Wednesday, 16 June 2010

Pada Jum’at pagi (11/06/2010) sejujurnya raga dan pikiran saya masih sangat lelah karena malam sebelumnya baru saja melakukan perjalanan udara panjang dari Timika (Papua)-Jakarta selama hampir enam jam lamanya. Tetapi janji telah terucap, jauh sebelum saya pergi ke Timika bersama bos saya Dudit Widodo (‘Kapten’ Mancing Mania Trans 7), saya telah berjanji kepada seorang kawan mancing di Bekasi, jika sebelum tanggal 11 Juni saya telah kembali berada di Jakarta, maka saya pasti akan ikut trip mancing ke Ujung Kulon, Banten. Spot mancing klasik di ‘pojokan’ barat Pulau Jawa yang menjadi destinasi primadona banyak pemancing/wisatawan/turis/peselancar dari penjuru negeri dan bahkan dari mancanegara.

Pemancing Jawa Barat dan Jakarta menjadikan Ujung Kulon sebagai ‘ladang’ perburuan ikan-ikan predator karena memang lokasi inilah yang paling cocok untuk mereka yang memiliki waktu mancing sempit dan atau budget mancing terbatas. Indonesia memiliki fishing ground kelas dunia yang tersebar di banyak penjuru, tetapi tidak mungkin bukan untuk trip popping ke Pulau Lembata di NTT misalnya jika kita hanya punya waktu libur pada weekend?! Nah Ujung Kulon akhirnya menjadi solusi terbaik untuk mereka yang telah ‘sakau’ popping tersebut namun tidak punya waktu banyak untuk pergi ke spot mancing yang jauh.

Memang kini potensi mancing di daerah ini sudah jauh berkurang. Tetapi entah kenapa selalu membuat saya dan ratusan orang pemancing lainnya selalu rindu untuk kembali. Oleh karena rindu itulah, setiap ada kesempatan untuk bertandang, saya pasti ikut ngacir ke Ujung Kulon dengan senyum ceria. Tak peduli nanti akan berhasil menggaet ikan atau tidak. Bukan saya naïf dengan tidak memasang target tertentu saat mancing ke Ujung Kulon, agar tidak kecewa dan malu kalau gagal, tetapi memang terlalu mengada-ada menurut saya jika untuk kasus mancing di perairan sekitar Pulau Jawa seandainya kita memasang target (dan apalagi targetnya sangat tinggi). Karena kita sama-sama tahu, bahwa kondisi perairan di sekitar Pulau Jawa sudah sangat jauh berkurang akibat tekanan lingkungannya sangat tinggi. Jadi lebih baik bebaskan hati dan pikiran dari keharusan-keharusan tertentu yang kaku sebelum berangkat mancing agar kita bisa legawa dengan apapun hasil mancing nantinya. Ini saya jamin lebih akan membuat kita berbahagia sepanjang acara memancing nantinya. Mancing jika sudah dipatok dengan target-target besar sebelum berangkat malah sering membuat kita lupa bahwa kita hanyalah manusia biasa saja yang tidak berhak mengutuki alam atau nasib yang kita terima saat itu.

Jadi saran saya, nikmati saja perjalanannya. Dan jika kemudian kita beruntung dengan hasil mancing kita kemudian, syukurilah. Mancing di sekitar Pulau Jawa harus dipahami dari semua sisi, jangan hanya dari ambisi dan angan-angan pemancingnya saja, tetapi juga harus dibenturkan pada kenyataan di lokasi itu sendiri. Jadi jika Anda tipe pemancing yang belum berangkat saja sudah memasang kalimat seperti “pasti dapat ikan besar dan banyak atau tidak nanti?” dan lains ebagainya. Baiknya gantung saja di langit-langi trumah fishing tackle Anda untuk kemudianmembaca-baca dulu buku tentang lingkungan perairan di wilayah ini agar Anda menjadi lebih arif dankemudian saat pergi melaut, Anda mampu bersikap lebih dewasa. Maafkan atas opini saya yang agak ngawur ini. Tidak ada maksud apa-apa, hanya mengingatkan saja agar siapapun Anda yang masih acuh dengan kondisi perairan sekitar Jawa menjadi mahfum, bahwa memancing (apalagi di sekitar Jawa) sangat banyak tergantung pada kemurahan Tuhan dan alam yang diciptakan-Nya. Ini juga agar Anda tidak tampil menjadi pemancing yang egois, bodoh dan menyebalkan yang sering menggerutu ke kapten kapal atau abk kapal dengan kalimat “lo gimana sih kog gw gak dapat ikan?”

Singkat cerita, Sabtu pukul 05.00 WIB saya bersama serombongn kawan dalam tiga mobil berbeda telah berada di Desa Sumur yang baru saja terbangun. Mata dan badan kami jelas menunjukkan kelelahan usai berkendara lima jam lamanya dari Jakarta. Tapi semua tidak bertahan lama jika sudah berada di Desa Sumur. Canda tawa dengan cepat mengisi udara pagi bersaing dengan suara debur ombak di belakang rumah Haji Koni, pemilik beberapa kapal mancing yang salah satu kapalnya akan kami pakai selama dua hari ke depan. Pisang goreng, teh dankopi panas segera ‘menampar’ kami di teras depan rumah. Haji Koni sungguh saudagar Desa Sumur yang luar biasa hangat dalam menyambut tamu-tamunya. Terima kasih Pak Haji!

Usai segala keributan loading barang dengan perahu feeder kecil, pukul 06.00 WIB kami telah melaju di KM. Samudera menuju perairan Ujung Kulon sekitar Pulau Peucang, Pulau Panaitan, dan lain sebagainya. Trip kali ini kami akan fokus pada teknik popping saja. Ujung Kulon memang sangat tepat untuk teknik ini karena memiliki spot berupa karang dangkal, tanjungan, dan batu mandi yang luar biasa banyaknya. Biasanya kami juga menyelipkan acara mancing trolling dan bahkan bottom fishing, tetapi kali ini kami hanya akan fokus pada teknik popping saja. Tujuan pertama adalah kembali mempelajari popping, kedua adalah dalam rangka menularkan racun popping ke beberapa kawan newbie yang ikut dalam trip ini. Kalau saya pribadi, untuk kasus Ujung Kulon, memang malas kalau jauh-jauh ke Ujung Kulon terus kita malah minta dasaran misalnya. Karena apa, kita pergi jauh-jauh ke lokasi ini tidak bisa sesering ke Pulau Seribu misalnya. Dan terlepas dengan kondisi Ujung Kulon saat ini, Ujung Kulon adalah spot popping yang paling klasik di seluruh Pulau Jawa. Lalu kalau hanya untuk mancing dasaran saja, kenapa kita harus jauh-jauh ke Ujung Kulon yang notabene adalah lokasi popping? Ke Pulau Seribu saja sudah kalau hanya berniat mancing dasar saja. Karena jika kita malah konsentrasi pada teknik mancing lain saat berada di sini, ini ibarat kita telah tiba di lapangan sepak bola terus kemudian kita ingin bermain bola voli. Bisa sih, tetapi aneh dan apakah tidak mubazir?

Dihitung dari jumlah orang yang ikut, kapal kami cukup over karena biasanya satu kapal di Ujung Kulon idealnya hanya dipakai 5-6 orang popping. Lha kami malah berangkat bersepuluh! Semoga saya tidak lupa nama-nama yang ikut kemarin; ada Rudi dan Tono, Eko, Neng, Ahmad dan Ardi, Pak Yono, Anto dan Pak Aston. Juga ada kawan dari Tabloid Mancing Fortuna, Ian??? Banyak orang memang... Tidak apa-apa, toh ini trip fun fishing. Tidak harus ngoyo dan ideal kondisinya. Karena bagi kami orang-orang dengan ‘kemampuan’ terbatas ini melakukan trip rame-rame jelas lebih enak. Bisa share cost rame-rame, bisa ketawa rame-rame, dan lain sebagainya termasuk boncos (gagal dapat ikan) rame-rame juga. Yang jelas dalam trip kali ini ada dua pemancing perempuan yang sedang getol belajar popping. Mantaaab! Begini dong, jangan sampai dunia mancing itu hanya digeluti ‘batangan’ semua. Haha… Juga ada dua remaja yang lagi di push oleh bos-bos mereka agar mengerti popping. Tampaknya kesadaran pada perlunya regenerasi pemancing di negeri ini sangat tinggi di kalangan pemancing tua/senior. Mereka sadar betul bahwa harus ada regenerasi, baik itu regenerasi minat dan teknik, agar dunia mancing ke depannya tetap memiliki ‘api’ yang bisa meneruskan ‘nyala’ sportfishing ke arah, yang semoga saja, lebih baik lagi.

Saya tidak akan menceritakan detail perjalanan ke Ujung Kulon ini di sini. Tetapi yang jelas selama trip cuaca di Ujung Kulon kemarin itu sangat bersahabat. Memang langit tidak selalu biru (cerah) tetapi angin bertiup sangat lemah. Ombak dan gelombang juga sangat kecil. Sampai-sampai saking teduhnya, di Karang Jajar yang terkenal bergelora menakutkan itupun airnya flat! Ini bagi saya agak aneh karena se-flatnya Ujung Kulon, di Karang Jajar biasanya tetap bergelora. Tetapi kali ini malah teduh duh! Padahal prediksi cuaca di situs milik BMG tidak seperti ini karena di situs tersebut digambarkan bahwa perairan Ujung Kulon dalam tiga hari terakhir ini berombak hingga 1.5 meter?! Menariknya, arus cantik bermain di hampir semua spot popping yang ada di fishing ground ini; Tj Alang-alang, Tj Senini, Kr Copong, Tj Layar, Kr Kereta, Kr Jajar, Tj Parat dan Batu Asin. Kami sangat beruntung! Sudah dikasih cuaca teduh, eh arus bawah dan pertemuan-pertemuan arusnya juga sangat ‘cantik’. Tak heran, trip popping kami menjadi penuh kegembiraan karena strike terus terjadi sepanjang hari hingga esok harinya lagi. Saya lupa menghitungnya, buat apa? Yang jelas semua pemancing kebagian strike, semuanya ikan giant trevally dan bluefin trevally, termasuk dua bocah kecil yang notabene masih belajar popping juga berhasil strike! Bahkan satu bocah yang baru pertama kali popping juga bisa mendapatkan strike tiga kali dan landed semuanya pula! Hebat! Oh ya lupa menyebutkan, dalam trip ini kami full popping!

Ini membuktikan bahwa ‘dia’, Ujung Kulon, masih sangat cantik dan berbahaya. Hanya saja kita perlu rajin mengunjunginya dan mencintainya dengan tulus dan apa-adanya. Tanpa harapan yang berlebih, tanpa keinginan-keinginan yang telah dipatrikan dari kota besar tempat raga dan jiwa kita terkungkung dengan tuntutan hidup. Karena sebagai alam, Ujung Kulon hanya bisa menjadi apa-adanya seperti pencipta-Nya inginkan. Kita hanya bisa menerimanya dan mengalaminya dengan syukur yang wajib selalu kita panjatkan kepada-Nya tiap hari atas segala kerunia-Nya kepada kita. Salam!

* All pictures by Me & Anto Violetprod. Don’t use or reproduce (especially for commercial purposes) without our permission. Especially if you are tackle shop, please don’t only make money from our pics without respect!!!
* Foto 1: Ini kali pertama saya landed GT dengan popper Cuttle buatan ASF, Bali. Biasanya selalu dengan popper ASF seri Gecko atau Pompom. Dan atau kalau sudah capek dengan popper berat selalu dengan Halco 195. Foto 2 & 3: Bagi yang belum tahu spot popping di Ujung Kulon. Foto 4-5-6: Berfoto dengan sebagian peserta trip. Foto 7-8: Our tackle yang sebagain besar kelas PE6. Foto 9-10: Pepatah Jepang berbunyi, lemparlah maka kau akan dapat ikan! Pemancing perempuan di foto ini adalah Neng yang sedang getol belajar popping. Foto 11-12: Generasi penerus popping. Foto 13-14: Sebagian tangkapan kami. Lumayan! Haha!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers