Tuesday, 15 August 2017

Saya pernah beberapa kali pergi memancing ke pesisir timur dan selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebuah pulau penuh cerita yang menurut banyak orang kini adalah destinasi wisata bahari yang semakin digandrungi akibat semakin sesaknya Pulau Bali saat ini. Pulau Lombok menurut beberapa orang masih memiliki banyak sekali pantai yang terbilang cukup perawan sehingga cocok untuk para pecinta pantai yang sunyi dan masih asli. Memang berkeliling Pulau Lombok terutama di pesisir timur dan selatan kita relatif berhadapan dengan kesunyian, tetapi justru disinilah menariknya perjalanan kita. Para pejalan yang mencintai keaslian sebuah lokasi yang relatif belum berubah dan bising akan mendapatkan banyak ketenangan. Termasuk juga bagi para pemancing yang ingin mendapatkan pengalaman lain ataupun menikmati suasana yang berbeda, Pulau Lombok menurut saya masih bisa menjadi pilihan yang cukup menjanjikan baik secara keseharian masyarakat, lanskap, dan juga ikan-ikan target.

Mungkin saya sedang rindu perairan pesisir selatan di Pulau Lombok sehingga kemudian menuliskan catatan ini. Atau bisa jadi karena saya ingin merayakan launching website Batanta Lures yang kemarin malam saya luncurkan bersama Team Batanta. Yang pasti, terkait Pulau Lombok banyak sekali sahabat disana yang masih begitu rajin hingga hari ini menyapa saya menanyakan kapan akan mancing ke Pulau Lombok lagi dan atau melakukan proyek dokumentasi lagi. Pertanyaan yang kini cukup sulit saya jawab akibat banyaknya perubahan yang terjadi di kehidupan saya tetapi tidak mereka ketahui. Saya menganggapnya bahwa kita tidak pernah terlupakan dan selalu diharapkan kembali. Saya percaya semua selalu ada masanya. Dan saya yakin akan segera kembali lagi ke Pulau Lombok menjalani kisah yang selalu penuh warna bersama mereka mencari ikan-ikan predator yang ada di laut mereka.

Saya akan memulai review pendek ini dari ujung timur Pulau Lombok, tepatnya di sekitar Pantai Pink dan juga Tanjung Rengit. Ujung timur Pulau Lombok jujur saja relatif jauh dari jalur lalu lintas utama transportasi Pulau Lombok. Untuk menjangkau kedua titik tersebut kita harus menghabiskan waktu dua hingga tiga jam. Ketika saya menjelajah daerah ini sekitar dua tahun lalu, sekitar satu jam terakhir kondisi jalan cukup rusak sehingga terkadang membuat kita was-was dengan kendaraan yang kita gunakan. Tetapi itu terutama kalau kita datang ke kedua titik tersebut ketika musim hujan. Ketika musim kemarau praktis tidak ada hambatan berarti karena tidak aka nada lubang jalan yang siap menjebak kendaraan kita.

Secara pemandangan atau view, Pantai Pink dan Tanjung Rengit memiliki pesona yang luar biasa. Kita bisa menikmati hamparan pasir berwarna pink yang indah dan juga Pulau Sumbawa di kejauhan. Sisi barat setelah Tanjung Rengir juga memiliki pesona yang mengaggumkan. Tebing-tebing terjal menjulang khas pesisir selatan di Indonesia. Bagi pemancing popping kondisi seperti ini selalu mengundang rasa pensaran yang tinggi sehingga kita begitu kerasan untuk melempar dan memainkan umpan kita terus menerus. Meski jujur saja, sambaran atau strike yang diharapkan tidak selalu sepadan dengan energy dan effort yang kita keluarkan. Boleh dibilang ini adalah gejala over fishing saking banyaknya kapal besar yang beroperasi di areal ini terutama ketika malam hari. Sebagaian konon ada yang mencari ikan dengan cara-cara yang kurang ramah lingkungan. Ada kecewa memang saat itu ketika saya meluangkan waktu sehari penuh menyisir tebing-tebing di barat Tanjung Rengit tetapi tidak ada sambaran dari ikan Giant trevally monster yang saya harapkan. Saya tidak ingin menyesalinya berkepanjangan dan kemudian mengarahkan perjalanan menuju ke pesisir selatan Pulau Lombok, tepatnya di daerah Sekotong. Sekitar satu setengah jam dari kota Mataram.

Jalanan menuju ke Sekotong dari Mataram sampai Lembar kini sudah demikian mulusnya. Begitu juga dari Lembar hingga ke ujung timur daerah ini, sebut saja misalnya Bangko-bangko. Sudah demikian bersahabat dengan kendaraan roda empat meski lebar jalan tidak seberapa dan banyak sekali kelokan tajam. Tetapi sebagai kawasan pesisir yang kini banyak diincar para wisatawan dari luar negeri dan juga Indonesia sendiri, daerah Sekotong terlihat telah mempersiapkan infratruktur yang cukup memadai. Sepanjang jalan juga banyak terdapat penginapan baik besar maupun kecil. Saya juga melihat banyak sekali warung makanan, meski bukan restoran. Dan yang menarik mulai banyak bermunculan operator diving, snorkeling dan bahkan banyak bermunculan cottage pribadi di sepanjang pantai dan pulau-pulau kecil (gili) yang ada di kawasan ini. Ada yang pernah berkata kepada saya bahwa kawasan ini dikenal juga dengan nama Teluk Sepi, tetapi menurut saya kini tidak demikian kondisinya. Sekotong dan sekitarnya telah menggeliat siap menjadi destinasi baru wisatawan yang beberapa diantaranya mulai memikirkan alternatif destinasi bahari yang berbeda.

Perairan di sekitar Teluk Sepi atau yang lebih dikenal umum dengan nama Sekotong menurut saya merupakan fishing ground yang sangat lengkap. Kita bisa dengan mudah menjumpai spot mancing yang berbeda di dalam satu kawasan. Untuk teknik popping misalnya, di ujung timur Sekotong kita bisa menemukan spot-spot tebing-tebing terjal dan juga tanjungan berarus di sekitar Tanjung Gendang dan juga Bangko-bangko. Di bagian tengah perairan Sekotong kita akan dihibur dengan banyakny apulau-pulau kecil (gili) yang sellau memiliki reef-reef luas dengan drop off yang beragam. Jika kita beruntung, di reef-reef yang seperti sunyi ini kita bisa mendapatkan kejutan utamanya ketika arus sedang mengalir deras. Juga banyak sekali reef-reef tengah laut yang cukup tersembunyi dan sepi dari keramaian para wisatawan yang menyukai snorkeling atau diving. Di spot-spot seperti ini kita bisa sepuasnya memancing. Lautan seperti menjadi milik kita sendiri sebab kapal mancing kita seperti tidak ada pesaing sama sekali. Tetapi memang sekali lagi, kita harus pandai mengitung arus pasang dan surut secara tepat. Pemahaman terkait musim angina dan juga kalender bulan bisa membantu kita dalam mendapatkan hasil yang maksimal di kawasan ini. Yang menarik lagi, one day trip yang kita gelar disini kita bisa terpuaskan saking banyak dan beragamnya spot. Belum lagi bonus yang bertebaran di sepanjang kawasan. Maksud saya, kalau kita lelah memancing, bisa dengan mudah merapat ke pulau-pulau kecil (gili) nan indah berpasir putih yang bersih. Sebagian gili ini masih kosong dan sebagaian lagi telah dikelola oleh berbagai pihak menjadi pulau wisata yang masih sangat menawan karena relatif sepi dan memiliki keaslian sebuah pulau kecil yang indah. Jadi, bagi saya pribadi, meski terkadang hasil memancing tidak selalu seperti harapan, siapa yang bisa memastikan sebuah hasil selain Yang Kuasa, kawasan selatan Pulau Lombok di Sekotong ini selalu membuat saya rindu untuk kembali melemparkan popper Batanta menggoda ikan-ikan Giant trevally yang ada di sana. Dan saking seringnya menjelajah perairan laut di Pulau Lombok ini, tidak berlebihan kiranya jika saya mengatakan bisa memandu para angler dari manapun untuk juga mengalami sensasi mancing di wilayah ini. One life some big fish!(Michael Risdianto)









* Pictures captured by various person Pulau Sumbawa, West Nusa Tenggara and Pulau Sumba, East Nusa Tenggara. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my/our permission. Don't make money with my/our pictures without respect!!! Logo Batanta Lures dilindungi oleh undang-undang. Copyright to Michael Risdianto.

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers