Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2008

Akhirnya Liputan Ekspedisi Halmahera Utara Dipublikasikan di Majalah Mancing

Hari ini saya terlambat tiba di kantor saya di Senen. Jam 1 siang baru tiba. Padahal biasanya meski saya berangkat dari Bandung jam 7 atau 8 pagi paling telat saya sudah akan sampai pada pukul 11 siang. Kemacetan antara Pintu Tol Jatibening-Senen pada hari ini sangat parah. Memang Tol Cipularang mempersingkat jarak tempuh Bandung-Jakarta yang lebih dari seratus lima puluh kilometer itu hanya menjadi dua jam saja. Tetapi masalahnya sejak dari Pintu Tol Jatibening hingga Senen dalam kemacetan hebat seperti itu untuk menyelesaikan jarak yang tidak sampai 25 km itu kadang diperlukan waktu 3 jam. GILA!!!

Sebelum tiba di kantor mampir dulu ke WBW di Jalan Gunung Sahari untuk mengambil umpan trolling baru keluaran Pakula (Australia). Enam biji, panjang-panjang seperti buah pisang raja. Warna-warni. Seorang ibu yang duduk di samping saya dalam bis menuju Senen bertanya,"Dagangannya laku banyak dik?" Sial sekali. Baru mengambil umpan trolling (yang mahal-mahal itu) untuk dipakai ma…

Ternyata Pilihan Pada Lure Heddon Super Spook Itu Tak Salah!

Suatu saat di penghujung tahun 2007 saya ingin sekali memiliki umpan kecil jenis stickbait. Saya sedang jatuh cinta dengan stickbait merk Rapala X-Rap Subwalk. Tetapi dasar Indonesia ini aalah negeri yang malang. Rapala Subwalk sampai hari ini pun tidak pernah masuk ke Indonesia. Tiba-tiba ada seorang kawan dari Bandung menawari apakah saya akan menitip beli? Dia akan belanja online. Rapala X-Rap Subwalk ternyata mahal sekali. Jadilah saya menjatuhkan pada stickbait merk Heddon seri Super Spook ini. Saya bilang ke Candra, nama teman saya dari Bandung itu, agar saya dibelikan yang warna hitam dan red head. Dan ternyata (oh ya harga stickbait Heddon ini jauh lebih murah dibandingkan Rapala X-Rap Subwalk) pilihan saya tidak salah. Beberapa hari yang lalu di sebuah danau buatan di Jakarta, stickbait hitam itu pun menjalani field test pertamanya dengan target ikan tomman. Lemparan pertama kosong. Pada lemparan kedua, sesaat setelah gerakan walk the dog mulai saya lakukan tiba-tiba... BAMMM…

Waoooooow! Ternyata Ada Danau Penuh Ikan Tomman di Jakarta!

Jelas saat ini sangat sulit menemukan habitat ikan tomman di Jakarta. Berbagai perairan publik sekitar (dan dalam kota) Jakarta seperti kita tahu bersama sudah seperti "neraka" bagi ikan-ikan saking tercemarnya. Jangankan ikan tomman yang sangat tergantung dengan ketersediaan baitfish sebagai sumber makanannya itu, setan pun mungkin tak mau tinggal di sungai-sungai di sekitar Jakarta. Tetapi bukan berarti tidak ada ikan tomman di Jakarta. Masih ada! Meskipun jujur saja ikan-ikan predator paling keren di Asia ini adanya di danau buatan dan itupun ikan-ikan ini ada karena dipelihara. Kedua foto ini diambil dua hari lalu di sebuah danau buatan di sebuah komplek perumahan di Jakarta. Sebenarnya itu adalah reservoir untuk sebuah pemukiman elit. MAAF saya tidak bisa menyebutkan dimana lokasinya tepatnya untuk Anda karena areal itu memang tidak terbuka untuk umum alias restricted. Ikan-ikan tomman ini kami pancing dengan teknik kasting menggunakan artificial lure semacam minnow, po…

Barra Loves Her Madly, Semoga Nadine Menjadi Lady Angler Jagoan

Kabar beredar bahwa di Tanjung Burung, Tangerang ada kolam ikan kakap putih (barramundi) yang baru dibuka untuk umum. Legenda Biru namanya. Pemancing menyebutnya "Legbin". Maka Sabtu lalu kami pun pergi ke kolam itu. Saya, Budi Fly, Hock, Nadine, dan Edwin. Kami sampai di Legenda Biru sudah sekitar jam 2.30 sore. Kami memang tidak terlalu suka mancing sejak pagi buta seperti yang lain. Sesampai di Legenda Biru seperti biasa kami disambut oleh "fans" setia yakni para caddy yang merubung kami seakan-akan kami adalah Ariel Peterpan. Wkwkwkwk! Hock dan Budi jelas akan mengaplikasikan teknik fly fishing. Tapi Nadine dan Edwin akan kasting dengan light tackle kasting (spinning). Saya tentu saja akan mengaplikasikan teknik paling aneh, maning dengan kamera foto! Haha! Minnow Edwin langsung disambar barra saat baru dilempar. Begitu juga fly mirip udang milik Budi. Nadine tak mau kalah, minnow orange-nya juga strike. Malah kalau dihitung sampai acara mancing usai Nadine lah…

Ekspedisi Halmahera Utara: Kisah Sedih Tentang Tiga Saudara

Foto ini saya ambil di Taman Pusara Martir Jemaat Dodara, Desa Duma, Galela, Halmahera Utara, pada tanggal 3 April 2008. Desa Duma adalah desa tempat Fransiskus Xaverius pada abad XVI menginjakkan kaki di Pulau Halmahera. Desa ini adalah desa Kristen pertama di Halmahera. Tiga bersaudara ini (perhatikan sudut kanan bawah foto kedua) meninggal akibat rusuh sipil (dan sektarian) yang melanda Halmahera Utara pada 1999-2000. Ceritanya mereka saat itu sedang berada di KM Cahaya Bahari yang akan membawa mereka mengungsi ke Menado. KM Cahaya Bahari adalah kapal fery yang membawa para pengungsi "merah" (kebanyakan orang tua dan anak-anak) dari Tobelo menuju Menado. "Mereka kami ungsikan karena terdengar desas-desus bahwa sebuah kapal "putih" yang datang dari Jawa katanya dimuati dengan persenjataan lengkap dan siap menumpas "merah" di Halmahera," kata seorang pemuda yang saya temui di Tobelo. Orang tua dan anak-anak diungsikan. Para pemuda "merah&q…

Ekspedisi Halmahera Utara: Saat-saat Lupa Ikan... :D

* ALL PICS TAKEN BY ME. PLEASE DON'T USE OR REPRODUCE WITHOUT PERMISSION. THANKS!












Ekspedisi Halmahera Utara: Ikan Besar di Pulau Terluar

Mengunjungi Halmahera selama 20 hari (16 Maret-04 April) adalah kenyataan yang tak pernah terbayang akan terjadi. Dulu sekali saat saya masih suka sekali membaca, Halmahera saya pahami dari sebuah novel berjudul Burung-burung Rantau karya YB Mangunwijaya tentang pertikaian antar suku di Halmahera, negeri yang bernuansa mistik. Pada abad XVI seorang misionaris yang masuk ke Halmahera yakni Fransiskus Xaverius juga menuliskan hal yang sama "Tinggalkan segera jika kamu bertemu dengan pulau bernama Halmahera," pesannya kepada para penjelajah Eropa pada saat itu. Dan pada PD II dua kekuatan besar berhadapan juga di sini. Jepang dengan armada besarnya di Teluk Kao dan Sekutu dengan armada tak kalah besarnya di Pulau Morotai. Dan pada 1999-2000 Halmahera pun juga digulung oleh pertikaian sipil (dan sektarian) mengerikan. Halmahera, induk pertikaian. Itulah arti nama Halmahera dalam Cala Ibi yang ditulis oleh Nukila Amal.

Untungnya saya datang bukan untuk menelusuri misteri pertikaia…