Saturday, 15 April 2017


The greatest threat to our planet is belief that someone else will save it.(Robert Swan). Untuk Masbro Vic Liebert yang untuk pertama kalinya merasakan sensasi liputan the “real” wild fishing yang selalu melelahkan ini. Semoga traumanya sudah sembuh ya bro! Hehehe! Untuk masyarakat Desa Laban. Terutama Mas Heri van Houtten. Pak Muhammad Ulil Amri, Lurah Laban. Pak Wiwid Bekti Nugraha, teman yang selalu repot setiap kali saya dolan ke Kendal. Mas Nanang Husni Faruk (HIPMI)yang kini konon menahkodaiKNPI Kendal. Dan lain sebagainya. Semoga Kendal dan Laban terus membangun dengan tetap menjaga tradisi-tradisi ‘hijau’-nya! Matur suwun!

Sebenarnya saya mendapatkan informasi tentang adanya cara tangkap ikan sangat ramah lingkungan di pesisir utara Pulau Jawa ini bertahun lalu, mungkin sekitar tahun 2012-an, ketika saat itu masih hilir mudik Pantura menemui ibu-ibu penuh semangat yang menekuni usaha kuliner khas skala kecil. Tetapi karena memang pada masa itu tidak mungkin membuat sesuatu tayangan terkait perburuan yang bernama gebyuk ini, informasi tersebut terpaksa diendapkan beberapa tahun lamanya menunggu saat yang tepatuntuk ditampilkan kepada khalayak yang lebih luas. Kenapa harus ditampilkan kepada khalayak yang lebih luas? Begini gambarannya. Saya sendiri sebagai pemancing yang telah hilir mudik Pantura untuk casting misalnya di beberapa karang dangkal antara Tegal hingga Korowelang (Kendal) misalnya merasa kaget bahwa ternyata di sebuah desa di Kendal masih memiliki kearifan lokal perburuan ikan yang dilakukan secara massal seperti ini. Apalagi bagi masyarakat lainnya yang sama sekali ‘jauh’ dari urusan ikan? Artinya kegiatan yang bahkan telah menjadi tradisi sekaligus identitas kelokalan Desa Laban di Kendal ini memiliki news value yang tinggi. Dari sisi lainnya, jelas kearifan lokal seperti ini bagi saya memang harus dipublikasi seluas mungkin. Karena dalam sebuah kegiatan kearifan lokal, banyak terkandung komitmen pemanfaatan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable), keteladanan sekaligus inspirasi positif yang layak untuk diteladani oleh masyarakat lainnya.

Saya meyakini dahulu banyak sekali kearifan lokal dalam perburuan  perairan yang dilakukan oleh masyarakat Pantura. Karena di kawasan pesisir utara Jawa ini banyak sekali sungai-sungai besar (besar untuk skala Jawa maksud saya). Jadi sangat mungkin baik di perairan tawarnya, payau hingga pesisirnya banyak sekali cara tangkap yang ramah lingkungan. Duluuuuuu tapi. Beberapa sebenarnya masih terlihat ‘sisa-sisanya’. Misalnya kita masih bisa menjumpai orang yang nyeser cari benih bandeng (nener) di pantai-pantai, gogoh (tangkap ikan tangan kosong), hancau (ini bahasa Kalimantan sebenarnya, semacam jaring yang dinaik turunkan dari tepian sungai), menebarkan jala, dan lain-lain. Tetapi semua cara tangkap tradisional itu, termasuk gebyuk ada di Desa Laban ibarat kesunyian yang semakin tersudut di tengah arus maha kuat cara tangkap dengan menggunakan peralatan modern dengan target volume tangkap sebanyak-banyaknya. Terlalu banyak teknik dan peralatan yang harus disebutkan untuk kategori ini. Hasilnya jelas terlihat setiap subuh di tempat pendaratan ikan di seluruh Pantura! Segala jenis dan ukuran ikan dapat kita temukan disana setiap pagi yang sering disebut dalam bahasa kerennya demi untuk memenuhi permintaan pasar, tetapi sebenarnya adalah untuk memenuhi mulut dan perut manusia yang semakin banyak saja jumlahnya. Tidak ada yang salah dengan memenuhi kebutuhan manusia dengan memetik hasil laut ini, apalagi dilakukan dengan cara-cara yang tidak merusak, tetapi tetap saja saya gelisah, karena manusia tidak pernah cukup. Satu kampung telah terpenuhi kebutuhan nutrisi dari ikannya, maka pencari ikan akan meningkatkan targetnya untuk dijual ke kampung lainnya, begitu seterusnya hingga akhirnya kalau bisa diekspor ke Negara lain. Meskipun harganya sangat murah yang penting keren karena bisa ekspor! Negara-negara lain di dunia menjaga populasi ikan lautnya dengan memanfaatkan secukupnya, that’s why harga ikan apalagi yang segar di luar negeri sangat mahal, karena dengan menjaga tingkat harga yang mahal inilah, eksploitasi bisa di-rem dengan cara yang sangat halus. Ekosistem terjaga tetapi di sisi lain perekonomian semua pihak baik nelayan dan lainnya terangkat secara maksimal.Tidak perlu mengekspor ikan ke negara lain karena dengan tingkat harga domestik yang mahal hasil laut telah mampu mencukupi kebutuhan negara dan masyarakatnya. Itung-itungane wes masuk lah istilah e!

Kita kembali ke Desa Laban yang masyarakatnya tidak perlu harus memikirkan mencari ikan agar bisa melakukan ekspor. Laban sendiri sepenglihatan saya lebih bercorak agraris dibandingkan bahari. Tidak ada pelabuhan nelayan di desa ini, hanya ada beberapa perahu kecil yang itupun mencari ikan di dekat muara. Saya merasakan sendiri tidak mudah mencari perahu untuk kebutuhan dokumentasi menyusuri sungai di daerah ini. Kanan kiri sungai adalah ladang jagung maha luas yang begitu subur saking banyaknya lumpur dari pegunungan yang mengendap di kawasan ini berabad-abad lamanya. Jadi kalau kita ke Laban, terus kemudian suasana kampong terasa sepi, artinya masyarakat ada di ladang dan bukannya pergi melaut layaknya desa-desa Pantura lainnya. Semoga saya tidak salah ‘menerjemahkan’ tentang hal ini. Beberapa malam sebelumnya diskusi telah terjalin antara saya dengan beberapa pemuda Desa Laban yang siap membantu menggerakkan masyarakat untuk melakukan gebyuk ini. Permintaan saya tidak muluk-muluk pada awalnya, karena saya paham saya dan juga program tidak mampu memberi sesuatu yang sangat berarti untuk masyarakat selain sebuah tayangan di televisi. Memang ada kompensasi dari program (Jejak Petualang Wild Fishing Trans|7) tetapi nilainya tidak seberapa dibandingkan efforts yang akan dilakukan masyarakat melakukan gebyuk. Gebyuk bukanlah kegiatan yang ringan bahkan bagi orang dewasa sekalipun, karena orang akan berendam di sungai hingga 4-5 jam lamanya sembari terus berjalan dan berenang menuju ke muara. Itulah sebabnya sejak semula saya hanya meminta kepada para pemuda (Mas Heri cs) untuk menyiapkan beberapa orang gebyuk saja.Sangat menyenangkan mempersiapkan sesuatu bersama para pemuda yang penuh semangat seperti mereka.Saya yakin figur-figur pemuda seperti ini akan menjadi figur penting dan bermanfaat untuk daerah dan masyarakatnya. Amin!

Jalanan menuju Desa Laban adalah jalan beton yang tidak seberapa luas. Sangat mungkin beton digunakan untuk konstruksi jalan karena struktur tanah yang labil. Ketika berpapasan dengan mobil ataupun motor kita harus ekstra konsentrasi karena jika tergelincir repot sekali urusannya (rata-rata ada selokan ataupun tanah lunak yang mengapit jalan ini). Beberapa ruas jalan adalah aspal, utamanya yang berada di atas tanah keras. Ketika ladang-ladang berada di sekitar Sungai Sibulan di ‘belakang’ Desa Laban, areal persawahan menghampar di kiri kanan jalan di bagian ‘halaman’ desa ini. Banyak masyarakat menjemur sesuatu di jalanan beton ini mulai dari padi dan terutama jagung. Dan dengan semangat kami pun melindas jagung-jagung itu karena memang dipersilahkan. Hehehe! Penjemuran jagung memang memerlukan lahan yang luas, dan di Laban sepertinya semua lahan adalah areal persawahan dan juga ladang. Sehingga proses pengeringan hasil panen selalu dilakukan di halaman dan atau di jalanan beton tersebut. Kesan awal memasuki Desa Laban saya merasakan atmosfer yang berbeda dengan kultur masyarakat Pantura lainnya. Laban lebih “dingin”! Ketika mobil kami akhirnya tiba di ‘parkiran’ di ujung jalan Desa Laban, sebenarnya adalah sebuah warung tepi Sungai Sibulan dengan dua pohon murbei besar di halamannya. Pertanyaan pertama adalah dimana masyarakat yang telah berjanji untuk turun gebyuk hari ini? Karena waktu telah sesuai dengan kesepakatan kami kemarin malam dengan para pemuda. Hanya para pemuda yang kemarin diskusi dengan kami di kota yang telah merapat dan menawarkan kami kopi. Ada gelisah akankah saya dan tim ‘kehilangan’ kegiatan hari ini karena masyarakat sibuk di ladang semuanya?! Tenang sajabang sebentar lagi mereka akan berkumpul, jawab Mas Heri.

Segelas kopi saya belum habis, ketika satu dua tiga empat dan hingga akhirnya berpuluh masyarakat akhirnya berkumpul bersama di bawah pohon murbei itu dengan segala canda dan keriuhannya. Begitu juga dengan bapak-bapak polisi dari Polsek Kangkung, Kendal. Saya masih merinding hingga hari ini saat menulis catatan ini berbulan kemudian, fenomena yang saya lihat di Desa Laban hari itu menurut saya begitu luar biasa. Ini Pantura! Kawasan pesisir dimana modernisasi telah mulai ‘menerkam’ kearifan lokal masyarakatnya. Ketika laju roda pembangunan telah membuat rapuh tradisi dan menyisakan debu dari padatnya lalu lintas jalanannya?! Tahun 2016! Tetapi masih ada semangat melakukan perburuan ikan dengan kearifan lokal yang diikuti oleh begini banyak orang?! Demi apa?! Demi apa?! Sontak ada gelisah dalam hati karena bagaimana saya bisa menangani demand orang sebanyak ini terkait kompensasinya. Tetapi para pemuda meyakinkan saya, semua akan baik-baik saja, seadanya saja Mas. Kami selalu begini, demi melestarikan tradisi warisan nenek moyang kami, demi kami dan generasi penerus kami sendiri. Saya sangat menikmati momen bersama masyarakat di bawah pohon murbei itu. Rupanya ketika mobil kami memasuki desa tadi adalah tanda yang dianggap ‘final’ bahwa gebyuk akan segera dimulai. Tak salah jika tadi kami beberap akali menyalakan klakson, padahal sebenarnya untuk permisi, tetapi bagi masyarakat itulah dijadikan tanda bahwa ‘tamu’-ne sudah datang. Hehehehe!

Rasanya ingin segera kembali melewatkan momengebyuk bersama-sama lagi. Sangat menyenangkan melihat mereka semua bercanda, sembari duduk di atas alat tangkap masing-masing (yang disebut susuk) Ada yang sambil ngopi, ada yang sembari memeriksa sekali lagi alat tangkapnya. Semua setara. Semuanya sama! Berkumpul semata demi agar bisa melakukan gebyuk bersama!Gebyuk memang tradisi yang sudah mendarah daging begitu kuatnya sebagai sarana memperkuat ikatan sosial dan kerukunan masyarakat di Desa Laban. Usai berdoa bersama di sebuah ujung jalan setapak di tepian Sibulan, seluruh rombongan kemudian terjun ke air, menjalani tradisi perburuan kuno paling ‘sakral’ dan paling meriah di Desa Laban, gebyuk! Sakral bukan karena sarat nuansa magis, tetapi memang sesuatu yang terus dijaga dan tidak dirubah dari dahulunya. Tak heran gebyuk ini sekarang menjadi salah satu atraksi wisata lokal andalan Kendal terkait kearifan lokal masyarakat. Di momen tertentu akan dilombakan untuk memeriahkan perayaan-perayaan penting di Kendal. Yang menarik, dari begitu banyak pesisir di Kendal dengan muara sungainya, hanya Desa Laban yang memiliki tradisi gebyuk. Ada sesuatu yang sulit saya deskripsikan untuk menjelaskan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan kegiatan gebyuk. Ketika turun tadi di dekat jembatan, rombongan kami mungkin jumlahnya sekitar 25-an orang. Ditambah kru kami ada sekitar 35-an orang. Sekitar 10-an orang saja yang tidak turun ke air karena sibuk melakukan kerja dokumentasi, termasuk saya. Walau pada akhirnya setelah tiga jam kami pun ikut turun dan njeblos juga di lumpur Sungai Sibulan yang aduhai mesra memeluk kaki-kaki kami itu dengan bau lumpurnya yang sangat harum itu.Tetapi ketika rombongan telah berendam dan terus bergerak menuju ke muara, selalu ada tambahan orang yang nyusul di tengah jalan setapak di tepian sungai. Jadi ternyata, setiap ada gebyuk siapapun yang longgar pasti akan ikut terjun. Tidak perlu diajak apalagi diperintah (ini malah tidak ada). Cukup ada informasi awal, besok gebyuk! Jadi gebyuk benar-benar sebuah peneguhan ikatan social yang luar biasa. Jadi semacam kalau tidak ikut gebyuk, seperti terkesan menjauhi kelompok masyarakatnya. Saya sempat bertanya, jadi kalau saya lagi iseng nih misalnya, tidak ada pekerjaan di rumah, kemudian saya tiba-tiba gebyuk sendirian di sungai, ada juga yang akan menyusul kah? Pastiiii! Ada ketidakrelaan dari seluruh anggota masyarakat kalau ada yang gebyuk terus dibiarkan sendirian. Ini menarik! Memang jika ditelisik sebenarnya sebisa mungkin gebyuk selalu dilakukan beramai-ramai karena tingkat resikonya cukup tinggi. Jadi kalau ada yang gebyuk, dan apalagi sendirian, pasti akan langsung ditemani oleh orang lain yang longgar. Penemuan saya lainnya kenapa pasti selalu beramai-ramai adalah, kapan lagi coba berendam bersama, bermain bersama para sahabat di desa sejak jaman bayi?! Nilainya melebihi apapun?! Jadi bagi para orang dewasa di Laban adalah ada nuansa klangenan yang kuat juga terkait gebyuk ini.

Beberapa resiko berbahaya ketika kita melakukan gebyuk adalah kram perut, kram kaki, terkena racun ikan berbahaya, menginjak duri, terjerembab lumpur, tenggelam karena kekelahan, dan atau terseret arus sungai. Ada beberapa kasus kecelakaan ketika orang melakukan gebyuk, tetapi jumlahnya tidak seberapa dan itupun terjadi karena ada semacam sifat memaksa dari pelaku tersebut terkait cuaca dan kesehatan fisik pelakunya. Bagaimanapun perburuan ini dilakukan dengan melihat tanda-tanda alam baik itu kondisi awan di pegunungan, deras atau tidaknya arus surut, dan lain sebagainya termasuk hitung-hitungan Jawa lainnya. Yang paling berbahaya adalah kram perut karena kelelahan ketika berenang (dan juga berjalan sepanjang aliran Sungai Sibulan) itu. Kedua adalah terjebak/terhisap lumpur. Dan ketiga adalah terkena racun dari ikan target seperti ikan smbilang yang racunnya bisa mematikan separo badan itu. Terkait kram perut, dikarenakan jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni 5 kilo meteran. Jadi gebyuk benar-benar aktifitas yang menguras banyak sekali tenaga. Semua orang yang akan turun gebyuk harus benar-benar memeriksa kesehatan fisiknya. Orang yang malam sebelumnya banyak begadang tidak akan berani turun gebyuk. Kalau resiko-resiko lainnya relative sulit diantisipasi karena struktur dasar lumpur sungai terus berubah. Begitu juga resiko dari ikan target semisal ikan sembilang dan atau ikan pari. Hal-hal seperti ini sulit terantisipasi. Itulah kenapa selalu dilakukan beramai-ramai sehingga tingkat safety-nya semakin tinggi. Selain menjadi lebih seru tentunya!

Masalah keselamatan sebenarnya telah dipikirkan oleh pencipta teknik gebyuk ini sejak semula. Yakni dengan digunakannya alat bantu bernama susuk yang saya sebutkan sekilas di awal. Alat ini dibuat dari bilah-bilah bambu tertentu yang kuat, dan terkadang dari rotan. Dan pegangan susuk adalah kayukeras yang dihaluskan sehingga kalau terendam air malah menjadi semakin halus dan kuat. Begitu juga dengan bilah bambu dan rotannya. Bentuk susuk ini seperti wadah nasi tetapi tinggi dengan lubang di kedua ujungnya. Sulit mencari padanan bentuk dari susuk ini. Saya pernah melihat alat serupa susuk ini di daerah Nagara, Kalimantan Selatan. Bentuknya sama persis dan juag digunakan untuk perburuan ikan di perairan yang berlumpur (rawa-rawa). Kenapa menggunakan alat bantu seperti ini? Yakni untuk menghindari tangan kita terkena patil ataupun sirip ikan jenis tertentu yang selain tajam juga mengandung racun. Alat ini akan digunakan sembari berjalan dengan terus menerus ditancapkan ke dasar sungainya perlahan. Terus dan terus. Setiap kali terasa ada gerakan yang terasa menabrak susuk maka kita harus langsung menancapkan susuk ke dasar sungai sehingga ikan menjadi terkurung. Yang paling menyita tenaga adalah ketika kita harus mengambil ikannya dari dalam susuk. Karena harus kita lakukan sembari menyelam dan meraba-raba ke dalam susuk. Sangat beresiko karena kita tidak pernah tahu sebenarnya apakah yang menabrak susuk kita. Kita hanya menduga-duga saja. Mungkin disinilah tantangan terbesar teknik gebyuk itu. Bahwa untuk menguak tanya ketika terasa da hantaman yang mengenai susuk kita, kita harus menyelam dengan segala resikonya untuk mengambil apa yang terjebak di dalamnya.

Resiko berikutnya yang tidak boleh dianggap enteng adalah masalah perbedaan suhu badan antara kepala dan bagian leher ke bawah. Tentang ‘burung’ jangan ditanya karena akan mengkeret sejadi-jadinya. Tetapi perbedaan suhu kepala dan badan inilah yang juag beresiko. That’s why ketika melakukan gebyuk masyarakat selalu membawa persediaan air minum yang cukup banyak. Resiko dehidrasi dan overheat di bagian kepala bisa menjadi petaka jika kita tidak berhati-hati.  Penggunaan celana dan baju yang sifatnya quick dry lebih baik dibandingkan menggunakan pakaian berbahan cotton. Ketika sampai di muara lima jam kemudian, angina laut biasanya akan selalu kencang berhembus kea rah daratan. Karena waktu finish kegiatan ini biasanya telah dihitung sedemikian bertepatan dengan waktu air pasang (masuk ke sungai). Nah dalam kondisi angina kencang inilah jika pakaian kita quick dry, akan mudah sekali kering, badan juga menjadi tidak drop. Berbeda jika misalnya kita menggunakan baju cotton, dan apalagi jeans. Bukannya mengering ketika ditiup angin laut malah kaki dan badan kita goyang dombret saking dinginnya! Saya melihat masalah hasil gebyuk bukanlah sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat. Dari 45-an orang waktu itu yang ikut gebyuk, paling hanya 10an orang sajayang mendapatkan hasil berupa ikan docang, ikan sembilang, udang, dan bahkan ada juga ikan nila dan belanak. Ada satu ekor ikan docang yang relatif besar waktu itu dan ini juga pencerahan baru bagi saya karena tidak mengira masih ada ikan docang sebesar itu di Pantura.

Sayangnya waktu itu cuaca di tepian laut berubah drastis dengan datangnya angin kencang dan juga hujan yang entah dari mana asalnya. Masyarakat tidak berapa lama langsung bubar ‘kabur’ pulang ke Desa Laban melalui jalur jalan setapak di sepanjang tepian Sungai Sibulan. Saya dan tim menggunakan perahu meski akhirnya harus rela berbasah-basahan. Sesampai di warung dekat jembatan, cuaca kembali panas menyengat, dan kami meringis semua sembari menikmati kopi yang telah disiapkan oleh penjaga warung. Saya memang telah berpesan tadi pagi, siapapun peserta gebyuk yang merapat langsung siapkan the atau kopi hangat dan gorengan. Setidaknya perut terisi sesuatu karena usai berdingin-dingin ria berjam-jam lamanya. Yang tidak saya sarankan ke semuanya adalah merokok karena resiko terkena paru-paru basah sangat tinggi. Sembari mengeringkan pakaian di warung kopi rasanya masih seperti mimpi. Karena kearifan-kearifan lokal perburuan yang ‘megah’ selama ini yang saya tahu adanya di luar Pulau Jawa. Di Kalimantan terutama, Sulawesi dan Papua. Tetapi ini di Pantura! Tahun 2016! Saya mendokumentasikan gebyuk ini bulan Oktober tahun 2016. Saya salut dengan masyarakat Desa Laban yang begitu teguh menjaga tradisi dan kearifan lokalnya ini. Semoga tradisi gebyuk ini terus ada sampai kapanpun. Sesuatu dengan komitmen keberlanjutan yang tinggi terhadap keberlangsungan sebuah ekosistem perairan berikut manfaatnya untuk manusia seperti gebyuk ini harus terus dijaga. Harus terus diwariskan! Semoga seluruh masyarakat Desa Laban tidak lelah melakukannya kepada generasi penerus mereka sembari menginspirasi masyarakat lainnya di negeri ini. Salam wild fishing! Salam Wild Water Indonesia!






























* Pictures captured at Desa Laban, Kendal, Central Java, October 2016. Behind the scenes Jejak Petualang Wild Fishing Trans|7. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with our pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers