Sunday, 25 June 2017


Dalam sanubari semua sahabat Wild Water Indonesia (WWI) saya percaya ada niat, tekad, semangat, kegelisahan untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi keberlanjutan potensi perairan di negeri ini. Terutama keberlanjutan ekosistem dan spesies perairannya agar dapat diwariskan kepada generasi penerus dalam keadaan layak. Itulah sebabnya kemudian muncul istilah "FISH WARRIOR". Diskusi awal tentang "FISH WARRIOR" ini berlangsung hampir setahun lalu antara saya bersama Bang Julak Iswan,  Bang Derry Setiawan dan Mas Anang Tirta semuanya dari para sahabat WWI Kaltim. Kami juga meyakini setiap sahabat WWI juga mencintai tanah air Indonesia ini. Bukan hanya keindahannya dan kekayaannya tetapi juga menyadari tantangan untuk ikut menjaganya sebaik dan sebisa mungkin. Munculah kemudian semacam keinginan merumuskan tekad mulia ini dalam "MAHAGA PETAK DANUM". Bahasa Dayak Ngaju yang artinya "MENJAGA TANAH AIR".

Seorang renta di foto ini bernama Pak Ipin. Warga Desa Panjehang, Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Usianya saya tidak ingat dengan pasti tetapi sekitar 70an tahun. Usia senja yang cukup berbahagia menurut saya. Hidup cukup tenang di sebuah desa di tepian sungai dengan semua keturunannya telah hidup mapan dan tenang di kota Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah, sekitar 2,5 jam perjalanan perahu dan mobil dari Desa Panjehang. Seorang renta yang sederhana tetapi penuh semangat. Sesekali kalau beliau bosan di Sungai Rungan maka akan melakukan perjalanan menengok anak cucu ke Palangkaraya. Dan atau kalau bosan jalan-jalan di sekitar desa saja maka akan menggunakan ces (perahu kecil) miliknya untuk menyusuri Sungai Rungan sekedar melepaskan rindu pada masa yang tidak akan pernah kembali. Tentunya dengan disertai kerabat lainnya. Seringnya adalah ingin meluangkan waktu sembari mencari ikan dengan memancing, tetapi menurutnya telah banyak yang berubah di Sungai Rungan. Salah satu sungai besar di Kalimantan Tengah ini telah berubah luar biasa baik secara ekosistem dan populasi ikannya saking banyaknya penambangan emas yang dilakukan secara besar-besaran hingga hari ini. Setiap hari puluhan berpuluh mesin penyedot pasir berskala menengah meraung-raung di sepanjang aliran Sungai Rungan. Hamper dua belas jam lamanya dalam setiap harinya. Tidak hanya merubah struktur dasar dan tepian sungai secara masif, tetapi juga merubah warna air sungai menjadi keruh abadi serta penuh polutan yang kurang bersahabat bagi organisme air. Jangankan jika ingin memancing dengan piranti dan teknik yang saya gunakan (sport fishing maksudnya), ucapnya pelan sembari memegang umpan kodok-kodokan yang saya bawa, dengan teknik tradisional saja juga sudah sangat sulit.

Perkenalan saya dengan Pak Ipin lagi-lagi terjadi karena urusan mancing. Saya sedang mencari seseorang dari masyarakat Sungai Rungan yang masih memiliki kemampuan dan pemahaman terkait sebuah teknik kuno yang disebut dengan naman upih. Saya pernah menulisnya di blog ini, sebuah teknik mancing khas Dayak Ngaju yang sebenarnya adalah artificial fishing tetapi memiliki singgungan dengan dimensi supranatural. Teknik mancing tradisional yang hampir punah karena sangat minim regenerasi. Bukan salah Pak Ipin jika tidak ada regenerasi ini sebenarnya. Tetapi salah generasi mudanya yang terbuai dengan ragam teknik baru dan modern dan sebagian juga malah destruktif (yang sering bermain di Sungai Rungan tahu apa yang saya maksudkan). Tidak mudah untuk mendapatkan figure seperti Pak Ipin ini, jadi seorang renta ini menurut saya masuk dalam kategori istimewa. Kenapa demikian, di masa lalu teknik upih sebenarnya adalah teknik yang sangat popular di Kalimantan Tengah, anggap saja sekitar 30an tahun lalu. Dan banyak diaplikasikan oleh masyarakat untuk mencari ikan-ikan pemangsa di aliran sungai besar. Namun kemudian teknik ini ‘surut’ karena kini aktifitas mencari ikan tidak dapat lagi dijadikan sandaran pemenuhan kebutuhan pangan dan juga ekonomi (baca: pendapatan) seiring berubahnya ekosistem perairan yang ada. Maksudnya adalah, masyarakat kemudian enggan mencari ikan apalagi dengan teknik yang termasuk rumit, sementara di sisi hasil semakin sulit diukur.

Saya tidak akan menuliskan kembali tentang teknik upih karena pernah saya bahas di sini, kalau saya tidak salah mengingat ya. Intinya begini, dalam pemikiran saya sangat sayang jikalau sampai teknik-teknik mancing tradisional yang penuh kearifan lokal kemudian benar-benar punah karena semua orang abai. Saya memahami alasan semakin langkanya orang menggunakan teknik tersebut. Saya tidak bisa terlalu jauh masuk ke dalam ranah ini karena bagaimanapun semua orang memiliki kebebasan untuk memilih apa yang paling tepat untuk diterapkan sesuai dengan keterbaruan geografis yang ada. Meski jujur saja kemudian yang sangat disayangkan adalah ternyata godaan penggunaan destructive fishing method lebih kuat dibandingkan dengan teknik baru lainnya. Jadilah kemudian pada bulan Februari 2016 saya bersama Pak Ipin dan beberapa masyarakat Sungai Rungan lainnya melaju ke sebuah anak sungai yang masih dianggap cukup potensial terkait populasi ikannya. Pada hari itulah kemudian saya untuk pertama kalinya melihat teknik mancing upih yang menurut saya begitu gagah dan juga penuh dengan kearifan lokal tersebut. Teknik mancing yang bisa jadi sebagian besar masyarakat Sungai Rungan dan apalagi generasi mudanya tidak lagi dikenal dan dipahami.



Sejak pagi hari ketika perahu-perahu kami meninggalkan Desa Panjehang mata saya sudah terpesona dengan sebuah tulisan yang ada di punggung kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Pak Ipin. Tulisan dalam bahasa Dayak Ngaju tetapi tidak saya pahami tetapi entah kenapa saya merasakan suatu kekuatan dari tulisan tersebut. Kaos lengan panjang yang mulai lusuh dimakan waktu tetapi sepertinya menjadi salah satu kaos kesukaan Pak Ipin. Kaos yang sepertinya merupakan bagian dari sebuah proyek konservasi yang pernah dilakukan di kawasan ini oleh pihak-pihak tertentu tahun 2012 lalu. Munculah kemudian kesempatan untuk melakukan diskusi setelah kami menyelesaikan seluruh pekerjaan kami hari itu. Ada tiga kata yang sangat menyita perhatian saya dari tulisan di kaos Pak Ipin yang berbunyi “mahaga petak danum”. Awalnya cukup menantang menerjemahkan bahasa ini ke dalam bahasa Indonesia yang bisa saya mengerti, apalagi Pak Ipin juga cukup terbatas penguasaan bahasa Indonesia nya. Tetapi karena banyak sekali masyarakat lainnya yang hari itu juga nimbrung bersama kami kemudian saya mendapatkan terjemahan yang menurut saya cukup tepat, yakni “menjaga tanah air”. Diskusi yang sampai hari ini membuat saya selalu terkenang dan bisa jadi rindu entah karena kopinya atau juga suasananya. Ada sekitar sepuluhan masyarakat bergabung membahas tentang “mahaga petak danum” ini, semuanya adalah kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) yang sangat peduli dengan alam di Sungai Rungan dan keberlanjutannya. Sebagian masyarakat berasal dari Desa Panjehang dan sisanya dari Petuk Baruna. Ada yang telah saya kenal bertahun lalu, ada juga yang baru pada hari itu menemani saya ngopi.


Awalnya saya hanya berniat mencari definisi "mahaga petak danum" dalam bahasa Indonesia, bukan sekedar mencari persamaan katanya tetapi juga konteks yang tepat untuk memindahkan arti bahasanya, tetapi tak disangka kemudian menjadi diskusi panjang yang sangat berisi. Ada kegelisahan yang sama antara saya dan masyarakat terkait ekosistem perairan. Banyak sekali perubahan yang terjadi dan semuanya membuahkan hasil yang luar biasa pedih bernama degradasi perairan. Populasi ikan semakin menyusut karena destruktif fishing, over fishing dan juga pencemaran. Aliran sungai tercemar dan rusak parah. Kalau dulu mandi di sungai begitu menyegarkan saking beningnya air, kini menyisakan daki luar biasa akibat lumpur tambang emas. Kegiatan mancing yang semakin sulit untuk dijadikan sandaran pangan apalagi pendapatan. Dan lain sebagainya. Meski demikian, saya merasakan adanya optimisme dari masyarakat yang ikut diskusi untuk tidak menyerah. Mereka tidak bisa abai begitu saja dan pasrah. Memang berat di tengah arus besar degradasi perairan ini, tetapi kehadiran orang-orang semangat seperti ini tetap harus disyukuri. Personally bagi saya ini adalah keteladanan kepedulian lingkungan yang sunyi dan patut mendapatkan respek. Jauh dari hingar bingar pemberitaan dan pencitraan, mereka tetap tidak mau menyerah terus menjaga dan merawat lingkungan sekitar tempat tinggal mereka dengan segala cara yang bisa. Meski sekali lagi semua itu tidaklah mudah. Semoga orang-orang hebat ini tidak pernah menyerah. Salam Lestari!

* Pictures captured by Michael Risdianto at Sungai Rungan, Central Kalimantan, February 2016. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my/our permission. Don't make money with my/our pictures without respect!!! Logo dan deskripsi Wild water Indonesia dilindungi oleh undang-undang. Copyright to Michael Risdianto.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers