Thursday, 22 December 2016


Tentara dan pemancing, datang dan pergi silih berganti dari Desa Toray, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua. Desa kecil dekat perbatasan RI – PNG. Tetapi orang-orang Suku Yee dan ikan-ikan tentunya terus tinggal. Hidup tenang dalam keberlimpahan sumber daya alam megah terjaga, yang menyediakan apapun yang dibutuhkan untuk melanjutkan hidup. Ketika mengawali perjalanan ini terlintas sekejap di kepala, bahwa akhirnya setelah sepuluh tahun, bentang geografis ribuan kilometer yang terangkum dalam lagu “Dari Sabang sampai Merauke” itu selesai juga bagi saya. Semuanya karena mengurus ikan! Tetapi ternyata ketika ekspedisi mencapai ‘ujungnya’, ketika hari itu kami berkumpul di sebuah tugu perbatasan paling besar yang ada di Sota, sembari menghidupkan ponsel yang kembali ada gunanya, saya salah duga. Ekspedisi Rawa Camo JPWF Trans|7 ke ujung negeri kemarin itu hanyalah awal untuk sesuatu yang baru bagi saya, sesuatu yang berbeda. Tetapi saya percaya semua ini yang terbaik dan merupakan rencana-Nya!

Deo gratias. Terimakasih Tuhan hamba-Mu masih Kau ijinkan menulis. Saya harap kawan-kawan sudah membaca bagian 1 dan 2 dari catatan perjalanan ini sebelumnya, sehingga ada gambaran bagaimana bagian awal Ekspedisi Rawa Camo JPWF Trans|7 ini dilakukan, misi dari ekspedisi ini dan lain sebagainya. Juga kenapa kami memilih ke Rawa Camo dan tidak bermain di sungai-sungai besar yang mudah diakses saja dari Desa Toray, toh di sungai ini arwana papua dan juga ikan golden barramundi-nya melimpah? Jadi begini saudara-saudara, jika kita melakukan hal yang juga seringkali dilakukan orang lain, bagi kami hal itu adalah sesuatu yang biasa saja, pengulangan yang kurang lebih akan begitu begitu saja juga. Bukan tidak menarik, akan selalu ada kisah berbeda pastinya karena banyak hal yang terkait dengan perjalanan kita dan perjalanan orang lain juga berbeda, tetapi (menurut saya lho ya...), pasti akan kurang menantang dan tidak pantas menyandang kata “ekspedisi”. Karena ada semacam ‘pattern’ yang telah terbentuk sebelum-sebelumnya dan itu tanpa disadari jejaknya membekas dimana-mana. Jejak-jejak ini tanpa disadari seringkali akan berpengaruh pada perjalanan yang kemudian kita lakukan di waktu yang berbeda. Jejak dalam tanda kutip lho ya. Pengaruh dari jejak-jejak perjalanan sebelumnya ini berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang buruk. Tergantung siapa dan jejak apa yang dia tinggalkan di waktu sebelumnya di lokasi ataupun di masyarakat tersebut. Jadi pesan saya kepada kawan-kawan semuanya, tinggalkanlah selalu jejak yang baik dan penuh kesan sehingga ada kesan baik yang tertinggal, dan juga ada cerita yang selalu pantas untuk didengarkan oleh siapapun yang mungkin datang ke tempat-tempat tersebut di waktu berbeda. Jangankan hanya orang memancing yang memang sangat jarang menyembunyikan berbagai hal ketika berada di lokasi, orang yang jelas-jelas bersembunyi saja tetap ketahuan dan akan kedengaran di seberang lautan kog apa yang dia (atau mereka) lakukan. Ingat di dunia mancing ini, dunia hanya seluas tackle box saja!!! Apalagi jika ternyata jejak ataupun kesan yang dia tinggalkan tidak baik ataupun tidak pantas. Kembali ke ekspedisi kami di Rawa camo, sebuah “ekspedisi” idealnya mengandung misi dan konsekuensi yang tidak sembarangan, harus benar-benar melakukan sesuatu yang baru yang tidak dilakukan orang lain lebih dahulu. Jadi jangan memakai kata “ekspedisi” ke lokasi yang semuanya sudah tersedia dan bahkan sudah berpuluh kali hal yang sama dilakukan orang di lokasi tersebut. Kecuali kita alay, mungkin bisa memakai kata itu. Tetapi jika kawan-kawan adalah wild fisher ataupun die hard angler, never ever use “expedition” if you don’t know what thats mean! Karena kata “ekspedisi” bukan untuk gagah-gagahan apalagi sekedar untuk nge-branding sebuah perjalanan biar keren dan kemudian yang melakukannya mendapat pengakuan tertentu misalnya. Ekspedisi di alam liar adalah sebuah perjalanan yang tidak biasa, baru, berat, dengan tujuan tertentu yang sangat spesifik, yang rata-rata bermaksud memberi pengetahuan ataupun pemahaman terbaru tentang sesuatu. Kalau hanya sekedar ingin uncal saja di lokasi sejuta umat, baiknya jangan gunakan kata ekspedisi karena itu adalah penipuan kepada diri sendiri, pembodohan kepada publik, meski memang akan mendapatkan pujian lebih dari para pemuja dan penjilat!

Malam-malam di basecamp setelah hari kedua kami di kawasan Rawa Camo adalah malam yang selalu berisik. Tenda besar di sebelah kami selalu sibuk dengan pertandingan “mob”, joke ala Papua yang terkenal dan selalu sangat lucu itu, yang dikisahkan silih berganti oleh para kru lokal. Orang-orang Papua kalau tertawa tidak ada yang menandingi, satu kecamatan bisa mendengarnya. Jadi kami yang ada di tenda sebelahnya seringkali juga ikut ngakak mendengar cerita-cerita mereka. Koleksi “mob” setiap orang Papua kalau terus di roll, mungkin tidak akan habis selama satu minggu. Jadi bayangkan kami yang awalnya ikut tertawa geli, bisa sampai pada taraf terganggu kalau sampai tengah malam mereka belum juga menghentikan perang mob yang mereka lakukan. Masalahnya bukan kami tidak suka bergembira dan kegembiraan orang lain, esok pagi kami semua akan kembali berkegiatan sepanjang hari penuh! Stamina harus dijaga dengan baik. Di tenda sebelah setiap malam saya selalu sibuk dengan urusan transfer dan convert file dari kamera PMW 200 ke file MOV melalui sebuah program yang ada di Macbook, XDCAM Browser. Sembari converting, saya selalu menyempatkan memeriksa semaksimal mungkin peralatan yang kami gunakan sepanjang pagi hingga sore hari tadi baik itu peralatan memancing, kamera gopro, memeriksa perbekalan khusus tim (kopi, snack, dan lain-lain) dan lain sebagainya. Bang Joe Michael, Pak Ugi dan Kang KB sibuk dengan hal lainnya, seringkali diskusi tentang sesuatu hal yang kurang saya pahami karena adalah obrolan orang-orang dewasa. Hehehe! Eyang Mamiek Slamet selalu sibuk di dapur bersama kru dapur menyiapkan makan malam, kopi tambahan (kami penggila kopi semuanya), dan juga persiapan untuk sarapan subuh dan perbekalan keesokan harinya. Eyang Mamiek Slamet meski telah tua memiliki stamina dan kecepatan yang luar biasa. Saya salut untuk semangatnya yang luar biasa ini. Kami memang telah bertekad untuk selalu bangun menjelang subuh dan usai formalitas kopi hitam dan sarapan secukupnya kami kemudian akan meluncur kembali ke danau, begitu rencana kami mulai hari kedua eksplorasi di Rawa Camo. Begitulah tekad kami setelah hasil hari pertama yang kurang menggembirakan. Entah karena tadi kami datang terlalu siang, akibat lelah luar biasa yang mendera usai perjalanan panjang dari Merauke sebelumnya. Tetapi kami harus mencoba untuk menyesuaikan dengan alam semaksimal mungkin, jika diperlukan kami sudah berada di atas air ketika matahari belum terbit. Sehingga ketika ikan-ikan arwana yang menjadi target kami baru bangun dari tidurnya, sudah langsung berhadapan dengan umpan-umpan kami yang sexy itu. Malam hari di basecamp juga adalah peperangan besar antara seluruh anggota ekspedisi dengan ribuan nyamuk yang menyerbu basecamp kami dengan kekuatan penuh, sepanjang malaaaam! Tidak ada anti nyamuk yang mampu menandingi keperkasaan nyamuk rawa-rawa Papua ini, apapun itu merknya. Tetapi demi sugesti dan perlawanan yang pantas, kami terus dan terus mengoleskan lotion anti nyamuk demi menghibur diri. Di kejauhan beragam suara binatang rawa bersahutan menjadikan seluruh kawasan sebuah ‘lapangan’ orkestra maha luas. Beberapa dari suara-suara itu adalah suara ibu buaya yang memanggil anak-anaknya. Tetapi basecamp kami bukanlah tempat para penakut, perang mob terus berlangsung, kopi terus tersaji, dan nyamuk semakin banyak yang ikut berpesta ‘merayakan’ Ekspedisi Rawa Camo JPWF Trans|7 ini baru kereeeen! Huahahahaha!

Yang menarik dari orang-orang lapangan, dan ini juga yang membedakan dengan orang-orang kantoran, adalah dimanapun mereka berada di alam liar, selalu ada kegembiraan yang tidak dibuat-buat. Memang tipikal orang-orang lapangan terlihat dan terasa lebih keras, mungkin temperamental juga, lebih blak-blakan, ataupun mungkin kaku dan tidak terlalu ‘beradab’ yang menye-menye munafik itu. Jadi dilokasi yang sebenarnya adalah lokasi wild yang jika dinilai secara fair sebenarnya tidak nyaman, gimana mau nyaman tidur juga di atas tanah langsung hanya beralaskan terpal dan matras, semuanya tetap terasa istimewa seperti sedang di suatu tempat yang sudah sangat lama dirindukan. Para pemancing wild tahu apa maksudnya ini. Memang perlu pemahaman lokasi, dan juga strategi tertentu agar nyaman. Juga tetap tidak boleh meninggalkan kewaspadaan dan juga hal-hal lainnya. Sebagai contoh misalnya terkait perbekalan kami, meski terlihat berserakan misalnya, kami telah menyiapkan semacam para-para atau rak khusus dari kayu dengan ketinggian sekitar satu meter untuk menaruh semua perbekalan diatasnya. Mulai dari cabe merah, sayuran, beras, dan lain sebagainya kami taruh di atasnya agar aman dari semut dan binatang lainnya (tiang rak sudah kami beri olesan oli agar tidak diterobos semut). Begitu juga pengaturan tugas jaga, kru lokal juga tidak lupa tetap menjalankan tugasnya sesuai gilirannya. Waktu memang menjadi terasa begitu hectic dan mudah sekali berlalu, tetapi tidak dapat disangkal begitu banyak warna, begitu banyak cerita. Ada momen misalnya ketika sudah larut malam ada yang tidak tahan ke kamar mandi dadakan yang dibangun sekitar 10 meter dari basecamp, air dihidupkan dari mesin pompa, dan yang sudah tidak tahan pun berusaha melakukan bongkar muat, eh tidak lama kemudian tiba-tiba sudah lari kembali ke tenda karena takut digotong ribuan nyamuk yang menyerbu pantatnya dengan beringas. Jadilah suasana di alam liar persis di acara Srimulat yang lucu itu. Terkait perbekalan kami melakukan penambahan perbekalan dengan memanfaatkan kru lokal dan potensi yang ada di alam sekitar. Memang kami telah membawa sembako dalam jumlah luar biasa banyak dari Merauke, sebagai antisipasi juga menghadapi tingkat konsumsi orang-orang Papua yang memang berbeda ‘tangki’-nya dengan orang Jawa misalnya, tetapi khusus untuk daging kami dapatkan dari kru lokal yang menyempatkan berburu ke dalam hutan (ada tiga ekor b*** didapatkan hanya dengan sekali masuk hutan dan sudah lebih dari cukup untuk seminggu penuh berkegiatan). Ini masih ditambah dengan persediaan ikan nila yang didapatkan dari hasil menjaring. Setiap kali kami memancing, masyarakat selalu menebarkan jaring di titik tertentu untuk kemudian diperiksa sebelum kami pulang ke tenda, hasilnya selalu puluhan ikan nila (nile tilapia) monster setiap kali jaring diangkat. Nutrisi dari ikan pun melimpah tersedia di tenda selama kegiatan. Ikan yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1969 ini memang telah menyebar ke seluruh penjuru negeri dan menjadi sumber protein yang luar biasa penting dewasa ini. Yang kurang menarik adalah, dengan banyaknya ikan nila goreng ditemani sambal super pedas, persediaan pete saya menyusut secara drastis setiap harinya! Yang sangat saya inginkan sebenarnya adalah seekor buaya berukuran sedang untuk dijadikan obyek foto. Tetapi yang didapatkan oleh masyarakat hanyalah anakan buaya sebesar lengan. Tidak berbahaya tetapi bisa mengandung potensi bahaya luar biasa besar jika induknya berhasil mendeteksi keberadaannya di tenda kami (buaya kecil akan selalu memanggil induknya dengan suara yang khas ketika merasa terancam), karenanya kemudian segera kami lepaskan kembali agak jauh dari tenda. Kami tidak boleh bermain-main terlalu konyol dengan buaya meski itu berukuran mini. Lapangan tanaman bakung di tepian Rawa Camo adalah bukti nyata betapa ukuran buaya yang ada tidak main-main besarnya (kami sempat melihat bekas ‘lapangan’ buaya dengan ukuran diameter hingga sepuluh meter, tempat buaya berjemur), dan jumlahnya banyak sekali!

Berkegiatan di alam liar bukan untuk gagah-gagahan. Memang para pegiatnya terkesan tampak tangguh dan seperti kebal segala macam penderitaan. Hehe. Tetapi begini, berada di alam liar lebih tepatnya memerlukan mental baja dan juga fleksibilitas adaptasi yang cepat. Karena pada dasarnya, sekuat apapun itu manusianya, alam tetap akan lebih perkasa dari sisi apapun itu. Boleh kawan-kawan seorang olahragawan yang begitu kekar misalnya, yang membuat gadis-gadis menjerit dan terlena, tetapi digigit satu ekor nyamuk saja dan kemudian ternyata hal itu jarang dialami oleh tubuh kita yang begitu macho itu, bisa jadi kita akan menderita beberapa hari lamanya (bengkak dan lain sebagainya). Jadi untuk aman bermain di alam adalah, kenalilah baik-baik siapa diri kita. Jika tidak tahan makan yang pedas, jangan paksakan karena akan berakibat buruk sepanjang perjalanan. Kalau memang harus cepat-cepat tidur, jangan paksakan begadang mengikuti irama tenda yang meriah itu. Kalau memang harus selalu ngopi, siapkan kopi banyak-banyak. Dan lain sebagainya. Yang pasti kebutuhan primer tubuh dari segi asupan nutrisi, tidak boleh disepelekan baik itu porsi dan juga timing konsumsinya. Mungkin terkadang memang terasa tidak enak, terutama bagi yang telah terbiasa mengkonsumsi makanan yang penuh citarasa, tetapi ingat tubuh kita tidak membutuhkan estetika dan juga citarasa yang terkadang berlebihan itu. Yang diperlukan adalah “nutrisi” apapun itu rasanya ketika berada di mulut kita! Penggunaan pakaian yang tepat juga penting. Jeans harus dihindari karena membuat kita tidak leluasa bergerak, sudah begitu kalau basah sangat lama kering, dan juga sebenarnya bahan jeans kurang tepat untuk melawan hawa dingin. Jadi banyak sekali faktor yang harus kita perhatikan agar membuat diri kita nyaman dalam sebuah ekspedisi skala besar seperti yang kami lakukan saat itu. Bagi yang telah sering berpetualang hal itu memang sudah bukan hal yang baru, sehingga semuanya seperti sudah mengalir begitu saja. Kelambu untuk menahan gempuran nyamuk juga penting ketika berada di lokasi seperti Rawa Camo, terutama untuk mengamankan kita ketika tidur. Tetapi memang seringkali ada semacam anomali yang sulit dijelaskan melalui teori-teori. Seperti pernah saya tuliskan di bagian 1 catatan perjalanan ini, ada seorang bayi belum ada stu tahun usianya, anak salah satu kru lokal kami, yang juga menjadi anggota ekspedisi ini. Dan dia pun juga fine-fine saja hidupnya. Paling-paling malam hari sesekali menangis kalau haus minta susu! Padahal kami berada di Rawa Camo selama tujuh hari tujuh malam lamanya?! Dan bayi itu juga tetap baik-baik saja?! Tuhan yang menjaga makhluk mungil yang belum memiliki dosa itu! Jadi pesan paragraf ini mungkin adalah, mari kita kurangi dosa-dosa kita, agar Tuhan selalu menjaga kita karena memang kita pantas untuk dijaga? Mungkin begitu Om, Mba, dan Masbro?!

Hari-hari berikutnya di Rawa Camo adalah pengulangan yang begitu lagi, begitu lagi. Setiap pagi kami long march menuju danau, terjebak lagi di rawa hisap, uncal-uncal sampai sore, dan kemudian kembali ke basecamp sembari kembali terjebak di rawa hisap. Melelahkan. Akan tetapi bagi kami para kuli media dengan beban dokumentasi yang harus diselesaikan, hal ini berarti semakin berkurangnya PR yang masih harus dikerjakan. Karena setiap hari selalu ada penambahan material tayangan yang kami dapatkan. Untungnya bos saya Kang KB adalah benar-benar orang lapangan yang memahami betul bahwa fleksibilitas sebuah tayangan petualangan adalah hal penting jika ingin mendapatkan material yang lebih mendekati ke arah dokumenter. Jadi banyak sekali scene yang bisa digarap maupun di-create untuk memperkaya cerita. Saya belajar banyak hal dari ‘lulusan’ tragedi tenggelamnya kapal Jejak Petualang di perairan Asmat, Papua tahun 2006 ini. Dia adalah satu dari empat orang kru Jejak Petualang yang selamat setelah terombang ambing di laut yang mendidih karena badai dan kemudian nyangkut di sebuah gosong pasir di Laut Arafura selama empat hari lamanya! Kehidupan masyarakat Suku Yee adalah kehidupan yang begitu dekat sekaligus begitu tergantung dengan alam liar. Misalnya saja pemenuhan nutrisi sehari-hari. Tidak banyak budidaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Sagu, ikan, daging, semuanya didapatkan dari alam liar. Berbeda dengan di Pulau Jawa misalnya yang sudah bisa settle dengan banyaknya budidaya tanaman pangan, ikan konsumsi dan juga binatang ternak. Di satu sisi kenyataan di Suku Yee ini adalah pertanda bahwa alam masih begitu sehat dan mampu mendukung kebutuhan manusia, dan bahkan begitu melimpah. Di sisi lain ini juga memiliki potensi ‘menina-bobok’-an karena kita begitu dimanjakan oleh alam. Banyak material dokumenter dan juga pencerahan secara personal yang kami dapatkan selama berkegiatan di Rawa Camo bersama masyarakat ini. Meski tanpa kami sadari sepenuhnya, ternyata jumlah anggota rombongan ini setiap malam bertambah dengan datangnya masyarakat dari Desa Toray yang menyusul kami. Bayangkan mereka harus mendayung tujuh jam melalui hutan rawa demi menyusul kami. Katanya mumpung lagi ramai jadi mereka ikutan nimbrung. Di satu sisi ini membuat cadangan logistik menyusut dengan cepat karena semakin banyaknya perut yang harus diberi makan. Terkait ikan introduksi, yakni ikan nila (nile tilapia), juga menjadi perhatian ekspedisi ini. Betapa sebaran ikan asli Sungai Nil di Mesir ini di perairan tawar Indonesia begitu hebatnya. Saya sendiri pernah melihat populasi ikan nila di sungai pegunungan Sulawesi, Maluku dan kini di perbatasan RI – PNG. Yang menarik di Kabupaten Merauke, ukuran ikan-ikan nila ini kategorinya monster semuanya dan merupakan ikan nila liar (bukan budidaya). Mungkin karena perairan tawar di kawasan ini begitu berlimpah dengan makanan. Ikan nila berukuran dua telapak tangan orang dewasa bukanlah hal yang istimewa di sini. Jumlahnya jangan ditanya lagi, tidak akan muat semua perahu kami jika memang kita niat mencari ikan ini. Masalahnya tidak ada ‘pasar’ yang akan mampu menyerap potensi ini. Jadi eksploitasi yang dilakukan oleh masyarakat juga sangat terbatas, lebih pada untuk kebutuhan sehari-hari saja. Paling-paling kalau menjelang weekend masyarakat mencari agak banyak untuk kemudian dijajakan di tepi jalanan trans Papua, berharap dibeli oleh para pengendara yang sedang melintas menuju ke kota Merauke.

Ada ekskalasi emosi yang terkadang sulit dimanage dengan baik ketika raga begitu letih dan juga godaan kenyamanan meruntuhkan pertahanan semangat. Terutama dari para kru lokal kami yang memang meskipun memiliki fisik yang begitu kuat, tetap saja berkegiatan sepanjang hari penuh pasti menguras tenaga mereka melebihi dari apa yang mereka lakukan sehari-hari yang cenderung santai. Disinilah kemampuan memanage sebuah tim besar mendapatkan ujiannya. Suatu malam tiba-tiba seluruh kru lokal ‘mengepung’ kami di tenda utama dan mengajukan digelarnya rapat dadakan untuk membahas suatu persoalan yang sangat penting. Suasana begitu tidak kondusif karena semuany aberbicara dalam bahasa yang sulit kami mengerti. Tetapi intinya adalah bahwa mereka semua menginginkan agar ekspedisi ini dihentikan dan kami semua esok pagi pulang kembali ke Desa Toray? Lhaaaaa?! Saya yang sedari tadi begitu tenang converting file sembari menikmati kopi langsung terhenyak. Bahkan ekspedisi ini belum mendapatkan 50 % materi dari keseluruhan target yang direncanakan?! Alasan mereka ada dua, pertama karena menurut ukuran mereka, bahwa cadangan logistik yang ada tidak lagi mencukupi hingga akhir kami berada di Rawa Camo (padahal ya masih banyak sekali). Kedua adalah karena ada penyusutan air yang sangat drastis di seluruh penjuru rawa dan mereka takut kita semua akan terjebak di dalam hutan rawa ini hingga tiba saatnya musim air tinggi yang itu artinya beberapa bulan lagi, kecuali kita semua berani menembus hutan rawa ini dengan berjalan kaki menuju kampung mereka. Mengerikan memang alasan yang kedua tersebut. Semua merasa berhak mengeluarkan pendapat dan jadilah malam itu begitu panas dan menguji kesabaran dan kemampuan negosiasi. Saya sering ke Papua, memang tidak sesering senior-senior saya, tetapi sedikit banyak saya memahami kultur mereka. Jika dijelaskan dengan akal sehat, logika, apa yang mereka minta secara mendadak ini memang tidak masuk akal. Kami telah mengeluarkan dana sebanyak, senilai rumah kecil di Jawa, dan tiba-tiba mereka meminta kami menghentikan semua ini?! Gila apa?! Tidak bisa, jawab saya dan juga seluruh anggota inti ekspedisi. Kita harus terus berada di Rawa Camo hingga target kita tercapai, atau hingga kesepakatan kita dari segi waktu berakhir. Dan itu pada hari ketujuh ketika kita semua akan kembali ke kampung bersama-sama. Ingat, kata saya, kita terikat janji berada di Rawa Camo selama tujuh hari tujuh malam. Saya mengalah, jika memang alasannya logistik, padahal yang menghabiskan juga mereka dan tamu-tamu baru yang menyusul masuk ke Rawa Camo, kita akan tambah perbekalan asal ada yang mau pulang ke kampung membeli untuk perbekalan. Beberapa orang mengajukan diri dengan janji ‘mati’ jika tidak kembali lagi ke Rawa Camo, karena nyawa seluruh anggota ekspedisi artinya di tangan mereka (jika memang alasan mereka logistik yang menyusut drastis). Padahal logistik sebenarnya baik-baik saja. Tetapi melawan mereka kita tidak boleh sama-sama keras, karena pikiran mereka begitu sederhana (baca: pendek). Tentang penyusutan debit air rawa yang kami lalui beberapa hari lalu, yang katanya menyusut drastis, saya tanya info dari siapa? Bukankah kita sama-sama di sekitar danau Rawa Camo ini? Yang artinya sama-sama tidak tahu kondisi jalur keluar rawa ini saat ini. Rupanya warga yang menyusul kami berperan menjadi ‘provokator’ dengan mengabarkan kondisi perjalanan secara persepsinya sendiri. Saya balikin ke mereka semuanya, apakah hanya jalur kemarin itu satu-satunya akses keluar menuju desa? Bla bla bla bla. Intinya menurut mereka ada jalur tetapi harus melambung lebih jauh menuju rawa yang dilewati jalur trans Papua entah itu di titik mana. Oke kita nanti keluar kesana saja, kita menuju ke jalan, kita titip pesan ke mobil yang melintas, agar mendatangi pos tentara di Desa Toray, dan mengirimkan mobil menjemput kita semua. Mobil memang sangat-sangat langka di wilayah ini. Tetapi dalam sehari selalu saja ada yang melintas. Bla bla bla bla bla. Suasana menjadi gaduh lagi. Tetapi intinya kemudian saya bilang lagi ke mereka, saya dan seluruh kru inti ekspedisi dari Jakarta (tim JPWF Trans|7 maksudnya) akan tetap disini hingga hari ketujuh, sesuai kesepakatan kita sedari awal. Kami tidak takut berada disini, mau itu melambung ke jalur trans Papua, mau itu jalan kaki ke kampung, tetapi kalau abang dan bapak-bapak semua takut dengan menyusutnya debit jalur keluar dari rawa ini. Silahkan kalau mau pulang besok pagi. Mungkin saya terkesan nekad dengan menjadi keras. Tetapi sebenarnya karena kami selalu membawa hp satelit, ibaratnya kondisi begitu terpaksa, kami ditinggal di Rawa Camo ini misalnya, saya akan menelepon para tentara perbatasan di pos untuk menjemput kami dengan menyewa long boat warga lainnya. Jengkel memang. Uang adat sudah dibayar, tenaga harian sudah dibayar dimuka, makan ditanggung tanpa batas, rokok entah berapa slop, sirih pinang entah berapa ratus bungkus kecil, dan lain sebagainya. Belum juga pekerjaan selesai tetapi minta pulang?! Tidak tahu apa kalau kita ini bisa menanggung aib boncoz seumur hidup kalau sampai gagal di Rawa Camo ini?! Abang dan bapak semuanya tahu apa artinya boncoz? Tanya saya. Sulit saya menjelaskannya tetapi saya minta jangan mau menang sendiri, pikirkanlah juga kami yang sudah memenuhi semua kewajiban untuk bapak-bapak semuanya sebelum kita memasuki Rawa Camo ini. Malam itu saya menjadi sulit tidur, tetapi sebelum meeting bubar, saya sudah memberikan uang belanja sekitar 2 juta rupiah kepada salah satu kru lokal, dengan disaksikan seluruh kru lokal lainnya, daftar belanjaan dan lain sebagainya. Jadi kalau tidak kembali lagi ke hutan ini, baiknya siap-siap untuk terkena denda adat dari kru lokal lainnya!

Hari-hari berikutnya cuaca begitu tidak menentu di Rawa Camo. Terkadang hujan deras, petir, dan juga panas yang sangat menyengat. Jiwa dan raga kami terkuras, lelah! Bang Joe Michael menjadi jawara eksplorasi danau Rawa Camo dengan beberapa ekor ikan arwana good size yang dia dapatkan. Saya menempati urutan pertama juga, tetapi dari bawah. Hahaha! Keberuntungan saya sepertinya sangat sedang tidak baik di Rawa Camo ini, padahal ada beberapa sambaran, tetapi hasilnya selalu hanyalah tarian ikan arwana beberapa detik di udara. Yang artinya ikan berhasil melepaskan diri dari pancing yang menancap di mulutnya. Dan Eyang Mamiek Slamet lagi-lagi menjadi orang tua yang begitu emosional setiap kali saya diejek arwana-arwana yang meloloskan diri itu. Memang memancing ikan arwana tidak segampang bayangan banyak orang. Apalagi saya, seorang pemula di dunia arwana ini, yang sebelumnya terbiasa dengan karakter strike ikan-ikan predator yang memang sambarannya begitu kuat. Misalnya saja ikan black bass dan jenis lainnya. Sambaran ikan black bass misalnya, begitu keras dan bertenaga, mengagetkan kita memang, tetapi sisi baiknya adalah hook yang ada di umpan kita bisa dengan begitu mudahnya menancap di mulut ikan. Bahkan terkadang tanpa proses hooking tambahan sama sekali. Ikan arwana sangat berbeda, mungkin karena bentuk mulutnya yang menyerupai gunting dan menghadap ke atas, seperti mulut ikan belida tetapi ini lebih tegas lagi bentuknya. Pertanda sebagai ikan yang makannya begitu apik, juga pertanda bahwa makanannya paling dominan adalah sesuatu yang mengapung perlahan di permukaan air. Misalnya saja serangga dan lain sebagainya. Sambaran ikan arwana meskipun itu di permukaan air misalnya, tidak juga seperti misalnya ketika ikan tomman menghantam umpan kita, begitu tegas dan mengejutkan di permukaan air diiringi suara yang keras. Ikan arwana terkesan lembut dan hanya berupa kecipak kecil saja. Terkadang, bagi pemula seperti saya, kita tidak mengira jika ternyat aitu adalah ikan arwana, karena terlihat seperti ikan kecil yang tidak kita harapkan. Baru kemudian karena bagaimanapun kita harus bereaksi, tetapi karena mengira itu hanyalah ikan kecil bukan target, hooking kita pun suka reflek tidak sungguh-sungguh. Barulah kemudian tiba-tiba ada gerakan tiba-tiba yang mengejutkan karena ikan tiba-tiba terbang. Arwanaaaa! Kena marah lagi deh saya dari Eyang Mamiek Slamet! Tetapi intinya adalah, setelah beberapa hari berada di tempat ini, misi utama ekspedisi ini setidaknya telah tercapai. Memang tidak dengan hasil yang sangat wah! Karena ternyata kami tertatih-tatih juga sebenarnya mendapatkan semua ikan-ikan arwana itu. Meski lagi-lagi katanya karena ini sudah mendekati musim kawin ikan arwana, kata masyarakat. Khan abang tahu sendiri kalau orang atau binatang sedang pada musim kawin, tidak mau diganggu dan cenderung bersembunyi bukan?! Iya Ooooom, iyaaaaa?! Jawab saya.

Pada hari ketujuh, kami semua bangun pagi-pagi sekali, melakukan packing secepat mungkin dan kemudian meloading seluruh barang ke atas perahu. Ada tiga longboat besar yang akan menjadi kendaraan kami meninggalkan Rawa Camo, ditambah dengan beberapa longboat kecil sebagai antisipasi jikalau ada bagian yang begitu kering (ini jika informasi yang membuat debat panas beberap amalam lalu benar). Masih ada sedikit tanda tanya kenapa sebuah lokasi terisolasi seperti ini, dengan biaya semahal ini, hasilnya tidak seperti dalam mimpi-mimpi saya ketika masih berada di Jakarta? Jawabnya adalah perubahan. Bahwa dimanapun di perairan negeri ini perubahan itu sedang berlangsung, dan sialnya tidak menuju ke arah yang lebih baik, dan sebagian besar perubahan itu karena ulah manusia itu sendiri. Memang Rawa Camo adalah lokasi super terisolasi dengan eksploitasi yang hanya setahun sekali, tetapi telah berapa abad eksploitasi itu dilakukan terus menerus? Lha lalu memang regenerasi dan reproduksi ikan tidak terganggu? Memang tidak begitu frontal dan langsung efeknya, tetapi semua pasti ada efeknya. Ya salah satu bukti efek itu adalah hasil dari ekspedisi ini. Sebuah lokasi super terisolasi yang tbelum pernah dipancingi dengan teknik sportfishing, tetapi tidak menghasilkan lebih dari sepuluh ekor lebih ikan arwana good size dalam waktu tujuh hari?! Usai sarapan kami kemudian mulai bergerak menyusuri kembali arah kami datang beberapa hari sebelumnya. Saya sudah mempersiapkan mental dan juga strategi terbaik untuk membunuh rasa bosan dengan ponsel full baterai untuk mendengarkan musik, makanan ringan, dan lain sebagainya. Karena katanya seluruh rawa menyusut secara drastis bukan? Yang artinya perjalanan akan menjadi lebih berat dan lamaaaa? Tetapi yang terjadi adalah kami keluar hutan rawa lebih cepat dari sebelumnya, hanya lima jam saja! Lalu siapa kemarin bilang air rawa ini akan kering dan kita akan terjebak selama berbulan-bulan?! Tanya saya kepada masyarakat ketika seluruh rombongan telah tiba di pertigaan dengan sungai besar. Orangnya sudah pulang duluan tadi malam bang kata mereka. Jadi begitulah! Keep the faith! Let’s God do the rest! Sembari melaju menyusuri sungai besar, saya melihat kembali ratusan casting point di kiri kanan sungai, sembari membatin disinilah nanti saya akan membalik kebuntungan saya menjadi keberuntungan. Ekspedisi ini memang masih jauh dari kata selesai!(Bersambung)





































* Pictures captured at Rawa Camo, Distrik Sota, Merauke, Indonesia, August 2016. By Me & Faishal Umar. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers