kata salah satu tukang ojek. Isi angkutannya adalah beras tarone dan entah sampai kapan akan terus nongkrong di kubangan tersebut. Mungkin sampai musim kemarau tiba, kata tukang ojek lainnya sembari tertawa. Jalanan yang menghubungkan Masamba menuju Seko, sekali lagi menurut saya bukanlah jalur yang sepi. Dalam sehari kita bisa berpapasan dengan puluhan motor penuh muatan. Ada yang naik, ada juga yang turun. Tetapi kalau melihat jalur yang begitu sulit, saya masih belum sepenuhnya mengerti, kenapa mereka begitu santai saja terus melintas di jalur ini. Memang ini satu-satunya jalur darat, tetapi maksud saya apa mereka semua ini tidak bosan, tidak muak? Ya kadang-kadang bosan juga bang, kata seorang tukang ojek yang sudah delapan tahun naik turun melalui jalur ini. Mau bagaimana lagi, dari sinilah kami hidup, dengan membawa turun komoditas, menjualnya di kota dengan selisih harga yang lumayan, dan kemudian naik lagi membawa dagangan yang lainnya, yang tentunya harganya akan melonjak drastis. Modal utama nyali kata mereka, baru kemudian (persis seperti yang saya rasakan), adalah pantat dan pinggang. Kalau masalah menginjak gas dan mengarahkan motor, banyak orang bisa melakukannya. Apakah kalian ingin, jawab jujur ya, jalur ini terus begini keadaanya? Maksud saya kalau jalur ini kemudian membaik dan terus bisa dilalui kendaraan roda empat sepanjang waktu, tentu ratusan orang yang saat ini berprofesi menjadi tukang ojek akan kehilangan rejeki secara signifikan. Beberapa orang yang saya tanyai menjawab ya inginnya jalanan yang ada menjadi lebih baik, bahkan meskipun kemudian hal itu membuat profesi mereka menjadi terancam. Ada seorang tukang ojek yang menjawab dengan menarik. Kalau untuk dirinya sendiri saat ini kuat-kuat saja jalanan terus begini, tetapi harapan dia semoga anak cucu dia nantinya tidak lagi harus melewati jalanan yang kondisinya sama seperti sekarang. Setidaknya ada perubahan menjadi lebih baik. Itu lebih baik menurutnya karena itu berarti di Seko ini ada kemajuan, entah itu akibat perhatian pemerintah ataupun karena ada pihak lainnya yang karena kepentingan tertentu kemudian membangun infrastruktur jalan menuju Seko. Saya mendengar bahwa ada mega proyek sedang dirancang untuk dibangun di Seko (sungai di Seko menurut saya besar-besar dan juga deras dengan debit air yang stabil), yaitu membangun PLTA yang akan memasok listrik ke seluruh penjuru Pulau Sulawesi. Disitulah ada harapan insfrastruktur jalan akan diperbaiki secara drastis. Tetapi banyak juga yang menentang rencana mega proyek ini bang, kata mereka. Proyek, apalagi mega proyek, memang selalu menggoda bang saking ‘manisnya’ jawab saya. Bahkan semut kecil yang tadinya telah lama mati pun terkadang bisa bangkit kembali untuk minta bagian, jika tidak mendapat bagian kemudian mengganggu dengan cara menggigit. Kita kembali lagi ke para tukang ojek, jadi untuk kondisi sekarang ini, menurut saya, jika tidak ada para tukang ojek yang berani berjibaku dengan beratnya jalur darat dari dan menuju wilayah ini, saya tidak terbayang akan seperti apa kehidupan di Seko. Karena saya yakin, kebutuhan hidup, sebuah kehidupan komunal, meskipun itu di pegunungan terpencil seperti ini sekalipun, tentunya tidak akan cukup hanya dengan memiliki beras kopi dan kakao saja.

Pukul 16.00 waktu setempat, enam motor yang membawa kami juga peralatan lainnya akhirnya tiba di perempatan savana yang disebut dengan nama Sondangan. Perempatan di tengah padang maha luas ini mirip di film-film alien dan atau film-film horor saking terpencilnya. Kemanapun ke segala penjuru kami memandang, yang tampak adalah padang savana maha luas yang dikelilingi perbukitan. Ada beberapa bangunan kayu di perempatan ini yang juga difungsikan sebagai warung sekaligus tempat menginap siapapun yang kemalaman. Mata saya sempat menangkap pemandangan yang unik lainnya, sebuah motor sarat muatan kasur sedang parkir di depan sebuah warung. Biasanya di tempat seperti ini saya selalu teringat dengan kopi hitam, tetapi sore itu saya sengaja melupakannya. Saya mencoba untuk menikmati apa yang tersaji di depan mata, hamparan savana maha luas dengan senja tanpa warna merah yang sudah hendak beranjak di kejauhan sebelah barat. Kesan pertama melihat pemandangan dataran tinggi Seko, indah. Saya teringat padang-padang savana di Pulau Sumba, tetapi Seko memiliki kemegahan yang berbeda. Ada kesuburan yang begitu jelas terlihat di dataran tinggi ini, juga jelas terasa, betapa dataran tinggi ini begitu baru di mata saya. Dari ketinggian saya melihat ada semacam kilauan-kilauan pantulan air dari persawahan yang dibuat masyarakat nun jauh di kejauhan di bawah sana. Juga ada titik-titik putih yang samar terlihat dari pemukiman masyarakat. Semuanya adanya di kejauhan di bawah sana dan tersebar di segala penjuru. Perempatan Sondangan ini adalah ‘simpul’ darat yang menghubungkan daerah Seko Padang, Seko Tengah dan Seko Lemo. Tiga bagian utama tempat bermukimnya masyarakat di dataran tinggi Seko yang secara turun temurun menjadi penjaga dan penerus kehidupan dan kemegahan Seko. Bang, kita tidak boleh berlama-lama di perempatan ini, kata seorang tukang ojek kepada saya. Kenapa jawab saya, bukannya pemandangan senja ini begitu sayang untuk kita tinggalkan begitu saja? Bang, katanya lagi, kampung tujuan kita, Kampung Eno, jauhnya masih dua jam perjalanan lagi bang dari perempatan ini, itupun kalau tidak keburu hujan, katanya sambil menunjuk langit yang semakin gelap menghitam?! Astagaaa bang, saya pikir kita ini sudah sampai di Seko Padang?! Tuhaaan, pantat saya rasanya sudah tidak kuat untuk kembali berasap! Sekooooo Oh Sekoooooo.....! Sembari melaju meninggalkan perempatan Sondangan saya sekilas merenung, orang-orang Seko melahap segala pahit getir medan berat akses darat ini sudah berpuluh tahun lebih lamanya, saya baru dua hari sudah mengkhawatirkan kesehatan pantat?!

Melintasi savana Sondangan ibarat bonus indah setelah perjalanan melelahkan di atas ojek dengan medan berat, yang jika dihitung lamanya kami berada di atas motor, hampir tujuh belas jam lamanya sejak kemarin. Pantat memang rasanya tetap dan sudah entah seperti apa rasanya sulit dijelaskan, begitu juga pinggang yang juga sudah panas tidak karuan. Tetapi ada semacam sugesti kenyamanan karena mata dan hati dihibur oleh keindahan savana sejauh mata memandang. Savana yang menghijau dengan udara yang dingin, perbukitan savana seperti di film-film koboi, dan awan yang bergulung dimana-mana. Kami bergegas meninggalkan savana ini karena sebenarnya di arah timur laut terlihat gulungan awan hitam yang sepertinya bergerak ke arah kami. Menurut para tukang ojek sangat bahaya jika sampai kami dikejar oleh hujan karena dua jam terakhir adalah turunan yang bisa jadi sangat mematikan kalau sampai licin terguyur hujan. Ketika jalanan kering, savana ini menawarkan banyak jalan pintas bagi motor-motor. Terdapat puluhan jalur potong sehingga motor tidak harus selalu mengikuti jalanan utama yang lebar. Meski pada beberapa jalur potong tergolong curam, tetapi sangat menghemat waktu tempuh. Ada sensasi yang berbeda setiap kali memotong jalur di bukit-bukit savana itu. Betapa manusia sangat kecil? Bermain-main di kemegahan alam ciptaan-Nya? Kita kadang merasa menjadi segala-galanya mentang-mentang manusia, tetapi bahkan di keluasan savana Sondangan ini saja kita seperti beberapa ekor semut yang bergegas mencari jalan pulang. Mungkin karena bosan yang sudah mencapai puncak, saya tidak terlalu memperhatikan lagi dua jam terakhir jalur yang ada. Mungkin lebih tepatnya sudah ‘muak’. Jalanan tetap berlubang dimana-mana dengan kedalaman yang bahkan motor pun bisa tenggelam. Namun memang ada sedikit ketenangan karena samar di kejauhan terlihat kumpulan bangunan rumah yang menjadi tujuan kami. Kampung Eno, yang menjadi tujuan akhir dan basecamp seluruh kegiatan kami selama di Seko Padang nantinya. Sebelum turunan super tajam kami sempat menyalip dua buah mobil 4WD yang sepertinya telah terjebak beberapa hari, kru mobil sedang berusaha ‘membangun’ jalan agar mobil setidaknya berusaha keluar dari kubangan jalan. Tepat pukul setengah enam sore kami akhirnya tiba di halaman rumah seorang warga yang akan menjadi ‘hotel’ kami selama di Seko Padang. Rumah-rumah di Kampung Eno menurut saya besar-besar, semuanya terbuat dari kayu, tetapi suasana petang itu sangat sunyi. Listrik dari turbin di ujung kampung belum dialirkan ke kampung. Tidak ada sambutan apa-apa atas kedatangan kami, sang tuan rumah sepertinya jauh ada di belakang rumah. Saya turun dari ojek sembari tertatih seperti orang baru disunat. Begitu juga kru kami lainnya. Perjalanan darat terberat dan termahal di dunia yang pernah saya lakukan dengan alat  transportasi roda dua, karena biaya per motor per harinya lebih dari satu juta rupiah, tetapi hasilnya nyeri luar biasa pada selangkangan pantat dan pinggang?! Kalau ada apa-apa dengan ‘telur’ saya gara-gara ojek ini, saya akan mengajukan tuntutan, ucap saya sembari nyengir dan mencari tempat merebahkan di halaman. Para tukang ojek itu tertawa. Mereka tahu saya tidak menujukkan ucapan itu kepada mereka. Tuan rumah kami selama di Kampung Eno adalah seorang pengajar, Kepala Sekolah SD, keluarga ini sudah terbiasa menampung orang-orang seperti kami. Lokasi rumahnya sangat strategis, berada di depan lapangan desa dengan bangunan SMA di ujungnya, dan juga beberapa kantor pemerintahan kecamatan dan desa tidak jauh darinya. Sepuluh gelas kopi hitam tak lama kemudian tersaji di teras rumah panggung itu. Selamat datang di Seko Padang, mungkin begitu ucap kopi-kopi hitam yang mengepulkan uap panas itu. Saya melihat ke arah pegunungan di kejauhan, sembari bertanya-tanya seperti apa kampung-kampung lain yang akan kami datangi selama enam hari ke depan untuk menyelesaikan tugas-tugas kami. Udara dingin bertiup dari pegunungan. Ini belum seperapa dingin dibandingkan nanti saat kemarau kata para tukang ojek yang terkapar di lantai rumah. Tanpa saya sadari, saya terlelap sejenak di kursi teras rumah dan bukannya menyeruput kopi panas itu. Malam menjelang dan suasana Kampung Eno semakin sunyi.(Bersambung)



























* Pictures captured at Seko, South Sulawesi 2016. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers