Monday, 25 September 2017


Program Jaga Mata Air Malang Selatan tetiba ‘hinggap’ di kepala usai melihat semakin banyaknya mata air di pegunungan karts ini yang menghilang ketika musim kemarau meraa seperti sekarang. Seorang sahabat di sebuah desa belum lama ini bahkan mengatakan banyak warga yang mulai membeli air untuk sekedar memasak dan minum?! Hal menyedihkan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, setidaknya ketika saya masih menjalani kehidupan sebagai bocah desa lugu hingga usia 14an tahun di sebuah desa di wilayah ini. Rusaknya daya dukung ekologis pegunungan karts di kampung halaman saya ini terasa makin nyata di depan mata. Sebab pasca dibukanya jalur selatan semakin banyak mata ambisius melirik antara lain investor pabrik semen. Konklusi penelitian sebuah kelompok pemerhati lingkungan pada tahun 2013 juga menyatakan bahwa pegunungan karts Malang Selatan semakin tandus! Tidak mengada-ada, ketika saya berkeliling ke dua kampung saya saja misalnya, Purworejo dan Sumberoto, Kecamatan Donomulyo banyak mata air yang dulu begitu berkelimpahan air kini beberapa hanyalah ceruk kecil yang tidak berarti. Sebagian bahkan sudah ‘mati’! Pertanyaannya bagaimana dengan mata air delapan desa lain di kecamatan ini? Bagaimana dengan mata air di  kecamatan-kecamatan lainnya? Konservasi mata air di Malang Selatan menurut saya penting untuk dilakukan sebelum semua berubah menjadi air mata.

Lama tak kembali ke kampung halaman, terakhir hampir setahun lalu, membuat saya sedikit gagap ketika melangkahkan kaki menuju pintu keluar dari Bandara Abdurahman Saleh di Tumpang. Gagap yang entah karena raga yang menyeru meminta istirahat atau bisa jadi saking banyaknya pertanyaan lalu-lalang di kepala tentang banyak hal, di masa transisi hidup yang terkadang mengundang gelisah. Beberapa sahabat Wild Water Indonesia Region Malang sudah menunggu saya dekat pintu keluar bandara, berikutnya kami kemudian melanjutkan perjalanan ke dalam kota. Kota Malang di sore hari kerja (weekdays) adalah kebisingan yang kurang bersahabat dengan telinga dan mata saya yang terbiasa di pedalaman. Pit stop pertama saya adalah sebuah rumah di daerah Blimbing, Malang yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya para relawan WWI Region Malang. Ada kehangatan yang tidak terduga ketika berada disana ditambah kehadiran banyak sekali sahabat WWI Region Malang yang menyempatkan ‘menyambut’ kepulangan saya kembali ke kota ini. Tidak banyak cakap yang bisa kami lakukan karena selama ini kami sudah begitu intensif melakukan diskusi melalui jaringan seluler. Meski demikian saya merasa perlu menuliskan bahwa ada rasa bangga bahwa di kota ini begitu banyak terdapat relawan Wild Water Indonesia. Padahal WWI Region Malang baru berdiri pada April 2017 lalu ketika jaringan ini melangsungkan 1st Anniversary tepatnya pada tanggal 30 April.

Berikutnya, dan hal ini yang hari ini baru saya rasakan ada kesalahan yang tidak saya sadari, saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju sebuah rumah mungil di daerah Sukun yang merupakan kediaman adik saya yang paling kecil. Saya sudah mendengar dari beberapa relawan bahwa akan ada banyak sahabat WWI Region Malang berkumpul di rumah itu. Benar adanya. Ketika tiba di rumah, sudah banyak sekali relawan dari berbagai penjuru kota Malang dan bahkan ada yang dari Sumbermanjing Kulon dan Tumpang yang berkumpul berdesakan di dalam rumah yang tidak seberapa luas itu. Sebagian besar memakai t-shirt Wild Water Indonesia dan sebagian lainnya tidak, sepertinya baru bergabung. Tetapi respek saya kepada mereka semuanya sama. Saya dan mereka setara tidak ada beda, sama-sama orang yang sedang mencoba melakukan kepedulian perairan melalui hal-hal sederhana yang kami bisa untuk masa depan perairan yang lebih baik di negeri ini. Adik saya tampak begitu sibuk mempersiapkan penganan dan berbagai hidangan. Malam itu rupanya mereka menggelar semacam syukuran kecil, meski saya merasa hal tersebut berlebihan. Semoga sykuran karena akhirnya hampir seluruh sahabat di region ini bisa berkumpul, bukan karena saya pulang kampung. Satu di antara berkat makanan yang ada di ruangan kecil itu adalah tumpeng yang dimaksudkan sebagai wujud syukur atas online-nya www.wildwaterindonesia.org yang baru kami persembahkan untuk Ibu Pertiwi pada tanggal 17 Agustus 2017. Website jaringan yang hosting dan domainnya dibeli dengan dana saweran dari seluruh relawan Wild Water Indonesia di seluruh penjuru negeri. Website yang dibangun oleh para relawan lainnya, salah satunya adalah relawan dari Benua Biru, Eropa.

Jujur saya tidak menyangka bahwa WWI Region Malang memiliki begitu banyak sahabat. Malam itu tidak kurang dari 40 sahabat berdesakan dalam riuh rendah percakapan tentang berbagai hal. Kabarnya jumlah sebanyak ini belum semuanya karena masih ada lagi yang tidak bisa hadir, terutama para relawan yang tinggal di pesisir selatan Kabupaten Malang seperti misalnya di Kecamatan Donomulyo. Yang paling mengejutkan dalam pertemuan malam itu adalah hadirnya beberapa keluarga yang berasal dari Kecamatan Sumbermanjing Kulon, sekitar 2,5 jam ke arah selatan kota menggunakan kendaraan roda dua. Semuanya lengkap hadir dengan membawa anak-anaknya yang beberapa di antaranya menurut saya tergolong kecil untuk menjalani perjalanan jauh malam hari. Saya memikirkan bagaimana rasanya mereka akan kembali nanti ke rumah mereka yang cukup jauh malam hari dan merasa bersalah. Andai saya tahu ada keluarga relawan yang berasal dari daerah yang jauh dengan anak kecil seperti ini, saya akan memilih menyambangi mereka dibandingkan mereka yang datang untuk menjumpai saya yang bukan siapa-siapa ini. Bahkan juga ada relawan dari daerah Dampit, Kabupaten Malang, sekitar dua jam perjalanan dengan kendaraan roda dua jauhnya untuk menuju ke pusat kota Malang.

Tak dapat saya pungkiri, malam itu adalah malam yang begitu ramai di sebuah rumah kecil. Usai syukuran memotong tumpeng larutlah kami semua dalam lahap dan cakap tentang banyak hal. Mulai dari diskusi “kurang fokus” tentang visi misi Wild Water Indonesia, yang saya yakin begitu berat dimengerti oleh sebagian besar yang hadir, hingga ke perbincangan tentang betapa dinginnya kota Malang di bulan Agustus. Konsern utama region ini secara tidak terduga sepengetahuan saya hingga saat itu hanyalah tentang kampanye larangan membuang sampah  sembarangan. Diwujudkan antara lain dengan melakukan kampanye keteladanan kepedulian berupa kegiatan clean the beach di Pantai Ngliyep dan Pantai Modangan. Berbeda dengan konsern-konsern utama region lainnya yang kebanyakan fokus pada larangan illegal fishing dan juga konservasi ikan lokal (native fish). Diskusi berangsur semakin sepi seiring pamitnya para sahabat yang rumahnya terlalu jauh dari kota ini. Ketika mereka hendak beranjak pulang ke kampung di wilayah selatan Kabupaten Malang ini, pesan saya hanyalah hati-hati dan berjanji bahwa saya akan ganti menyambangi mereka di desa. Tak lupa saya menyampaikan permohonan maaf karena mereka membawa bocah-bocah imutnya yang saya tahu pastinya melelahkan menjalani hari yang seperti ini.

Beberapa hari berlalu di kota Malang dalam suasana sunyi, sebab keluarga besar saya kemudian berangkat ke Yogyakarta untuk suatu urusan. Saya ingin keluar tidak tahu rumitnya jalanan kota, akan tetapi di rumah saja memicu gelisah. Untungnya beberapa sahabat WWI Region Malang begitu rajin menemani saya menjalani hari baru di kota ini. Saya berencana menjalani kehidupan baru saya di kota ini, usai keputusan saya meninggalkan profesi sebagai kuli keliling di sebuah perusahaan media nasional di Jakarta karena tekad kepedulian saya kepada perairan dan sesama yang rupanya banyak dijadikan ‘bensin’ trik intrik oleh seseorang yang memaksa saya harus memilih untuk menepi memilih jalan sebagai manusia yang baik, bukan menjadi pekerja yang baik (baca: penjilat). Ketika tiba waktunya kemudian saya bisa berkeliling ke beberapa desa di Malang Selatan, saya kembali terkejut, bahwa ternyata begitu banyak sahabat Wild Water Indonesia di daerah ini. Berpuluh orang! Entah saya yang tidak dapat mengingat dengan baik, ataukah memang tidak ada update dari para sahabat di WWI Region Malang (yang tinggal di perkotaan), tetap saja jumlah yang begitu banyak di Malang Selatan mengaggetkan saya. Setidaknya ketika suatu malam mereka dolan ke rumah saya di kampung (Desa Purworejo), ada setidaknya dua puluhan orang. Dan jumlah ini ternyata belumlah seluruhnya karena ketika kemudian saya bisa dolan, ada beberapa orang lainnya di daerah Sumbermanjing Kulon, Desa Kedungsalam (Kec. Donomulyo), Desa Purworejo sendiri, dan bahkan di Desa Sumberoto. Desa terakhir ini adalah tempat kelahiran saya hampir 40 tahun lalu! Kaget? Iya. Bangga? Pasti! Siapa sangka jaringan kepedulian perairan Indonesia juga memiliki relawan sebanyak ini di kampung halaman saya sendiri? Karena sebelumnya, di daerah ini yang boleh dikatakan sebagai Wild Water Indonesia hanyalah keluarga saya dan dua orang lagi yang tinggal di Donomulyo (Mas Yoga dan istri).

Hari-hari berikutnya adalah hari yang super sibuk dalam kehidupan saya ketika pulang kampung saking banyaknya sahabat yang silaturahmi ke rumah dan mengajak jalan-jalan melihat Malang Selatan terkini. Saya berusaha adil, semua desa yang ada relawannya saya sambangi dengan hasil adalah pencerahan dan juga permintaan maaf. Pencerahan yang saya maksud adalah bahwa ternyata semangat kepedulian terhadap lingkungan ini bisa kita jumpai dan dilakukan oleh siapa saja dimanapun mereka berada. Konsern lingkungan ini adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk para sahabat yang ada di Malang Selatan ini, melalui cara-cara sederhana yang mereka bisa lakukan. Permintaan maaf saya sampaikan karena ada banyak yang curhat bahwa semangat kepedulian perairan dari daerah ndeso ini sebelumnya agak terkekang dan seperti tidak mendapatkan perhatian dari orang-orang tertentu. Terbukti banyaknya ide-ide aksi kepedulian lingkungan inspiratif yang dimentahkan begitu saja, keinginan sosialisasi yang seperti dihalangi, penyeragaman konsern, dan lain sebagainya. Permintaan maaf saya juga terucap karena saya kebingungan menjawab pertanyaan tentang apakah visi misi Wild Water Indonesia hanyalah masalah kampanye sampah?! Ada sedih karena sejak awal mula konsern jaringan ini begitu luasnya demi menampung semangat orang-orang yang peduli merawat lingkungan sekitar mereka! Praktis saya kemudian menjadi sangat memahami keinginan para relawan di ndeso ini untuk bergerak sesuai visi misi Wild Water Indonesia tetapi dalam suasana yang demokratis dan tidak diarahkan dan apalagi dikekang oleh oknum tertentu. Dan tentu saja saya mendukungnya! Tidak ada dalam prinsip jaringan ini ketika seseorang ingin merawat lingkungan sekitar rumah mereka, asalkan masih dalam koridor yang benar (visi misi), harus mendapatkan ijin dari oknum Wild Water Indonesia tertentu yang telah terbiasa hidup dalam hirarki. Orang-orang seperti itu bahkan dapat saya katakan sedari sekarang harus minggir dari jaringan ini dan kembali belajar ke sekolah tentang apa itu relawan, apa itu ikhlas, apa itu setara, apa itu tidak ikut politik praktis, apa itu tidak ada kultus individu, dan lain sebagainya. Termasuk harus belajar itu apa makna Satu WWI yang pernah dibahas kembali secara nasional untuk memperingati 1st Anniversary WWI, dan juga cara menjalankan konsern melalui “small things make a big difference”.

WWI Malang Selatan dan Proyeksi Konsern Kepedulian


Secara tidak terduga para sahabat yang tinggal di pedesaan ini ternyata memiliki beragam ide konservasi “tingkat desa” yang mengagumkan. Beberapa hari sebelumnya saya bahkan melihat semangat luar biasa para relawan melakukan kampanye di sebuah karnaval Agustusan yang mengundang haru! Sebuah pertemuan dadakan yang kami lakukan di sebuah ruangan SMK di Kecamatan Donomulyo, terimakasih kepada pihak pengelola sekolah membeti kami tempat berteduh, yang dihadiri para sahabat yang berasal dari daerah Sumbermanjing Kulon dan paling banyak dari berbagai desa dari wilayah Kecamatan Donomulyo, membuka mata saya betapa tingginya semangat kepedulin para sahabat yang ada di daerah ini. Memang ide-ide kepedulian untuk ‘rumah, mereka sendiri ini masih harus diasah lebih tajam sehingga lebih memiliki muatan konsern lingkungan yang ‘teba’, efek massif dan juga dapat berumur panjang. Padahal awalnya pertemuan semacam kopi darat dadakan ini lebih direncanakan untuk mensosialisasikan visi misi Wild Water Indonesia. Bagi saya mensosialisasikan visi misi WWI dan juga “apakah” itu sebenarnya komunitas relawan ini sangat penting. Selain menegaskan apa konsern  yang menjadi perhatian kami, hal tersebut sangat penting untuk memberi pemahaman bahwa menjadi WWI artinya harus siap menjadi relawan. Ini penting dilakukan di masa-masa awal keberadaan sebuah region baru, karena banyak sekali, apalagi di masa ini, banyak orang bergabung dalam sebuah komunitas dengan agenda-agenda terselubung yang melenceng. Jadi kedepannya tidak ada lagi excuse tidak mengetahui visi misi, konsern yang bisa dan bagaimana melakukannya. Satu kata yang dipahami saat itu bagi saya cukup penting utamanya kata RELAWAN. Bahwa menjadi relawan artinya adalah menjalankan kepedulian perairan dengan sukarela, karena kemauan sendiri, tidak ada paksaan dan tidak mengharapkan imbalan!!!

Beberapa ide program yang dilontarkan oleh para sahabat WWI Region Malang Selatan usai pembahasan visi misi WWI cukup beragam dan saya melihat adanya pemahaman kuat terhadap karakter geografis sebuah pegunungan karts, kultur masyarakat dan juga kondisi-kondisi terkini terkait lingkungan di wilayah ini. Doa saya semoga mereka melontarkan ide-ide ini karena memang ikhlas peduli, dan bukan karena mengharapkan sesuatu yang lain. Pertama adalah untuk menjalankan program merawat mata air di wilayah Malang Selatan. Memang untuk hal ini saya yang awalnya memberi clue usai saya melihat banyaknya mata air yang menghilang ketika musim kemarau. Dan saya sangat paham ini bukan semata karena musim kemarau (saya pernah tinggal di Malang Selatan hingga lulus SMP) karena dahulu meskipun kemarau panjang banyak sekalipun rata-rata mata air tetap mengalirkan airnya dengan deras dan juga sungai-sungai di pegunungan karts ini pun masih memiliki debit air yang cukup. Memang tidak seperti musim penghujan tentu saja tetapi misalnya sebuah sungai ya masih ‘berwajah’ layaknya sungai dengan air yang cukup dalam. Kini? Begitu banyak sungai hilang ketika musim kemarau berlangsung. Kedua adalah akan memulai langkah kecil merelokasi ikan-ikan lokal dari DAS Brantas untuk mengembalikan keberadaan spesies yang telah punah di Malang Selatan. Daftarnya saya kira terlalu banyak untuk hal ini. Spesies ikan tawes (Barbonymus gonionotus) misalnya, yang mana ketika masa kecil saya begitu melimpah di perairan umum (dam dan sungai), kini tidak lagi saya jumpai. Bahkan ikan wader (Rasbora agryotaenia) sekalipun juga semakin sulit dijumpai meskipun belum dapat saya katakan punah. Ah tidak usah menyebutkan spesies yang berukuran besar-besar ini, ikan kecil yang kita sebut dengan cethul saja pun semakin berkurang jauh populasinya! Pagi hari sebelum melakukan kopi darat dengan WWI Region Malang Selatan, saya sengaja mendorong semangat para relawan dengan merelokasi ikan betutu/beloso (Oxyeleotris marmorata) yang saya bawa sehari sebelumnya dari DAS Brantas.

Mencoba mengembalikan ekosistem sungai dan perairan umum lainnya dilontarkan beberapa sahabat yang berasal dari Desa Purworejo. Bahkan yang tidak saya sangka sama sekali mereka sudah mulai melakukan sosialisasi terkait hal ini dengan perangkat desa, yang ternyata menyambut baik dan akan mendukung semangat generasi muda mereka dengan segera menyusun perdes ‘hijau’. Perdes Desa Purworejo ini menurut seorang perangkat desa yang kemudian saya temui malam hari setelah acara kopi darat, mengatakan bahwa akan memuat banyak pasal-pasal lingkungan. Tentu saja ini membahagiakan! Dan saya jujur saja bangga ada sahabat WWI ndeso yang telah bergerak jauh penuh semangat demi lingkungan hidup di sekitar mereka. Meskipun mereka tinggal di ndeso! Yang juga mengagetkan adalah banyaknya relawan perempuan yang merupakan ibu-ibu rumah tangga berusia muda. Mereka-mereka ini lebih tertarik untuk bergerak ke sekolah-sekolah dasar dan juga TK untuk ikut mendidik generasi penerus dengan cara yang mereka bisa lakukan, membantu para pendidik yang memang bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka di sekolah. Dan banyak lagi rencana program lainnya seperti program keren satu jembatan satu banner larangan illegal fishing dan nyampah sembarangan.

Program Jaga Mata Air Malang Selatan 2017-2018


Sebagian besar yang pernah tinggal di wilayah pedesaan, tidak hanya di Malang Selatan tetapi di Pulau Jawa ini saya yakin sedikit banyak mengenal apa yang namanya nyadran. Yaitu semacam selamatan di tempat-tempat yang dianggap ‘keramat’ untuk memanjatkan pesan dan harapan pribadi kepada Yang Kuasa. Bisa di mata air, bisa di bawah pohon besar, dan lain-lain. Memang ada siknretisme kepercayaan yang kompleks dalam ritual nyadran ini. Tetapi yang banyak dilupakan dan kemudian luput dari pemahaman banyak orang, karena malahan banyak yang fokus pada kata “keramat” dan tempatnya danyang atau yang mbahurekso kampung yang angker, adalah bawa nyadran sangat kuat mengandung pesan menghormati lingkungan hidup. Baik itu mata air dan juga pohon-pohon besar yang notabene menjaga mata air tersebut. Satu lagi kemudian adalah tentang bersih desa, atau kegiatan selamatan massal di mata air terbesar di suatu desa yang dianggap merupakan cikal-bakal ataupun titik vital utama di masa lampau ketika sebuah desa mulai dirintis oleh para pendahulu. Istilahnya ketika babad alas pertama kali dilakukan oleh nenek moyang kita. Kehidupan tak dapat dilepaskan dari kebutuhan akan air. Begitu juga terciptanya unit-unit sosial di masa lampau, selalu tidak akan pernah jauh dari keberadaan mata air. Saya beruntung masih mengalami dengan jelas apa itu nyadran dan juga bersih desa, yang mana ketika saya kenangkan kini terasa sangat indah. Nah di lokasi mata air yang dijadikan untuk acara bersih desa, saya ingat dengan jelas lokasi tersebut selalu dikeramatkan. Tidak boleh berbuat tidak pada tempatnya di lokasi tersebut. Termasuk juga tidak boleh mengambil dan membunuh binatang yang ada terutama ikan-ikan dan juga gateng (sidat). Siapapun yang melanggar akan mendapatkan hukuman berupa bala (kesialan) baik itu penyakit maupun kejadian-kejadian yang tidak diharapkan lainnya yang dikarenakan “penunggu” mata air tersebut marah. Hari ini, berpuluh tahun kemudian saya bisa menjelaskan bahwa ternyata, tibaknya, ini adalah salah satu cara konservasi tradisional yang diterapkan oleh nenek moyang kita. Dahulu ketika saya masih kecil tidak memahaminya dan tentu saja takut mendengar kisah-kisah seperti ini dari orang-orang tua. Sayangnya, kini, siapa peduli dengan masalah keramatnya sebuah mata air di wilayah ini? Karena yang dominan terlihat adalah semakin menurunnya kualitas mata air dan bahkan banyak sekali yang sudah mati!

Saya meyakini bahwa selalu ada harapan ketika manusia mau berusaha. Terkait dengan mata air di wilayah Malang Selatan harapan itu akan saya semai bersama para sahabat WWI Region Malang Selatan, dengan dibantu oleh binatang bernama sidat/gateng (Anguilla sp.). Saya tidak akan menghadirkan pembahasan tentang cara budidaya sidat/gateng ini yang kini banyak dilakukan karena nilai ekonominya yang begitu menggiurkan di pasar internasional. Ataupun juga menghadirkan tentang beragam manfaat baik sidat/gateng bagi kesehatan manusia. Saya kira kedua hal tersebut telah sesak berceceran di internet. Akan tetapi saya hanya akan memfokuskan catatan ini pada peran ekologis sidat terhadap sebuah mata air. Sidat atau yang oleh orang Malang Selatan disebut dengan nama gateng adalah jenis ikan tidak bersisik. Bentuknya mirip dengan belut akan tetapi sidat lebih pipih bersirip dan memiliki kemampuan untuk tumbuh besar dengan panjang hingga 3 meter dengan mobilitas di sistem hidrologi bawah tanah mengaggumkan. Pola migrasi sidat adalah katadromus, yang artinya sebagian besar hidupnya dihabiskan di perairan tawar namun ketika akan memijah akan melakukannya di laut dalam tropis. Usai memijah sidat dewasa akan mati (semelparity). Ikan sidat endemik Indonesia adalah jenis ikan sidat Anguilla bicolor, A. marmorata, A. borneensis, A. celebesensis, dan A. nebulosa. Lima dari dari 15 spesies sidat yang ada di bumi. Saya akan melanjutkan menuliskan apa yang saya lihat sendiri terkait peran sidat menjaga mata air ini, dan bukannya apa yang dituliskan orang lain. Semata demi memberi pernyataan berdasarkan pengalaman saya sendiri.
Suatu hari sekitar dua tahun lalu saya berada di sebuah desa kecil di Kepulauan Banggai Laut bernama Desa Boniton, yang berada di Pulau Bangkurung. Masyarakat hanya memiliki satu sumber mata air yang keluar dari tebing berbatu tetapi alirannya sangat deras. Lubang keluarnya air ini memiliki diameter sekitar 50 sentimeter dengan air yang sangat jernih dan dingin. Di depan Boniton sebenarnya terhampar air maha luas, lautan, yang tentunya sulit untuk diminum dan mendukung kegiatan sehari-hari masyarakat. Mata air Desa Boniton ini dikeramatkan oleh seluruh desa. Perbuatan yang merusak, mengotori dan apalagi menangkap ikan dan sidat yang ada di dalam mata air ini akan diganjar dengan denda adat yang luar biasa mahal! Mending kalau hanya didenda adat, jika dianggap keterlaluan seseorang bisa diusir dari kampung ini karena dianggap tidak menghormati kesepakatan seluruh masyarakat untuk menjaga mata air ini. Sebuah desa lain di Pulau Biak di Teluk Cendrawasih yang saya lupa nama desanya juga menerapkan hal yang sama untuk mata airnya. Pelanggar akan dikenakan denda adat yang berat.  Awalnya mereka menakuti saya bahwa di dalam lubang mata air desa mereka penuh dengan ular, yang ternyata setelah saya lihat rupanya adalah sidat. Di Ponggok, Gunung Kidul masyarakat juga menerapkan aturan yang sama terkait ikan sidat ini. Tidak boleh ditangkap dengan cara apapun dan untuk alasan apapun dengan sanksi yang berat bagi pelanggar! Hal yang kurang lebih sama juga saya jumpai di Kepulauan Maluku dan lain-lain. Tidak boleh ada yang melakukan perbuatan merusak mata air, melakukan perbuatan tidak pantas lainnya, dan membunuh binatang yang ada di mata air (kebanyakan binatang yang ada di mata air dikeramatkan ini selalu ada populasi sidatnya). Di desa kelahiran saya Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, sumber (mata air) yang ada juga dikeramatkan hingga hari ini dengan larangan-larangannya sehingga airnya masih melimpah hingga hari ini. Nama Sumberoto sendiri diambil dari nama  mata air yang ada di desa ini, sumber roto (mbroto), yang artinya bahwa mata airnya dapat mencukupi semua kebutuhan manusia yang ada di desa ini (airnya roto atau rata terbagi ke seluruh penduduk). Di Desa Purworejo juga memiliki beberapa mata air yang dahulunya dikeramatkan tetapi kini beberapa di antaranya mengalami penurunan kualitas yang luar biasa menyedihkan salah satunya sumber mBolu dan sumber Ayu. Sayangnya mBolu sudah menyedihkan sekali kondisinya. Dahulu banyak sekali ikan gateng di sumber ini, akan tetapi seiring abainya masyarakat terhadap kearifan lokal yang melindungi perairan ini, gateng-gateng tersebut diambil untuk dikonsumsi. Dahulu mBolu adalah mata air fenomenal yang bahkan airnya dapat mencukupi kebutuhan desa lainnya. Kini mBolu kondisinya seperti hidup enggan mati tak mau. Informasi yang sampai kepada saya penurunan kualitas mata air mBolu ini bermula sejak ikan sidat yang ada diambil oleh masyarakat sekitar. Menyedihkan, kemajuan dan kemudahan jaman bukannya membuat orang menjadi cerdas dan bijak, tetapi membuatnya menjadi rakus dan bodoh! Kondisi yang lebih menyedihkan terjadi di mata air Watu Dampit yang juga berada di Desa Purworejo.

Kenapa ikan sidat mampu menjaga ‘kesehatan’ sebuah mata air? Kita harus kembali mengingat karakter hidup ikan sidat ini sebagai makhluk katadromus yang telah saya tuliskan di atas. Yang artinya karena menghabiskan sebagian besar hidupnya di air tawar dan kemudian memijah di laut, artinya semua generasi baru sidat/gateng ini akan berjuang sekuat tenaga agar dapat sampai di tempat tinggal yang disukainya. Dalam masa migrasi inilah sidat akan berjuang menentang arus sungai dari arah hilir menuju ke hulu, masuk ke dalam lubang mata air termasuk ke dalam urat-urat air. Inilah yang menyebabkan aliran air kemudian menjadi lancar. Masyarakat tradisional memahami tentang hal ini, itulah kenapa kemudian banyak masyarakat tradisional menerapkan aturan ketat agar jangan sampai ada perburuan terhadap sidat dan apalagi penangkapan sidat dengan cara yang tidak ramah lingkungan. Setahu saya, ini diterapkan untuk sidat yang ada hidup di mata air. Tetapi tidak untuk sidat yang hidup di sungai-sungai besar. Semua ini sebenarnya juga terjadi karena masyarakat tradisional memahami siklus hidup binatang dan efek jangka panjangnya terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Bayangkan jika sidat-sidat dahulu sekali semua boleh ditangkap termasuk yang di mata air, siapa kemudian yang akan menghasilkan generasi baru sidat yang akan melanjutkan peran ekologisnya? Permasalahan di dunia modern ini kemudian menjadi semakin rumit, bukan semata hilangnya pemahaman dan hormat pada kearifan lokal leluhur, tetapi memperparahnya dengan kerakusan dan kebutaan. Bukan hanya sidat dan ikan yang ditangkap berlebihan (over fishing), tetapi sekaligus banyak ditangkap dengan cara yang merusak alam (setrum, racun, dan kalau di laut dengan bom ikan). Belum lagi tekanan terhadap alam yang tercipta karena pencemaran dari sampah dan juga limbah.

Hal-hal Kecil Bisa Membawa Perubahan Besar


Semua yang saya tuliskan di atas tentu belum bisa membawa perubahan apa-apa untuk memperbaiki degradasi kualitas mata air yang saya lihat beberapa waktu lalu di Malang Selatan. Tetapi setidaknya memberi harapan untuk ke arah yang lebih baik itu ke depannya karena saya selalu mempercayai asalkan kita memang melakukan ini untuk kebaikan banyak orang dan dengan keikhlasan, akan banyak doa dipanjatkan agar hal ini terwujud, akan banyak tangan membantu, akan banyak pintu terbuka, dan lain sebagainya yang memperbesar harapan baik itu terwujud. Saya tidak membuat catatan ini untuk desa tempat tinggal saya dimana saya sekarang tinggal, Purworejo. Tidak juga untuk Sumberoto, desa kelahiran saya. Tetapi untuk puluhan desa yanga da di wilayah Malang Selatan. Saya tidak ingin muluk-muluk, tetapi untuk saat ini saya kira cukup adil jika saya dan nantinya bersama WWI Region Malang Selatan berhasil merevitalisasi kembali beberapa mata air yang rusak di desa-desa dimana terdapat relawan WWI-nya terlebih dahulu. Meski tanpa malu saya akui bahwa saya dan relawan WWI Region Malang Selatan saat ini belum memiliki apa-apa untuk mewujudkannya selain semangat dan keikhlasan untuk berbuat kebaikan. Belum ada dana untuk membeli benih-benih ikan sidat dan lain sebagainya. Saweran pertama antar relawan WWI Region Malang Selatan tanggal 18 September 2017 lalu ketika melakukan kopi darat membahas visi misi WWI dua hari lalu pun hanya menghasilkan 160 ribu rupiah dan sebanyak 99 ribu dari jumlah itu telah digunakan untuk membayar kopi dan cemilan ketika kami melakukan diskusi dan merancang rencana program. Waktu yang akan menjawabnya. Tuhan yang akan menjawabnya. Setidaknya saya dan puluhan relawan WWI Region Malang Selatan telah mengawalinya dengan tekad yang kami percaya untuk kebaikan alam, sesama, dan juga generasi berikutnya di wilayah ini. Amin!

Kampung Halaman Itu Kini Begitu Hangat


Sekitar 1,5 tahun lalu ketika mulai menjalankan kampanye kepedulian perairan ini saya beranggapan bahwa jalan yang akan saya lalui hanyalah sunyi dan berliku adanya. Memang benar tidaklah mudah menjadi orang-orang dengan kepedulian di negeri ini, akan tetapi saya salah untuk satu hal karena nyatanya jalan kepedulian ini sekarang begitu ramai dan hangat termasuk di kampung halaman saya sendiri. Hangat karena semangat kepedulian yang dilandasi keikhlasan, semoga! Terlepas dari onak yang terkadang menghalangi perjalanan akibat begitu banyaknya kepala yang kini bergabung dalam jaringan Wild Water Indonesia yang kini entah berapa orang umlahnya, saya hanya bisa berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha selalu ikhlas dan menjadi bermanfaat untuk orang banyak melalui  hal-hal kecil yang saya bisa lakukan. Program jangka panjang Jaga Mata Air Malang Selatan yang saya rencanakan ini sekaligus sebagai cara saya membayar ‘hutang hidup’ saya selama ini kepada sebuah wilayah pegunungan karts yang begitu gersang di musim kemarau, yang kini semakin banyak menunjukkan gejala berangsur kehilangan mata airnya. Untukmu Malang Selatan. Astungkara! Salam lestari! (Michael Risdianto)

















* Pictures captured at South Malang, East Java by various person. Please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my/our permission. Don't make money with my/our pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers