Monday, 19 June 2017


All the waters are connected, and we wish to paint the world of sport fishing with new colors of sustainability and hope for the next generations. - Team Batanta, 2017.

Seperti yang para sahabat ketahui, akhir-akhir ini saya kembali mencoba menjalankan 'sekoci' kecil saya yang bernama Batanta. Inisiatif kecil untuk meramaikan dunia mancing di negeri ini dengan menghadirkan lure handmade untuk teknik popping. Teknik sportfishing yang menyasar ikan-ikan predator demersal maupun permukaan dengan piranti heavy duty casting atau yang seringkali disebut dengan istilah popping. Mohon doa restunya. Semoga dapat diterima kembali seperti dahulu kala sekitar tiga tahun lalu, masa yang terbilang cukup benderang untuk usaha kecil terkait sportfishing ini.


Sebuah foto lama kemudian memandu saya untuk menghubungi seorang kawan lama yang pernah begitu sering mancing popping bersama bertahun lalu ke berbagai penjuru lautan di negeri ini. Cepy Yanwar, salah satu host/presenter program mancing paling kesohor di Indonesia, Mancing Mania Trans|7. Iseng kemudian saya bertanya, apakah masih sering mancing popping sekarang? Rencananya saya akan kembali menitipkan beberapa lure Batanta agar dia gunakan lagi seperti bertahun lalu. Sayangnya jawabannya adalah, tidak lagi. Karena spot mancing popping semakin sulit ditemukan dan spot-spot mancing popping yang dulu begitu kesohor juga telah begitu ‘hancur’. Baik itu spot mancing popping sekitar Sumatra, Jawa, Kepulauan Nusa Tenggara, hingga Papua. Hal yang sama, yakni semakin sulitnya mencari ataupun menemukan spot mancing popping di negeri ini juga saya rasakan. Berbagai perairan laut dangkal dengan potensi spot popping yang luar biasa dalam kurun waktu sekitar lima tahun terakhir ini terus merosot menjadi perairan kosong! Rasanya tidak perlu saya sebutkan secara gamblang nama-nama spot tersebut. Tetapi saya yakin para pemancing popping di negeri ini cukup paham dengan merosotnya beberapa sportfishing ground yang ada di negeri ini.


Penyebab merosotnya potensi perairan laut dangkal yang pernah begitu potensial sebagai arena sportfishing ini bermacam-macam. Kurang lebih sama sebenarnya dengan semua perairan di negeri ini. Penyebab utama adalah karena berlangsungnya cara tangkap ikan yang merusak (destructive fishing) yang terus berlangsung dari tahun ke tahun. Penangkapan ikan secara destruktif ini kalau di laut antara lain penggunaan bom ikan yang secara massif menghancurkan terumbu karang dan sebagian lagi adalah penggunaan jaring ikan yang tidak memiliki keberpihakan terhadap spesies ikan yang ada di sebuah kawasan, saking kemampuannya ‘menggaruk’ semua yang ada. Dari ikan besar sampai ikan-ikan yang baru lahir. Penyebab keduanya adalah kegiatan mencari ikan yang sebenarnya legal dilakukan, seperti memancing dan juga menjaring dengan peralatan yang cukup ramah lingkungan, tetapi karena ketiadaan konsern sustainability, kemudian terjadilah over fishing di lokasi tersebut. Ujung-ujungnya sama, ikan-ikan apalagi yang berukuran besar menjadi semakin sulit didapatkan baik itu oleh pemancing sport maupun oleh para nelayan. Perairan yang rusak, alih-alih mendukung kehidupan nelayan yang memang tergantung padanya, tetapi semakin tidak mampu mendukung keberlangsungan hobi memancing seperti dahulu kala.

Batanta kembali hadir setelah sekian lama memutuskan menepi dari hiruk-pikuk dunia sportfishing di Indonesia, dalam kondisi yang sebenarnya tidak sedang kondusif ini. Jumlah pemancing popping merosot luar biasa banyaknya begitu juga dengan spot-spot mancing popping yang masih potensial di negeri ini. Karenanya kemudian Batanta tidak sekedar memutuskan kembali hadir, melainkan hadir dengan misi ataupun konsern tertentu. Selain kembali menawarkan lure handmade yang pada masa lalu cukup dikenal publik, Batanta juga kembali terjun di dunia sportfsihing Indonesia dengan membawa misi lingkungan. Sebisa mungkin, Batanta akan mengkampanyekan kegiatan memancing yang ramah lingkungan dan juga ikut menyebarkan pesan kegelisahan kondisi perairan yang ada di negeri ini. Pesan kegelisahan yang saat ini juga diusung oleh para sahabat Wild Water Indonesia di seluruh penjuru negeri ini yakni ‘melawan’ kegiatan illegal fishing dan destructive fishing method. Jadi Batanta tidak sekedar hadir, tetapi bangkit sembari membawa misi khusus. Misi lingkungan yang sangat berat demi masa depan perairan Indonesia yang lebih baik! Salam Lestari!






* Pictures captured by various person Pulau Sumbawa, West Nusa Tenggara and Pulau Sumba, East Nusa Tenggara. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my/our permission. Don't make money with my/our pictures without respect!!!
* Logo dan deskripsi tentang Batanta dilindungi oleh undang-undang. Copyright to Michael Risdianto.





0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers